Blog Archives

11 Jenis (bahan) makanan yang meningkatkan berat badan (1)

Artikel yang ditulis dalam foxnews.com menyebutkan bahwa ada 11 jenis makanan/bahan makanan yang menyebabkan Anda merasakan lapar bahkan setelah mengonsumsinya. Ketika itu menjadi sebuah kebiasaan, maka peningkatan berat badan akan terjadi secara cepat. Apabila Anda merasa lapar, maka hal yang utama muncul adalah keinginan untuk makan, dan memang harus makan. Namun, bagaimana jika setelah makan Anda menjadi lebih lapar dari sebelumnya dan ini benar-benar terjadi.

Perlu Anda ketahui bahwa lapar merupakan hasil dari interaksi yang demikian kompleks antara lambung, usus, otak, pankreas, dan aliran darah. Masalahnya adalah interaksi kompleks ini mudah “dibajak” , dimanipulasi, atau menjadi kacau akibat beberapa makanan yang dikonsumsi. Berikut adalah 11 makanan yang bisa membuat Anda merasa seperti Anda berjalan dalam keadaan lapart padahal perut Anda sudah diisi.

interaksi antara otak dan organ-organ yang berperan penting dalam regulasi nafsu makan

interaksi antara otak dan organ-organ yang berperan penting dalam regulasi nafsu makan

  1. Roti putih

roti putih, atau nama populernya roti tawar

Roti putih terbuat dari tepung putih, meskipun pada dasarnya berasal dari gandum akan tetapi proses pembuatannya menghabiskan kadar seratnya. Mengonsumsi roti putih menyebabkan lonjakan kadar insulin darah. Didukung oleh penelitian di Spanyol baru-baru ini, dimana peneliti melacak kebiasaan makan dan berat badan pada lebih dari 9.000 orang. Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang makan dua atau lebih porsi roti putih sehari sekitar 40% memiliki kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan untuk mereka yang makan kurang dari itu.

  1. Juices

Kalau mendengar kata juice/ jus (indonesia) maka yang muncul di pikiran Anda adalah ini merupakan minuman yang sehat. Tapi sekarang ini banyak jus yang hanya mengandung sedikit ekstrak buah asli nya, orang cenderung menambahkan gula untuk memaniskan minuman ini padahal buah-buah sendiri sudah banyak mengandung gula buah yang enak rasanya. Kebanyakan juga orang mengupas kulit dan membuang ampas dan hanya mengambil air perasan buah padahal di kulit/ampas itulah kandungan serat sangat banyak. Campuran smoothie menggunakan buah utuh sebagai gantinya, dan campuran dalam sendok bubuk protein atau selai kacang untuk membantu menyeimbangkan gula darah dan meningkatkan rasa kenyang

  1. Cemilan asin

Rasa asin salah satu favorit di lidah manusia, khususnya di bagi orang Indonesia. Karena itu sangat mudah bisa Anda temukan aneka cemilan asin diberbagai daerah. Ternyata penelitian menunjukkan bahwa ketika Anda telah mengemil aneka cemilan asin, dapat mendorong untuk mencari cemilan manis. Makanan asin lebih cepat dicerna dibandingkan karbohidrat sederhana tetapi dapat memacu naik turunnya insulin. Ketika banyak cemilan asin dikonsumsi maka insulin rendah, dan otak mengirimkan sinyal agar tubuh cepat mendapatkan asupan energi karena itu memacu Anda untuk mengonsumsi yang manis. Karena itu meskipun Anda makan cemilan asin dalam jumlah banyak, “sekat” untuk makanan manis tetap kosong dan Anda diperintahkan oleh otak untuk makan. Ini sama saja senilai memiliki 2 lambung yang harus dipenuhi.

  1. Fast food

Ungkapan yang paling saya senangi untuk menggambarkan fast food adalah “cepat disajikan, cepat dihabiskan, cepat pula menyebabkan penyakit”. Namun kita tidak perlu membahas tentang latar belakang adanya fast food.

Hampir semua bahan di belakang counter makanan cepat saji ini dirancang untuk membuat Anda “supersize” makanan Anda. Misalnya, lemak trans mengobarkan usus, berpotensi mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi neurotransmitter pengendali nafsu makan seperti dopamin dan serotonin. Sementara itu, saluran pencernaan menyerap sirup jagung fruktosa tinggi (umumnya ditemukan di roti, bumbu, dan makanan penutup) dengan cepat, menyebabkan lonjakan insulin dan rasa lapar yang lebih besar. Terakhir, porsi besar makanan cepat saji murah dari garam dapat memacu dehidrasi. Dan dengan gejala yang sangat menyerupai orang-orang kelaparan, mudah untuk dehidrasi untuk menipu Anda agar berpikir Anda perlu kembali untuk keduakalinya.

  1. Alkohol

Meskuipun di Indonesia konsumsi minuman alkohol belum terlalu umum, tetapi ada baiknya Anda mengetahui bahwa ternyata alkohol ini benar-benar minuman yang tidak sehat dan harus dijauhkan dari menu Anda sehari-harinya.

Alkohol benar-benar membuat Anda lapar. Menurut penelitian hanya tiga porsi sudah dapat memangkas tingkat homon leptin tubuh anda, dimana kita tahu bahwa hormon ini disebut juga hormon rasa kenyang yang mengatur rasa kenyang Anda. Alkohol juga dapat menguras candangan karbohidrat tubuh Anda (glikogen), menyebabkan Anda menginginkan karbohidrat untuk menggantikan apa yang hilang. Akibatnya Anda terus ingin makan.

bersambung part (2)

Sumber: http://www.foxnews.com

Advertisements

Kebijakan larangan junk food-berbagai strategi

Contoh datang dari California, salah satu negara bagian di United State yang mengeluakan kebijakan strategis dan tepat sasaran. Kebijakan tersebut berupa larangan penjualan junk food di kafetaria dan lingkungan sekitar sekolah-sekolah yg ada disana. Laporan terbaru menunjukkan bahwa siswa-siswa SMA disana memiliki tingkat konsumsi kalori lebih sedikit dan lebih rendah konsumsi lemak dan gula di sekolah dibandingkan siswa-siswa di negara bagian lain di US. Studi ini melaporkan bahwa siswa-siswa yang sekolahnya memberlakukan kebijakan tersebut memiliki sekitar 160 kkal lebih sedikit perharinya dibandingkan siswa di negara bagian lain.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan ternyata bisa sukses sampai batas tertentu dalam mempengaruhi kebiasaan makan remaja. Dalam artian, kebijakan yang diberlakukan ini meskipun hanya sebatas di sekolah, namun ternyata cukup efektif merubah perilaku makan remaja sehingga mendapatkan asupan kalori lebih sedikit dibandingkan siswa lain. Untuk asupan makan dirumah, belum ada kontrol terhadap larangan konsumsi junk food, namun kemungkinan besar dengan adanya informasi di sekolah tentang larangan penjualan junk food, bisa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata junk food itu tidak baik bagi dirinya.

Kebijakan lain mungkin bisa efektif untuk batasan selama dirumah, yakni dengan mengembangkan kebijakan penampilan iklan junk food di media televisi. Misalnya dengan melarang tampilan iklan-iklan junk food selama anak menonton televisi atau paling tidak hingga waktu puncak anak menonton televisi yakni sekitar pkl 21.00 (9 malam). Simon Gillespie, chief executive dari British Heart Foundation, mengatakan: “Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak akan dihujani dengan iklan makanan yang tidak sehat selama TV tayang utama, tapi itulah yang terjadi”

Jam tayangan ini sangat efektif, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk kampanye produk makanannya kalau memang pada jam ini tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anak dan remaja memiliki jam nonton televisi berkisar hingga pkl 20.00-21.00. Telah terbukti bahwa remaja dan anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh paparan iklan-iklan di TV. Makanya perusahaan berkompetisi untuk menampilkan produknya disini. Parahnya lagi, ternyata iklan-iklan yang banyak muncul adalah makanan-makanan “miskin” nilai gizi.

Suatu studi yang dilakukan di Indonesia (2013) terkait iklan-iklan makanan yang ditampilkan. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya tidak sehat (junk). Parahnya lagi, iklan-iklan ini meningkat durasi dan kuantitasnya di waktu-waktu puncak jam menonton anak-anak yaitu di pagi hari, sore hari, dan malam hari. Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, dan di dapatkan bahwa Indonesia memiliki presentase jumlah iklan makanan tidak sehat yang ditampilkan paling banyak.

Beda lagi kebijakan-kebijakan yang dilakukan di Mexico, di sana menerapkan “taxation policy” atau kebijakan dengan memainkan peran pajak. Pajak yang cukup tinggi untuk makanan-makanan tidak sehat khususnya fast food menjadikan ada kontrol tersendiri terhadap perkembangan bisnis junk food disana. Demikian penyampaian Simon Barquera dari National Institute of Public Health Cuernavaca Mexico dalam pertemuan International Congress on Obesity di Kuala Lumpur bulan maret 2014 lalu.

foto: hungryfoodlove.com

foto: hungryfoodlove.com

Kebijakan lainnya, bisa dengan mengembangkan model pemasaran fast food/junk food namun konten yang dijual adalah healthy food, misalnya dengan melakukan pemasaran untuk “mobile vendor food” atau penjualan makanan-makanan sehat dengan sistem bergerak menggunakan kendaraan. Seperti sistem jemput bola, jangan menunggu orang datang membeli makanan sehat, tapi kita yang berkeliling untuk mencari orang-orang yang mau membeli produk-produk makanan sehat, sekaligu sebagai media kampanye makanan sehat. Dalam mobile vendor, macam-macam makanan sehat bisa dijual, seperti buah-buahan segar, salad buah sayur yang siap santap (ditempatkan di kotak pendingin agar segar), paket sarapan sehat (yg bs dijual di pagi hari), air mineral segar, dll.

Jadi kesimpulannya, banyak strategi-strategi yg bisa dikembangkan untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatasi perkembangan pemasaran unhealthy food di negara-negara berkembang dan negara maju. Hal ini sebagai upaya untuk melawan epidemi obesitas di berbagai negara. Karena kita tahu bahwa junk food/fast food berkontribusi signifikan terhadap kenaikan asupan kalori yg berlebih dan kenaikan berat badan.

Waspada dini kesehatan ginjal anak

Dalam sistem ekskresi manusia, terdapat beberapa organ vital yang berfungsi sebagai organ filtrasi. Diantara organ-organ tersebut, ginjal salah satunya yang memiliki peran besar menjaga kesehatan manusia. Seperti yang telah kita ketahui bahwa ginjal berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, menjaga tekanan darah normal, mendukung pembentukan sel darah merah, membantu pembuangan zat sisa melalui urin, produksi hormon, dan membantu penyerapan mineral.

Kesehatan ginjal harus dijaga sejak dini, karena sudah banyak penyakit ginjal yang tidak hanya dialami orang dewasa tetapi juga remaja, tidak terkecuali anak-anak. Mengapa hal itu juga telah dialami anak-anak? Sebabnya belum diketahui pasti, namun beberapa pakar kesehatan menilai bahwa terjadinya penyakit ginjal pada anak-anak lebih didominasi akibat pola makan dan konsumsi air. Tetapi jika penyakit ginjal itu telah dialami sejak masih balita, kemungkinan besar karena faktor bawaan.

Sekarang ini Indonesia tengah diserang dengan modernisasi gaya hidup dari barat, tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak Indonesia pun “dimanjakan” dengan hal tersebut. Fast food salah satu indikatornya. Cepat disajikan, cepat dimakan, dan disain cita rasa yang sangat enak membuatnya menjadi favorit anak-anak. Sehabis makan, anak-anak kita disuguhi minuman soda, manis, dan tinggi kalori yang seakan-akan telah menjadi air  minum pilihan utama anak-anak. Bagaimana tidak, di kantin-kantin sekolahpun kini menjajakan makanan dan minuman yang seperti itu, nugget, minuman manis, softdrink, dll.

Permasalahan utamanya, apakah kita sebagai orang tua tahu seberapa bahayanya hal itu? Jajanan yang dijual kandungan tinggi, sedangkan softdrink dan minuman berkarbonasi mengandung tinggi asam fosfat. Cenderung anak-anak yang memiliki pola makan dan konsumsi minuman seperti ini menempatkan air putih sebagai pilihan terakhir di daftar menu mereka. Dalam kadar normal sodium akan melewati ginjal dan dikeluarkan melaui urin, namun jika kadar asupan sodium berlebihan dapat menyebabkan penumpukan pada ginjal sehingga membentuk batu. Begitu pula zat asam fosfat yang ditemui di dalalm softdrink dan minuman berkarbonasi. Jika kadarnya berlebihan akan mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, kalsium akan dikeluarkan melalui urin sedangkan asam fosfat akan menumpuk. Ini sangat tidak baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, dan parahnya lagi jika ketidakseimbangan ini bila berlangsung lama akan mengganggu fungsi ginjal akibat asam fosfat yang mengkristal di ginjal.

Air putih yang belakangan ini dipahami sebagai salah satu zat gizi yang sering dilupakan orang-orang , seringkali dikaitkan dengan kesehatan ginjal. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebutuhan air putih anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa karena pada masa ini anak-anak cenderung sangat aktif sehingga juga membutuhkan banyak air untuk mengganti cairan yang keluar. Salah satu solusi mencegah penyakit ginjal pada anak adalah dengan konsumsi air putih yang cukup. Air putih yang cukup dinilai dapat mencegah terjadinya pengkristalan.

at least ajarkan anak-anak kita sejak dini minum teratur, segelas ketika bangun tidur, segelas sehabis sarapan, satu botol (600 ml) dibawa ke sekolah, segelas sehabis makan siang, segelas sehabis makan malam, dan segelas sebelum tidur, sisanya dapat dikonsumsi sesuai kondisi anak misalnya sehabis bermain ataupun saat haus. Sebagai orang tua, promosikan hal tersebut, karena layaknya anak-anak sebagai aset bangsa, ginjal adalah aset bagi masa depan mereka. Mari kita menjaganya

#AmazingKidneys @DanCommunityID

http://www.kidney-facts.com

Bukan lemak yang harus diwaspadai, tapi gula, khususnya fruktosa…

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.
sumber: http://www.wikihow.com

Pernahkan anda ketika berbelanja di supermarket menemui berbagai jenis makanan yang berlabel fat-free atau “bebas lemak”. Sekilas produk itu menarik perhatian bagi mereka yang sedang menjalankan diet, berusaha menurunkan berat badan, atau yang sangat takut menjadi gemuk. Namun ternyata bagi orang yang ingin menurunkan berat badan harus lebih mencemaskan suatu zat dibandingkan lemak itu sendiri yaitu gula.

Diantara molekul gula, terdapat 2 jenis yang paling sering kita konsumsi yaitu glukosa yang tidak terlalu manis dan fruktosa yang sangat manis. Glukosa dan fruktosa sangat berbeda, baik dalam hal fungsi, maupun penyimpanannya/proses metabolismenya.

Glukosa diperlukan untuk proses metabolisme, setiap organisme hidup di planet dapat mencerna, menyerap, dan memetabolisme glukosa karena itu glukosa disebut juga sumber energi dari kehidupan. Jika tubuh kekurangan glukosa, maka sel tubuh membuatnya melalui mekanisme metabolik. Sekitar 80% kabohidrat yang dikonsumsi dalam hal ini glukosa dimetabolis oleh organ-organ vital, dan 20% nya oleh liver. Sebagian besar sumber karbohidrat yang kita makan mengandung glukosa. Glukosa yang dikonsumsi langsung memasuki aliran darah, dan tubuh melepaskan insulin untuk mengaturnya dan mengontrol gula darah. Glukosa yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan setelah sebelumnya diubah menjadi bentuk glikogen melalui proses glikoneogenesis. Glikogen disimpan di otot dan hati. Ketika tubuh memerlukan energi, hati mengubah kembali glikogen menjadi glukosa untuk selanjutnya masuk kedalam membran dan memproduksi energi (siklus kreb).

Fruktosa adalah salah satu jenis monosakarida disamping glukosa dan galaktosa. Fruktosa juga langsung masuk aliran darah ketika dicerna. Apa beda dengan glukosa?

Untuk fruktosa, sejumlah kecil yang dikonsumsi tentu tidak akan menjadi masalah, seperti yang ditemukan pada sebagian besar sayur dan buah. Itu bukanlah hal yang buruk, bahkan sangat membantu untuk mengembalikan kadar glukosa tubuh normal. Namun jika terlalu banyak, akan membahayakan kesehatan.

Fruktosa berbeda glukosa, 100% hanya dapat dimetabolis di liver sehingga jika konsumsi fruktosa ini berlebihan tentu akan membebani liver karena fruktosa memang diproses di hati ketika dikonsumsi. Jika terlalu banyak, maka hati kita tidak cukup cepat memprosesnya untuk digunakan sebagai gula, akibatnya mulailah terbentuk lemak dari fruktosa yang selanjutnya akan diteruskan di aliran darah dalam bentuk trigliserida. Bahayanya, terlalu banyak trigliserida meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah, fruktosa menghalangi sistem sinyal nafsu makan, dan bisa menyebabkan resistensi insulin. Inilah yang menjelaskan keterkaitan antara fruktosa dengan kenaikan berat badan dan diabetes meliitus. Fruktosa sedikit mirip dengan alkohol, dapat menjadi racun pada liver. Alkohol memetabolisme lemak, begitu juga dengan fruktosa namun terjadi dalam waktu lama.

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa sumber: http://www.wikihow.com

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa
sumber: http://www.wikihow.com

Didukung oleh sebuah penelitian, terhadap tikus yang diberikan glukosa dan dibandingkan dengan tikus dengan kadar fruktosa yang sama. Hasilnya sekitar 86% terjadi peningkatan kadar trigliserida pada tikus yang diberikan fruktosa, sedangkan yang diberikan glukosa tidak memnunjukkan kenaikan yang signifikan.

Jika dilihat penyakit-penyakit yang mungkin timbul akibat paparan alkohol, seperti dislipidemia, tekanan darah tinggi, obesity, disfungsi hati, dan efek adiksi. Penyakit yang mungkin muncul akibat paparan fruktosa seperti tekanan darah tinggi, dislipidemia, obesity, dan kebiasaan (meskipun bukan karena efek adiksi). Fruktosa dan alkohol secara alami menyediakan energi. Jika dalam keadaan yang sangat lapar, misalnya sehabis lari marathon, fruktosa dan alkohol (di negara-negara barat) dapat melakukan re-build energi sehingga tubuh menjadi kembali bertenaga. Tetapi jika tidak sedang dalam keadaan lapar, tidak sedang lari marathon, tidak melakukan aktivitas fisik berat lalu mengonsumsi fruktosa dan alkohol, akan dirubah menjadi liver fat dan kadang bersifat racun.

Sumber yang paling banyak mengandung fruktosa adalah soft drink, sirup, dan minuman rasa buah-yang kadang kita menganggapnya sehat, beberapa sayur dan buah. Hindari soft drink, es teh kemasan, dan sebagian besar minuman manis yang mengandung tinggi fruktosa. Ganti gula anda dengan madu karena madu memiliki rasio perbandingan yang sama antara glukosa dan fruktosa.

Sumber:

Prof Lustig youtube video (The Skinny obesity: about sugar)

Kaumi T et al., VLDL triglyceride kinetics in Wistar fatty rats, an animal model of NIDDM: effects of dietary fructose alone or in combination with pioglitazone. 1996.

Minimarket dan Obesitas

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

Pada tingkat pemahaman dasar, bahwa obesitas merupakan masalah yang timbul akibat ketidakseimbangan energi yaitu energi yang masuk lebih banyak dibandingkan dengan energi yang keluar.  Pada semua tingkat usia, prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun dan menunjukkan angka yang cukup tinggi dan penyebarannya merata, karena itu masalah ini disebut sebagai masalah epidemik kesehatan masyarakat. Sebenarnya banyak faktor penyebab obesitas, atau jika dijabarkan lebih dalam lagi, banyak faktor penyebab ketidakseimbangan energi tersebut. Salah satu faktor determinan adalah lingkungan-lingkungan yang menyebabkan obesitas disebut obesogenic enviroment.

Obesogenic environment diantaranya adalah ketersediaan berbagai teknologi, keberadaan restoran cepat saji, tumbuhnya mini market, serta semakin banyaknya kendaraan. Sarana dan prasarana tersebut berhasil mengubah pola-pola hidup masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang. Menyebabkan rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya perilaku sedentary dan konsumsi fast food, serta memudahkan akses terhadap junk food. Beberapa penelitian telah menjelaskan keterkaitan antara media teknologi, kepemilikan kendaraan, serta keberadaan restoran cepat saji dengan perilaku gizi yang salah serta peningkatan indeks massa tubuh. Namun penelitian terkait pengaruh keberadaan mini market yang akhir-akhir ini kian berkembang terutama di Indonesia masih sangat kurang.

Studi sebelumnya menyimpulkan kaitan positif antara keberadaan makanan bergizi dalam supermarket dengan makanan yang di konsumsi oleh masyarakat disekitar supermarket. Karakteristik dari supermarket mungkin saja berkaitan dengan asupan makanan dan obesitas. Sebagian besar masyarakat masih memilih supermarket sebagai tempat belanja makanan dan bahan makanan, karena itu melalui supermarket pula potensi untuk mencegah obesitas dapat dilakukan. Karakteristik dari supermarket cukup menentukan asupan makanan masyarakat sekitarnya karena terkait penyediaan bahan-bahan makanan di supermarket tersebut. Misalnya saja ketika supermarket tersebut banyak menjual buah-buahan dan sayuran, kemungkinan besar asupan buah dan sayur di masyarakat sekitarnya juga akan baik.

Hasil penelitian Lear et al (2013), bahwa IMT dari pelanggan berkaitan erat dengan jumlah total sayuran dan buah yang dijual dan jumlah uang yang dibelanjakan untuk makanan. Semakin banyak total belanja makanan oleh pelanggan dan total buah dan sayur yang dijual disuatu supermarket semakin meningkat pula indeks massa tubuh. Temuan lainnya bahwa harga dari bahan makanan di suatu supermarket memiliki hubungan timbal balik dengan IMT pelanggan. Peningkatan harga makanan mungkin akan membuat kebimbangan dan rawan, sebagai konsekuensi, dalam penelitian ini membuktikan bahwa kehati-hatian dalam menentukan harga makanan sebenarnya merupakan poin penting jika ingin melakukan intervensi untuk mencegah peningkatan obesitas.

minimarketDi Indonesia, banyaknya makanan-makanan yang tergolong unhealthy dijual di mini market menjadi cara tersendiri peningkatan masalah obesitas di Indonesia. Saat ini mini market tumbuh dengan signifikan, disetiap sudut kota, disetiap wilayah, dan bahkan persaingan bukan lagi terjadi antara pasar tradisional dengan mini market melainkan antar mini market karena banyaknya mini market yang berdiri. Apabila di seluruh mini market di Indonesia menjual berbagai macam junk food, bagaimana mungkin masyarakat kita khususnya yang tinggal di dekat mini market tersebut tidak terpapar oleh junk food. Lihat saja, sebagian besar orang-orang yang belanja di mini market kebanyakan membeli soft drink tinggi gula, snack ringan tinggi natrium dan pengawet, dll.

Perubahan gaya hidup (lifestyle) akibat modernisasi memberi warna tersendiri bagi epidemiologi obesitas di Indonesia. Untuk mencegah itu semua, sebaiknya pemerintah dengan tegas memberlakukan kebijakan-kebijakan yang menyangkut pertumbuhan minimarket tersebut. Memang jika dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi modern Indonesia meningkat, namun justru mematikan keberadaan pasar tradisional dimana kita ketahui di pasar tradisional banyak menyediakan aneka bahan makanan yang sehat dan jauh dari paparan junk food. Akibatnya ketika angka kejadian obesitas meningkat, akan memberikan beban tersendiri bagi Indonesia. Anak-anak yang obese berpotensi akan obes di fase kehidupan selanjutnya, menurunkan produktivitas, akibatnya sumber daya manusia kita akan sulit bersaing secara global. Mari para aktivitas kesehatan, dan pelaku pasar menyikapi hal ini.