Blog Archives

Menembus dinding “Fat” (kegemukan)

was published by Buletin Gizi (BUZI) FORMAZI FKM UNHAS

Tidak kurang 12 persen orang Indonesia mengalami obesitas, dan diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketika orang-orang menjadi obes, risiko diabetes meningkat hingga 7-11 kali, dan ketika orang itu diabet maka risiko penyakit jantung ikut meningkat hingga 8 kali (Holford, 2005). Karena itu obesitas adalah isu masalah yang sangat serius, tidak hanya bagi individu yang bersangkutan tetapi secara nasional. Bayangkan saja, beban negara untuk membiayai dampak “penyakit” ini bisa berlipat ganda, hal yang sudah terjadi di negara-negara maju seperti Amerika. Terdapat fakta mengejutkan adalah bahwa masalah itu relatif mudah dipecahkan dengan mengatasi penyebab sesungguhnya-dengan memulihkan kontrol gula darah.

Sebagian besar orang percaya bahwa makan terlalu banyak kalori menyebabkan penambahan berat badan. Namun, orang-orang di negara yang sangat jarang obesitasnya justru memiliki tingkat konsumsi kalori yang sangat tinggi, sebut saja China (2.630 kkal). Dibandingkan dengan Amerika yang prevalensi obesitasnya diatas 25% konsumsi kalorinya hanya (2.360 kkal). Kualitas dari apa yang kita makan bisa menjelaskan. Bertentangan dengan pendapat umum, bukan lemak yang merupakan penyebab utama. Seperti asupan kalori kita, persentase lemak dalam diet kita telah menurun tapi masalah terus meningkat. Ya kita makan terlalu banyak gula dan karbohidrat olahan.

Serotonin mengontrol nafsu makan anda

Salah satu alasan mengapa diet dengan karbohidrat seimbang bekerja lebih baik dibandingkan diet dengan karbohidrat yang sangat rendah adalah karena mereka memproduksi serotonin. Asam amino tertentu yang disebut 5-hydroxytryptophan (5-HTP) merupakan turunan dari tryptophan dan induk atau penghasil serotonin, neurotransmitter “happy” otak. Banyak orang memiliki kadar rendah senyawa esensial otak ini, dan sebagai hasilnya merasa depresi. Khususnya pada orang-orang dengan diet menurunkan berat badan, seringkali terjadi, yakni kadar serotonin rendah. Perlu diketahui bahwa serotonin mengontrol nafsu makan. Semakin banyak anda miliki semakin sedikit anda makan. Jika orang yang sedang diet, kadar serotoninnya rendah, anda justru akan banyak makan jika kesempatan ada, paling tidak anda depresi ketika keinginan makan itu memuncak. Atau sebaliknya jika anda sedang depresi akibat lingkungan (kadar serotonin menjadi rendah), anda akan sering makan.

Jika anda berada dalam kadar serotonin yang rendah, cara tercepat adalah dengan mengembalikan kadarnya menjadi normal, dan buat anda merasa rileks (good mood), bisa dengan supplement 5-HTP. Hal ini sudah dibuktikan pada studi dengan subjek manusia dan hewan (menyimpulkan hasil yang sama). Supplementasi 5-HTP menyebabkan reduksi langsung nafsu makan, dan mengurangi hasrat untuk gula dan karbo.

mengapa mengurangi keinginan untuk karbohidrat? Misalnya di depan Anda terdapat dua pilihan sarapan. Salah satunya adalah daging dan telur atau makanan berprotein tinggi dengan sedikit nasi. Yang lainnya adalah sereal jagung dengan pisang yang dipotong-potong dan muffin. Yang akan memberikan dorongan serotonin Anda, sehingga sangat memuaskan Anda adalah?

Jika kita berfikir secara logika, sebagian besar mengatakan pastinya yang kaya protein oleh karena kaya triptofan. Tapi itu salah. Sereal jagung dengan pisang dan muffin adalah pilihan yang tepat. Meskipun makanan kaya protein mengandung triptophan, tetapi memerlukan waktu lebih banyak untuk mendapatkan triptopan itu dari darah ke otak. Karena adanya kompetisi dengan semua asam amino lainnya dalam makanan yang tinggi protein. Jadi, apa yang mendorong ke otak? Jawabannya adalah insulin. Insulin akan dilepaskan dengan Anda mengonsumsi karbohidrat yang cukup, lalu kemudian membawa triptophan kedalam otak, dan memberikan mood bagi Anda.

Artinya apa? Jika Anda merasa lelah dan lapar serta sedikit tidak senang, Anda pasti menginginkan sesuatu yang manis, bukan yang berbumbu atau pedas. Sering merasa begitu?

Satu rahasia besar dari kesuksesan menurunkan berat badan adalah memastikan bahwa anda memiliki cukup serotonin, jadi anda memiliki hasrat untuk makan berlebih itu terkontrol, lalu kemudian jaga kadar gula darah dan pelepasan insulin sehingga Anda tidak mengalami peningkatan nafsu makan karena penurunan gula darah. Ingatlah, terlalu banyak insulin membawa gula darah menjadi lemak tubuh, tetapi terlalu sedikit juga merugikan karena tidak menghasilkan serotonin, yang mengontrol nafsu makan.

Holford, Patrick (2005). Optimum Nutrition

 

Advertisements

Optimalkan kesehatan anda: Pada orang obes, leptin banyak tetapi tetap makan banyak

Sebelumnya saya sudah pernah membahas leptin secara umum, namun kali ini saya tertarik lagi mengkajinya karena banyak materi tentang leptin yang sangat menarik dibahas seperti kaitan leptin dan teori starvation, leptin orang obes banyak tapi kenapa masih over eating? Atau teori hubungan hipotiroid, resistensi insulin, dan leptin.

Diketahui bahwa leptin diproduksi oleh sel lemak, tugasnya adalah memberikan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah kenyang sehingga diharuskan berhenti makan dan segera bakar kalori untuk menghasilkan energi. Secara sederhananya leptin adalah hormon rasa kenyang.  Anda cukup makan –> leptin bekerja –> Anda merasa kenyang –> stop makan!! – begitu kira2 prinsipnya.

Orang obes memiliki banyak leptin, hal ini karena sel lemak orang obes sangat banyak dan pastinya produksi hormon leptin juga banyak. Pertanyaan kemudian yang muncul, mengapa banyak leptin tapi tetap makan banyak? Bukankah leptin adalah hormon yang mengontrol rasa kenyang? Kondisi ini disebut resistensi leptin, dimana dia tidak mampu menjalankan tugas-tugasya secara normal. Penyebabnya satu, yaitu insulin.

Insulin bertugas mengubah gula menjadi lemak, dan tubuh mengeluarkan insulin sesuai kondisi asupan glukosa yang masuk dalam tubuh. Jika semakin banyak glukosa maka pankreas menghasilkan lebih banyak insulin, ini berarti semakin banyak pula lemak. Berat badan bertambah. Keterkaitan ini sekaligus menjelaskan mengapa pada orang dengan berat badan lebih biasanya resistensi insulin, prediabetes, atau bahkan telah diabetes.

Pada orang obes, karena insulin yang diproduksi sangat banyak dan tubuh tidak mau lagi merespon maka terjadilah resistensi insulin. Karena resistensi tersebut, insulin menghalangi kinerja leptin yang menghantarkan sinyal kenyang ke otak, akibatnya otak tidak merespon agar tubuh segera menghentikan makan, akibatnya tubuh menganggap masih butuh energi. Jika sudah demikian, orang tersebut akan terus merasakan lapar dan ingin makan terus menerus.

Semakin banyak isulin, semakin banyak energi yang disimpan, semakin lapar yang dirasakan –> mekanisme yang sangat kacau dan kenyataannya inilah yang terjadi pada orang obes. Karena itu, langkah awal untuk melakukan penurunan berat badan adalah dengan mengontrol asupan glukosa khususnya golongan gula sederhana yang bisa menaikkan kadar gula darah, lalu kemudian diimbangi dengan asupan glukosa kompleks golongan poly dan oligosakarida, tidak lupa pula melakukan olahraga rutin. Hal ini bertujuan untuk menormalkan kerja-kerja hormon appetite.

Pola pemberian makan anak

anak harus diberikan makanan dengan jumlah dan bentuk yang sesuai dengan usianya

Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak harus diberikan makanan-makanan yang sehat. Jika ia berusia 0-6 bulan maka diberikan ASI eksklusif, sedangkan setelah 6 bulan harus diberikan makanan pendamping ASI (MP ASI) dengan jumlah, takaran, dan jenis yang sesuai disamping tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun (WHO, 2003). Sekarang ini cakupan pemberian ASI eksklusif masing sangat rendah khususnya di negara-negara berkembang, selain itu pola pemberian makanan pendamping juga kurang tepat. Di negara berkembang, rata-rata cakupan pemberian ASI eksklusif hanya 36%, kurang dari 33% anak-anak tidak mendapatkan beragam makanan, serta lebih dari 50% mendapatkan pola pemberian makan yang salah. Brazil sebagai salah satu negara berkembang, hanya sekitar 41% cakupan ASI eksklusifnya, dan 21% anak-anak dibawah 6 bulan yang telah mengenal makanan selain ASI telah dikenalkan makanan-makanan yang tidak cocok untuk anak seperti kue kering, makanan ringan, dan soft drink (MS, 2009). Bayangkan anak-anak usia kurang dari 1 tahun telah mengenal makanan-makanan dengan tekstur yang keras dan berkarbonasi, tentu saja ini sangat tidak sehat khususnya untuk pencernaan anak-anak.

Sesuai standar yang direkomendasikan untuk mencapai pertumbuhan pada periode emas, pola pemberian makanan pada anak adalah inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif dari 0 hingga 6 bulan, pemberian MPASI yang tepat dan tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun. Namun masih banyak juga orang tua yang kurang tepat dalam memberikan makanan kepada anaknya. Selain terlalu cepat mengenalkan anak terhadap makanan lain, kesalahan juga seringkali karena salah tekstur dan variasinya. Pola-pola pemberian makan yang tidak tepat biasanya dalam bentuk pemberian makanan yang padat energi namun rendah zat-zat gizi esensial lainnya. Semuanya sangat dipengaruhi oleh keterampilan ibu dalam memberikan makanan kepada anaknya, keterampilan tersebut tentunya ada jika ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik terkaitnya cara pemberian makanan anak. Dikutip dari pendapat salah satu dosen UGM, Fatma Zuhrotun Nisa, bahwa balita yang besar dalam keluarga miskin juga berpeluang tumbuh sehat jika anak tersebut diasuh dengan tepat oleh orang tua memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan. Sebaliknya, meskipun anak dari keluarga yang tercukupi dari segi finansial, misalnya kedua orang tuanya bekerja sebagai PNS ternyata masih mengalami gizi buruk. Hal tersbut terjadi karena pengasuhan anak diserahkan pada nenek yang memiliki keterbatasan pengetahuan akan pentingnya pemberian makanan berigizi. Meskipun demikian tidak dipungkiri juga faktor kemiskinan bagi beberapa daerah menjadi faktor determinan masalah gizi pada anak.

Pola asuh yang baik yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Jika tingkat pendidikan ibu baik maka pola asuh yang diberikan bisa sesuai dan menyehatkan untuk anak. Pola pemberian makanan yang tidak tepat bisa saja karena kuantitasnya yang kurang atau lebih, kualitasnya yang kurang baik (kurang sehat ataukah jenis yang kurang tepat untuk anak), dan bahkan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (IMD, ASI eksklusif). Penelitian di Brazil menunjukkan bahwa jenis konsumsi makanan anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Penelitian tersebut menunjukkan konsumsi makanan ringan, soft drink, dan makanan tinggi gula semakin meningkat seiring dengan semakin menurunnya tingkat pendidikan ibu (Saldiva et al., 2014). Survei di Brazil juga menunjukkan bahwa sebesar 63% balita usia 6-12 bulan mengonsumsi bubur dengan gula tambahan, sekitar 69% anak-anak usia diatas 12 bulan telah mengenal soft drink. Pola makan seperti ini sangatlah tidak sehat untuk anak-anak (Saldiva et al., 2007; Bernardi et al., 2009).

Pola konsumsi makanan-makanan dengan gula tambahan tidaklah baik untuk anak. Dan perilaku yang salah ini semata-mata karena pengetahuan ibu yang kurang bukan karena kemiskinan. Lihat saja program yang dilakukan oleh pemerintah Brazil yakni program cash transfer untuk keluarga miskin dan yang sangat miskin. Anak balita yang keluarganya mendapatkan program cash transfer memiliki kecenderungan tiga kali lipat mengonsumsi makanan yang manis dibandingkan anak yang keluarganya tidak memperoleh program tersebut. Pendidikan ibu diasumsikan sebagai variabel determinan perilaku makan tersebut (Saldiva et al., 2010).

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

Ketidakcermatan ibu memberikan/mengenalkan anak dibawah dua tahun terhadap makanan-makanan ringan, padat energi, soft drink, dan makanan tidak sehat lainnya bisa berdampak terhadap kesehatan anak di usia selanjutnya. Oleh karena masa 2 tahun pertama kehidupannya merupakan periode emas sehingga apabila baik maka pertumbuhan dan kesehatannya secara umum akan baik, namun jika tidak baik dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan pada anak. Konsumsi gula berhubungan dengan karies gigi (Wilson et al., 2009) dan risiko lebih tinggi terkena obesitas (Ruottinen et al., 2008; Buyken et al., 2008). Selain itu, diet berkualitas rendah dapat menyebabkan defisiensi mikronutrien karena kandungan gizi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan produk rendah gula (Erkkola et al., 2009; Kranz et al., 2005). Asupan garam yang berlebihan selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko untuk penyakit jantung di usia dewasa. Asupan natrium tinggi selama 6 bulan pertama kehidupan telah dikaitkan dengan tekanan darah tinggi (Hofman et al., 1983; Geleijnse et al., 1997). Temuan ini memperkuat pentingnya mempromosikan kebiasaan gizi sehat selama masa kanak-kanak.

 

Referensi:

  1. World Health Organization: Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. Geneva: WHO; 2003.
  2. Saldiva SRDM, Escuder MM, Mondini L, Levy RB, Venancio SI: Feeding habits of children aged 6 to 12 months and associated maternal factors. J Pediatr (Rio J) 2007, 83(1):53–58.
  3. Saldiva SRDM, Silva LFF, Saldiva PHN: Anthropometric assessment and food intake of children younger than 5 years of age from a city in the semi-arid area of the Northeastern region of Brazil partially covered by the bolsa família program. Rev Nutr 2010, 23(2):221–229.
  4. Saldiva SRDM, Venancio SI, de Santana AC, da Silva Castro AL, Escuder MML, and Giugliani ERJ. The consumption of unhealthy foods by Brazilian children is influenced by their mother’s educational level. Nutrition Journal 2014, 13:33
  5. Bernardi JLB, Jordão RE, Barros Filho AA: Supplementary feeding of infants in a developed city within the context of a developing country. Rev Panam Salud Publica 2009, 26(5):405–411.
  6. Wilson TA, Adolph AL, Butte NF: Nutrient adequacy and diet quality in non-overweight and overweight Hispanic children of low socioeconomic status: the Viva la Familia Study. J Am Diet Assoc 2009, 109:1012–1021.
  7. Ruottinen S, Niinikoski H, Lagstrom H, Ronnemaa T, Hakanen M, Viikari J, Joniken E, Simell O: High sucrose intake is associated with poor quality of diet and growth between 13 months and 9 years of age. The special Turku Coronary Risk Factor Intervention Project. Pediatrics 2008, 121:1676–1685.
  8. Buyken AE, Cheng G, Gunther AL, Liese AD, Remer T, Karaolis-Danckert N: Relation of dietary glycemic index, glycemic load, added sugar intake, or fiber intake to the development of body composition between ages 2 and 7 y. Am J Clin Nutr 2008, 88:755–762.
  9. Erkkola M, Kronberg-Kippila C, Kyttala P, Lehtisalo J, Reinivuo H, Tapanainen H, Veijola R, Knip M, Ovaskainen ML, Virtanen SM: Sucrose in the diet of 3-year-old Finnish children. Sources determinants impact on food nutrient intake. Br J Nutr 2009, 101:1209–1217.
  10. Kranz S, Smiciklas-Wright H, Siega-Riz AM, Mitchell D: Adverse effect of high added sugar consumption on dietary intake in American preschoolers. J Pediatr 2005, 146:105–111.

Kebijakan larangan junk food-berbagai strategi

Contoh datang dari California, salah satu negara bagian di United State yang mengeluakan kebijakan strategis dan tepat sasaran. Kebijakan tersebut berupa larangan penjualan junk food di kafetaria dan lingkungan sekitar sekolah-sekolah yg ada disana. Laporan terbaru menunjukkan bahwa siswa-siswa SMA disana memiliki tingkat konsumsi kalori lebih sedikit dan lebih rendah konsumsi lemak dan gula di sekolah dibandingkan siswa-siswa di negara bagian lain di US. Studi ini melaporkan bahwa siswa-siswa yang sekolahnya memberlakukan kebijakan tersebut memiliki sekitar 160 kkal lebih sedikit perharinya dibandingkan siswa di negara bagian lain.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan ternyata bisa sukses sampai batas tertentu dalam mempengaruhi kebiasaan makan remaja. Dalam artian, kebijakan yang diberlakukan ini meskipun hanya sebatas di sekolah, namun ternyata cukup efektif merubah perilaku makan remaja sehingga mendapatkan asupan kalori lebih sedikit dibandingkan siswa lain. Untuk asupan makan dirumah, belum ada kontrol terhadap larangan konsumsi junk food, namun kemungkinan besar dengan adanya informasi di sekolah tentang larangan penjualan junk food, bisa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata junk food itu tidak baik bagi dirinya.

Kebijakan lain mungkin bisa efektif untuk batasan selama dirumah, yakni dengan mengembangkan kebijakan penampilan iklan junk food di media televisi. Misalnya dengan melarang tampilan iklan-iklan junk food selama anak menonton televisi atau paling tidak hingga waktu puncak anak menonton televisi yakni sekitar pkl 21.00 (9 malam). Simon Gillespie, chief executive dari British Heart Foundation, mengatakan: “Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak akan dihujani dengan iklan makanan yang tidak sehat selama TV tayang utama, tapi itulah yang terjadi”

Jam tayangan ini sangat efektif, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk kampanye produk makanannya kalau memang pada jam ini tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anak dan remaja memiliki jam nonton televisi berkisar hingga pkl 20.00-21.00. Telah terbukti bahwa remaja dan anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh paparan iklan-iklan di TV. Makanya perusahaan berkompetisi untuk menampilkan produknya disini. Parahnya lagi, ternyata iklan-iklan yang banyak muncul adalah makanan-makanan “miskin” nilai gizi.

Suatu studi yang dilakukan di Indonesia (2013) terkait iklan-iklan makanan yang ditampilkan. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya tidak sehat (junk). Parahnya lagi, iklan-iklan ini meningkat durasi dan kuantitasnya di waktu-waktu puncak jam menonton anak-anak yaitu di pagi hari, sore hari, dan malam hari. Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, dan di dapatkan bahwa Indonesia memiliki presentase jumlah iklan makanan tidak sehat yang ditampilkan paling banyak.

Beda lagi kebijakan-kebijakan yang dilakukan di Mexico, di sana menerapkan “taxation policy” atau kebijakan dengan memainkan peran pajak. Pajak yang cukup tinggi untuk makanan-makanan tidak sehat khususnya fast food menjadikan ada kontrol tersendiri terhadap perkembangan bisnis junk food disana. Demikian penyampaian Simon Barquera dari National Institute of Public Health Cuernavaca Mexico dalam pertemuan International Congress on Obesity di Kuala Lumpur bulan maret 2014 lalu.

foto: hungryfoodlove.com

foto: hungryfoodlove.com

Kebijakan lainnya, bisa dengan mengembangkan model pemasaran fast food/junk food namun konten yang dijual adalah healthy food, misalnya dengan melakukan pemasaran untuk “mobile vendor food” atau penjualan makanan-makanan sehat dengan sistem bergerak menggunakan kendaraan. Seperti sistem jemput bola, jangan menunggu orang datang membeli makanan sehat, tapi kita yang berkeliling untuk mencari orang-orang yang mau membeli produk-produk makanan sehat, sekaligu sebagai media kampanye makanan sehat. Dalam mobile vendor, macam-macam makanan sehat bisa dijual, seperti buah-buahan segar, salad buah sayur yang siap santap (ditempatkan di kotak pendingin agar segar), paket sarapan sehat (yg bs dijual di pagi hari), air mineral segar, dll.

Jadi kesimpulannya, banyak strategi-strategi yg bisa dikembangkan untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatasi perkembangan pemasaran unhealthy food di negara-negara berkembang dan negara maju. Hal ini sebagai upaya untuk melawan epidemi obesitas di berbagai negara. Karena kita tahu bahwa junk food/fast food berkontribusi signifikan terhadap kenaikan asupan kalori yg berlebih dan kenaikan berat badan.

Bukan lemak yang harus diwaspadai, tapi gula, khususnya fruktosa…

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.
sumber: http://www.wikihow.com

Pernahkan anda ketika berbelanja di supermarket menemui berbagai jenis makanan yang berlabel fat-free atau “bebas lemak”. Sekilas produk itu menarik perhatian bagi mereka yang sedang menjalankan diet, berusaha menurunkan berat badan, atau yang sangat takut menjadi gemuk. Namun ternyata bagi orang yang ingin menurunkan berat badan harus lebih mencemaskan suatu zat dibandingkan lemak itu sendiri yaitu gula.

Diantara molekul gula, terdapat 2 jenis yang paling sering kita konsumsi yaitu glukosa yang tidak terlalu manis dan fruktosa yang sangat manis. Glukosa dan fruktosa sangat berbeda, baik dalam hal fungsi, maupun penyimpanannya/proses metabolismenya.

Glukosa diperlukan untuk proses metabolisme, setiap organisme hidup di planet dapat mencerna, menyerap, dan memetabolisme glukosa karena itu glukosa disebut juga sumber energi dari kehidupan. Jika tubuh kekurangan glukosa, maka sel tubuh membuatnya melalui mekanisme metabolik. Sekitar 80% kabohidrat yang dikonsumsi dalam hal ini glukosa dimetabolis oleh organ-organ vital, dan 20% nya oleh liver. Sebagian besar sumber karbohidrat yang kita makan mengandung glukosa. Glukosa yang dikonsumsi langsung memasuki aliran darah, dan tubuh melepaskan insulin untuk mengaturnya dan mengontrol gula darah. Glukosa yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan setelah sebelumnya diubah menjadi bentuk glikogen melalui proses glikoneogenesis. Glikogen disimpan di otot dan hati. Ketika tubuh memerlukan energi, hati mengubah kembali glikogen menjadi glukosa untuk selanjutnya masuk kedalam membran dan memproduksi energi (siklus kreb).

Fruktosa adalah salah satu jenis monosakarida disamping glukosa dan galaktosa. Fruktosa juga langsung masuk aliran darah ketika dicerna. Apa beda dengan glukosa?

Untuk fruktosa, sejumlah kecil yang dikonsumsi tentu tidak akan menjadi masalah, seperti yang ditemukan pada sebagian besar sayur dan buah. Itu bukanlah hal yang buruk, bahkan sangat membantu untuk mengembalikan kadar glukosa tubuh normal. Namun jika terlalu banyak, akan membahayakan kesehatan.

Fruktosa berbeda glukosa, 100% hanya dapat dimetabolis di liver sehingga jika konsumsi fruktosa ini berlebihan tentu akan membebani liver karena fruktosa memang diproses di hati ketika dikonsumsi. Jika terlalu banyak, maka hati kita tidak cukup cepat memprosesnya untuk digunakan sebagai gula, akibatnya mulailah terbentuk lemak dari fruktosa yang selanjutnya akan diteruskan di aliran darah dalam bentuk trigliserida. Bahayanya, terlalu banyak trigliserida meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah, fruktosa menghalangi sistem sinyal nafsu makan, dan bisa menyebabkan resistensi insulin. Inilah yang menjelaskan keterkaitan antara fruktosa dengan kenaikan berat badan dan diabetes meliitus. Fruktosa sedikit mirip dengan alkohol, dapat menjadi racun pada liver. Alkohol memetabolisme lemak, begitu juga dengan fruktosa namun terjadi dalam waktu lama.

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa sumber: http://www.wikihow.com

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa
sumber: http://www.wikihow.com

Didukung oleh sebuah penelitian, terhadap tikus yang diberikan glukosa dan dibandingkan dengan tikus dengan kadar fruktosa yang sama. Hasilnya sekitar 86% terjadi peningkatan kadar trigliserida pada tikus yang diberikan fruktosa, sedangkan yang diberikan glukosa tidak memnunjukkan kenaikan yang signifikan.

Jika dilihat penyakit-penyakit yang mungkin timbul akibat paparan alkohol, seperti dislipidemia, tekanan darah tinggi, obesity, disfungsi hati, dan efek adiksi. Penyakit yang mungkin muncul akibat paparan fruktosa seperti tekanan darah tinggi, dislipidemia, obesity, dan kebiasaan (meskipun bukan karena efek adiksi). Fruktosa dan alkohol secara alami menyediakan energi. Jika dalam keadaan yang sangat lapar, misalnya sehabis lari marathon, fruktosa dan alkohol (di negara-negara barat) dapat melakukan re-build energi sehingga tubuh menjadi kembali bertenaga. Tetapi jika tidak sedang dalam keadaan lapar, tidak sedang lari marathon, tidak melakukan aktivitas fisik berat lalu mengonsumsi fruktosa dan alkohol, akan dirubah menjadi liver fat dan kadang bersifat racun.

Sumber yang paling banyak mengandung fruktosa adalah soft drink, sirup, dan minuman rasa buah-yang kadang kita menganggapnya sehat, beberapa sayur dan buah. Hindari soft drink, es teh kemasan, dan sebagian besar minuman manis yang mengandung tinggi fruktosa. Ganti gula anda dengan madu karena madu memiliki rasio perbandingan yang sama antara glukosa dan fruktosa.

Sumber:

Prof Lustig youtube video (The Skinny obesity: about sugar)

Kaumi T et al., VLDL triglyceride kinetics in Wistar fatty rats, an animal model of NIDDM: effects of dietary fructose alone or in combination with pioglitazone. 1996.