Blog Archives

Seputar Vegetarian (2)

Vegetarianism… (www.ciboapp.com)

Melanjutkan tulisan bulan lalu terkait vegetarian, bahwa ternyata vegetarian juga berkaitan dengan masalah defisiensi zat gizi, aging, dan proporsi berat badan ideal.

Vegetarian dan anemia, defisiensi vitamin B12

Sumber zat besi umumnya yang dikonsumsi dalam bentuk heme dan non-heme. Zat besi golongan heme cenderung lebih mudah diserap dibandingkan non-heme. Sumber-sumber zat besi dari pangan hewani mengandung zat besi heme sedangkan nabati mengandung zat besi non-heme. Selain itu zat besi dari golongan no-heme lebih dapat dipengaruhi oleh substansi makanan lain dibandingkan dengan zat besi heme yakni dalam hal penyerapannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga penyerapan non-heme dapat ditingkatkan misalnya dengan konsumsi asam askorbat (vit C) sedangkan penyerapannya dapat dihambat oleh adamnya kalsium fosfat, fitat, atau polifenol yang sering kita peroleh di dalam teh dan kopi. Karena sebagian besar vegetarian mengonsumsi produk hewani dengan terbatas bahkan ada yang menghilangkan sama sekali, padahal itu merupakan sumber penting dari besi heme bahkan konsumsi heme sendiri bisa juga meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Akibatnya vegetarian mungkin berada pada risiko tinggi mengalami kekurangan zat besi dibandingkan yang non-vegetarian.

Secara umum, vegetarian yang mengikuti diet seimbang tidak bisa dipastikan berada pada risiko memiliki kekurangan zat besi. The American Dietetic Association menunjukkan bahwa diet vegetarian yang direncanakan dengan baik yang terdiri dari makanan nabati ditambah dengan beberapa susu dan telur memiliki status gizi yang sehat. Namun, vegetarian baru, kelompok etnis seperti imigran India, dan vegetarian Budha terbukti memiliki kadar konsentrasi feritin serum lebih rendah dari pemakan daging. Beberapa studi, menunjukkan bahwa vegetarian memiliki asupan besi mendekati bahkan lebih tinggi daripada omnivora, namun tetap memiliki gangguan status zat besi. Ini terkait pada bioavailabilitas zat besi yang menjadi penentu utama dari kecukupan zat besi dari diet vegetarian. Serat pangan juga menghambat zat besi non-heme karena dapat mengikat zat besi non-heme dan mengurangi bioavailabilitas nya (Davies, 1985).

Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging bukan pada buah dan sayur. Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan glikoprotein (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa glikoprotein, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja. Berarti faktor protein lagi-lagi menjadi unsur penting terjadinya anemia megaloblastik ini.

Vegetarian dan berat badan proporsional

You are what you eat, sering kita mendengar istilah tersebut terutama untuk menggambarkan kondisi status gizi seseorang. Mungkin bagi orang gemuk digambarkan krn selalu makan daging, org kurus digambarkan krn kekurangan makan, lantas bagaimna dgn orang yang hanya makan sayur-sayuran saja? Seperti sayur? Bagaimana kah berat badan proporsional itu? Bagaimana dengan orang vegetarian itu, apakah bisa tubuhnya proporsional?

Arti dari bb proporsional itu adalah seimbangnya antara berat badan yang dimiliki dengan tinggi badannya. Indikator untuk mengukurnya adalah menggunakan antropometri. IMT yang normal kisaran 18-23 kg/m2 menjadi ukuran berat badan yang proporsional. Hasil penelitian Tonstad et al (2009) menunjukkan bahwa kelompok vegan memiliki rata-rata indeks massa tubuh lebih sedikit dibandingkan yang semi vegan dan bahkan yang non-vegan yakni berturut-turut 23,6; 25,7; dan 28,8 (p<.0001). Ini menunujukkan adanya efek menjaga berat badan melalui pola konsumsi vegan.

Penjelasannya, karena pola konsumsi vegan hanya menempatkan sumber karbohidrat sebagai sumber utama energi setelah protein dan lemak dikesampingkan. Ditambah lagi sayur-sayuran serta buah-buahan yg kaya akan serat dimana serat mempengaruhi asupan karbohidrat. Yakni membuat rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga ada kontrol asupan karbo. Ini menyimpulkan bahwa seorang vegan murni berpotensi asupan energi utamanya juga lebih terkontrol. Dapat dilihat yang semi vegan IMTnya cukup tinggi.

Vegetarian dan umur panjang

Ideologi/klaim dari para vegetarian adalah orang-orang yang mengonsumsi diet vegetarian akan memiliki kesehatan yang lebih baik, dan hidup lebih lama dibandingkan non-vegetarian, karena orang-orang yang mengonsumsi daging, susu, dan produk olahan dairy, telur, serta ikan memiliki risiko kesehatan yang buruk.

Klaim ini bisa diruntuhkan melalui evidance based di berbagai negara misalnya di negara-negara Eropa. Sebagian besar masyarakat sehat di Eropa merupakan penduduk Iceland, Switzerland, Sweden, dan Norway, namun mereka semua mengonsumsi dalam jumlah yang banyak makanan dari hewani. Di negara-negara ini menurut WHO memiliki life expectancy yang sangat tinggi (WHO, dalam database kesehatan eropa thn 2007). Iceland dan Swiss UHHnya 80 thn (lk2) dan 84 thn (pr), sedangkan Swedia dan Norway 79 thn (lk2) dan 83 thn (pr).

Pola makan mereka very high cheese and milk, makan daging merah, daging panggang, daging asap, ikan, produk dairy, susu fermentasi, dan mereka juga tidak melewatkan sayur dan buah dalam makanan mereka. Penelitian di British (2003) pada vegetarian orang Inggris, menunjukkan tingkat mortalitas tidak berbeda secara signifikan dengan non-vegetarian.

Tentunya kita masih bertanya-tanya mengapa diet vegetarian dapat meningkatkan kemungkinan pada umur panjang, jawabannya tidak terlepas karena alasan konsumsi berbagai macam sayuran dan buah-buahan tidak memiliki kandungan lemak jahat dan lemak jenuh seperti pada berbagai makanan lainnya. Jika pun ada lemak yang terkandung, itu merupakan lemak nabati yang tidak akan sebahaya lemak jahat dan lemak jenuh, yang kita juga sama-sama telah mengetahuinya dapat menimbulkan beberapa penyakit berbahaya seperti kolesterol, jantung, obesitas, diabetes, hingga hipertensi. Tapi mengapa di negara-negara eropa yg masih konsumsi daging tapi masih UHH nya tertinggi?

Orang vegan di hipotesiskan memiliki potensi panjang umur karena dalam komposisi makanan mereka mengandung berbagai macam zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan, mencegah penyakit-penyakit kronik, lalu itulah yang dihubungkan dengan panjang umurnya. Hasil penelitian Orlich (2013) menunjukkan secara khusus, bahwa semua kelompok vegetarian memiliki risiko 12 persen lebih rendah proporsi kematian dibandingkan non vegetarian.

Penjelasan sebaliknya yakni negara-negara eropa itu memiliki UHH yang tinggi meskipun konsumsi daging oleh karena adanya faktor lingkungan lain yang mendukung, misalnya udara yang segar, air yang bersih dan bebas polusi sehingga ikan-ikan disana segar dan kaya kandungan zat gizinya, perilaku merokok kurang sehingga radikal bebas dan perkmbangan sel kanker bisa lebih ditekan, dll.

Vegetarian dan awet muda

Vegetarian, jika melihat dari trend sekarang, sudah banyak dilakukan oleh remaja-remaja terutama di negara-negara maju. Dimana mereka menginginkan manfaat vegetarian dari sisi kecantikan awet muda dll. Memang tidak dipungkiri sayuran dan buah-buahan memberikan efek awet muda bagi yang rutin mengonsumsinya. Buah-buahan seperti blueberry, raspberry, cranberry, dan stroberi adalah buah yang kaya akan kandungan antioksidan seperti anthocyanin dan flavonoid. anthocyanin dipercaya mampu melindungi tubuh dari serangan kanker dan diabetes. Bahkan, menurut beberapa penelitian, blueberry bahkan dapat membantu degenerasi saraf lambat atau sebaliknya, meningkatkan memori, membatasi pertumbuhan sel kanker dan mengurangi peradangan. Selain kaya akan antioksidan berry juga mengandung vitamin c yang sangat bagus untuk kesehatan kulit anda.

Selain itu terong yang juga biasa dikonsumsi orang vegetarian mengandung zat fitonutrient yang sangat baik untuk anti aging yakni nasunin. Nasunin membantu meregenerasi sel dan pertumbuhan pembuluh darah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker.

Vegetarian dan madu

Pola pikir yang mengembalikan lagi ke ideologi dasar seorang vegan yang memegang prinsip penyayang binatang, mereka juga menolak mengonsumsi madu. Mereka menganggap setiap eksploitasi hewan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak yang hewan. Karena madu berasal dari lebah dan lebah adalah hewan, madu merupakan produk hewani apalagi diambil dengan cara eksploitasi hewan sehingga mereka menolak itu. Tapi ini berlaku hanya bagi seorang vegan, tapi untuk jenis vegetarian lainnya, tidak mengapa mengonsumsi madu.

Cook ’em on the right way (www.pomona.edu)

Kesimpulan

Sangat tidak mudah untuk mengevaluasi atau mengaitkan vegetarian dengan beberapa variabel oleh karena non-homogenitas dari vegetarian itu sendiri. Ada yang berdalih karena mereka hanya konsumsi sayur buah sehingga sehat, tapi toh ada jenis-jenis vegetarian lainnya yang masih mengonsumsi makanan lain selain daging. Selain itu risiko terjadinya defisiensi mikronutrient sangat mungkin terjadi meskipun di satu sisi risiko terkena penyakit degeneratif sebagian bisa dicegah oleh karena kontrol IMT mencegah obesitas. Namun yang pasti pola makan sebagai salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dan status kesehatan seseorang, masih ada faktor lingkungan lainnya yang cukup menentukan juga. Jadi sebenarnya vegetarian sendiri masih terjebak dalam wacana pragmatis vs ideologi.

Advertisements

Food combining

Pada kesempatan ini, saya kembali mengulas topik yang telah lama menjadi kontroversi didunia pergizian dunia tak terkecuali di Indonesia. Kita ketahui bahwa tidak ada satu pun makanan untuk orang dewasa yang bisa dikatakan sempurna, sehingga sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang beragam. Namun percayakah anda kalau terkadang ada jenis makanan yang tidak cocok dikonsumsi bersamaan dengan jenis makanan lain? Jika anda salah satu orang yang (pernah) menerapkan pola makan seperti ini berarti anda termasuk penganut food combining (FC) atau kombinasi makanan.

Prinsip pokok dari teori FC adalah keyakinan bahwa setiap golongan makanan sumber karbohidrat, lemak, dan protein memerlukan kondisi yang berbeda-beda untuk dicerna di lambung sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi bersamaan. Jika dikonsumsi bersamaan akan membuat salah satu golongan makanan tersebut tidak akan dicerna dan diserap sempurna oleh tubuh. Teori ini ditemukan pertama kali oleh Dr. Howard Hay pada tahun 1930 dan terus berkembang menjadi sebuah ajaran yang populer seperti halnya vegetarian.

Ada dua aturan wajib dalam FC, yaitu jangalah mencampurkan protein-terkonsentrasi dengan pati-terkonsentrasi dalam satu waktu makan, dan makanlah buah-buahan saat perut kosong. Protein tidak dicerna dengan begitu baik jika dikombinasikan dengan pati, begitu pula sebaliknya pati tidak akan diuraikan dengan benar jika dikombinasikan dengan protein. Alasannya karena protein memerlukan suasana lambung yang asam sementara pati (karbohidrat) memerlukan kondisi basa, karena itu keduanya tidak cocok dikonsumsi bersamaan. Kemudian konsumsi buah saat perut kosong diyakini dapat membantu pencernaan bekerja lebih efisien dan menekan nafsu makan.

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

anda bisa memercayai atau mengabaikannya. Namun yang perlu anda ketahui bahwa teori-teori FC yang dikembangkan tersebut semuanya berdasarkan pengalaman Dr. Hay terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekatnya, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan teori tersebut. Terlepas dari semua gagasan Dr. Hay, ajaran FC menjadi sulit diterapkan karena harus berupaya memisahkan golongan makanan sewaktu makan. Hal itu juga keluar dari prinsip gizi seimbang yang menganjurkan untuk mengonsumsi makanan beraneka ragam selagi makan, agar supaya zat-zat gizi yang tidak diperoleh dari satu jenis makanan dapat diperoleh dari jenis makanan yang lain.

Seputar Vegetarian (1)

Dalam suatu kesempatan kami diundang sebagai pembicara dalam talkshow dengan tema Vegetarian, Gizi Seimbang kah? Dengan tema tersebut tentu menimbulkan asumsi bahwa sebenarnya vegetarian itu masih merupakan hal yang diperdebatkan dan memunculkan pro dan kontra tentang sehat tidaknya jika dijalani. Berikut ringkasan singkat terkait seputar vegetarian dan hubungannya dalam keilmuwan gizi.

  • Vegetarian dan spritualisme seseorang

Melihat sejarah perkembangan vegetarian, awal mulanya berkembang sekitar thn 1800an tepatnya 1847 di US. Alasan utama mereka adalah berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan tubuh. Karena konsumsi daging bisa mempengaruhi perilaku manusia. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pola pandang itu berubah menjadi fokus pada aspek spiritual/agama terutama di daerah timur. Hal ini tidak terlepas dari beberapa agama yang memang dalam ajarannya menganjurkan untuk mengonsumsi sayur buah dan menolak makan daging. Dalam beberapa agama, vegetarian adalah cara untuk “menjaga tubuh dan pikiran terjaga murni,” lalu kemudian diikuti adanya rasa kemanusiaan dan belas kasihan terhadap kehidupan binatang hidup. Misalnya Kong Hu Cu, Buddha, para pendeta Yunani dan Mesir, agama TAO, bahkan ada beberapa golongan dari agama Yahudi. Untuk Islam sendiri sama sekali tidak membatasi pola makan vegetarian ini, bahkan dalam kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa. Belum pernah kita mendengar adanya perintah untuk tidak makan daging sapi ayam dll kecuali hewan tersebut cacat atau belum cukup umur sembelih selama itu halal dan baik.

Oleh karena itu sebenarnya untuk menjadikan vegetarian sebagai tolak ukur tingkat “keimanan” seseorang, perlu kita telaah lebih baik lagi. Karena indikator ini berbeda bagi masing-masing keyakinan. Bisa saja beberapa orang taat dan tekun melakukan itu krn mmg di agamanya diperintahkan demikian, dan sebaliknya. Mari kita mengubah pola pikir seperti ini.

  • Vegetarian dan badan lemas

Badan lemas mungkin saja, ada beberapa penyebab yang bisa membuat seorang yang vegetarian murni mengalami badan lemas. Pertama adalah disebabkan karena dihilangkannya dua sumber utama gizi makro yakni lemak dan protein yang sebagian besar diperoleh dari daging. Lemak terbukti sumber energi terbesar setiap 1 gr nya dan bahkan lemak lebih lama dicerna dalam tubuh sehingga memberikan pasokan energi yang stabil bagi yang mengonsumsinya. Protein juga berfungsi sebagai sumber energi, zat pembangun, dan zat pengatur. Kedua, seorang vegetarian memiliki risiko mengalami Anemia seperti penjelasan sebelumnya dibandingkan yang non-vegetarian. Salah satu ciri atau simptom dari anemia adalah selalu merasa lemas, disamping selalu ngantuk dan pucat.

Namun beda halnya ketika seorang vegetarian tapi tetap mengonsumsi produk hewani selain daging, bisa memberikan efek yang berbeda karena kita semua tahu bahwa susu telur ikan merupakan sumber protein tinggi, serta memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Protein pada ikan dan seafood lainnya (bukan yang dikalengkan) bisa membantu proses pembentukan otot, jaringan, hingga sistem imun tubuh.

  • Vegetarian dan penyakit degeneratif

Faktor kesehatan menjadi alasan utama kedua dari sebagian besar penganut vegetarian. Menurut Dwyer (1988) dan Kahn (1983) bahwa beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa vegetarian memeliki inisiden yang lebih rendah terhadap penyakit hipertensi, jantung, diabetes, dan batu empedu dibanding yang bukan vegetarian. Beberapa vegetarian juga memiliki risiko defisiensi beberapa mikronutrients seperti Fe, B12, kalsium, dan zink).

Penelitian Tonstad et al (2009), membuktikan bahwa seseorang dgn diet vegan dan lacto ovo vegan menurunkan risiko DM tipe II hingga setengah, sedangkan yang pesco dan lacto hanya menurunkan sekitar seperempat risiko DM tipe II.

Hipotesisnya adalah, karena pada vegan dalam penelitian ini terbukti memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan semi vegetarian dan non-vegetarian. Sedangkan kita ketahui bahwa obesitas merupakan pintu masuk penyakit kronik degeneratif seperti DM, HT, PJK, dll.

Namun ada juga penyakit degeneratif yang meningkat risikonya akibat vegetarian, misalnya osteoporosis dan osteopenia (berkaitan dengan kepadatan tulang). Masalah utamanya adalah kekurangan kalsium sebagai salah satu unsur penting penyusun kepadatan tulang. Vegetarian baru dapat memenuhi kebutuhan kalsiumnya jika mengonsumsi jumlah yang cukup banyak dari produk olahan susu rendah lemak atau bebas lemak, seperti susu, yogurt, dan keju. Selain itu konsumsi sumber-sumber vitamin D juga seperti keju, margarin, sereal, dan puding yang dicampur susu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa nasunin (fitonutrient) dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan mencegah radikal bebas dari neuron merusak. Nasunin ditemukan dalam terong.

Flavonoid dari berry berpotensi menyelamatkan nyawa (kelas antioksidan) ditemukan dalam kadar tinggi dalam buah beraroma ini, dapat menghalangi enzim terkait dengan pembentukan bekuan darah, menurunkan risiko serangan jantung atau stroke, menurut sebuah studi 2012 dari Harvard Medical School .

berlanjut pada tulisan selanjutnya….

Kebiasaan Makan Anak Usia Sekolah (3)

Kebiasaan konsumsi sayur dan buah

Menurut survey nasional tahun 2007, di Indonesia prevalensi anak yang kurang makan sayur (<5 porsi sehari) sangat tinggi yaitu mencapai 93,6%. Bahkan di negara maju pun seperti Australia, anak-anak yang kurang mengonsumsi sayur dan buah sangat tinggi mencapai 86%. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan mengapa anak-anak kurang mengonsumsi sayur dan buah, apakah karena ketersediaannya, harganya yang mahal dan tidak terjangkau, rasanya yang tidak enak ataukah berbahaya bagi kesehatan. Ironisnya di berbagai daerah sangat mudah memperoleh sayur dan buah, dengan harga yang terjangkau bagi semua kelompok sosial ekonomi, rasanya pun beragam sehingga bisa memilih tergantung selera, dan tentu saja sayur dan buah member dampak kesehatan bagi anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lanjut usia.

Alasan mengapa konsumsi sayur dan buah masih sangat kurang terutama pada kelompok anak usia sekolah karena golongan makanan tersebut masih kalah populer dengan kelompok makanan yang lain seperti makanan tinggi kalori (fastfood, cemilan, sugar-sweetened beverage, dll), kelompok makanan berlemak (steak, gorengan, olahan susu, dll). Kelompok makanan favorit anak itu selain karena rasanya yang memang disukai juga mudah dan murah untuk diperoleh. Sebagian besar jajanan anak terdiri dari makanan yang berlemak, manis, dan tinggi kalori.

Sayur dan buah merupakan sumber utama vitamin dan mineral yang esensial bagi pertumbuhan anak, kaya antioksidan. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah merupakan bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang, dan memberikan kontribusi terhadap kesehatan anak dan mencegah penyakit kronik di usia selanjutnya. Tingkat konsumsi sayur dan buah anak akan lebih tinggi jika orang tua menyediakan sayur dan buah di rumah. Selain itu nonton tv dan paparan iklan tv menjadi salah satu penyebab konsumsi sayur dan buah lebih rendah, karena dengan menonton tv anak akan terbiasa mengemil makanan ringan yang tentunya tidak disertai dengan sayur dan buah. Paparan iklan televisi juga menyebabkan anak akan cenderung memilih makanan yang diiklankan tersebut, dan dapat dilihat bahwa hampir semua iklan televisi makanan tidak menyangkut sayur dan buah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan konsumsi sayur dan buah anak, akan tetapi perlu pendekatan multi-komponen dan melibatkan banyak pihak terkait. Diantaranya adalah menetapkan kebijakan di sekolah, pelayanan di kantin sekolah, pemanfaatan media, dan peran orang tua. Kebijakan sekolah misalnya adanya fruit and vegetable breaks (istirahat), adanya aktivitas berkebun di sekolah untuk mengenalkan anak tentang sayur dan buah, atau praktik mengolah sayur dan buah menjadi makanan favorit yang enak dan menyehatkan. Pelayanan di kantin juga harus berkualitas, tidak hanya menyediakan makanan sumber energi, protein, dan lemak tetapi juga buah-buahan yang kaya akan vitamin. Sekolah juga bisa memanfaatkan media untuk mempromosikan sayur dan buah kepada anak, dan terakhir peran orang tua dengan senantiasa memberikan informasi dan ketersediaan sayur dan buah di rumah.

Makanan sehat bagi anak usia sekolah

Untuk anak usia sekolah, makanan yang divariasikan menjadi kunci utama untuk membuat anak memiliki kebiasaan makan yang sehat. Sama seperti orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan semua zat-zat gizi untuk pertumbuhan tubuh. Kalsium untuk pertumbuhan tulang mungkin bisa diperoleh dari susu, yogurt atau ganti dengan makanan olahan yang mengandung tinggi kalsium jika terjadi intoleransi susu. Protein untuk pertumbuhan sel dan organ tubuh anak bisa diperoleh dari berbagai sumber bahan makanan yang menyehatkan seperti ikan, ayam, telur, daging, dan kacang-kacangan. Selain itu kebutuhan akan lemak juga penting, tetapi sebaiknya lemak tidak jenuh baik monounsaturated  maupun polyunsaturated (omega-3 dan omega-6). Lemak tidak jenuh sangat penting bagi anak untuk pertumbuhan sel-sel otak bagi kemajuan kecerdasan anak, lemak tidak jenuh dapat diperoleh dari minyak nabati, alvokat, kacang-kacangan, lemak ikan,  biji bunga matahari, kacang kedelai, dan kenari. Meskipun lemak baik untuk anak tetapi ada jenis lemak yang sebaiknya dihindari yaitu lemak trans yang dapat ditemukan pada margarin, kue, cemilan, dan gorengan. Kebutuhan zink juga perlu, karena bermanfaat untuk meningkatkan memori dan performa akademik anak khususnya pada anak laki-laki. Zink bisa diperoleh dari daging, susu, coklat, telur, dan berbagai makanan yang juga mengandung protein.

Anjuran untuk membatasi konsumsi gula hanya 3 sendok makan perhari (12 gram) cukup baik bagi anak, untuk menjaga berat badan dan kadar gula darah anak. Mengurangi kebiasaan mengemil, makan permen, dan kue dapat menjadi solusi menjaga asupan gula setiap harinya. Cobalah mengganti minuman manis dengan air mineral, jus buah murni, susu skim, atau susu kedelai lalu hindari makanan yang telah diproses dengan teknologi tinggi dan gantilah dengan makanan yang dimasak sendiri karena dapat menaikkan dan menurunkan kadar gula darah akibatnya anak akan merasa cepat lelah. Untuk kebutuhan garam, sebaiknya tidak kurang dari 1500 mg dan tidak lebih dari 2200 mg perhari. Karena itu pola makan dan kebiasaan makan makanan ringan perlu diperhatikan. Hindari fast food, dan makanan yang diproses dan dikemas seperti ikan kaleng, sayuran yang dikalengkan, dan makanan dari restoran fast food mengandung tinggi natrium tinggi kalori. Begitupula kurangi mengemil potato chip, kacang, dan kue kering yang asin. Cobalah mengganti makanan-makanan yang merugikan kesehatan anak dengan makanan yang lebih sehat seperti yang telah dijelaskan diatas.

Sumber

Paul M., and Robinson L. (2012). Nutrition for children and teens: Helping your kids eat healthier. Helpguide.org accessed on 16th November 2012.

Prawitasari, Titis. (2012). Healthy breakfast: how does it help my kid’s performance. FK UI. Jakarta.