“Catatan ttg OCD”


Oleh: Rio Jati S.Gz

sumber: si0.twimg.com

sumber: si0.twimg.com

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya diet OCD ini bukanlah hal baru dalam dunia diet. Diet yang dikemukakan oleh Dedy Corbuzier, seorang magician yang tidak pernah belajar gizi seperti kita-kita yang ahli gizi, ternyata digandrungi oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa diet yang dikemukakan oleh Dedy corbuzier ini atau diet OCD dapat secara cepat menurunkan berat badan tapi tidak menyiksa seperti pembatasan kalori secara berlebihan. Hal ini tentu saja membuat berang para ahli gizi karena dinilai tidak sesuai dengan ilmu gizi yang diajarkan saat kuliah dahulu. Selain itu, beberapa kalangan ahli dan praktisi tak mau kalah menyayangkan masyarakat ternyata lebih mempercayakan dietnya kepada seorang magician yang tanpa latar belakang pendidikan gizi daripada kepada dokter atau ahli gizi. Dalam artikel ini saya akan mengulas dan berkomentar sedikit saja mengenai permasalahan tersebut ditinjau dari sudut seorang akademisi (bukan praktisi maupun ahli).

 

Diet OCD atau Obstructive Corbuzier Diet merupakan diet yang pertama kali dikemukakan oleh Dedy corbuzier dengan pola umum mengedepankan puasa. Diet ini tidak membatasi asupan kalori atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja mengubah pola frekuensi makan dalam sehari. Menurut ilmu gizi, makan yang sehat itu makan 3 kali sehari dengan 2-3 kali selingan dengan jenis makanan yang beragam (4 sehat 5 sempurna tidak berlaku lagi sekarang). Hal ini disebabkan untuk mencegah agar lambung tidak kosong dan makan secara reguler ini mampu meningkatkan pengeluaran energi dari efek thermik dari makanan yang dikonsumsi. Efek thermik ini merupakan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna makanan sehingga asumsinya, semakin sering mengonsumsi makan, semakin banyak energi yang dikeluarkan untuk mencerna makanan. Teori ini sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat dari sisi seorang akademisi seperti saya. Sebuah jurnal yang dikemukakan oleh Reed dan Hill (1996) (dapat didownload di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8561055) melaporkan bahwa efek thermik dari makanan ini sangat bergantung pada masa tubuh bebas lemak dan porsi makanan yang diasup. Artinya, semakin banyak masa tubuh bebas lemak seseorang (semakin banyak masa protein ototnya) semakin tinggi efek thermik makanan yang akan dikeluarkan dan begitu pula pada porsi makanan yang diasup. Bahkan sebuah jurnal lainnya mengatakan bahwa efek thermik ini sangat bergantung pada komposisi energi pada makanan yang diasup bukan komposisi zat gizi yang diasup (Kinabo dan Durnin, 1990, bisa di download di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2400767). Selain itu, pola dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap efek thermik ini (bisa dibaca pada artikel Stob et al, 2008; http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17463294). Oleh karena itu, dari segi evidence based atau bukti ilmiah dimasyarakat yang sampai saat ini saya review dan baca, asumsi umum yang dikemukakan oleh ahli gizi tersebut kurang tepat (saya tidak mengatakan tidak tepat, tapi kurang tepat), karena ternyata efek ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, asumsi bahwa semakin sering makan maka semakin baik karena meningkatkan metabolisme sehingga mengeluarkan lebih banyak energi agaknya kurang pas.

 

Satu hal yang menarik dari diet OCD ini adalah dibolehkannya seorang individu untuk mengasup makanan kesukaan tapi tidak dalam jumlah berlebihan setelah masa berbuka atau tidak sedang dalam masa puasa. Secara pribadi, diet OCD ini bukanlah hal yang baru karena seorang individu hanya disarankan untuk mengubah frekuensi makannya dari 3 kali sehari tetap menjadi 3 hari sekali tapi dalam rentang waktu tertentu. Dalam diet tersebut disarankan mengambil waktu berbuka 8 jam, 6 jam dan 4 jam untuk dapat makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Artinya, kita tetap mengasup makanan sesuai dengan kebutuhan tapi memperlama waktu puasa atau tidak makan. Diet OCD ini sebetulnya bukanlah hal yang baru di dunia akademisi. Setelah saya mencari beberapa literatur dari jurnal dan artikel ilmiah, saya berkesimpulan bahwa diet OCD ini serupa dengan modifikasi “low energy” diet yang sekarang sedang dikembangkan oleh peneliti. Low energy diet atau diet rendah energi menurut beberapa literatur memiliki keuntungan yang lebih nyata dan membantu metabolisme energi (melalui aktivasi mitokondria) dibandingkan dengan diet yang mengurangi salah satu komponen zat gizi dalam makanan (lemak atau karbohidrat). Akan tetapi, diet ini memiliki kelemahan karena tidak semua individu dapat mengikuti diet ini dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan jenis diet lain seperti alternate day fasting dan intermittent fasting. Alhasil, diet ini memiliki compliance atau tingkat kepatuhan sekitar 86% dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan, percobaan pada hewan coba menemukan bahwa diet dengan prosedur puasa ini lebih memiliki keuntungan dibandingkan dengan diet rendah energi (dapat didownload pada http://www.pnas.org/content/100/10/6216.full.pdf+html). Secara komprehensif, prosedur ini beserta efeknya pada metabolisme individu dapat dilihat dalam artikel berikut: http://ajcn.nutrition.org/content/86/1/7.full dan  http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0104423013000213.

 

Secara umum, alternate day fast adalah suatu prosedur diet baru yang hampir serupa dengan diet OCD. Prosedur ini mengedepankan puasa (fast condition) dalam jangka waktu tertentu dan berbuka (feast time) dalam waktu tertentu pula. Perbedaannya adalah, alternate daya fasting merupakan puasa dan feast time dilakukan dalam hari yang sama, sedangkan intermittent fasting merupakan puasa 24 jam 1x dalam 1 minggu. Prosedur ini (alternate day fast dan Intermittent fasting) telah dilaporkan mampu menurunkan berat badan dengan tingkat penurunan yang tidak begitu tinggi: sekitar 0,67 kg/minggu. Menurut ilmu gizi, berat badan yang disarankan untuk turun adalah 0,50 kg/minggu atau 2 kg/bulan. Penurunan berat badan dengan laju yang cepat serta dalam jangka waktu yang pendek dapat beresiko menurunkan laju metabolisme tubuh sehingga ditakutkan apabila seorang individu tersebut tidak tahan dengan pola diet dan kembali ke kebiasaan lama, maka berat badan individu tersebut akan meningkat lebih jauh dibandingkan saat awal sebelum berdiet. Namun, diet dengan pola ini telah dilaporkan tidak menurunkan laju metabolisme tubuh (dapat dilihat pada http://ajcn.nutrition.org/content/90/5/1138.full). Bahkan kombinasi dari diet rendah energi dan intermittent fasting telah dilaporkan sangat potensial untuk menurunkan berat badan pada wanita obesitas (Klempen et al., 2012; dapat didownload dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23171320).Jadi sebetulnya, diet OCD ini bukanlah sesuatu hal yang baru di kalangan akademisi karena penelitian dengan prosedur dan metode tersebut sekarang sedang diteliti lebih lanjut.

 

Satu hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus dari diet ini adalah penggunaan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa penelitian yang saya sebutkan diatas masih dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sehingga penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Selain itu, beberapa penelitian diatas juga belum mengikutkan variabel pengganggu lain seperti tipe obesitas (apakah apel, pear) dan hormonal (adipokines dan kortikosterol) yang punya efek dalam pengaturan berat badan. Jadi saran saya, bukan saatnya seorang ahli gizi mendebat habis-habisan atau bersifat eksklusif sehingga menutup diri dengan diet ini yang sebetulnya bukanlah hal yang baru. Pendapat pribadi saya adalah sebaiknya ahli gizi mengadakan sebuah studi yang komprehensif tentang diet ini dengan metode penelitian yang benar-benar salih karena bukan dari siapa diet ini ditemukan, tapi apa pesan yang terkandung didalamnya. Jadi kalau saya boleh berkesimpulan, gonjang-ganjing seputar diet OCD ini menunjukkan bahwa ahli gizi kita belum siap menerima perubahan. Saya sangat menyayangkan mengapa seorang entertainer mampu mengemukakan terlebih dahulu metode ini yang sekarang baru dikembangkan di dunia akademisi. Sebaiknya, bukan saatnya kita bertengkar dan berdebat, tapi saatnya ahli gizi mengupdate ilmu sehingga tidak terpaku dalam teori-teori lama. Mudah-mudahan tidak banyak yang panas ya ama catatan kecil ane ini, kalaupun ada ya maaf, karena ane juga masih belajar.

 

sumber: https://www.facebook.com/notes/rio-jati-kusuma/catatan-ane-tentang-diet-ocd/607861125926891

Posted on 15 October 2013, in Health and Nutrition, kontroversi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: