Blog Archives

Bukan lemak yang harus diwaspadai, tapi gula, khususnya fruktosa…

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.
sumber: http://www.wikihow.com

Pernahkan anda ketika berbelanja di supermarket menemui berbagai jenis makanan yang berlabel fat-free atau “bebas lemak”. Sekilas produk itu menarik perhatian bagi mereka yang sedang menjalankan diet, berusaha menurunkan berat badan, atau yang sangat takut menjadi gemuk. Namun ternyata bagi orang yang ingin menurunkan berat badan harus lebih mencemaskan suatu zat dibandingkan lemak itu sendiri yaitu gula.

Diantara molekul gula, terdapat 2 jenis yang paling sering kita konsumsi yaitu glukosa yang tidak terlalu manis dan fruktosa yang sangat manis. Glukosa dan fruktosa sangat berbeda, baik dalam hal fungsi, maupun penyimpanannya/proses metabolismenya.

Glukosa diperlukan untuk proses metabolisme, setiap organisme hidup di planet dapat mencerna, menyerap, dan memetabolisme glukosa karena itu glukosa disebut juga sumber energi dari kehidupan. Jika tubuh kekurangan glukosa, maka sel tubuh membuatnya melalui mekanisme metabolik. Sekitar 80% kabohidrat yang dikonsumsi dalam hal ini glukosa dimetabolis oleh organ-organ vital, dan 20% nya oleh liver. Sebagian besar sumber karbohidrat yang kita makan mengandung glukosa. Glukosa yang dikonsumsi langsung memasuki aliran darah, dan tubuh melepaskan insulin untuk mengaturnya dan mengontrol gula darah. Glukosa yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan setelah sebelumnya diubah menjadi bentuk glikogen melalui proses glikoneogenesis. Glikogen disimpan di otot dan hati. Ketika tubuh memerlukan energi, hati mengubah kembali glikogen menjadi glukosa untuk selanjutnya masuk kedalam membran dan memproduksi energi (siklus kreb).

Fruktosa adalah salah satu jenis monosakarida disamping glukosa dan galaktosa. Fruktosa juga langsung masuk aliran darah ketika dicerna. Apa beda dengan glukosa?

Untuk fruktosa, sejumlah kecil yang dikonsumsi tentu tidak akan menjadi masalah, seperti yang ditemukan pada sebagian besar sayur dan buah. Itu bukanlah hal yang buruk, bahkan sangat membantu untuk mengembalikan kadar glukosa tubuh normal. Namun jika terlalu banyak, akan membahayakan kesehatan.

Fruktosa berbeda glukosa, 100% hanya dapat dimetabolis di liver sehingga jika konsumsi fruktosa ini berlebihan tentu akan membebani liver karena fruktosa memang diproses di hati ketika dikonsumsi. Jika terlalu banyak, maka hati kita tidak cukup cepat memprosesnya untuk digunakan sebagai gula, akibatnya mulailah terbentuk lemak dari fruktosa yang selanjutnya akan diteruskan di aliran darah dalam bentuk trigliserida. Bahayanya, terlalu banyak trigliserida meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah, fruktosa menghalangi sistem sinyal nafsu makan, dan bisa menyebabkan resistensi insulin. Inilah yang menjelaskan keterkaitan antara fruktosa dengan kenaikan berat badan dan diabetes meliitus. Fruktosa sedikit mirip dengan alkohol, dapat menjadi racun pada liver. Alkohol memetabolisme lemak, begitu juga dengan fruktosa namun terjadi dalam waktu lama.

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa sumber: http://www.wikihow.com

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa
sumber: http://www.wikihow.com

Didukung oleh sebuah penelitian, terhadap tikus yang diberikan glukosa dan dibandingkan dengan tikus dengan kadar fruktosa yang sama. Hasilnya sekitar 86% terjadi peningkatan kadar trigliserida pada tikus yang diberikan fruktosa, sedangkan yang diberikan glukosa tidak memnunjukkan kenaikan yang signifikan.

Jika dilihat penyakit-penyakit yang mungkin timbul akibat paparan alkohol, seperti dislipidemia, tekanan darah tinggi, obesity, disfungsi hati, dan efek adiksi. Penyakit yang mungkin muncul akibat paparan fruktosa seperti tekanan darah tinggi, dislipidemia, obesity, dan kebiasaan (meskipun bukan karena efek adiksi). Fruktosa dan alkohol secara alami menyediakan energi. Jika dalam keadaan yang sangat lapar, misalnya sehabis lari marathon, fruktosa dan alkohol (di negara-negara barat) dapat melakukan re-build energi sehingga tubuh menjadi kembali bertenaga. Tetapi jika tidak sedang dalam keadaan lapar, tidak sedang lari marathon, tidak melakukan aktivitas fisik berat lalu mengonsumsi fruktosa dan alkohol, akan dirubah menjadi liver fat dan kadang bersifat racun.

Sumber yang paling banyak mengandung fruktosa adalah soft drink, sirup, dan minuman rasa buah-yang kadang kita menganggapnya sehat, beberapa sayur dan buah. Hindari soft drink, es teh kemasan, dan sebagian besar minuman manis yang mengandung tinggi fruktosa. Ganti gula anda dengan madu karena madu memiliki rasio perbandingan yang sama antara glukosa dan fruktosa.

Sumber:

Prof Lustig youtube video (The Skinny obesity: about sugar)

Kaumi T et al., VLDL triglyceride kinetics in Wistar fatty rats, an animal model of NIDDM: effects of dietary fructose alone or in combination with pioglitazone. 1996.

Advertisements

Pandangan tentang obesitas

‘‘There is no sincerer love than the love of food.’’

—George Bernard Shaw

obesitas berkaitan erat dengan mental seseorang foto: http://gbi-imra.org

obesitas berkaitan erat dengan mental seseorang

Telah kita ketahui bersama bahwa obesitas merupakan kondisi abnormal tubuh dimana terjadi kelebihan simpanan lemak di jaringan lemak. Menurut O’Rahilly (2009), kondisi tersebut pada dasarnya dihasilkan oleh kelebihan nafsu makan atau penurunan tingkat metabolisme. Seperti halnya sebuah penyakit, seseorang yang menderita obesitas cenderung mendapatkan stigma sosial, maka tidak heran jika ada beberapa orang obes yang tertekan secara psikologis (Bean et al., 2008). Pengembangan jenis-jenis diet saat ini mengarah pada penurunan berat badan hingga mencapai berat badan ideal, sebut saja OCD (Obsessive Cobuzier’s Diet), Food combining, Fad Diet, hingga terbaru yang dikembangkan di Eropa adalah Fast Diet. Jenis-jenis diet tersebut akan dibahas di tulisan selanjutnya, namun perlu kami sampaikan bahwa pada dasarnya diet-diet tersebut cukup efektif bagi orang obes TETAPI hanya bagi mereka yang memiliki keyakinan yang kuat untuk menurunkan berat badannya.

Sebagian besar konsep pengaturan makanan oleh otak Anda tidak terlepas dari 3 kondisi homeostatis dari sistem rasa lapar, rasa kenyang, dan jaringan lemak. Disini peran hormon sangat dominan untuk menjaga ketiga kondisi tersebut dalam keadaan homeostatis, karena jika kondisi tersebut tercapai maka perilaku makan Anda akan normal dan akan mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Sebaliknya, jika 3 kondisi tersebut abnormal, maka kemungkinannya Anda akan menjadi kurus atau menjadi gemuk. Hormon-hormon yang berperan diantaranya leptin, ghrelin, dan insulin. Leptin sendiri dikenal sebagai hormon rasa lapar, ghrelin sebagai hormon rasa kenyang, sedangkan insulin berperan dalam sintesis glukogen dari jaringan lemak (adiposa). Hormon leptin, ghrelin, dan insulin ini bekerja di hipotalamus dan sirkuit batang otak merangsang atau menghambat pemberian makanan untuk mempertahankan tingkat yang tepat dari keseimbangan energi (Kenny, 2011). Kegagalan menjalankan fungsi dalam menjaga homeostatis seperti resistensi leptin, ghrelin, dan insulin dapat mengakibatkan kondisi ketidakseimbangan energi dan pada akhirnya obesitas (Campfield, 1995).

Selain ketiga kondisi diatas, terdapat satu kondisi lagi yang menurut kami sangat berpengaruh yaitu kepuasan. Pernahkah Anda merasa tidak bernafsu mencicipi makanan yang terasa hambar, sudah dingin, atau sedikit bau? tentu Anda segera meninggalkan itu. Akan tetapi ketika makanan yang disajikan hangat, lezat, harum, dan rasanya pas dengan lidah Anda, saya rasa Anda baru akan berhenti makan sesaat setelah merasa puas (Volkow and Wise, 2005). Kondisi tersebut bisa jadi sebagai faktor risiko yang menyebabkan lonjakan lemak tubuh Anda. Menurut Kenny (2011), bahwa visualisasi dan bau dari makanan enak sedikit banyak mempengaruhi sinyal-sinyal yang menjaga kondisi homeostatis, dalam artian bahwa rasa ingin puas dari seseorang terhadap makanan enak bisa membuat Anda yang tadinya telah terpenuhi kebutuhan energi nya menjadi ingin makan lagi. Akibatnya energi yang tadi jika tidak digunakan akan tertumpuk di jaringan lemak dan tentu membuat Anda lebih “kelihatan” gemuk. Penelitian yang dilakukan pada tikus, bahwa tikus yang sudah cukup makan ketika mendapatkan sinyal-sinyal makanan enak cenderung untuk mencari makanan tersebut dan ingin mengonsumsinya (Oswald et al., 2010). Temuan dari penelitian menimbulkan asumsi bahwa mungkin beberapa kandungan makronutrien dari makanan lezat dapat merangsang sistem otak dalam menjaga kondisi homeostatis tersebut.

Jika dianalogikan dengan kecanduan narkoba, obat-obatan TERLARANG itu menyebabkan tingginya perilaku konsumtif yaitu melalui mekanisme yang langsung menyerang otak. Tanpa melihat nilai kalori, selama otak merasa “terpuaskan” dengan mengonsumsi obat tersebut maka Anda akan kencanduan. Begitu pula dengan makanan lezat, Konsumsi makanan lezat dapat meningkatkan suasana hati dan mendukung terciptanya kepuasan. Terlepas dari nilai kalori yang dikandungnya, selama Anda belum mencapai kepuasan mengonsumsi makanan tersebut maka Anda akan kecanduan. Melalui penjelasan inilah kami berasumsi bahwasanya obesitas merupakan hasil dari gangguan otak dan gangguan mental, dan menurut Kenny (2011) bahwa gejala ini merupakan efek hedonis makanan enak. Mekaninsme sebenarnya mengapa sampai rasa kepuasan tersebut sangat mempengaruhi sistem homeostatis diatur oleh otak dapat dijelaskan oleh teori tentang “Struktur otak dalam mempridiksi obesitas” (namun hari ini belum berkesempatan untuk membahasnya).

Sumber:

  1. O’Rahilly, S. (2009). Human genetics illuminates the paths to metabolic disease. Nature 462, 307–314.
  2. Bean, M.K., Stewart, K., and Olbrisch, M.E. (2008). Obesity in America: Implications for clinical and health psychologists. J. Clin. Psychol. Med. Settings 15, 214–224.
  3. Kenny P.J. (2011). Reward mechanism in obesity: new insight and future direction. Neuron 69:2.
  4. Campfield, L.A., Smith, F.J., Guisez, Y., Devos, R., and Burn, P. (1995). Recombinant mouse OB protein: evidence for a peripheral signal linking adiposity and central neural networks. Science 269, 546–549.
  5. Volkow, N.D., and Wise, R.A. (2005). How can drug addiction help us understand obesity? Nat. Neurosci. 8, 555–560.
  6. Oswald, K.D., Murdaugh, D.L., King, V.L., and Boggiano, M.M. (2010). Motivation for palatable food despite consequences in an animal model of binge eating. Int. J. Eat. Disord., in press. Published online February 22, 2010. 10.1002/eat.20808.

“Catatan ttg OCD”

Oleh: Rio Jati S.Gz

sumber: si0.twimg.com

sumber: si0.twimg.com

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya diet OCD ini bukanlah hal baru dalam dunia diet. Diet yang dikemukakan oleh Dedy Corbuzier, seorang magician yang tidak pernah belajar gizi seperti kita-kita yang ahli gizi, ternyata digandrungi oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa diet yang dikemukakan oleh Dedy corbuzier ini atau diet OCD dapat secara cepat menurunkan berat badan tapi tidak menyiksa seperti pembatasan kalori secara berlebihan. Hal ini tentu saja membuat berang para ahli gizi karena dinilai tidak sesuai dengan ilmu gizi yang diajarkan saat kuliah dahulu. Selain itu, beberapa kalangan ahli dan praktisi tak mau kalah menyayangkan masyarakat ternyata lebih mempercayakan dietnya kepada seorang magician yang tanpa latar belakang pendidikan gizi daripada kepada dokter atau ahli gizi. Dalam artikel ini saya akan mengulas dan berkomentar sedikit saja mengenai permasalahan tersebut ditinjau dari sudut seorang akademisi (bukan praktisi maupun ahli).

 

Diet OCD atau Obstructive Corbuzier Diet merupakan diet yang pertama kali dikemukakan oleh Dedy corbuzier dengan pola umum mengedepankan puasa. Diet ini tidak membatasi asupan kalori atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja mengubah pola frekuensi makan dalam sehari. Menurut ilmu gizi, makan yang sehat itu makan 3 kali sehari dengan 2-3 kali selingan dengan jenis makanan yang beragam (4 sehat 5 sempurna tidak berlaku lagi sekarang). Hal ini disebabkan untuk mencegah agar lambung tidak kosong dan makan secara reguler ini mampu meningkatkan pengeluaran energi dari efek thermik dari makanan yang dikonsumsi. Efek thermik ini merupakan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna makanan sehingga asumsinya, semakin sering mengonsumsi makan, semakin banyak energi yang dikeluarkan untuk mencerna makanan. Teori ini sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat dari sisi seorang akademisi seperti saya. Sebuah jurnal yang dikemukakan oleh Reed dan Hill (1996) (dapat didownload di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8561055) melaporkan bahwa efek thermik dari makanan ini sangat bergantung pada masa tubuh bebas lemak dan porsi makanan yang diasup. Artinya, semakin banyak masa tubuh bebas lemak seseorang (semakin banyak masa protein ototnya) semakin tinggi efek thermik makanan yang akan dikeluarkan dan begitu pula pada porsi makanan yang diasup. Bahkan sebuah jurnal lainnya mengatakan bahwa efek thermik ini sangat bergantung pada komposisi energi pada makanan yang diasup bukan komposisi zat gizi yang diasup (Kinabo dan Durnin, 1990, bisa di download di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2400767). Selain itu, pola dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap efek thermik ini (bisa dibaca pada artikel Stob et al, 2008; http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17463294). Oleh karena itu, dari segi evidence based atau bukti ilmiah dimasyarakat yang sampai saat ini saya review dan baca, asumsi umum yang dikemukakan oleh ahli gizi tersebut kurang tepat (saya tidak mengatakan tidak tepat, tapi kurang tepat), karena ternyata efek ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, asumsi bahwa semakin sering makan maka semakin baik karena meningkatkan metabolisme sehingga mengeluarkan lebih banyak energi agaknya kurang pas.

 

Satu hal yang menarik dari diet OCD ini adalah dibolehkannya seorang individu untuk mengasup makanan kesukaan tapi tidak dalam jumlah berlebihan setelah masa berbuka atau tidak sedang dalam masa puasa. Secara pribadi, diet OCD ini bukanlah hal yang baru karena seorang individu hanya disarankan untuk mengubah frekuensi makannya dari 3 kali sehari tetap menjadi 3 hari sekali tapi dalam rentang waktu tertentu. Dalam diet tersebut disarankan mengambil waktu berbuka 8 jam, 6 jam dan 4 jam untuk dapat makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Artinya, kita tetap mengasup makanan sesuai dengan kebutuhan tapi memperlama waktu puasa atau tidak makan. Diet OCD ini sebetulnya bukanlah hal yang baru di dunia akademisi. Setelah saya mencari beberapa literatur dari jurnal dan artikel ilmiah, saya berkesimpulan bahwa diet OCD ini serupa dengan modifikasi “low energy” diet yang sekarang sedang dikembangkan oleh peneliti. Low energy diet atau diet rendah energi menurut beberapa literatur memiliki keuntungan yang lebih nyata dan membantu metabolisme energi (melalui aktivasi mitokondria) dibandingkan dengan diet yang mengurangi salah satu komponen zat gizi dalam makanan (lemak atau karbohidrat). Akan tetapi, diet ini memiliki kelemahan karena tidak semua individu dapat mengikuti diet ini dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan jenis diet lain seperti alternate day fasting dan intermittent fasting. Alhasil, diet ini memiliki compliance atau tingkat kepatuhan sekitar 86% dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan, percobaan pada hewan coba menemukan bahwa diet dengan prosedur puasa ini lebih memiliki keuntungan dibandingkan dengan diet rendah energi (dapat didownload pada http://www.pnas.org/content/100/10/6216.full.pdf+html). Secara komprehensif, prosedur ini beserta efeknya pada metabolisme individu dapat dilihat dalam artikel berikut: http://ajcn.nutrition.org/content/86/1/7.full dan  http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0104423013000213.

 

Secara umum, alternate day fast adalah suatu prosedur diet baru yang hampir serupa dengan diet OCD. Prosedur ini mengedepankan puasa (fast condition) dalam jangka waktu tertentu dan berbuka (feast time) dalam waktu tertentu pula. Perbedaannya adalah, alternate daya fasting merupakan puasa dan feast time dilakukan dalam hari yang sama, sedangkan intermittent fasting merupakan puasa 24 jam 1x dalam 1 minggu. Prosedur ini (alternate day fast dan Intermittent fasting) telah dilaporkan mampu menurunkan berat badan dengan tingkat penurunan yang tidak begitu tinggi: sekitar 0,67 kg/minggu. Menurut ilmu gizi, berat badan yang disarankan untuk turun adalah 0,50 kg/minggu atau 2 kg/bulan. Penurunan berat badan dengan laju yang cepat serta dalam jangka waktu yang pendek dapat beresiko menurunkan laju metabolisme tubuh sehingga ditakutkan apabila seorang individu tersebut tidak tahan dengan pola diet dan kembali ke kebiasaan lama, maka berat badan individu tersebut akan meningkat lebih jauh dibandingkan saat awal sebelum berdiet. Namun, diet dengan pola ini telah dilaporkan tidak menurunkan laju metabolisme tubuh (dapat dilihat pada http://ajcn.nutrition.org/content/90/5/1138.full). Bahkan kombinasi dari diet rendah energi dan intermittent fasting telah dilaporkan sangat potensial untuk menurunkan berat badan pada wanita obesitas (Klempen et al., 2012; dapat didownload dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23171320).Jadi sebetulnya, diet OCD ini bukanlah sesuatu hal yang baru di kalangan akademisi karena penelitian dengan prosedur dan metode tersebut sekarang sedang diteliti lebih lanjut.

 

Satu hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus dari diet ini adalah penggunaan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa penelitian yang saya sebutkan diatas masih dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sehingga penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Selain itu, beberapa penelitian diatas juga belum mengikutkan variabel pengganggu lain seperti tipe obesitas (apakah apel, pear) dan hormonal (adipokines dan kortikosterol) yang punya efek dalam pengaturan berat badan. Jadi saran saya, bukan saatnya seorang ahli gizi mendebat habis-habisan atau bersifat eksklusif sehingga menutup diri dengan diet ini yang sebetulnya bukanlah hal yang baru. Pendapat pribadi saya adalah sebaiknya ahli gizi mengadakan sebuah studi yang komprehensif tentang diet ini dengan metode penelitian yang benar-benar salih karena bukan dari siapa diet ini ditemukan, tapi apa pesan yang terkandung didalamnya. Jadi kalau saya boleh berkesimpulan, gonjang-ganjing seputar diet OCD ini menunjukkan bahwa ahli gizi kita belum siap menerima perubahan. Saya sangat menyayangkan mengapa seorang entertainer mampu mengemukakan terlebih dahulu metode ini yang sekarang baru dikembangkan di dunia akademisi. Sebaiknya, bukan saatnya kita bertengkar dan berdebat, tapi saatnya ahli gizi mengupdate ilmu sehingga tidak terpaku dalam teori-teori lama. Mudah-mudahan tidak banyak yang panas ya ama catatan kecil ane ini, kalaupun ada ya maaf, karena ane juga masih belajar.

 

sumber: https://www.facebook.com/notes/rio-jati-kusuma/catatan-ane-tentang-diet-ocd/607861125926891

Minimarket dan Obesitas

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

Pada tingkat pemahaman dasar, bahwa obesitas merupakan masalah yang timbul akibat ketidakseimbangan energi yaitu energi yang masuk lebih banyak dibandingkan dengan energi yang keluar.  Pada semua tingkat usia, prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun dan menunjukkan angka yang cukup tinggi dan penyebarannya merata, karena itu masalah ini disebut sebagai masalah epidemik kesehatan masyarakat. Sebenarnya banyak faktor penyebab obesitas, atau jika dijabarkan lebih dalam lagi, banyak faktor penyebab ketidakseimbangan energi tersebut. Salah satu faktor determinan adalah lingkungan-lingkungan yang menyebabkan obesitas disebut obesogenic enviroment.

Obesogenic environment diantaranya adalah ketersediaan berbagai teknologi, keberadaan restoran cepat saji, tumbuhnya mini market, serta semakin banyaknya kendaraan. Sarana dan prasarana tersebut berhasil mengubah pola-pola hidup masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang. Menyebabkan rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya perilaku sedentary dan konsumsi fast food, serta memudahkan akses terhadap junk food. Beberapa penelitian telah menjelaskan keterkaitan antara media teknologi, kepemilikan kendaraan, serta keberadaan restoran cepat saji dengan perilaku gizi yang salah serta peningkatan indeks massa tubuh. Namun penelitian terkait pengaruh keberadaan mini market yang akhir-akhir ini kian berkembang terutama di Indonesia masih sangat kurang.

Studi sebelumnya menyimpulkan kaitan positif antara keberadaan makanan bergizi dalam supermarket dengan makanan yang di konsumsi oleh masyarakat disekitar supermarket. Karakteristik dari supermarket mungkin saja berkaitan dengan asupan makanan dan obesitas. Sebagian besar masyarakat masih memilih supermarket sebagai tempat belanja makanan dan bahan makanan, karena itu melalui supermarket pula potensi untuk mencegah obesitas dapat dilakukan. Karakteristik dari supermarket cukup menentukan asupan makanan masyarakat sekitarnya karena terkait penyediaan bahan-bahan makanan di supermarket tersebut. Misalnya saja ketika supermarket tersebut banyak menjual buah-buahan dan sayuran, kemungkinan besar asupan buah dan sayur di masyarakat sekitarnya juga akan baik.

Hasil penelitian Lear et al (2013), bahwa IMT dari pelanggan berkaitan erat dengan jumlah total sayuran dan buah yang dijual dan jumlah uang yang dibelanjakan untuk makanan. Semakin banyak total belanja makanan oleh pelanggan dan total buah dan sayur yang dijual disuatu supermarket semakin meningkat pula indeks massa tubuh. Temuan lainnya bahwa harga dari bahan makanan di suatu supermarket memiliki hubungan timbal balik dengan IMT pelanggan. Peningkatan harga makanan mungkin akan membuat kebimbangan dan rawan, sebagai konsekuensi, dalam penelitian ini membuktikan bahwa kehati-hatian dalam menentukan harga makanan sebenarnya merupakan poin penting jika ingin melakukan intervensi untuk mencegah peningkatan obesitas.

minimarketDi Indonesia, banyaknya makanan-makanan yang tergolong unhealthy dijual di mini market menjadi cara tersendiri peningkatan masalah obesitas di Indonesia. Saat ini mini market tumbuh dengan signifikan, disetiap sudut kota, disetiap wilayah, dan bahkan persaingan bukan lagi terjadi antara pasar tradisional dengan mini market melainkan antar mini market karena banyaknya mini market yang berdiri. Apabila di seluruh mini market di Indonesia menjual berbagai macam junk food, bagaimana mungkin masyarakat kita khususnya yang tinggal di dekat mini market tersebut tidak terpapar oleh junk food. Lihat saja, sebagian besar orang-orang yang belanja di mini market kebanyakan membeli soft drink tinggi gula, snack ringan tinggi natrium dan pengawet, dll.

Perubahan gaya hidup (lifestyle) akibat modernisasi memberi warna tersendiri bagi epidemiologi obesitas di Indonesia. Untuk mencegah itu semua, sebaiknya pemerintah dengan tegas memberlakukan kebijakan-kebijakan yang menyangkut pertumbuhan minimarket tersebut. Memang jika dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi modern Indonesia meningkat, namun justru mematikan keberadaan pasar tradisional dimana kita ketahui di pasar tradisional banyak menyediakan aneka bahan makanan yang sehat dan jauh dari paparan junk food. Akibatnya ketika angka kejadian obesitas meningkat, akan memberikan beban tersendiri bagi Indonesia. Anak-anak yang obese berpotensi akan obes di fase kehidupan selanjutnya, menurunkan produktivitas, akibatnya sumber daya manusia kita akan sulit bersaing secara global. Mari para aktivitas kesehatan, dan pelaku pasar menyikapi hal ini.

Obesity and adipose tissue

Jaringan Adiposit merupakan jaringan lemak yang berfungsi menyimpan cadangan lemak yang siap digunakan (trigliserida) di dalam tubuh. Jaringan adipose mensekresi hormon-hormon  yaitu leptin, resistin, dan TNF-α. Selain itu adiposit mengeluarkan zat yang dinamakan adipositokin, yang memiliki efek terhadap obesitas. Leptin dan resistin memiliki mekanisme yang saling bertolak belakang. Fungsi dari adiposity selain menyimpan cadangan lemak tubuh, juga berfungsi melindungi tubuh dari suhu panas dan dingin, serta melapisi dan melindungi organ tubuh. Terdapat 2 jenis sel adipose yaitu sel brown adipose tissue dan white adipose tissue, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Leptin merupakan suatu peptide yang disekresi oleh jaringan adipose yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan energi (homeostatis), dan menekan nafsu makan ketika tubuh sudah merasa cukup energi, mekanisme kerja leptin terjadi di hipotalamus. Orang obese cenderung memiliki kadar leptin yang sedikit dalam hipotalamus, hal ini karena pada orang obese terjadi gangguan transport leptin ke otak akibatnya terjadi resistensi leptin. Apabila tubuh rendah asupan makananannya, leptin akan mengirimkan sinyal ke otak dan mengatur pencadangan lemak tubuh. Ketika tubuh kurang berenergi karena kurangnya asupan makanan, maka cadangan lemak akan digunakan untuk kemudian diubah menjadi energi begitu pula sebaliknya. Mekanisme ini diatur oleh leptin, oleh sebab itu peningkatan kadar leptin akan menyebabkan penurunan asupan makanan, selain itu juga akan menurunkan kadar neuropeptida Y yang menekan appetite atau nafsu makan.

Orang obese umumnya memiliki gangguan resistensi leptin sehingga akan menimbulkan pula gangguan pada mekanisme leptin dalam mengatur nafsu makan. Oleh karena itu sering kita jumpai orang obesitas akan mengalami kesulitan ketika melakukan diet ketat. Selain regulasinya dalam pengaturan signal, leptin juga dikenal sebagai hormone yang dapat meningkatkan sensitivitas dari insulin. Orang obese sebagian besar mengalami resistensi insulin karena kadar leptin dalam tubuh cenderung sedikit.

Resistin merupakan salah satu adipositokin yang dihasilkan di jaringan adipose yang memiliki mekanisme bertolak belakang dengan leptin. Kalau pada leptin akan meningkatkan sensitivitas insulin dan menekan nafsu makan, resistin cenderung dapat menyebabkan obesitas dan meningkatkan resistensi insulin. Resistin mengurangi kerja insulin dalam menjalankan mekanisme kerja glukosa dalam tubuh, akibatnya justru mengurangi sensitivitas insulin yang lama kelamaan akan memunculkan efek resistensi. Namun penelitian-penelitian yang membuktikan teori tersebut masih berlaku pada tikus. Dari suatu penelitian, mencit yang mengekspresikan resistin secara berlebihan akan memberikan efek gangguan pada insulin dalam mengatur transportasi glukosa. Selain dampaknya pada resistensi insulin, resistin juga berhubungan dengan inflamasi.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa jaringan adipose dapat di analogikan seperti sebuah gudang yang berisi simpanan-simpanan energi. Dalam mengatur tertibnya penggunaan dan penyimpanan di dalam gudang tersebut, adipose menggunakan bantuan dengan mensekresi leptin, resistin dan adiponektin, dan pro inflamasi lainnya. leptin merupakan hormon yang terlibat dengan metabolisme energi dan sensitivitas insulin (anti-inflammatory), sedangkan resistin terlibat dengan inflamasi (pro-inflammatory) dan resistensi insulin. Namun keduanya sama-sama berkaitan dengan obesitas baik obesitas perifer maupun obesitas visceral.

Sumber :

Permana, Hikmat. Sel Adiposit sebagai organ endokrin. Bandung.

Marfianti, Erlina. Perbedaan kadar resistin pada obese dengan resistensi insulin dan obese tanpa resistensi insulin. JKKI; 2006.

Megawati, Tjhi. Perbedaan kadar resistin antara penderita dengan dan tanpa penyakit jantung koroner, Semarang, 2008.