Seri obesitas : Kurang asupan kalsium menaikkan berat badan


Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat obesitas sebagai faktor resiko yang memacu terjadinya defisiensi zat gizi, namun sebaliknya masih sedikit yang menunjukkan secara ilmiah bahwa kurang asupan mikronutrien dapat menyebabkan terjadinya overweight/obesitas. Sehingga kemungkinan terjadi overlap antara obesitas dengan defisiensi mikronutrien. Sebagai respon terhadap kurangnya mikronutrien, orang yang mengalami defisiensi micronutrient inti dalam metabolisme tubuh mungkin akan lebih rentan mengalami stress oksidatif sehingga terbentuk suatu kondisi dimana resiko obesitas meningkat.

Salah satu mikronutrien yang berhubungan dengan obesitas adalah kalsium, kurangnya asupan kalsium dapat berdampak terhadap kenaikan berat badan. Asupan kalsium yang kurang bisa menyebabkan peningkatan produksi enzim synthase, yang merupakan suatu enzim yang berperan mengubah kalori menjadi lemak. Asupan kalsium yang cukup (1000-1500 mg/hari) pada orang dewasa telah menunjukkan resiko yang lebih rendah untuk terkena osteoporosis, batu ginjal, hipertensi, dan obesitas.  Kalsium juga berperan dalam proses penyimpanan glikogen. Bila tidak ada kalsium, tubuh akan merasa lapar terus-menerus karena tidak dapat menyimpan glikogen. Asupan kalsium yang cukup akan mempertahankan kestabilan hasrat makan.

Banyak faktor yang bisa mempengaruhi asupan kalsium seseorang, diantaranya adalah vitamin D. 1,25 dihidroxy vitamin D (Calcitriol) dapat  meningkatkan produksi  lemak. Calcitriol akan meningkat bila asupan kalsium rendah dan sebaliknya calcitriol akan ditekan bila  asupan kalsium  tinggi. Hal ini berarti asupan kalsium yang rendah dapat meningkatkan calcitriol dan menstimulasi adiposit Ca2+ konsekuensinya terjadi peningkatan produksi lemak adiposit sehingga lemak tubuh akan sedikit yang dibakar akibatnya berat badan menjadi bertambah. Vitamin D juga menjadi kunci dalam mengatur level gula darah dan sangat vital menjaga berat badan ideal.

Asupan kalsium dengan Calcitriol memiliki hubungan yang reversible, asupan kalsium juga mempengaruhi aktivitas hormon Calcitriol dalam tubuh. Asupan kalsium yang tinggi menyebabkan ion kalsium plasma meningkat. Peningkatan asam lemak akan menekan atau menurunkan konsentrasi Calsitriol sehingga menghambat masuknya kalsium melalui membran vitamin D reseptor yang berakibat menurunnya kalsium intraselluler. Penurunan ini menghambat asam lemak sintase (enzim kunci lipogenesis) dan mendorong lipolisis Triasil Gliserol (TG) menjadi asam lemak dan gliserol, Asam lemak ini akan berubah menjadi asam lemak bebas dan dioksidasi sebagai bahan bakar, akibatnya TG di jaringan adiposa menurun sehingga berat badan pun menurun. Jika asupan kalsium kurang serta kalsium dalam tubuh rendah maka enzim asam lemak sintase akan meningkat tinggi menyebabkan asam lemak tidak dioksidasi dan energi diubah menjadi lemak di dalam tubuh, akibatnya akan ada penumpukan lemak dalam tubuh yang bisa menyebabkan obesitas. Dari penelitian Arundhana (2010) terlihat bahwa pada kelompok obesitas memang memiliki asupan kalsium yang kurang dibandingkan kelompok yang tidak obesitas (p<0,05). Perlu diketahui bahwa wanita cenderung memiliki konsumsi kalsium yang lebih rendah akibatnya mereka memiliki masalah berat badan, lingkar pinggang, bahkan tingkat kolesterol jahat di tubuh. Asupan kalsium yang rendah pada perempuan bisa saja dikarenakan faktor kebiasaan makan. Wanita cenderung menghindari makanan-makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti keju, susu dan produk olahannya karena persepsi bahwa makanan tersebut mengandung tinggi lemak dan kalori.

Defisiensi kalsium merupakan manifestasi dari ketidakcukupan asupan kalsium yang didapat dari makanan ataupun suplemen. Sehingga dalam mengatasi masalah tersebut, mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan mudah diserap oleh pencernaan adalah tindakan yang paling baik. Seseorang yang mengonsumsi makanan yang seimbang lebih cenderung memiliki proporsi berat badan yang ideal dibandingkan yang tidak mengonsumsi makanan seimbang. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Asfaw (2007) bahwa ibu yang memiliki keterbatasan akses terhadap mikronutrien yang baik dari makanan akan memiliki resiko menjadi overweight/obesitas dibandingkan dengan ibu yang mengonsumsi makanan yang berkualitas dalam hal ini bergizi seimbang.

Posted on 6 June 2012, in Nutrition Problem, What you are eat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. assalamualaikum, saya tertarik dengan artikel kekurangan kalsium dapat menyebabkan kenaikan berat badan. apakah ada literatur yang lebih formal untuk dijadikan daftar pustaka?

    • Maaf baru sempat balas
      Iya, literatur sangat banyak. Anda bisa mencari dengan keyword calcium deficiency and obesity, atau yang berhubungan dengan defisiensi vitamin D yang berkaitan dengan obesitas. Disitu anda akan temukan teori-teori mengapa defisiensi micronutrient dapat memicu terjadinya obesitas.
      Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: