Blog Archives

Seputar Vegetarian (2)

Vegetarianism… (www.ciboapp.com)

Melanjutkan tulisan bulan lalu terkait vegetarian, bahwa ternyata vegetarian juga berkaitan dengan masalah defisiensi zat gizi, aging, dan proporsi berat badan ideal.

Vegetarian dan anemia, defisiensi vitamin B12

Sumber zat besi umumnya yang dikonsumsi dalam bentuk heme dan non-heme. Zat besi golongan heme cenderung lebih mudah diserap dibandingkan non-heme. Sumber-sumber zat besi dari pangan hewani mengandung zat besi heme sedangkan nabati mengandung zat besi non-heme. Selain itu zat besi dari golongan no-heme lebih dapat dipengaruhi oleh substansi makanan lain dibandingkan dengan zat besi heme yakni dalam hal penyerapannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga penyerapan non-heme dapat ditingkatkan misalnya dengan konsumsi asam askorbat (vit C) sedangkan penyerapannya dapat dihambat oleh adamnya kalsium fosfat, fitat, atau polifenol yang sering kita peroleh di dalam teh dan kopi. Karena sebagian besar vegetarian mengonsumsi produk hewani dengan terbatas bahkan ada yang menghilangkan sama sekali, padahal itu merupakan sumber penting dari besi heme bahkan konsumsi heme sendiri bisa juga meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Akibatnya vegetarian mungkin berada pada risiko tinggi mengalami kekurangan zat besi dibandingkan yang non-vegetarian.

Secara umum, vegetarian yang mengikuti diet seimbang tidak bisa dipastikan berada pada risiko memiliki kekurangan zat besi. The American Dietetic Association menunjukkan bahwa diet vegetarian yang direncanakan dengan baik yang terdiri dari makanan nabati ditambah dengan beberapa susu dan telur memiliki status gizi yang sehat. Namun, vegetarian baru, kelompok etnis seperti imigran India, dan vegetarian Budha terbukti memiliki kadar konsentrasi feritin serum lebih rendah dari pemakan daging. Beberapa studi, menunjukkan bahwa vegetarian memiliki asupan besi mendekati bahkan lebih tinggi daripada omnivora, namun tetap memiliki gangguan status zat besi. Ini terkait pada bioavailabilitas zat besi yang menjadi penentu utama dari kecukupan zat besi dari diet vegetarian. Serat pangan juga menghambat zat besi non-heme karena dapat mengikat zat besi non-heme dan mengurangi bioavailabilitas nya (Davies, 1985).

Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging bukan pada buah dan sayur. Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan glikoprotein (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa glikoprotein, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja. Berarti faktor protein lagi-lagi menjadi unsur penting terjadinya anemia megaloblastik ini.

Vegetarian dan berat badan proporsional

You are what you eat, sering kita mendengar istilah tersebut terutama untuk menggambarkan kondisi status gizi seseorang. Mungkin bagi orang gemuk digambarkan krn selalu makan daging, org kurus digambarkan krn kekurangan makan, lantas bagaimna dgn orang yang hanya makan sayur-sayuran saja? Seperti sayur? Bagaimana kah berat badan proporsional itu? Bagaimana dengan orang vegetarian itu, apakah bisa tubuhnya proporsional?

Arti dari bb proporsional itu adalah seimbangnya antara berat badan yang dimiliki dengan tinggi badannya. Indikator untuk mengukurnya adalah menggunakan antropometri. IMT yang normal kisaran 18-23 kg/m2 menjadi ukuran berat badan yang proporsional. Hasil penelitian Tonstad et al (2009) menunjukkan bahwa kelompok vegan memiliki rata-rata indeks massa tubuh lebih sedikit dibandingkan yang semi vegan dan bahkan yang non-vegan yakni berturut-turut 23,6; 25,7; dan 28,8 (p<.0001). Ini menunujukkan adanya efek menjaga berat badan melalui pola konsumsi vegan.

Penjelasannya, karena pola konsumsi vegan hanya menempatkan sumber karbohidrat sebagai sumber utama energi setelah protein dan lemak dikesampingkan. Ditambah lagi sayur-sayuran serta buah-buahan yg kaya akan serat dimana serat mempengaruhi asupan karbohidrat. Yakni membuat rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga ada kontrol asupan karbo. Ini menyimpulkan bahwa seorang vegan murni berpotensi asupan energi utamanya juga lebih terkontrol. Dapat dilihat yang semi vegan IMTnya cukup tinggi.

Vegetarian dan umur panjang

Ideologi/klaim dari para vegetarian adalah orang-orang yang mengonsumsi diet vegetarian akan memiliki kesehatan yang lebih baik, dan hidup lebih lama dibandingkan non-vegetarian, karena orang-orang yang mengonsumsi daging, susu, dan produk olahan dairy, telur, serta ikan memiliki risiko kesehatan yang buruk.

Klaim ini bisa diruntuhkan melalui evidance based di berbagai negara misalnya di negara-negara Eropa. Sebagian besar masyarakat sehat di Eropa merupakan penduduk Iceland, Switzerland, Sweden, dan Norway, namun mereka semua mengonsumsi dalam jumlah yang banyak makanan dari hewani. Di negara-negara ini menurut WHO memiliki life expectancy yang sangat tinggi (WHO, dalam database kesehatan eropa thn 2007). Iceland dan Swiss UHHnya 80 thn (lk2) dan 84 thn (pr), sedangkan Swedia dan Norway 79 thn (lk2) dan 83 thn (pr).

Pola makan mereka very high cheese and milk, makan daging merah, daging panggang, daging asap, ikan, produk dairy, susu fermentasi, dan mereka juga tidak melewatkan sayur dan buah dalam makanan mereka. Penelitian di British (2003) pada vegetarian orang Inggris, menunjukkan tingkat mortalitas tidak berbeda secara signifikan dengan non-vegetarian.

Tentunya kita masih bertanya-tanya mengapa diet vegetarian dapat meningkatkan kemungkinan pada umur panjang, jawabannya tidak terlepas karena alasan konsumsi berbagai macam sayuran dan buah-buahan tidak memiliki kandungan lemak jahat dan lemak jenuh seperti pada berbagai makanan lainnya. Jika pun ada lemak yang terkandung, itu merupakan lemak nabati yang tidak akan sebahaya lemak jahat dan lemak jenuh, yang kita juga sama-sama telah mengetahuinya dapat menimbulkan beberapa penyakit berbahaya seperti kolesterol, jantung, obesitas, diabetes, hingga hipertensi. Tapi mengapa di negara-negara eropa yg masih konsumsi daging tapi masih UHH nya tertinggi?

Orang vegan di hipotesiskan memiliki potensi panjang umur karena dalam komposisi makanan mereka mengandung berbagai macam zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan, mencegah penyakit-penyakit kronik, lalu itulah yang dihubungkan dengan panjang umurnya. Hasil penelitian Orlich (2013) menunjukkan secara khusus, bahwa semua kelompok vegetarian memiliki risiko 12 persen lebih rendah proporsi kematian dibandingkan non vegetarian.

Penjelasan sebaliknya yakni negara-negara eropa itu memiliki UHH yang tinggi meskipun konsumsi daging oleh karena adanya faktor lingkungan lain yang mendukung, misalnya udara yang segar, air yang bersih dan bebas polusi sehingga ikan-ikan disana segar dan kaya kandungan zat gizinya, perilaku merokok kurang sehingga radikal bebas dan perkmbangan sel kanker bisa lebih ditekan, dll.

Vegetarian dan awet muda

Vegetarian, jika melihat dari trend sekarang, sudah banyak dilakukan oleh remaja-remaja terutama di negara-negara maju. Dimana mereka menginginkan manfaat vegetarian dari sisi kecantikan awet muda dll. Memang tidak dipungkiri sayuran dan buah-buahan memberikan efek awet muda bagi yang rutin mengonsumsinya. Buah-buahan seperti blueberry, raspberry, cranberry, dan stroberi adalah buah yang kaya akan kandungan antioksidan seperti anthocyanin dan flavonoid. anthocyanin dipercaya mampu melindungi tubuh dari serangan kanker dan diabetes. Bahkan, menurut beberapa penelitian, blueberry bahkan dapat membantu degenerasi saraf lambat atau sebaliknya, meningkatkan memori, membatasi pertumbuhan sel kanker dan mengurangi peradangan. Selain kaya akan antioksidan berry juga mengandung vitamin c yang sangat bagus untuk kesehatan kulit anda.

Selain itu terong yang juga biasa dikonsumsi orang vegetarian mengandung zat fitonutrient yang sangat baik untuk anti aging yakni nasunin. Nasunin membantu meregenerasi sel dan pertumbuhan pembuluh darah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker.

Vegetarian dan madu

Pola pikir yang mengembalikan lagi ke ideologi dasar seorang vegan yang memegang prinsip penyayang binatang, mereka juga menolak mengonsumsi madu. Mereka menganggap setiap eksploitasi hewan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak yang hewan. Karena madu berasal dari lebah dan lebah adalah hewan, madu merupakan produk hewani apalagi diambil dengan cara eksploitasi hewan sehingga mereka menolak itu. Tapi ini berlaku hanya bagi seorang vegan, tapi untuk jenis vegetarian lainnya, tidak mengapa mengonsumsi madu.

Cook ’em on the right way (www.pomona.edu)

Kesimpulan

Sangat tidak mudah untuk mengevaluasi atau mengaitkan vegetarian dengan beberapa variabel oleh karena non-homogenitas dari vegetarian itu sendiri. Ada yang berdalih karena mereka hanya konsumsi sayur buah sehingga sehat, tapi toh ada jenis-jenis vegetarian lainnya yang masih mengonsumsi makanan lain selain daging. Selain itu risiko terjadinya defisiensi mikronutrient sangat mungkin terjadi meskipun di satu sisi risiko terkena penyakit degeneratif sebagian bisa dicegah oleh karena kontrol IMT mencegah obesitas. Namun yang pasti pola makan sebagai salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dan status kesehatan seseorang, masih ada faktor lingkungan lainnya yang cukup menentukan juga. Jadi sebenarnya vegetarian sendiri masih terjebak dalam wacana pragmatis vs ideologi.

Advertisements

Diet sehat: Kegagalan dieters (1)

Banyak dieters tidak berhasil

Mungkin Anda pernah melakukan diet khusus yang mengharuskan Anda menempatkan makanan-makanan favorit Anda ke dalam daftar hitam yang tidak boleh dimakan. Atau melakukan diet ketat dimana Anda sama sekali hanya makan sedikit dan sungguh menyiksa sekali. Dalam proses menjalankan diet tersebut, Anda diharuskan konsisten dan berkomitmen untuk patuh terhadap aturan-aturan diet yang dijalani. Setelah beberapa bulan menjalani diet ketat atau diet khusus tersebut, hasilnya nampak bahwa Anda lebih ramping dalam 6 bulan. Jadi sudah boleh menghentikan diet-diet yang dilakukan? Baik Anda boleh berhenti dan kembali ke pola makan normal Anda. Selang 4-6 bulan, semakin hari berat badan semakin bertambah, dan hasilnya kembali ke starting point Anda sebelum melakukan diet.

Ya itulah kondisi beberapa dieters yang hobi melakukan diet untuk memperjuangkan penurunan berat badan. Dan tidak sedikit yang gagal. Hanya sekitar 5% dari yang menjalankan diet yang berhasil menurunkan dan mempertahankan berat badannya itu. Sisanya? Hampir dipastikan gagal. Bahkan lebih parah lagi, diantara banyak dieters yang melakukan diet mendapatkan side effect nya. Lebih banyak diet lebih sering sakit dan lebih banyak naik berat badannya. Sehingga bagi mereka yang gagal, diet-diet yang dilakukan hanya menyiksa dan menyita banyak waktu.

Apa yang salah?

Sebagian masyarakat yakin bahwa gemuk sebagai akumulasi banyak makan dan sedikit beraktivitas. Terlalu sederhana jika mendefinisikan outcome gemuk sebagai hasil dari kedua pola tersebut, karena banyak faktor-faktor lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang mendeterminasi naik turunnya berat badan seseorang. Sehingga fokus pada faktor-faktor lain ini banyak diabaikan dieters. Jadi tidak benar, menjadi terlalu gemuk hanya terkait dengan terlalu banyak makan dan sedikit aktivitas. Bagi orang yang banyak makan, biasanya sebagai respon dari ketidakmampuan menanggapi rasa kenyang dan lapar, dan mekanisme ini terkait dengan hormon dan otak.

Anda terlalu membatasi diri.

Seperti yang disampaikan di atas tadi, Anda terlalu membatasi diri jika sampai menghapus makanan-makanan favorit Anda dalam daftar makanan yang dimakan. Selain itu menempatkan makanan-makanan yang biasanya “kurang enak” (enak itu relatif) dalam makanan yang harus anda makan. Biasanya makanan-makanan itu dilabel “sehat” sehingga Anda merasa perlu untuk mengonsumsinya. Tanpa sadar, ternyata pola pikir kita dieksploitasi dengan pemahaman-pemahaman seputar diet. Anda dipaksa untuk memahami bahwa “penyiksaan” itu lebih baik daripada berat badan kita naik. Jadi seakan otak kita dicuci oleh retorika bahwa sebenarnya berat badan itu naik akibat jumlah kalori yang dimakan selalu lebih besar dari jumlah energi yang digunakan. Jadi solusinya apa harus terus makan sedikit? Sampai kapan?

Calories is not just a calorie

Jangan selalu menyalahkan kalori, karena itu bukanlah satu-satunya alasan berat badan Anda selalu naik. Di atas telah dijelaskan juga bahwa berat badan naik karena ada faktor lain dan bisa jadi karena hal yang tidak berkaitan secara langsung dengan makanan. Kembali ke pembahasan kalori, memang jika Anda konsumsi kalori lebih sedikit dalam waktu yang lama bisa membuat berat badan Anda turun. Banyak anjuran yang mengatakan bahwa untuk mencapai penurunan berat badan 500 gr/minggu maka perlu mengurangi asupan kalori sebanyak 500 kkal per harinya. 500 kkal per hari? kira-kira sama dengan sekali makan utama. Jadi apabila kebutuhan kalori harian Anda 2000 kkal, berarti Anda hanya boleh makan 1500 kkal. Wah apakah Anda tidak lapar nantinya? Jika ingin bertahan, setidaknya tekad, keinginan dan mental harus superior. Perlu Anda ketahui juga bahwa vitamin dan mineral akan turun seiring dengan penurunan jumlah kalori. Jika sampai terjadi demikian (vitamin dan mineral turun), akan berpengaruh pada glukosa darah, dan pathway metabolisme lainnya. Contohnya saja, rendahnya asupan yodium bisa menyebabkan hipotiroid dimana peran hormon tiroid dalam tubuh menurun. Jika terjadi itu, metabolisme akan lebih rendah, sehingga proses pembakaran kalori jadi lebih lambat. Ketika metabolisme terganggu, akan sangat lama untuk kembali ke normal, sekalipun Anda tidak lagi melakukan diet. Begitulah cara kerja tubuh kita untuk menanggapi hal-hal yang tidak “alami” di tubuh Anda.

Diet yang berhasil itu?

Sebenarnya bukan Anda yang gagal, tapi diet Anda yang tidak efektif dan efisien menurunkan berat badan seperti yang ingin Anda wujudkan. Hampir semua program diet gagal, oleh karena diet tersebut mengubah cara kerja tubuh. Jika ingin mencapai berat badan ideal, raihlah dengan cara yang alami, karena hasilnya akan lebih terpelihara. Masih ingatkah Anda dengan teori starvation? Yang secara alami mekanisme pertahanan diri terbentuk, hasilnya nenek moyang kita berhasil bertahan dalam periode-periode kelaparan. Tentunya kita semua paham evolusi terjadi dalam waktu yang sangat-sangat lama, sehingga mekanisme pertahan diri tadi masih ikut di kita semua meskipun zaman kelaparan sudah lama dilalui. Teori starvation ini menjelaskan mengapa ketika Anda berhenti diet, maka akan kembali ke posisi awal. Semakin cepat Anda mendapatkan hasil dari diet yang dilakukan semakin cepat pula berat badan kembali. Sekali lagi, karena metabolisme seseorang sulit diubah dalam waktu singkat.

Dalam teori starvation, ketika Anda melakukan diet, tubuh Anda dengan mekanismenya akan mengirimkan sinyal ke otak bahwa Anda jarang makan/jarang ada makanan yang masuk dalam tubuh, akibatnya tubuh memperlambat metabolisme pembakaran kalorinya sehingga cadangan-cadangan energi selalu tersimpan. Ketika Anda makan, maka energi yang tidak digunakan akan disimpan lagi untuk menghadapi kelaparan di masa-masa diet. Akibatnya justru cadangan energi akan selalu tersimpan. Ketika Anda merasa sudah menurunkan berat badan, tubuh masih menganggap Anda dalam kondisi masa kelaparan, sehingga metabolisme masih lambat padahal Anda sudah kembali ke pola makan yang normal. Bisa dibayangkan? Kalori masuk lebih banyak, cadangan disimpan lebih banyak, metabolisme melambat, dan Anda kurang aktivitas. Ya terjadi lagi penumpukan berat badan, bahkan lebih cepat dibandingkan periode diet Anda.

Pertnyaan yang harus Anda ajukan pada diri Anda

Apakah program diet yang Anda lakukan itu membantu Anda, dan tidak mengecewakan?  Apakah Anda yakin menjalaninya? Dan paling utama apakah bisa Anda terapkan seumur hidup?

Jika Anda melakukan pola makan sehat dan seimbang, pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu Anda jawab, dan hasilnya lebih sehat serta berat badan Anda lebih terpelihara.

Di postingan selanjutnya akan dibahas, pola diet sehat dan seimbang yang alami seperti apa.

“Catatan ttg OCD”

Oleh: Rio Jati S.Gz

sumber: si0.twimg.com

sumber: si0.twimg.com

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya diet OCD ini bukanlah hal baru dalam dunia diet. Diet yang dikemukakan oleh Dedy Corbuzier, seorang magician yang tidak pernah belajar gizi seperti kita-kita yang ahli gizi, ternyata digandrungi oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa diet yang dikemukakan oleh Dedy corbuzier ini atau diet OCD dapat secara cepat menurunkan berat badan tapi tidak menyiksa seperti pembatasan kalori secara berlebihan. Hal ini tentu saja membuat berang para ahli gizi karena dinilai tidak sesuai dengan ilmu gizi yang diajarkan saat kuliah dahulu. Selain itu, beberapa kalangan ahli dan praktisi tak mau kalah menyayangkan masyarakat ternyata lebih mempercayakan dietnya kepada seorang magician yang tanpa latar belakang pendidikan gizi daripada kepada dokter atau ahli gizi. Dalam artikel ini saya akan mengulas dan berkomentar sedikit saja mengenai permasalahan tersebut ditinjau dari sudut seorang akademisi (bukan praktisi maupun ahli).

 

Diet OCD atau Obstructive Corbuzier Diet merupakan diet yang pertama kali dikemukakan oleh Dedy corbuzier dengan pola umum mengedepankan puasa. Diet ini tidak membatasi asupan kalori atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja mengubah pola frekuensi makan dalam sehari. Menurut ilmu gizi, makan yang sehat itu makan 3 kali sehari dengan 2-3 kali selingan dengan jenis makanan yang beragam (4 sehat 5 sempurna tidak berlaku lagi sekarang). Hal ini disebabkan untuk mencegah agar lambung tidak kosong dan makan secara reguler ini mampu meningkatkan pengeluaran energi dari efek thermik dari makanan yang dikonsumsi. Efek thermik ini merupakan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna makanan sehingga asumsinya, semakin sering mengonsumsi makan, semakin banyak energi yang dikeluarkan untuk mencerna makanan. Teori ini sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat dari sisi seorang akademisi seperti saya. Sebuah jurnal yang dikemukakan oleh Reed dan Hill (1996) (dapat didownload di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8561055) melaporkan bahwa efek thermik dari makanan ini sangat bergantung pada masa tubuh bebas lemak dan porsi makanan yang diasup. Artinya, semakin banyak masa tubuh bebas lemak seseorang (semakin banyak masa protein ototnya) semakin tinggi efek thermik makanan yang akan dikeluarkan dan begitu pula pada porsi makanan yang diasup. Bahkan sebuah jurnal lainnya mengatakan bahwa efek thermik ini sangat bergantung pada komposisi energi pada makanan yang diasup bukan komposisi zat gizi yang diasup (Kinabo dan Durnin, 1990, bisa di download di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2400767). Selain itu, pola dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap efek thermik ini (bisa dibaca pada artikel Stob et al, 2008; http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17463294). Oleh karena itu, dari segi evidence based atau bukti ilmiah dimasyarakat yang sampai saat ini saya review dan baca, asumsi umum yang dikemukakan oleh ahli gizi tersebut kurang tepat (saya tidak mengatakan tidak tepat, tapi kurang tepat), karena ternyata efek ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, asumsi bahwa semakin sering makan maka semakin baik karena meningkatkan metabolisme sehingga mengeluarkan lebih banyak energi agaknya kurang pas.

 

Satu hal yang menarik dari diet OCD ini adalah dibolehkannya seorang individu untuk mengasup makanan kesukaan tapi tidak dalam jumlah berlebihan setelah masa berbuka atau tidak sedang dalam masa puasa. Secara pribadi, diet OCD ini bukanlah hal yang baru karena seorang individu hanya disarankan untuk mengubah frekuensi makannya dari 3 kali sehari tetap menjadi 3 hari sekali tapi dalam rentang waktu tertentu. Dalam diet tersebut disarankan mengambil waktu berbuka 8 jam, 6 jam dan 4 jam untuk dapat makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Artinya, kita tetap mengasup makanan sesuai dengan kebutuhan tapi memperlama waktu puasa atau tidak makan. Diet OCD ini sebetulnya bukanlah hal yang baru di dunia akademisi. Setelah saya mencari beberapa literatur dari jurnal dan artikel ilmiah, saya berkesimpulan bahwa diet OCD ini serupa dengan modifikasi “low energy” diet yang sekarang sedang dikembangkan oleh peneliti. Low energy diet atau diet rendah energi menurut beberapa literatur memiliki keuntungan yang lebih nyata dan membantu metabolisme energi (melalui aktivasi mitokondria) dibandingkan dengan diet yang mengurangi salah satu komponen zat gizi dalam makanan (lemak atau karbohidrat). Akan tetapi, diet ini memiliki kelemahan karena tidak semua individu dapat mengikuti diet ini dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan jenis diet lain seperti alternate day fasting dan intermittent fasting. Alhasil, diet ini memiliki compliance atau tingkat kepatuhan sekitar 86% dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan, percobaan pada hewan coba menemukan bahwa diet dengan prosedur puasa ini lebih memiliki keuntungan dibandingkan dengan diet rendah energi (dapat didownload pada http://www.pnas.org/content/100/10/6216.full.pdf+html). Secara komprehensif, prosedur ini beserta efeknya pada metabolisme individu dapat dilihat dalam artikel berikut: http://ajcn.nutrition.org/content/86/1/7.full dan  http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0104423013000213.

 

Secara umum, alternate day fast adalah suatu prosedur diet baru yang hampir serupa dengan diet OCD. Prosedur ini mengedepankan puasa (fast condition) dalam jangka waktu tertentu dan berbuka (feast time) dalam waktu tertentu pula. Perbedaannya adalah, alternate daya fasting merupakan puasa dan feast time dilakukan dalam hari yang sama, sedangkan intermittent fasting merupakan puasa 24 jam 1x dalam 1 minggu. Prosedur ini (alternate day fast dan Intermittent fasting) telah dilaporkan mampu menurunkan berat badan dengan tingkat penurunan yang tidak begitu tinggi: sekitar 0,67 kg/minggu. Menurut ilmu gizi, berat badan yang disarankan untuk turun adalah 0,50 kg/minggu atau 2 kg/bulan. Penurunan berat badan dengan laju yang cepat serta dalam jangka waktu yang pendek dapat beresiko menurunkan laju metabolisme tubuh sehingga ditakutkan apabila seorang individu tersebut tidak tahan dengan pola diet dan kembali ke kebiasaan lama, maka berat badan individu tersebut akan meningkat lebih jauh dibandingkan saat awal sebelum berdiet. Namun, diet dengan pola ini telah dilaporkan tidak menurunkan laju metabolisme tubuh (dapat dilihat pada http://ajcn.nutrition.org/content/90/5/1138.full). Bahkan kombinasi dari diet rendah energi dan intermittent fasting telah dilaporkan sangat potensial untuk menurunkan berat badan pada wanita obesitas (Klempen et al., 2012; dapat didownload dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23171320).Jadi sebetulnya, diet OCD ini bukanlah sesuatu hal yang baru di kalangan akademisi karena penelitian dengan prosedur dan metode tersebut sekarang sedang diteliti lebih lanjut.

 

Satu hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus dari diet ini adalah penggunaan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa penelitian yang saya sebutkan diatas masih dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sehingga penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Selain itu, beberapa penelitian diatas juga belum mengikutkan variabel pengganggu lain seperti tipe obesitas (apakah apel, pear) dan hormonal (adipokines dan kortikosterol) yang punya efek dalam pengaturan berat badan. Jadi saran saya, bukan saatnya seorang ahli gizi mendebat habis-habisan atau bersifat eksklusif sehingga menutup diri dengan diet ini yang sebetulnya bukanlah hal yang baru. Pendapat pribadi saya adalah sebaiknya ahli gizi mengadakan sebuah studi yang komprehensif tentang diet ini dengan metode penelitian yang benar-benar salih karena bukan dari siapa diet ini ditemukan, tapi apa pesan yang terkandung didalamnya. Jadi kalau saya boleh berkesimpulan, gonjang-ganjing seputar diet OCD ini menunjukkan bahwa ahli gizi kita belum siap menerima perubahan. Saya sangat menyayangkan mengapa seorang entertainer mampu mengemukakan terlebih dahulu metode ini yang sekarang baru dikembangkan di dunia akademisi. Sebaiknya, bukan saatnya kita bertengkar dan berdebat, tapi saatnya ahli gizi mengupdate ilmu sehingga tidak terpaku dalam teori-teori lama. Mudah-mudahan tidak banyak yang panas ya ama catatan kecil ane ini, kalaupun ada ya maaf, karena ane juga masih belajar.

 

sumber: https://www.facebook.com/notes/rio-jati-kusuma/catatan-ane-tentang-diet-ocd/607861125926891

Manfaat teh oolong a.k.a wulong tea

Dalam suatu kesempatan, saya membaca artikel mengenai teh oolong ini. Di dalam artikel yang berjudul teh oolong and weight loss tersebut ada hal menarik menurut saya, terutama kaitannya dengan berat badan. Saat ini banyak orang yang tertarik dengan metode penurunan berat badan malalui terapi suatu bahan makanan, misalnya saja dengan konsumsi teh hijau, kacang hitam, kacang kedelai, dll. Teh wulong ini juga dapat dimanfaatkan untuk terapi penurunan berat badan. Terapi penurunan berat badan dengan bahan makanan dianggap lebih mengasyikkan dan tidak berisiko dibandingkan metode lainnya seperti diet ketat, olahraga berat, bahkan operasi pengangkatan lemak. Teh oolong atau wulong berasal dari tumbuhan Camellia Sinesis. Tanaman ini melindungi dirinya dari stressor fotosintesis dengan mengeluarkan bahan kimia yang disebut polifenol (flavonoid), yang berfungsi sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan.

sumber foto: wikipedia

sumber foto: wikipedia

Hampir semua teh sama, misalnya teh oolong ini tidak jauh berbeda dengan teh hijau karena perbedaannya terdapat pada prosesingnya. Teh hijau diperoleh dengan cara pemanasan, untuk menghadang reaksi enzimatik alami (oksidasi) daun. Begitu dikeringkan, daun-daun teh hijau lalu digulung dengan maksud memecah struktur sel di dalamnya. Sementara teh Oolong, setelah daun teh dipetik, ditempatkan dalam kelembapan dan temperatur untuk memungkinkan oksidasi. Namun dibuat kondisi oksidasi hanya setengah jalan, dan daun-daun teh Oolong tidak dibuat pecah sehingga sebagian struktur sel daun masih menyatu.

Pada prinsipnya, mencegah seseorang dari berat badan berlebih ada 2 cara yaitu meningkatkan keluaran energi ataupun mencegah asupan yang berlebihan terutama lemak dan karbohidrat. Teh oolong sebenarnya sudah sangat lama diketahui dan dikonsumsi masyarakat. Masyarakat cina mengonsumsi teh oolong ini untuk menjaga dan mempertahankan berat badan, hal ini berdasarkan penelitian di China tahun 1998. Di Indonesia, popularitas teh oolong masih kalah jauh dengan green tea, sehingga belum banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi jenis teh ini. Kembali pada penelitian yang dilakukan di China, bahwa konsumsi teh oolong selama 6 minggu berturut-turut dapat menurunkan berat badan. Bagaimana mekanisme teh oolong ini dalam menurunkan atau menjaga berat badan Anda?

Di iklan salah satu produk minuman ringan berbahan dasar teh oolong, disebutkan bahwa teh oolong dapat mencegah penyerapan lemak. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa polifenol dalam teh oolong berfungsi membakar lemak atau mempercepat metabolisme dalam tubuh, memblokade penyerapan lemak dan karbohidrat, menyingkirkan radikal bebas, dan  bisa menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Fungsi-fungsi tersebut bermanfaat menjaga berat badan ataupun dalam rangka menurunkan berat badan, cocok juga bagi penderita diabetes. Penelitian-penelitian di Indonesia terkait teh oolong ini masih sangat kurang, sehingga untuk membuktikan kesimpulan tersebut, perlu dilakukan studi sebagai evidence based nya. Namun begitu, segelas teh oolong di sore hari dengan rutin bersama keluarga tidak ada salahnya kan, Minimal jika belum terasa manfaatnya, dapat merasakan kenikmatannya :D.

 Dari berbagai sumber

kurang air bisa menyebabkan kegemukan

sumber: http://www.sangbuahhati.com/2013/04/kurang-asupan-air-ternyata-bisa-memacu.html

KURANG asupan air ternyata bisa memacu obesitas, penurunan daya ingat, kemampuan kognitif, kewaspadaan, menjadi cepat lelah, bahkan bisa memunculkan ketegangan,  dan rasa cemas.

Apa hubungannya asupan air dan obesitas? Kurang air di dalam tubuh ternyata erat kaitannya dengan obesitas. Pasalnya, air berperan besar memperlancar metabolism tubuh. Air berfungsi sebagai bahan bakar untuk proses pembakaran kalori dari makanan yang kita konsumsi. Penelitian menyebutkan, konsumsi air yang cukup berperan menurunkan risiko obesitas hingga 30%. Bukan hanya itu, air juga membantu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh. Semakin banyak racun yang tertumpuk, maka semakin sulit berat badan diturunkan. Pencernaan yang tidak lancar juga akan menghambat penyerapan nutrisi. Akibatnya, tubuh akan memberi tanda lapar.

Asupan air juga akan mempengaruhi fungsi hati atau lever yang mengatur pelepasan lemak tubuh. Jika tubuh kekurangan air, maka hati cenderung menimbun lemak. Obesitas hanyalah satu dampak dari kurangnya asupan air ke dalam tubuh. Riset yang sudah dipublikasikan di The Journal of Nutrition menyebutkan, selain mempengaruhi kerja fisik, kekurangan air juga mempengaruhi mood seseorang.

Penelitian terhadap 51 pria dan wanita sehat selama tiga bulan menunjukkan, dehidrasi pada pria menyebabkan penurunan daya ingat dan kewaspadaan. Sementara pada wanita, menyebabkan penurunan kemampuah kognitif,  kelelahan, ketegangan, dan rasa cemas.

Pada anak, dehidrasi ringan kurang lebih ditandai dengan gejala yang sama. Sulit konsentrasi, mood terganggu, cepat lelah, dan berbagai gejala fisik lainnya.  Pada orang dewasa, dehidrasi  juga terbukti meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kerja seluruh organ tubuh. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan pingsan bahkan kematian.

Kebutuhan Air

Begitu besar peran air di dalam tubuh manusia, tidak mengherankan jika air dalam konsep tumpeng gizi seimbang yang  direkomendasikan pada ahli gizi, mendapat porsi terbesar. Masalahnya, berapa banyak air yang dibutuhkan tubuh? Ahli Gizi dari Jogjakarta Andi Imam Arundhana SGz menjelaskan, air merupakan komponen terbesar di dalam tubuh. Sekitar 80% tubuh manusia mengandung air, 60% pada orang dewasa, dan 50% pada lansia.

Banyaknya air yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda tergantung pada ukuran tubuh. Andi menjelaskan, angka kecukupan yang direkomendasikan adalah 2.200 ml/hari untuk laki-laki dewasa, 2.000 ml/hari untuk wanita dewasa, 1.600 ml untuk anak usia 4-8 tahun dan 1.900-2.000 ml/hari untuk anak usia 9-13 tahun.

Air yang diminum, jelas Andi, tidak mesti air putih. Minuman seperti teh, susu, kopi, dan air yang terkanding dalam buah-buahan juga dihitung sebagai asupan. Hanya saja, air putih yang dianggap terbaik, karena mudah diserap tubuh. “Karena itu, orang yang sering mengonsumsi pil, tablet, obat, dan multivitamin, sangat dianjurkan memperbanyak minum air putih, agar bahan kimia yang terkandung dalam obat/multivitamin dapat ikut larut dan keluar bersama air seni. Jika tidak, maka risiko terkena batu ginjal akan lebih tinggi,” papar Andi. Kekurangan asupan air memang berbahaya. Namun, Andi mengingatkan agar jangan lantas minum air putih berlebihan. Asupan air yang melebihi batas normal pun tidak baik, karena berisiko menyebabkan pembengkakan jantung dan otak.

Nah bunda, yuuk mulai perhatikan asupan air di dalam keluarga. Biasakan juga buah hati minum air putih. Ketika diare dan flu, jangan lupa untuk menambah porsi asupan.

sumber: http://www.sangbuahhati.com/2013/04/kurang-asupan-air-ternyata-bisa-memacu.html

Foto:  parentsforhealth.org