Blog Archives

Gizi semasa hamil

Gizi ibu hamil sangat perlu diperhatikan, untuk generasi yang lebih sehat

Masih dalam rangka hari ibu, pembahasan kali ini tentang peran gizi pada masa kehamilan. Mungkin semua perempuan yang berkeluarga sangat ingin memiliki anak, merawat dan membesarkan mereka, dan bermain bersama anak-anak mereka. Alangkah menyenangkannya jika setiap perempuan diberi karunia oleh Allah dengan seorang anak yang sehat, aktif, sempurna secara fisik (-tanpa cacat), dan cerdas secara akademik dan kreatifitas. Sebenarnya telah ada cara yang secara ilmiah dan alamiah untuk mencapai itu semua, yaitu dengan GIZI.

Mengapa gizi sangat penting? Gizi sangat diutamakan sebelum, selama, dan setelah kehamilan dan sangat penting dibandingkan fase kehidupan lain. Ada hubungan yang jelas antara perkembangan janin dengan diet ibu selama kehamilan.

Ibu dengan konsumsi makanan yang adekuat dan bergizi sewaktu hamilnya biasanya melahirkan bayi dengan kondisi kesehatan yang sangat baik. Di sisi lain, ibu dengan status gizi kurang pada masa kehamilannya atau status gizi normal tetapi makan makanan yang berkualitas gizi rendah akan meningkatkan kesempatan anak lahir tetapi secara fungsional prematur, berat dan/atau panjang lahir rendah, immature, atau bahkan cacat. Ini berarti pada dasarnya ibu makan bukanlah untuk dirinya seorang, tetapi untuk janinnya juga. Gizi yang berkualitas baik menjaga ibu agar senantiasa dalam kondisi yang kuat, sehat, dan berstatus gizi baik, sedangkan untuk anak agar janin tumbuh baik sesuai waktunya, serta perkembangan otak dan organ penting lainnya sempurna.

Ada peningkatan kebutuhan untuk beberapa zat gizi ketika masa kehamilan, misalnya ibu memerlukan zat besi yang cukup dalam dietnya untuk mencegah anemia. Ibu anemia meningkatkan risiko premature, janin gagal tumbuh, dan berat badan lahir rendah (bblr). Ini memunculkan kesimpulan bahwa ketergantungan manusia terhadap gizi optimal dimulai sejak dalam kandungan, karena dengan gizi optimal akan terbentuk janin dengan pertumbuhan yang optimal pula. Janin yang optimal pertumbuhannya menurunkan risiko bblr, premature, dan lahir cacat, serta risiko stunting seiring dengan bertambahnya usia. Maka tidak heran mengapa fokus pemerintah untuk menurunkan stunting adalah intervensi yang dimulai pada masa konsepsi (-program SUN).

Asupan makanan ibu harus diprioritaskan dalam artian bagaimana dia bisa mencapai kebutuhan gizinya. Kebiasaan diet ibu juga akan menentukan cadangan zat gizi yang akan dimilikinya, ini penting untuk menutupi kekurangan makanan/zat gizi jangka pendek. Cadangan zat gizi yang cukup karena periode selama perkembangan janin adalah periode yang paling sensitif terhadap zat gizi. Biasanya terjadi organogenesis, yaitu beberapa minggu pertama setelah konsepsi ketika seorang wanita mungkin tidak tahu dia hamil sehingga tidak akan mungkin untuk menyesuaikan kebiasaan diet nya. Masalah kemudian yang muncul adalah, tidak semua ibu-ibu yang ingin dan sedang hamil mengetahui pentingnya gizi apalagi tentang kebutuhan gizi mereka. Sederhana adalah, makan makanan yang sehat selama kehamilan, jangan menjalankan diet untuk menurunkan berat badan, cukup porsi dan frekuensinya, dan hindari makanan junk food, serta rajin bergerak/olahraga ringan. Sambil melakukan itu semua, pantau kondisi tubuh anda dan lihat hasil kenaikan berat badan anda di tiap akhir trimester dan evaluasi jika tidak sesuai.

Memang ciri yang paling mudah untuk melihat ibu tercukupi kebutuhan gizinya hingga akhir kehamilan adalah kenaikan berat badannya. Kurang lebih ibu yang sehat mengalami kenaikan berat badan sekitar 10-18 kg. Pengukuran ketebalan lipatan kulit tidak berguna karena tidak memprediksi komposisi tubuh total ibu hamil, dan tidak ada standar acuan untuk hasil janin. Kenaikan berat badan tersebut disebut kenaikan berat badan gestasional. Kenaikan berat badan gestasional normalnya berasal dari peningkatan jaringan lemak ibu dan janin serta rentensi air. Karena itu jika bisa mencapai berat badan yang direkomendasikan pada akhir trimester kehamilan, semakin baik bagi pertumbuhan janin dan kelancaran kehamilan. Secara spesifik, kenaikan berat badan hingga akhir kehamilan berbeda tergantung status gizi ibu. Untuk ibu yang underweight pada awal kehamilan harus naik sekitar 12-18 kg, status gizi normal (11-15 kg), overweight (7-11 kg), dan obes (tidak lebih dari 7 kg). Sehingga sangatlah penting bagi calon-calon ibu yang memang merencanakan kehamilannya dengan baik untuk mengukur status gizinya (IMT) dan mengikuti perkembangan kenaikan berat badan setiap bulannya.

pregnan1

Terakhir, untuk melengkapi asupan gizi yang berkualitas, penuhi zat-zat gizi mikro ibu hamil. Mineral dan vitamin sangatlah penting untuk perkembangan organ dan otak si kecil nantinya. Kebutuhan energi ditambah 300 kkal. Konsumsi makanan sumber karbohidrat kompleks dan pati sebagai sumber energi (60-70% dari total kalori). Asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, lemak juga berfungsi untuk absorpsi vitamin dan membuat rasa kenyang tahan lama, pilih lemak yang sehat. Kebutuhan protein ditambahkan sekitar 10 gr dari 10-15% kebutuhan protein dari total kalori. Protein baik untuk membangun jaringan dan sel. Serat sekitar 25-35 gram per hari, untuk menjaga kestabilan gula darah sehingga bisa mencegah diabetes gestasional. Kebutuhan air juga harus diperhatikan, 8-12 gelas perhari. Diperlukan untuk menjaga suhu tubuh, dan membantu membawa zat-zat gizi ke semua sel. Selanjutnya untuk kebutuhan spesifik gizi mikro bisa dikonsultasikan ke ahli gizi dan dokter kandungan Anda.

pregnan2

 Sumber: dari perkuliahan penilaian status gizi dr. Detty

Cara tepat mengatasi alergi anak akibat makanan

alergi pada anak sebagian besar disebabkan karena makanan yang tidak cocok, carilah alternatif makanan lain.

Mungkin kita pernah merasa makan sesuatu lalu beberapa saat kemudian merasakan gatal-gatal yang lama kelamaan semakin tidak tertahankan, atau justru bintik-bintik kemerahan yang cukup perih bermunculan di sekitar kulit kita. Hal demikian tentu saja sangat mengganggu kita. Gejala seperti itu bisa jadi karena alergi makanan-makanan tertentu yang memberikan efek . Alergi sering kali kita temui pada anak-anak dan remaja, padahal semestinya usia anak-anak menjadi fase usia yang sangat bebas mengonsumsi bahan makanan sehat apapun mengingat pentingnya makanan yang bervariasi dan cukup jumlahnya untuk masa pertumbuhan mereka.

Alergi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup krusial dalam 2 dekade terakhir ini terutama di sebagian besar negara barat. Di Amerika sendiri prevalensi anak yang alergi yang disebabkan makanan mencapai 18%, dan sebagian besar menjadi penyebab utama terjadinya anafilaksis (anaphylaxis). Anafilaksis merupakan reaksi alergi terhadap sesuatu yang sangat parah yang terjadi dengan cepat dan membahayakan jiwa. Makanan menjadi pemicu utama anafilaksis pada kelompok anak-anak dan remaja, sedangkan anafilaksis pada orang dewasa terkadang diakibatkan karena gigitan serangga, cuaca, maupun obat-obatan. Anafilaksis pada anak-anak yang disebabkan makanan terkadang sangat fatal akibatnya, mulai dari wajah membengkak, sesak nafas hingga kematian. Banyak makanan yang bisa menyebabkan anafilaksis pada anak-anak dan remaja, misalnya saja kacang-kacangan, gandum, kerang, ikan, susu, buncis, nasi, dan telur.

Menurut Boden dan Weasley (2011), anak-anak dapat mengatasi alergi yang mereka temui seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 16 tahun atau memasuki fase remaja akhir, sekitar 80% anak-anak dengan anafilaksis susu dan telur sedikit demi sedikit dapat mentolerir makanan ini. Selain secara alami, alergi anak-anak terhadap makanan juga dapat ditangani melalui manajemen alergi yaitu dengan cara benar-benar menghindari makanan tersebut, melakukan uji sensitifitas makanan, konseling gizi, dan melalui pengobatan (bagi alergi yang sangat parah). Tetapi cara yang paling enak dan mudah adalah dengan melakukan sensitifitas untuk menentukan ambang batas konsumsi makanan tersebut. Misalnya anak yang alergi telur, bisa dilakukan uji bertahap dengan tetap mengonsumsi telur ¼ butir, jika tidak ada gangguan maka bisa ditambahkan sekitar ½ hingga ¾ butir telur tergantung efek alergi terhadap anak. Dengan begitu meskipun anak-anak alergi terhadap jenis makanan tertentu tetapi mereka tetap masih bisa menikmati makanan tersebut asalkan tidak melebihi ambang batas tersebut.

Alergi berkaitan erat dengan sistem imun, sehingga saat ini telah dikembangkan metode terapi untuk alergi makanan berbasis mekanisme sistem imun, yaitu immunoterapi. Awalnya orang yang mengalami alergi dibagi menjadi 3 fenotip dasar yaitu: alergi makanan sementara, alergi makanan permanen, dan sindrom alergi oral. Masing-masing dari kelompok tersebut memiliki mekanisme immunologi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan immunoterapi yang berbeda pula. Alergi makanan sementara yang paling merespon terapi immunologi ini. Meskipun dapat dikatakan bahwa alergi makanan sementara tidak memerlukan pengobatan, manfaat potensial dari terapi termasuk percepatan pembangunan toleransi dan meningkatkan kualitas hidup dan status gizi. Sedangkan pada alergi makanan permanen, mungkin akan menghadirkan tantang tersendiri dalam melakukan terapi. Alergi jenis ini cenderung memiliki respon yang kurang menguntungkan terhadap terapi, termasuk kegagalan untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh, kegagalan untuk memiliki toleransi oral, perlu untuk pengobatan yang lebih lama, dan pengembangan efek samping lebih serius selama terapi. Sedangkan pada alergi oral, dapat dilakukan terapi modifikasi makanan seperti yang telah dijelaskan diatas, respon terhadap terapi itu cukup baik sehingga terapi tersebut cenderung memberikan efek keberhasilan dalam mengatasi alergi makanan pada anak.

Sedangkan menurut kompas.com bahwa Jika anak alergi terhadap makanan tertentu, usahakan untuk selalu membaca label makanan kemasan yang dibeli. Alasannya adalah agar kandungan dalam makanan yang dibeli tersebut dapat diketahui seberapa banyak jenis bahan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi. Begitu pula jika berada di area foodcourt, usahakan untuk mepertanyakan apakah makanan yang yang dibeli tidak atau sedikit mengandung zat yang harus dihindari anak.

Referensi:

Nowak-Wegrzyn A., Sampson HA. (2010). Future therapies for food allergies. J Allergy clin immunol 127 (3): 559-573.

Boden, SR; Wesley Burks, A (2011 Jul). Anaphylaxis: a history with emphasis on food allergy. Immunological reviews 242 (1): 247–57.

Tren obesitas menurut kelompok usia

obesitas menurut kelompok usiaDari data di atas dapat dilihat kejadian obesitas berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Paling tinggi pada kelompok usia 0-5 tahun yaitu 14% dan paling rendah pada kelompok remaja usia 16-18 tahun yaitu 1,4%. Kejadian obesitas kembali meningkat pada orang dewasa usia >18 tahun yaitu sebesar 11,7%. Terdapat tren yang signifikan bahwa semakin meningkatnya usia prevalensi obesitas juga menurun, akan tetapi pada usia dewasa prevalensi itu meningkat dengan sangat ekstrim.

Pada usia 0-5 tahun, kebutuhan energi balita sangat bervariasi karena setiap kenaikan usia perbulannya maka kebutuhannya pun meningkat dengan perbedaan yang cukup besar. Tingginya prevalensi obesitas pada anak usia 0-5 tahun mungkin saja terjadi karena faktor pola asuh orang tua yang kurang tepat, misalnya saja yang berkaitan dengan pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Kemudian pada usia 6-12 tahun, faktor yang mempengaruhi sudah demikian banyak, karena pada masa ini anak-anak sudah mulai bisa mandiri melakukan aktivitas nya dengan bebas. Namun faktor yang paling berpengaruh bisa jadi karena adanya transisi pola hidup. Kini anak-anak tidak lagi banyak yang memainkan permainan tradisional (engrang, dende, petak umpet, dll) tetapi mereka cenderung melakukan sedentary activity seperti main game, komputer, intrnet, hp, tidak lagi berangkat kesekolah dengan sepeda atau jalan kaki tetapi di antar jmput dengan mobil atau motor.

Pada usia remaja awal (13-15) terjadi penurunan yang signifikan dimana prevalensi obesitas cukup rendah hanya 2,5%. Fase remaja awal pertumbuhan fisik anak sangat pesat, kebutuhan zat gizi nya pun meningkat. Di saat kebutuhan zat gizi meningkat, pada fase remaja awal ini intensitas aktivitas sangat tinggi, mulai dari bermain, sekolah, berangkat les, olahraga, dan yang cukup berpengaruh adalah fase ini telah mengenal adanya stress dari lingkungan yang cukup menyita waktu dan tenaga. Dari faktor-faktor tersebut diyakini menjadi penyebab mengapa prevalensi menurun drastis dan berlanjut hingga fase remaja akhir. Kemudian pada fase remaja akhir (16-18) dimana prevalensi justru paling rendah menurut kelompok umur yaitu hanya 1,4%. Pada fase ini mungkin saja berkaitan dgn body image, tingginya mobilitas/aktivitas, terpapar tingkat stressor yang lebih tinggi lagi, dll.

Mengapa kelompok usia dewasa (>18 tahun) prevalensi kembali meningkat dengan sangat ekstrim yaitu 11,8%. Prevalensi pada usia dewasa ini meningkat 2,8% dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Berdasarkan survei Riskesdas 2007 dan 2010, obesitas paling banyak terjadi pada kelompok sosial ekonomi menengah keatas. Secara keseluruhan, semua kelompok sosial ekonomi mengalami kenaikan prevalensi obesitas. Namun  yang mengalami kenaikan paling banyak terdapat pada kelompok sosial ekonomi rendah yaitu 2,5% sedangkan pada kelompok sosial ekonomi tinggi hanya 0,9%. Hal ini berarti obesitas kini tidak lagi dialami oleh golongan yang memiliki pendapatan yang cukup besar. Faktor-faktor yang berpengaruh selain pola makan juga berkaitan dengan pola perilaku sedentari. Kebanyakan yang bekerja di kantoran sepanjang hari hanya duduk dan kurang mengeluarkan energi tetapi asupan makanan yang tetap ada belum lagi diselingi makanan/minuman ringan padat energi. Adapun pada orang dewasa yang tidak bekerja kantoran, mungkin saja dipengaruhi oleh transisi lifestyle, transisi itu akibat perkembangan teknologi, aksestabilitas makanan fast food yang cukup tinggi baik di daerah suburban maupun rural.

tren obese

Prevalensi obesitas tahun 2007 dan 2010

Ternyata tren yang meningkat tidak hanya terjadi menurut kelompok usia, tren tersebut juga terjadi dari tahun ke tahun yang dibuktikan dari hasil survei Riskesdas 2007 dan 2010. Pada kelompok umur 0-5 tahun kenaikannya 1,8%, pada usia anak dan remaja sekitar 3,7%, dan pada kelompok usia dewasa kenaikannya mencapai 2,8%. Diprediksi akan terjadi kenaikan sekitar 1-2% pertahunnya, jika hal tersebut tidak ditangani dengan serius oleh pemerintah maka masalah obesitas ini akan memberi dampak negatif yang luar biasa. Beban negara akan meningkat untuk membiayai masalah penyakit kronik tidak menular yang disebabkan obesitas, kematian akan semakin tinggi, semakin banyaknya orang yang akan memiliki beban psikologis dan retardasi mental akibat body image, dan beban diskriminasi sosial bagi orang obes (WHO, 2000). Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani agar masalah obesitas ini tidak menjadi “bom waktu masalah” bagi negara, dengan fokus terhadap optimalisasi 4 aspek yaitu: 1. Intervensi/modifikasi perilaku (perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik), 2. Program pemberdayaan keluarga (semua keluarga harus peduli), 3. Disediakannya promosi pola hidup sehat di tempat-tempat pelayanan umum, dan 4. Dapat dilakukan treatment dengan obat-obatan maupun bedah (Jones, 2008).

Sumber :

  1. Laporan Nasional Riskesdas 2007 dan 2010.
  2. WHO. (2000). Obesity: Preventing and Marketing The Global Epidemic.
  3. Jones KB. (2011). Obesity Surgery: Principles and Practice.

Kebiasaan Makan Anak Usia Sekolah (3)

Kebiasaan konsumsi sayur dan buah

Menurut survey nasional tahun 2007, di Indonesia prevalensi anak yang kurang makan sayur (<5 porsi sehari) sangat tinggi yaitu mencapai 93,6%. Bahkan di negara maju pun seperti Australia, anak-anak yang kurang mengonsumsi sayur dan buah sangat tinggi mencapai 86%. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan mengapa anak-anak kurang mengonsumsi sayur dan buah, apakah karena ketersediaannya, harganya yang mahal dan tidak terjangkau, rasanya yang tidak enak ataukah berbahaya bagi kesehatan. Ironisnya di berbagai daerah sangat mudah memperoleh sayur dan buah, dengan harga yang terjangkau bagi semua kelompok sosial ekonomi, rasanya pun beragam sehingga bisa memilih tergantung selera, dan tentu saja sayur dan buah member dampak kesehatan bagi anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lanjut usia.

Alasan mengapa konsumsi sayur dan buah masih sangat kurang terutama pada kelompok anak usia sekolah karena golongan makanan tersebut masih kalah populer dengan kelompok makanan yang lain seperti makanan tinggi kalori (fastfood, cemilan, sugar-sweetened beverage, dll), kelompok makanan berlemak (steak, gorengan, olahan susu, dll). Kelompok makanan favorit anak itu selain karena rasanya yang memang disukai juga mudah dan murah untuk diperoleh. Sebagian besar jajanan anak terdiri dari makanan yang berlemak, manis, dan tinggi kalori.

Sayur dan buah merupakan sumber utama vitamin dan mineral yang esensial bagi pertumbuhan anak, kaya antioksidan. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah merupakan bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang, dan memberikan kontribusi terhadap kesehatan anak dan mencegah penyakit kronik di usia selanjutnya. Tingkat konsumsi sayur dan buah anak akan lebih tinggi jika orang tua menyediakan sayur dan buah di rumah. Selain itu nonton tv dan paparan iklan tv menjadi salah satu penyebab konsumsi sayur dan buah lebih rendah, karena dengan menonton tv anak akan terbiasa mengemil makanan ringan yang tentunya tidak disertai dengan sayur dan buah. Paparan iklan televisi juga menyebabkan anak akan cenderung memilih makanan yang diiklankan tersebut, dan dapat dilihat bahwa hampir semua iklan televisi makanan tidak menyangkut sayur dan buah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan konsumsi sayur dan buah anak, akan tetapi perlu pendekatan multi-komponen dan melibatkan banyak pihak terkait. Diantaranya adalah menetapkan kebijakan di sekolah, pelayanan di kantin sekolah, pemanfaatan media, dan peran orang tua. Kebijakan sekolah misalnya adanya fruit and vegetable breaks (istirahat), adanya aktivitas berkebun di sekolah untuk mengenalkan anak tentang sayur dan buah, atau praktik mengolah sayur dan buah menjadi makanan favorit yang enak dan menyehatkan. Pelayanan di kantin juga harus berkualitas, tidak hanya menyediakan makanan sumber energi, protein, dan lemak tetapi juga buah-buahan yang kaya akan vitamin. Sekolah juga bisa memanfaatkan media untuk mempromosikan sayur dan buah kepada anak, dan terakhir peran orang tua dengan senantiasa memberikan informasi dan ketersediaan sayur dan buah di rumah.

Makanan sehat bagi anak usia sekolah

Untuk anak usia sekolah, makanan yang divariasikan menjadi kunci utama untuk membuat anak memiliki kebiasaan makan yang sehat. Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan semua zat-zat gizi untuk pertumbuhan tubuh. Kalsium untuk pertumbuhan tulang mungkin bisa diperoleh dari susu, yogurt atau ganti dengan makanan olahan yang mengandung tinggi kalsium jika terjadi intoleransi susu. Protein untuk pertumbuhan sel dan organ tubuh anak bisa diperoleh dari berbagai sumber bahan makanan yang menyehatkan seperti ikan, ayam, telur, daging, dan kacang-kacangan. Selain itu kebutuhan akan lemak juga penting, tetapi sebaiknya lemak tidak jenuh baik monounsaturated  maupun polyunsaturated (omega-3 dan omega-6). Lemak tidak jenuh sangat penting bagi anak untuk pertumbuhan sel-sel otak bagi kemajuan kecerdasan anak, lemak tidak jenuh dapat diperoleh dari minyak nabati, alvokat, kacang-kacangan, lemak ikan,  biji bunga matahari, kacang kedelai, dan kenari. Meskipun lemak baik untuk anak tetapi ada jenis lemak yang sebaiknya dihindari yaitu lemak trans yang dapat ditemukan pada margarin, kue, cemilan, dan gorengan. Kebutuhan zink juga perlu, karena bermanfaat untuk meningkatkan memori dan performa akademik anak khususnya pada anak laki-laki. Zink bisa diperoleh dari daging, susu, coklat, telur, dan berbagai makanan yang juga mengandung protein.

Anjuran untuk membatasi konsumsi gula hanya 3 sendok makan perhari (12 gram) cukup baik bagi anak, untuk menjaga berat badan dan kadar gula darah anak. Mengurangi kebiasaan mengemil, makan permen, dan kue dapat menjadi solusi menjaga asupan gula setiap harinya. Cobalah mengganti minuman manis dengan air mineral, jus buah murni, susu skim, atau susu kedelai lalu hindari makanan yang telah diproses dengan teknologi tinggi dan gantilah dengan makanan yang dimasak sendiri karena dapat menaikkan dan menurunkan kadar gula darah akibatnya anak akan merasa cepat lelah. Untuk kebutuhan garam, sebaiknya tidak kurang dari 1500 mg dan tidak lebih dari 2200 mg perhari. Karena itu pola makan dan kebiasaan makan makanan ringan perlu diperhatikan. Hindari fast food, dan makanan yang diproses dan dikemas seperti ikan kaleng, sayuran yang dikalengkan, dan makanan dari restoran fast food mengandung tinggi natrium tinggi kalori. Begitupula kurangi mengemil potato chip, kacang, dan kue kering yang asin. Cobalah mengganti makanan-makanan yang merugikan kesehatan anak dengan makanan yang lebih sehat seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sumber

Paul M., and Robinson L. (2012). Nutrition for children and teens: Helping your kids eat healthier. Helpguide.org accessed on 16th November 2012.

Prawitasari, Titis. (2012). Healthy breakfast: how does it help my kid’s performance. FK UI. Jakarta.

 

Masalah stunting di Sulawesi Selatan

Kesehatan merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan serius baik pada individu maupun kelompok sehingga perlu adanya upaya kesehatan yaitu suatu upaya dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Jika dikaitkan dengan beberapa aspek akan nampak permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks, seperti halnya masalah gizi yang tanpa henti terjadi di Indonesia dan tentu saja berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Ada beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika (Riskesdas 2007).

Masalah gizi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sudah menjadi semakin lengkap dengan adanya istilah beban ganda masalah gizi. Sebagai negara yang sedang berkembang beban ganda masalah gizi ini kian terasa karena disatu sisi permasalahan gizi kurang tidak kunjung berkesudahan dan kini Indonesia menghadapi masalah gizi lebih yang mendatangkan masalah baru. Masalah gizi kurang kerap kali dikaitkan dengan penyakit infeksi seperti Infeksi  Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, dan campak sedangkan gizi lebih banyak ditemui di daerah yang cukup maju atau kota-kota besar di Indonesia. Keberhasilan suatu bangsa bergantung pada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya yakni melalui upaya peningkatan mutu sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Walaupun suatu daerah sangat kaya akan sumber daya manusia namun jika tidak dikelola dengan sumber daya yang berkualitas maka akan sulit melakukan pembangunan optimal dan hal tersebut yang sekarang ini menimpa Indonesia (Hadi, 2005).

Jika ditelaah lebih jauh banyak faktor yang menyebabkan tercapainya sumber daya manusia yang rendah salah satunya adalah faktor gizi. Tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk akan berimplikasi secara berkesinambungan pada siklus kehidupan. Sehingga jika tidak segera ditangani maka dapat terjadi penurunan kualitas dari generasi ke generasi. Menurut Hammond (2000), status gizi dipengaruhi secara langsung oleh asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh akan zat gizi, asupan zat gizi tergantung pada konsumsi makanan yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keadaan ekonomi, pola asuh, pola makan, dan kondisi emosional, perilaku ibu mengenai gizi seimbang, kepedulian orang tua, budaya dan penyakit infeksi. Sedangkan menurut Hadi (2005), peranan gizi sudah mulai sejak awal kehidupan dan akan terus berlanjut yang nantinya akan menjadi sebuah siklus. Status gizi ibu akan berpengaruh terhadap asupan gizi anak dalam janin, apabila asupannya kurang maka akan beresiko menjadi berat badan lahir rendah (BBLR). Anak yang BBLR jika tidak ditangani dengan serius akan tumbuh besar menjadi anak yang pendek (stunting). Anak yang stunting cenderung akan sulit mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal baik secara fisik maupun psikomotorik yang erat kaitannya dengan kemunduran kecerdasan dan produktivitas.

Menurut Allen and Gillespie (2001), bahwa stunted pada masa kanak-kanak merupakan faktor risiko bagi meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi-fungsi yang tidak seimbang. Stunted mencerminkan suatu kegagalan proses pertumbuhan linier sebagai hasil ketidakoptimalan kesehatan dan/atau kondisi yang berhubungan dengan gizi. Tingginya angka stunted pada populasi diasosiasikan dengan kemiskinan sosial ekonomi (de Onis, 2001).

Stunting merupakan masalah gizi kornis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan kurang gizi yang terakumulasi dalam waktu yang cukup lama. Status gizi ini dikategorikan menjadi pendek dan tidak pendek yang digabung menjadi satu kategori dan disebut sebagai masalah stunted. Penyebab stunting sangat banyak, diantaranya adalah anemia pada ibu hamil, bayi lahir premature ataupun BBLR, pemberian ASI ekslusif, pola asuh ibu, penyakit infeksi yang diderita anak dalam waktu yang lama, serta menurut penelitian Astari (2006) bahwa praktik pemberian makanan secara dominan berpengaruh bermakna terhadap kejadian stunting. Hal tersebut berkaitan dengan peran keluarga yang memang sangat dominan dalam memberikan asuhan kepada anaknya. Menurut Nadimin (2009), keluarga yang sadar gizi tentu akan menitikberatkan aspek gizi dalam mengasuh anaknya karena perilaku sadar gizi ini erat kaitannya dengan pedoman umum gizi seimbang yaitu konsumsi beraneka ragam makanan, memantau berat badan ideal, melakukan upaya fortifikasi, menggunakan garam yodium, dan lain sebagainya. Selain itu, adanya faktor budaya ikut berpengaruh dalam membentuk karakter food habit dan food pattern keluarga.

 Berdasarkan laporan nasional Riskesdas 2010 bahwa lebih dari sepertiga anak balita Indonesia tergolong stunting yakni sebesar 35,6%. Di Sulawesi selatan (Sulsel) prevalensi stunting justru lebih tinggi daripada angka nasional yakni 38,9%, padahal tahun 2007 lalu hanya 29,1%. Berarti telah mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 9,8%. Ada kecenderungan bahwa sebesar 38,9% anak-anak di Sulsel akan berpotensi mengalami kemunduran kecerdasan dan produktivitas dan tentu saja hal ini harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah daerah Sulsel karena berkaitan dengan keberhasilan pembangunan di Sulsel. Selain itu juga pemerintah perlu mengidentifikasi mengapa sampai terjadi kenaikan prevalensi yang sangat tinggi di Sulsel yang hampir mencapai 10% tersebut. Menurut laporan kesehatan kabupaten Pangkep (2007), bahwa Pangkep adalah kabupaten tidak bermasalah miskin namun prevalensi gizi buruk cukup tinggi jika dibandingkan secara nasional dan tingkat propinsi Sulsel, prevelensi anak yang stunting di Kabupaten Pangkep mencapai 27,8%. Namun untuk tahun 2010 ini belum ada data yang jelas mengenai prevalensi stunting di kabupaten Pangkep, diperkirakan kejadian stunting meningkat seperti halnya data prevalensi di Sulsel yang terjadi kenaikan.

 Kabupaten Pangkep terletak di pantai Barat Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah daratan, pegunungan dan pulau-pulau tanpa lingkup perairannya adalah 1.112 km2, sementara luas lautnya adalah 17.100 km2. Kabupaten Pangkep berbatasan dengan Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Madura, Pulau Nusa Tenggara dan Bali di sebelah barat, sebelah utara dengan Kabupaten Barru, sebelah timur dengan Kabupaten Bone, dan sebelah selatan dengan Kabupaten Maros. Alokasi dana APBD untuk bidang kesehatan hanya 4,73% tahun 2010, secara geografis merupakan daerah yang terdiri dari 7 kecamatan di daratan, 2 kecamatan di pegunungan, dan 3 kecamatan di kepulauan memiliki masyarakat yang sangat beragam dari segi sosial budaya. Aksesbilitas ke pusat kota juga tentunya berbeda bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan dengan yang tinggal di daratan.

 Selain itu, berdasarkan laporan ketersediaan pangan di Sulawesi Selatan tahun 2010 bahwa kabupaten Pangkep merupakan daerah yang surplus pangan yang tinggi, namun masih tergolong daerah yang agak rawan berdasarkan laporan akses pangan tahunan daerah. Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh kondisi geografi yang terdiri dari kepulauan, daratan, dan pegunungan. Perbedaan geografi dan topografi dapat mempengaruhi pola makan masyarakat, berdasarkan hasil penelitian Damanik (2010) bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat konsumsi energi dan protein pada anak yang tinggal di daerah perbukitan dengan yang tinggal di tepi danau. Namun tetap tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan TB/U karena di dua daerah tersebut anak-anaknya tergolong stunting. Hal ini mungkin saja terjadi karena di kedua wilayah tersebut sama-sama memiliki akses pangan yang sulit, sehingga pangan kurang beraneka ragam. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini, ingin menekankan lagi bahwa perbedaan geografi mempengaruhi akses pangan masyarakat.

LIST OF REFERENCE

Semba RD, de Pee S, Sun Kai, Sari M, Akhter N, Bloem MW. Effect of parental formal education on risk of child stunting in Indonesia and Bangladesh: a cross-sectional study. Lancet 2008; 371: 322–28

Nadimin, 2009. Gambaran Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Bulukumba. Studi Analisis Data Survei Kadarzi dan PSG Sulsel 2009. Media Gizi Pangan 2010; IX.01:69-75. 

Norliani, Sudargo T, Budiningsari DR. Tingkat Sosial Ekonomi, Tinggi Badan Orang Tua dan Panjang Badan Lahir dengan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah. BKM. 2005; XXI: 04: 133-139.

Wamani H, Astrom AN, Peterson S, Tumwine KJ, Tylleskar T. Boys Are More Stunted than Girls in Sub-Saharan Africa: meta analysis of 16 demographic and Health Surveys. BMC Pediatrics. 2007. p: 7-17.

Ramli, Agho KE, JI Kerry, JB Steven, Jennifer, Dibley MJ. Prevalence and Risk Factors for Stunting and Severe Stunting Among Under-fives in North Maluku Province of Indonesia. Biomed Central (BMC) Pediatrics. 2009; 9: 64. 

Mendez MA & Adair LS. Severity and Timing in The First Two Year of Life Affect Performance on Cognitive Tests In Late Chilhood. The Journal of Nutrition. 1999; 129:1555-1562.

Madiono, B., Mz, S.M., Sastroasmoro , S., Budiman, I., & Purwanto S. H. (2002) Perkiraan Besar Sampel. Di dalam : Dasar-dasar Metode Penelitian Klinis. Binarupa Aksara. Jakarta. 

Crookston BT, Mary E. Penny, Stephen C. Alder, Ty T. Dickerson, Ray M. Merrill,6 Joseph B. Stanford, Christina A. Porucznik, and Kirk A. Dearden. Children who recover from early stunting and children who are not stunted demonstrate similar levels of cognition. American Society for Nutrition, The Journal of Nutrition 2009; 1996-2001.

Rahayu LS. HUBUNGAN PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN PERUBAHAN STATUS STUNTING DARI USIA 6-12 BULAN KE USIA 3-4 TAHUN. Proseding Penelitian Bidang Ilmu Eksakta Indonesia 2011; 103-115.

Rahmadi, 2009. Hubungan Perilaku Sadar Gizi dan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Status Gizi Balita di Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan. FK UGM, Yogyakarta.

Depkes, 2004. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Mewujudkan Keluarga Cerdas dan Mandiri. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta.

Jayanti LD. 2011. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Serta Perilaku Gizi Seimbang Ibu Kaitannya dengan Status Gizi dan Kesehatan Balita di Kabupaten Bojonegoro. IPB, Bogor.

Rusmimpong, 2007. Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian Makanan Gizi Seimbang pada Balita di Wilayah Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi. FK UGM, Yogyakarta.

Nabuasa CD, 2011. Hubungan Riwayat Pola Asuh Pola Makan, dan Asupan Zat Gizi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur. FK UGM, Yogyakarta.