Blog Archives

Kebiasaan Makan Anak Usia Sekolah (3)

Kebiasaan konsumsi sayur dan buah

Menurut survey nasional tahun 2007, di Indonesia prevalensi anak yang kurang makan sayur (<5 porsi sehari) sangat tinggi yaitu mencapai 93,6%. Bahkan di negara maju pun seperti Australia, anak-anak yang kurang mengonsumsi sayur dan buah sangat tinggi mencapai 86%. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan mengapa anak-anak kurang mengonsumsi sayur dan buah, apakah karena ketersediaannya, harganya yang mahal dan tidak terjangkau, rasanya yang tidak enak ataukah berbahaya bagi kesehatan. Ironisnya di berbagai daerah sangat mudah memperoleh sayur dan buah, dengan harga yang terjangkau bagi semua kelompok sosial ekonomi, rasanya pun beragam sehingga bisa memilih tergantung selera, dan tentu saja sayur dan buah member dampak kesehatan bagi anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lanjut usia.

Alasan mengapa konsumsi sayur dan buah masih sangat kurang terutama pada kelompok anak usia sekolah karena golongan makanan tersebut masih kalah populer dengan kelompok makanan yang lain seperti makanan tinggi kalori (fastfood, cemilan, sugar-sweetened beverage, dll), kelompok makanan berlemak (steak, gorengan, olahan susu, dll). Kelompok makanan favorit anak itu selain karena rasanya yang memang disukai juga mudah dan murah untuk diperoleh. Sebagian besar jajanan anak terdiri dari makanan yang berlemak, manis, dan tinggi kalori.

Sayur dan buah merupakan sumber utama vitamin dan mineral yang esensial bagi pertumbuhan anak, kaya antioksidan. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah merupakan bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang, dan memberikan kontribusi terhadap kesehatan anak dan mencegah penyakit kronik di usia selanjutnya. Tingkat konsumsi sayur dan buah anak akan lebih tinggi jika orang tua menyediakan sayur dan buah di rumah. Selain itu nonton tv dan paparan iklan tv menjadi salah satu penyebab konsumsi sayur dan buah lebih rendah, karena dengan menonton tv anak akan terbiasa mengemil makanan ringan yang tentunya tidak disertai dengan sayur dan buah. Paparan iklan televisi juga menyebabkan anak akan cenderung memilih makanan yang diiklankan tersebut, dan dapat dilihat bahwa hampir semua iklan televisi makanan tidak menyangkut sayur dan buah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan konsumsi sayur dan buah anak, akan tetapi perlu pendekatan multi-komponen dan melibatkan banyak pihak terkait. Diantaranya adalah menetapkan kebijakan di sekolah, pelayanan di kantin sekolah, pemanfaatan media, dan peran orang tua. Kebijakan sekolah misalnya adanya fruit and vegetable breaks (istirahat), adanya aktivitas berkebun di sekolah untuk mengenalkan anak tentang sayur dan buah, atau praktik mengolah sayur dan buah menjadi makanan favorit yang enak dan menyehatkan. Pelayanan di kantin juga harus berkualitas, tidak hanya menyediakan makanan sumber energi, protein, dan lemak tetapi juga buah-buahan yang kaya akan vitamin. Sekolah juga bisa memanfaatkan media untuk mempromosikan sayur dan buah kepada anak, dan terakhir peran orang tua dengan senantiasa memberikan informasi dan ketersediaan sayur dan buah di rumah.

Makanan sehat bagi anak usia sekolah

Untuk anak usia sekolah, makanan yang divariasikan menjadi kunci utama untuk membuat anak memiliki kebiasaan makan yang sehat. Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan semua zat-zat gizi untuk pertumbuhan tubuh. Kalsium untuk pertumbuhan tulang mungkin bisa diperoleh dari susu, yogurt atau ganti dengan makanan olahan yang mengandung tinggi kalsium jika terjadi intoleransi susu. Protein untuk pertumbuhan sel dan organ tubuh anak bisa diperoleh dari berbagai sumber bahan makanan yang menyehatkan seperti ikan, ayam, telur, daging, dan kacang-kacangan. Selain itu kebutuhan akan lemak juga penting, tetapi sebaiknya lemak tidak jenuh baik monounsaturated  maupun polyunsaturated (omega-3 dan omega-6). Lemak tidak jenuh sangat penting bagi anak untuk pertumbuhan sel-sel otak bagi kemajuan kecerdasan anak, lemak tidak jenuh dapat diperoleh dari minyak nabati, alvokat, kacang-kacangan, lemak ikan,  biji bunga matahari, kacang kedelai, dan kenari. Meskipun lemak baik untuk anak tetapi ada jenis lemak yang sebaiknya dihindari yaitu lemak trans yang dapat ditemukan pada margarin, kue, cemilan, dan gorengan. Kebutuhan zink juga perlu, karena bermanfaat untuk meningkatkan memori dan performa akademik anak khususnya pada anak laki-laki. Zink bisa diperoleh dari daging, susu, coklat, telur, dan berbagai makanan yang juga mengandung protein.

Anjuran untuk membatasi konsumsi gula hanya 3 sendok makan perhari (12 gram) cukup baik bagi anak, untuk menjaga berat badan dan kadar gula darah anak. Mengurangi kebiasaan mengemil, makan permen, dan kue dapat menjadi solusi menjaga asupan gula setiap harinya. Cobalah mengganti minuman manis dengan air mineral, jus buah murni, susu skim, atau susu kedelai lalu hindari makanan yang telah diproses dengan teknologi tinggi dan gantilah dengan makanan yang dimasak sendiri karena dapat menaikkan dan menurunkan kadar gula darah akibatnya anak akan merasa cepat lelah. Untuk kebutuhan garam, sebaiknya tidak kurang dari 1500 mg dan tidak lebih dari 2200 mg perhari. Karena itu pola makan dan kebiasaan makan makanan ringan perlu diperhatikan. Hindari fast food, dan makanan yang diproses dan dikemas seperti ikan kaleng, sayuran yang dikalengkan, dan makanan dari restoran fast food mengandung tinggi natrium tinggi kalori. Begitupula kurangi mengemil potato chip, kacang, dan kue kering yang asin. Cobalah mengganti makanan-makanan yang merugikan kesehatan anak dengan makanan yang lebih sehat seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sumber

Paul M., and Robinson L. (2012). Nutrition for children and teens: Helping your kids eat healthier. Helpguide.org accessed on 16th November 2012.

Prawitasari, Titis. (2012). Healthy breakfast: how does it help my kid’s performance. FK UI. Jakarta.

 

Advertisements

Job vacancy Indofood

Berdasarkan informasi yang disebarluaskan oleh Tony Arjuna Dietisien M.NutDiet (Ketua ISAGI) *maaf langsung copas Pak Tony 😀

Ada Lowongan Kerja di Indofood, buat teman-teman yang berminat bisa apply secepatnya. Untuk deadline submit document nya bisa contact CP nya aja yah. Berikut informasi yang berhasil kami peroleh.

Dear All, berikut ada titipan dari Indofood. Bagi yang sedang membutuhkan lowongan kerja, semoga ini bisa membantu 🙂

JOB VACANCY at Indofood, Nutrition & Special Food Division
URGENTLY REQUIRED : NUTRITION ADVISOR

  1. To be located in Palembang / Jakarta / Banjarmasin
  2. Male or Female (preferably Female), max. 30 years old
  3. Bachelor degree in Clinical / Nutrition / Food Technology , with GPA min. 3.00.
  4. or Diploma with min. 5 years work experiences in the similar major
  5. Has strong knowledge and experience in pharmaceutical, nutrition, or baby food.
  6. Has good presentation skill and communicative.
  7. Has car driving licence
  8. Fluent in English (written & spoken).
  9. Able to operate computer, especially MS Office.
  10. Self-confidence, responsible, independent, high motivation.

Jika berminat bisa, tolong send CV dan surat lamaran ke :

Yani.Haris@icbp.indofood.co.id

Best Regards,

Santi Rosyanti
Professional Marketing
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk divisi NUTRITION & SPECIAL FOODS
Jl. Raya Caringin 353, Padalarang
Phn. +62 22 6868210,6809815 Ext. 217
Fax. +62 22 6809810, 6866593
email : santi.rosyanti@icbp.indofood.co.id
Web-site : www.indofood.com or www.promina.co.id

Seri obesitas : Kurang asupan kalsium menaikkan berat badan

Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat obesitas sebagai faktor resiko yang memacu terjadinya defisiensi zat gizi, namun sebaliknya masih sedikit yang menunjukkan secara ilmiah bahwa kurang asupan mikronutrien dapat menyebabkan terjadinya overweight/obesitas. Sehingga kemungkinan terjadi overlap antara obesitas dengan defisiensi mikronutrien. Sebagai respon terhadap kurangnya mikronutrien, orang yang mengalami defisiensi micronutrient inti dalam metabolisme tubuh mungkin akan lebih rentan mengalami stress oksidatif sehingga terbentuk suatu kondisi dimana resiko obesitas meningkat.

Salah satu mikronutrien yang berhubungan dengan obesitas adalah kalsium, kurangnya asupan kalsium dapat berdampak terhadap kenaikan berat badan. Asupan kalsium yang kurang bisa menyebabkan peningkatan produksi enzim synthase, yang merupakan suatu enzim yang berperan mengubah kalori menjadi lemak. Asupan kalsium yang cukup (1000-1500 mg/hari) pada orang dewasa telah menunjukkan resiko yang lebih rendah untuk terkena osteoporosis, batu ginjal, hipertensi, dan obesitas.  Kalsium juga berperan dalam proses penyimpanan glikogen. Bila tidak ada kalsium, tubuh akan merasa lapar terus-menerus karena tidak dapat menyimpan glikogen. Asupan kalsium yang cukup akan mempertahankan kestabilan hasrat makan.

Banyak faktor yang bisa mempengaruhi asupan kalsium seseorang, diantaranya adalah vitamin D. 1,25 dihidroxy vitamin D (Calcitriol) dapat  meningkatkan produksi  lemak. Calcitriol akan meningkat bila asupan kalsium rendah dan sebaliknya calcitriol akan ditekan bila  asupan kalsium  tinggi. Hal ini berarti asupan kalsium yang rendah dapat meningkatkan calcitriol dan menstimulasi adiposit Ca2+ konsekuensinya terjadi peningkatan produksi lemak adiposit sehingga lemak tubuh akan sedikit yang dibakar akibatnya berat badan menjadi bertambah. Vitamin D juga menjadi kunci dalam mengatur level gula darah dan sangat vital menjaga berat badan ideal.

Asupan kalsium dengan Calcitriol memiliki hubungan yang reversible, asupan kalsium juga mempengaruhi aktivitas hormon Calcitriol dalam tubuh. Asupan kalsium yang tinggi menyebabkan ion kalsium plasma meningkat. Peningkatan asam lemak akan menekan atau menurunkan konsentrasi Calsitriol sehingga menghambat masuknya kalsium melalui membran vitamin D reseptor yang berakibat menurunnya kalsium intraselluler. Penurunan ini menghambat asam lemak sintase (enzim kunci lipogenesis) dan mendorong lipolisis Triasil Gliserol (TG) menjadi asam lemak dan gliserol, Asam lemak ini akan berubah menjadi asam lemak bebas dan dioksidasi sebagai bahan bakar, akibatnya TG di jaringan adiposa menurun sehingga berat badan pun menurun. Jika asupan kalsium kurang serta kalsium dalam tubuh rendah maka enzim asam lemak sintase akan meningkat tinggi menyebabkan asam lemak tidak dioksidasi dan energi diubah menjadi lemak di dalam tubuh, akibatnya akan ada penumpukan lemak dalam tubuh yang bisa menyebabkan obesitas. Dari penelitian Arundhana (2010) terlihat bahwa pada kelompok obesitas memang memiliki asupan kalsium yang kurang dibandingkan kelompok yang tidak obesitas (p<0,05). Perlu diketahui bahwa wanita cenderung memiliki konsumsi kalsium yang lebih rendah akibatnya mereka memiliki masalah berat badan, lingkar pinggang, bahkan tingkat kolesterol jahat di tubuh. Asupan kalsium yang rendah pada perempuan bisa saja dikarenakan faktor kebiasaan makan. Wanita cenderung menghindari makanan-makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti keju, susu dan produk olahannya karena persepsi bahwa makanan tersebut mengandung tinggi lemak dan kalori.

Defisiensi kalsium merupakan manifestasi dari ketidakcukupan asupan kalsium yang didapat dari makanan ataupun suplemen. Sehingga dalam mengatasi masalah tersebut, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan mudah diserap oleh pencernaan adalah tindakan yang paling baik. Seseorang yang mengonsumsi makanan yang seimbang lebih cenderung memiliki proporsi berat badan yang ideal dibandingkan yang tidak mengonsumsi makanan seimbang. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Asfaw (2007) bahwa ibu yang memiliki keterbatasan akses terhadap mikronutrien yang baik dari makanan akan memiliki resiko menjadi overweight/obesitas dibandingkan dengan ibu yang mengonsumsi makanan yang berkualitas dalam hal ini bergizi seimbang.