Power of brain: Sistem kontrol nafsu makan


from brain to mouth mechanism

from brain to mouth mechanism

Obesitas kini telah menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia yang tidak kunjuung berkurang, tiap tahun prevalensinya selalu meningkat. Jika di negara maju peningkatan obesitas tidak terlalu ekstrim di negara berkembang justru meningkat dua hingga tiga kali lipat tiap 10 tahun. Mungkin saja karena di beberapa negara maju telah memiliki perencanaan penganggaran yang baik dalam melawan epidemic obesitas, seperti di Australia dan Amerika. Berbeda halnya di negara berkembang yang masih fokus memerangi gizi buruk sehingga terkesan mereka belum siap dalam menghadapi dampak dari obesitas dan menjadi beban ganda masalah gizi.

Di tingkat individu, penanganan obesitas yang efektif adalah dengan memahami prinsip pengontrolan nafsu makan dan berat badan ideal. Dengan manajemen nafsu makan dan pemantauan berat badal ideal akan menciptakan pada individu suatu sistem kontrol terhadap faktor-faktor penyebab obesitas. Faktor genetik dan fisiologi cenderung menjadi penentu yang sangat penting dari sistem kontrol tersebut, namun perubahan lingkungan dan gaya hidup juga tidak dapat diabaikan sebagai penggerak utama dari perkembangan obesitas. Jika yang mempengaruhi fisiologis itu adalah peranan otak sebagai pusat regulasi hormon-hormon, sebaliknya gaya hidup dan lingkungan akan mempengaruhi intake zat-zat gizi. Sehingga yang menjadi fokus pembahasan artikel kali ini adalah seberapa besarkah peranan hormon-hormon yang dikendalikan oleh otak terhadap proses metabolisme zat gizi, kontrol nafsu makan, dan gaya hidup dalam kaitannya dengan obesitas.

mekanisme hormon

mekanisme hormon

Peran otak (bagian hipotalamus) yang utama adalah mengatur regulasi keseimbangan (homeostatis), termasuk homeostatis makronutrien, mikronutrien, dan energi. Namun dalam proses pengaturannya, otak memerlukan informasi dari organ-organ yang berkaitan dengan komponen-komponen tersebut dan informasi itu dapat diperoleh dari neurohormon yang dilepaskan oleh masing-masing organ (Woods dan Allesio, 2008). Misalnya colon melepaskan tirosin (peptida) dalam merespon asupan lipid dan energi yang dikandung makanan langsung ke hipotalamus. Setelah informasi sampai, hipotalamus akan mengirimkan perintah dengan merangsang dan mengeluarkan hormon-hormon seperti insulin, ghrelin, leptin, kortisol, dan lainnya. Setelah hormon-hormon tersebut bekerja, otak akan merespon informasi yang diperolehnya denagan tindakan apakah zat gizi tersebut masih akan digunakan untuk kerja organ-organ tubuh dan memberikan sinyal masih membutuhkan makanan ataukah disimpan dalam bentuk cadangan di otot, hati ataupun jaringan lainnya dan memberikan sinyal rasa kenyang ataupun nafsu makan.

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai leptin dan ghrelin, leptin dan ghrelin merupakan hormon yang  disekresikan dari jaringan lemak. Peran kedua hormon ini sangat signifikan terhadap manajemen berat badan, leptin berperan menekan nafsu makan seseorang sedangkan ghrelin mengatur rasa lapar. Hormon-hormon tersebut dikendalikan oleh hipotalamus begitu pula dengan hormon-hormon lain yang terkait metabolisme zat-zat gizi. Meskipun hipotalamus memainkan peran penting regulasi energi dan zat-zat gizi lain terutama berkaitan dengan pembahasan obesitas, faktor lingkungan secara garis besarnya juga mempengaruhi peran hipotalamus tersebut. Misalnya saja bagi orang yang sering lembur dan begadang akibat bekerja, akan berefek pada pengaturan hipotalamus. Jika seseorang kurang tidur akan meningkatkan pengeluaran grhelin dan menurunkan leptin. Jika berlangsung setiap malam, maka berpengaruh kembali pada perilaku individu tersebut misalnya akan sering mengemil malam, atau justru makan “besar” pada malam hari akibatnya energi tidak terpakai tersimpan dalam sel dan jaringan dalam bentuk lemak. Karena itu sebaiknya dalam mengatur berat badan, sebaiknya tidak hanya memerhatikan pola makan saja, karena ternyata faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya. Hindari Junk food, banyak melakukan aktivitas fisik,  kurang menonton TV (<2 jam/hari), dan menjaga kualitas tidur menjadi lebih baik adalah solusi yang cukup tepat menangani obesitas secara individu. Selain itu, masalah tidur juga berkaitan erat dengan sistem control nafsu makan, kaitannya terdapat pada mekanisme sekresi hormon leptin dan ghrelin yang sedikit banyak dipengaruhi oleh pola tidur.

Posted on 9 January 2013, in Health and Nutrition, Material and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: