Category Archives: Nutrition Problem

(Culture) determinant of obesity

Conceptual Framework of Determinant factor in obesity study (Arundhana, 2016). Modified from (Dahlgren & Whitehead 2006; Glass & McAtee 2006; Verstraeten et al. 2014; Davies et al. 2014; Rutter 2014)

Advertisements

Optimalkan kesehatan anda: Pada orang obes, leptin banyak tetapi tetap makan banyak

Sebelumnya saya sudah pernah membahas leptin secara umum, namun kali ini saya tertarik lagi mengkajinya karena banyak materi tentang leptin yang sangat menarik dibahas seperti kaitan leptin dan teori starvation, leptin orang obes banyak tapi kenapa masih over eating? Atau teori hubungan hipotiroid, resistensi insulin, dan leptin.

Diketahui bahwa leptin diproduksi oleh sel lemak, tugasnya adalah memberikan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang sehingga diharuskan berhenti makan dan segera bakar kalori untuk menghasilkan energi. Secara sederhananya leptin adalah hormon rasa kenyang.  Anda cukup makan –> leptin bekerja –> Anda merasa kenyang –> stop makan!! – begitu kira2 prinsipnya.

Orang obes memiliki banyak leptin, hal ini karena sel lemak orang obes sangat banyak dan pastinya produksi hormon leptin juga banyak. Pertanyaan kemudian yang muncul, mengapa banyak leptin tapi tetap makan banyak? Bukankah leptin adalah hormon yang mengontrol rasa kenyang? Kondisi ini disebut resistensi leptin, dimana dia tidak mampu menjalankan tugas-tugasya secara normal. Penyebabnya satu, yaitu insulin.

Insulin bertugas mengubah gula menjadi lemak, dan tubuh mengeluarkan insulin sesuai kondisi asupan glukosa yang masuk dalam tubuh. Jika semakin banyak glukosa maka pankreas menghasilkan lebih banyak insulin, ini berarti semakin banyak pula lemak. Berat badan bertambah. Keterkaitan ini sekaligus menjelaskan mengapa pada orang dengan berat badan lebih biasanya resistensi insulin, prediabetes, atau bahkan telah diabetes.

Pada orang obes, karena insulin yang diproduksi sangat banyak dan tubuh tidak mau lagi merespon maka terjadilah resistensi insulin. Karena resistensi tersebut, insulin menghalangi kinerja leptin yang menghantarkan sinyal kenyang ke otak, akibatnya otak tidak merespon agar tubuh segera menghentikan makan, akibatnya tubuh menganggap masih butuh energi. Jika sudah demikian, orang tersebut akan terus merasakan lapar dan ingin makan terus menerus.

Semakin banyak isulin, semakin banyak energi yang disimpan, semakin lapar yang dirasakan –> mekanisme yang sangat kacau dan kenyataannya inilah yang terjadi pada orang obes. Karena itu, langkah awal untuk melakukan penurunan berat badan adalah dengan mengontrol asupan glukosa khususnya golongan gula sederhana yang bisa menaikkan kadar gula darah, lalu kemudian diimbangi dengan asupan glukosa kompleks golongan poly dan oligosakarida, tidak lupa pula melakukan olahraga rutin. Hal ini bertujuan untuk menormalkan kerja-kerja hormon appetite.

Optimalkan kesehatan anda: Resistensi insulin

Manusia makan untuk kelangsungan hidupnya, secara spesifik untuk menyediakan energi agar dapat digunakan beraktivitas. Makan makanan yang sehat dan cukup jumlahnya akan menjaga kelangsungan tubuh yang sehat.

Bagaimana tubuh yang normal merespon insulin dan glukosa? Ketika kita mencerna makanan utamanya dari kelompok karbohidrat, akan diserap kedalam aliran darah dan mempengaruhi kadar gula darah Anda. Hal ini dikarenakan dalam makanan sumber karbohidrat mengandung glukosa (gula). Makanan yang tinggi glukosa, akan membuat kadar glukosa darah tinggi. Menanggapi hal itu, pankreas melepaskan insulin untuk menekan kadar glukosa darah agar turun kembali hingga tahap normal yaitu mendorong glukosa yang berlebih kedalam sel otot. Jadi tugas insulin adalah mengambil glukosa dan menyimpannya dalam sel otot.

Glukosa dalam tatanan normal dan sehat, membuat tubuh Anda berenergi, otot terbentuk (karena ada cadangan), dan menjaga tubuh lebih sehat.

Sederhananya ini yang terjadi, insulin bersifat eksklusif dan mempunyai akses VIP. Dan ketika dia membawa glukosa dan “mengetuk pintu” reseptor insulin, insulin berkata “hi, saya membawa teman yang baik, menyediakan energi serta menjaga sel otot. Dia bersama saya”. Reseptor insulin berkata “Ya tentu saja, jika memiliki akses VIP pasti akan diijinkan masuk”. Ini gambaran orang sehat dengan pola makan yang sehat.

Namun apa yang terjadi pada orang dengan pola makan yang tidak sehat? Hari ini banyak orang-orang yang makan makanan “sampah”, kandungan gizinya rendah, tinggi gula, kalori, dan rendah serat. Ini menjadi penyebab resistensi insulin. Mari kita gambarkan secara sederhana apa yang terjadi.

Konsumsi makanan “sampah” mengandung tinggi gula dan kalori, unit-unit glukosa yang sangat banyak masuk dalam tubuh. Apa yang terjadi jika terlalu banyak glukosa? Pankreas diharuskan bekerja keras dengan memproduksi lebih banyak insulin. Ketika “mengetuk pintu” reseptor insulin dan berkata “Hi saya membawakan sangat banyak teman untuk mu”, reseptor insulin berkata “Hei, kamu membawa banyak orang, ini VIP, kamu tidak bisa membawa semua orang masuk”. Akibatnya akses VIP insulin dimatikan dan tidak mendengarkan insulin lagi.

Pola pemberian makan anak

anak harus diberikan makanan dengan jumlah dan bentuk yang sesuai dengan usianya

Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak harus diberikan makanan-makanan yang sehat. Jika ia berusia 0-6 bulan maka diberikan ASI eksklusif, sedangkan setelah 6 bulan harus diberikan makanan pendamping ASI (MP ASI) dengan jumlah, takaran, dan jenis yang sesuai disamping tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun (WHO, 2003). Sekarang ini cakupan pemberian ASI eksklusif masing sangat rendah khususnya di negara-negara berkembang, selain itu pola pemberian makanan pendamping juga kurang tepat. Di negara berkembang, rata-rata cakupan pemberian ASI eksklusif hanya 36%, kurang dari 33% anak-anak tidak mendapatkan beragam makanan, serta lebih dari 50% mendapatkan pola pemberian makan yang salah. Brazil sebagai salah satu negara berkembang, hanya sekitar 41% cakupan ASI eksklusifnya, dan 21% anak-anak dibawah 6 bulan yang telah mengenal makanan selain ASI telah dikenalkan makanan-makanan yang tidak cocok untuk anak seperti kue kering, makanan ringan, dan soft drink (MS, 2009). Bayangkan anak-anak usia kurang dari 1 tahun telah mengenal makanan-makanan dengan tekstur yang keras dan berkarbonasi, tentu saja ini sangat tidak sehat khususnya untuk pencernaan anak-anak.

Sesuai standar yang direkomendasikan untuk mencapai pertumbuhan pada periode emas, pola pemberian makanan pada anak adalah inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif dari 0 hingga 6 bulan, pemberian MPASI yang tepat dan tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun. Namun masih banyak juga orang tua yang kurang tepat dalam memberikan makanan kepada anaknya. Selain terlalu cepat mengenalkan anak terhadap makanan lain, kesalahan juga seringkali karena salah tekstur dan variasinya. Pola-pola pemberian makan yang tidak tepat biasanya dalam bentuk pemberian makanan yang padat energi namun rendah zat-zat gizi esensial lainnya. Semuanya sangat dipengaruhi oleh keterampilan ibu dalam memberikan makanan kepada anaknya, keterampilan tersebut tentunya ada jika ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik terkaitnya cara pemberian makanan anak. Dikutip dari pendapat salah satu dosen UGM, Fatma Zuhrotun Nisa, bahwa balita yang besar dalam keluarga miskin juga berpeluang tumbuh sehat jika anak tersebut diasuh dengan tepat oleh orang tua memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan. Sebaliknya, meskipun anak dari keluarga yang tercukupi dari segi finansial, misalnya kedua orang tuanya bekerja sebagai PNS ternyata masih mengalami gizi buruk. Hal tersbut terjadi karena pengasuhan anak diserahkan pada nenek yang memiliki keterbatasan pengetahuan akan pentingnya pemberian makanan berigizi. Meskipun demikian tidak dipungkiri juga faktor kemiskinan bagi beberapa daerah menjadi faktor determinan masalah gizi pada anak.

Pola asuh yang baik yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Jika tingkat pendidikan ibu baik maka pola asuh yang diberikan bisa sesuai dan menyehatkan untuk anak. Pola pemberian makanan yang tidak tepat bisa saja karena kuantitasnya yang kurang atau lebih, kualitasnya yang kurang baik (kurang sehat ataukah jenis yang kurang tepat untuk anak), dan bahkan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (IMD, ASI eksklusif). Penelitian di Brazil menunjukkan bahwa jenis konsumsi makanan anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Penelitian tersebut menunjukkan konsumsi makanan ringan, soft drink, dan makanan tinggi gula semakin meningkat seiring dengan semakin menurunnya tingkat pendidikan ibu (Saldiva et al., 2014). Survei di Brazil juga menunjukkan bahwa sebesar 63% balita usia 6-12 bulan mengonsumsi bubur dengan gula tambahan, sekitar 69% anak-anak usia diatas 12 bulan telah mengenal soft drink. Pola makan seperti ini sangatlah tidak sehat untuk anak-anak (Saldiva et al., 2007; Bernardi et al., 2009).

Pola konsumsi makanan-makanan dengan gula tambahan tidaklah baik untuk anak. Dan perilaku yang salah ini semata-mata karena pengetahuan ibu yang kurang bukan karena kemiskinan. Lihat saja program yang dilakukan oleh pemerintah Brazil yakni program cash transfer untuk keluarga miskin dan yang sangat miskin. Anak balita yang keluarganya mendapatkan program cash transfer memiliki kecenderungan tiga kali lipat mengonsumsi makanan yang manis dibandingkan anak yang keluarganya tidak memperoleh program tersebut. Pendidikan ibu diasumsikan sebagai variabel determinan perilaku makan tersebut (Saldiva et al., 2010).

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

Ketidakcermatan ibu memberikan/mengenalkan anak dibawah dua tahun terhadap makanan-makanan ringan, padat energi, soft drink, dan makanan tidak sehat lainnya bisa berdampak terhadap kesehatan anak di usia selanjutnya. Oleh karena masa 2 tahun pertama kehidupannya merupakan periode emas sehingga apabila baik maka pertumbuhan dan kesehatannya secara umum akan baik, namun jika tidak baik dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan pada anak. Konsumsi gula berhubungan dengan karies gigi (Wilson et al., 2009) dan risiko lebih tinggi terkena obesitas (Ruottinen et al., 2008; Buyken et al., 2008). Selain itu, diet berkualitas rendah dapat menyebabkan defisiensi mikronutrien karena kandungan gizi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan produk rendah gula (Erkkola et al., 2009; Kranz et al., 2005). Asupan garam yang berlebihan selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko untuk penyakit jantung di usia dewasa. Asupan natrium tinggi selama 6 bulan pertama kehidupan telah dikaitkan dengan tekanan darah tinggi (Hofman et al., 1983; Geleijnse et al., 1997). Temuan ini memperkuat pentingnya mempromosikan kebiasaan gizi sehat selama masa kanak-kanak.

 

Referensi:

  1. World Health Organization: Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. Geneva: WHO; 2003.
  2. Saldiva SRDM, Escuder MM, Mondini L, Levy RB, Venancio SI: Feeding habits of children aged 6 to 12 months and associated maternal factors. J Pediatr (Rio J) 2007, 83(1):53–58.
  3. Saldiva SRDM, Silva LFF, Saldiva PHN: Anthropometric assessment and food intake of children younger than 5 years of age from a city in the semi-arid area of the Northeastern region of Brazil partially covered by the bolsa família program. Rev Nutr 2010, 23(2):221–229.
  4. Saldiva SRDM, Venancio SI, de Santana AC, da Silva Castro AL, Escuder MML, and Giugliani ERJ. The consumption of unhealthy foods by Brazilian children is influenced by their mother’s educational level. Nutrition Journal 2014, 13:33
  5. Bernardi JLB, Jordão RE, Barros Filho AA: Supplementary feeding of infants in a developed city within the context of a developing country. Rev Panam Salud Publica 2009, 26(5):405–411.
  6. Wilson TA, Adolph AL, Butte NF: Nutrient adequacy and diet quality in non-overweight and overweight Hispanic children of low socioeconomic status: the Viva la Familia Study. J Am Diet Assoc 2009, 109:1012–1021.
  7. Ruottinen S, Niinikoski H, Lagstrom H, Ronnemaa T, Hakanen M, Viikari J, Joniken E, Simell O: High sucrose intake is associated with poor quality of diet and growth between 13 months and 9 years of age. The special Turku Coronary Risk Factor Intervention Project. Pediatrics 2008, 121:1676–1685.
  8. Buyken AE, Cheng G, Gunther AL, Liese AD, Remer T, Karaolis-Danckert N: Relation of dietary glycemic index, glycemic load, added sugar intake, or fiber intake to the development of body composition between ages 2 and 7 y. Am J Clin Nutr 2008, 88:755–762.
  9. Erkkola M, Kronberg-Kippila C, Kyttala P, Lehtisalo J, Reinivuo H, Tapanainen H, Veijola R, Knip M, Ovaskainen ML, Virtanen SM: Sucrose in the diet of 3-year-old Finnish children. Sources determinants impact on food nutrient intake. Br J Nutr 2009, 101:1209–1217.
  10. Kranz S, Smiciklas-Wright H, Siega-Riz AM, Mitchell D: Adverse effect of high added sugar consumption on dietary intake in American preschoolers. J Pediatr 2005, 146:105–111.

Kebijakan larangan junk food-berbagai strategi

Contoh datang dari California, salah satu negara bagian di United State yang mengeluakan kebijakan strategis dan tepat sasaran. Kebijakan tersebut berupa larangan penjualan junk food di kafetaria dan lingkungan sekitar sekolah-sekolah yg ada disana. Laporan terbaru menunjukkan bahwa siswa-siswa SMA disana memiliki tingkat konsumsi kalori lebih sedikit dan lebih rendah konsumsi lemak dan gula di sekolah dibandingkan siswa-siswa di negara bagian lain di US. Studi ini melaporkan bahwa siswa-siswa yang sekolahnya memberlakukan kebijakan tersebut memiliki sekitar 160 kkal lebih sedikit perharinya dibandingkan siswa di negara bagian lain.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan ternyata bisa sukses sampai batas tertentu dalam mempengaruhi kebiasaan makan remaja. Dalam artian, kebijakan yang diberlakukan ini meskipun hanya sebatas di sekolah, namun ternyata cukup efektif merubah perilaku makan remaja sehingga mendapatkan asupan kalori lebih sedikit dibandingkan siswa lain. Untuk asupan makan dirumah, belum ada kontrol terhadap larangan konsumsi junk food, namun kemungkinan besar dengan adanya informasi di sekolah tentang larangan penjualan junk food, bisa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata junk food itu tidak baik bagi dirinya.

Kebijakan lain mungkin bisa efektif untuk batasan selama dirumah, yakni dengan mengembangkan kebijakan penampilan iklan junk food di media televisi. Misalnya dengan melarang tampilan iklan-iklan junk food selama anak menonton televisi atau paling tidak hingga waktu puncak anak menonton televisi yakni sekitar pkl 21.00 (9 malam). Simon Gillespie, chief executive dari British Heart Foundation, mengatakan: “Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak akan dihujani dengan iklan makanan yang tidak sehat selama TV tayang utama, tapi itulah yang terjadi”

Jam tayangan ini sangat efektif, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk kampanye produk makanannya kalau memang pada jam ini tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anak dan remaja memiliki jam nonton televisi berkisar hingga pkl 20.00-21.00. Telah terbukti bahwa remaja dan anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh paparan iklan-iklan di TV. Makanya perusahaan berkompetisi untuk menampilkan produknya disini. Parahnya lagi, ternyata iklan-iklan yang banyak muncul adalah makanan-makanan “miskin” nilai gizi.

Suatu studi yang dilakukan di Indonesia (2013) terkait iklan-iklan makanan yang ditampilkan. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya tidak sehat (junk). Parahnya lagi, iklan-iklan ini meningkat durasi dan kuantitasnya di waktu-waktu puncak jam menonton anak-anak yaitu di pagi hari, sore hari, dan malam hari. Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, dan di dapatkan bahwa Indonesia memiliki presentase jumlah iklan makanan tidak sehat yang ditampilkan paling banyak.

Beda lagi kebijakan-kebijakan yang dilakukan di Mexico, di sana menerapkan “taxation policy” atau kebijakan dengan memainkan peran pajak. Pajak yang cukup tinggi untuk makanan-makanan tidak sehat khususnya fast food menjadikan ada kontrol tersendiri terhadap perkembangan bisnis junk food disana. Demikian penyampaian Simon Barquera dari National Institute of Public Health Cuernavaca Mexico dalam pertemuan International Congress on Obesity di Kuala Lumpur bulan maret 2014 lalu.

foto: hungryfoodlove.com

foto: hungryfoodlove.com

Kebijakan lainnya, bisa dengan mengembangkan model pemasaran fast food/junk food namun konten yang dijual adalah healthy food, misalnya dengan melakukan pemasaran untuk “mobile vendor food” atau penjualan makanan-makanan sehat dengan sistem bergerak menggunakan kendaraan. Seperti sistem jemput bola, jangan menunggu orang datang membeli makanan sehat, tapi kita yang berkeliling untuk mencari orang-orang yang mau membeli produk-produk makanan sehat, sekaligu sebagai media kampanye makanan sehat. Dalam mobile vendor, macam-macam makanan sehat bisa dijual, seperti buah-buahan segar, salad buah sayur yang siap santap (ditempatkan di kotak pendingin agar segar), paket sarapan sehat (yg bs dijual di pagi hari), air mineral segar, dll.

Jadi kesimpulannya, banyak strategi-strategi yg bisa dikembangkan untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatasi perkembangan pemasaran unhealthy food di negara-negara berkembang dan negara maju. Hal ini sebagai upaya untuk melawan epidemi obesitas di berbagai negara. Karena kita tahu bahwa junk food/fast food berkontribusi signifikan terhadap kenaikan asupan kalori yg berlebih dan kenaikan berat badan.