Seputar Vegetarian (2)

Vegetarianism… (www.ciboapp.com)

Melanjutkan tulisan bulan lalu terkait vegetarian, bahwa ternyata vegetarian juga berkaitan dengan masalah defisiensi zat gizi, aging, dan proporsi berat badan ideal.

Vegetarian dan anemia, defisiensi vitamin B12

Sumber zat besi umumnya yang dikonsumsi dalam bentuk heme dan non-heme. Zat besi golongan heme cenderung lebih mudah diserap dibandingkan non-heme. Sumber-sumber zat besi dari pangan hewani mengandung zat besi heme sedangkan nabati mengandung zat besi non-heme. Selain itu zat besi dari golongan no-heme lebih dapat dipengaruhi oleh substansi makanan lain dibandingkan dengan zat besi heme yakni dalam hal penyerapannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga penyerapan non-heme dapat ditingkatkan misalnya dengan konsumsi asam askorbat (vit C) sedangkan penyerapannya dapat dihambat oleh adamnya kalsium fosfat, fitat, atau polifenol yang sering kita peroleh di dalam teh dan kopi. Karena sebagian besar vegetarian mengonsumsi produk hewani dengan terbatas bahkan ada yang menghilangkan sama sekali, padahal itu merupakan sumber penting dari besi heme bahkan konsumsi heme sendiri bisa juga meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Akibatnya vegetarian mungkin berada pada risiko tinggi mengalami kekurangan zat besi dibandingkan yang non-vegetarian.

Secara umum, vegetarian yang mengikuti diet seimbang tidak bisa dipastikan berada pada risiko memiliki kekurangan zat besi. The American Dietetic Association menunjukkan bahwa diet vegetarian yang direncanakan dengan baik yang terdiri dari makanan nabati ditambah dengan beberapa susu dan telur memiliki status gizi yang sehat. Namun, vegetarian baru, kelompok etnis seperti imigran India, dan vegetarian Budha terbukti memiliki kadar konsentrasi feritin serum lebih rendah dari pemakan daging. Beberapa studi, menunjukkan bahwa vegetarian memiliki asupan besi mendekati bahkan lebih tinggi daripada omnivora, namun tetap memiliki gangguan status zat besi. Ini terkait pada bioavailabilitas zat besi yang menjadi penentu utama dari kecukupan zat besi dari diet vegetarian. Serat pangan juga menghambat zat besi non-heme karena dapat mengikat zat besi non-heme dan mengurangi bioavailabilitas nya (Davies, 1985).

Penyerapan yang tidak adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan anemia. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging bukan pada buah dan sayur. Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan glikoprotein (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah. Tanpa glikoprotein, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang melalui tinja. Berarti faktor protein lagi-lagi menjadi unsur penting terjadinya anemia megaloblastik ini.

Vegetarian dan berat badan proporsional

You are what you eat, sering kita mendengar istilah tersebut terutama untuk menggambarkan kondisi status gizi seseorang. Mungkin bagi orang gemuk digambarkan krn selalu makan daging, org kurus digambarkan krn kekurangan makan, lantas bagaimna dgn orang yang hanya makan sayur-sayuran saja? Seperti sayur? Bagaimana kah berat badan proporsional itu? Bagaimana dengan orang vegetarian itu, apakah bisa tubuhnya proporsional?

Arti dari bb proporsional itu adalah seimbangnya antara berat badan yang dimiliki dengan tinggi badannya. Indikator untuk mengukurnya adalah menggunakan antropometri. IMT yang normal kisaran 18-23 kg/m2 menjadi ukuran berat badan yang proporsional. Hasil penelitian Tonstad et al (2009) menunjukkan bahwa kelompok vegan memiliki rata-rata indeks massa tubuh lebih sedikit dibandingkan yang semi vegan dan bahkan yang non-vegan yakni berturut-turut 23,6; 25,7; dan 28,8 (p<.0001). Ini menunujukkan adanya efek menjaga berat badan melalui pola konsumsi vegan.

Penjelasannya, karena pola konsumsi vegan hanya menempatkan sumber karbohidrat sebagai sumber utama energi setelah protein dan lemak dikesampingkan. Ditambah lagi sayur-sayuran serta buah-buahan yg kaya akan serat dimana serat mempengaruhi asupan karbohidrat. Yakni membuat rasa kenyang bertahan lebih lama sehingga ada kontrol asupan karbo. Ini menyimpulkan bahwa seorang vegan murni berpotensi asupan energi utamanya juga lebih terkontrol. Dapat dilihat yang semi vegan IMTnya cukup tinggi.

Vegetarian dan umur panjang

Ideologi/klaim dari para vegetarian adalah orang-orang yang mengonsumsi diet vegetarian akan memiliki kesehatan yang lebih baik, dan hidup lebih lama dibandingkan non-vegetarian, karena orang-orang yang mengonsumsi daging, susu, dan produk olahan dairy, telur, serta ikan memiliki risiko kesehatan yang buruk.

Klaim ini bisa diruntuhkan melalui evidance based di berbagai negara misalnya di negara-negara Eropa. Sebagian besar masyarakat sehat di Eropa merupakan penduduk Iceland, Switzerland, Sweden, dan Norway, namun mereka semua mengonsumsi dalam jumlah yang banyak makanan dari hewani. Di negara-negara ini menurut WHO memiliki life expectancy yang sangat tinggi (WHO, dalam database kesehatan eropa thn 2007). Iceland dan Swiss UHHnya 80 thn (lk2) dan 84 thn (pr), sedangkan Swedia dan Norway 79 thn (lk2) dan 83 thn (pr).

Pola makan mereka very high cheese and milk, makan daging merah, daging panggang, daging asap, ikan, produk dairy, susu fermentasi, dan mereka juga tidak melewatkan sayur dan buah dalam makanan mereka. Penelitian di British (2003) pada vegetarian orang Inggris, menunjukkan tingkat mortalitas tidak berbeda secara signifikan dengan non-vegetarian.

Tentunya kita masih bertanya-tanya mengapa diet vegetarian dapat meningkatkan kemungkinan pada umur panjang, jawabannya tidak terlepas karena alasan konsumsi berbagai macam sayuran dan buah-buahan tidak memiliki kandungan lemak jahat dan lemak jenuh seperti pada berbagai makanan lainnya. Jika pun ada lemak yang terkandung, itu merupakan lemak nabati yang tidak akan sebahaya lemak jahat dan lemak jenuh, yang kita juga sama-sama telah mengetahuinya dapat menimbulkan beberapa penyakit berbahaya seperti kolesterol, jantung, obesitas, diabetes, hingga hipertensi. Tapi mengapa di negara-negara eropa yg masih konsumsi daging tapi masih UHH nya tertinggi?

Orang vegan di hipotesiskan memiliki potensi panjang umur karena dalam komposisi makanan mereka mengandung berbagai macam zat aktif yang bermanfaat bagi kesehatan, mencegah penyakit-penyakit kronik, lalu itulah yang dihubungkan dengan panjang umurnya. Hasil penelitian Orlich (2013) menunjukkan secara khusus, bahwa semua kelompok vegetarian memiliki risiko 12 persen lebih rendah proporsi kematian dibandingkan non vegetarian.

Penjelasan sebaliknya yakni negara-negara eropa itu memiliki UHH yang tinggi meskipun konsumsi daging oleh karena adanya faktor lingkungan lain yang mendukung, misalnya udara yang segar, air yang bersih dan bebas polusi sehingga ikan-ikan disana segar dan kaya kandungan zat gizinya, perilaku merokok kurang sehingga radikal bebas dan perkmbangan sel kanker bisa lebih ditekan, dll.

Vegetarian dan awet muda

Vegetarian, jika melihat dari trend sekarang, sudah banyak dilakukan oleh remaja-remaja terutama di negara-negara maju. Dimana mereka menginginkan manfaat vegetarian dari sisi kecantikan awet muda dll. Memang tidak dipungkiri sayuran dan buah-buahan memberikan efek awet muda bagi yang rutin mengonsumsinya. Buah-buahan seperti blueberry, raspberry, cranberry, dan stroberi adalah buah yang kaya akan kandungan antioksidan seperti anthocyanin dan flavonoid. anthocyanin dipercaya mampu melindungi tubuh dari serangan kanker dan diabetes. Bahkan, menurut beberapa penelitian, blueberry bahkan dapat membantu degenerasi saraf lambat atau sebaliknya, meningkatkan memori, membatasi pertumbuhan sel kanker dan mengurangi peradangan. Selain kaya akan antioksidan berry juga mengandung vitamin c yang sangat bagus untuk kesehatan kulit anda.

Selain itu terong yang juga biasa dikonsumsi orang vegetarian mengandung zat fitonutrient yang sangat baik untuk anti aging yakni nasunin. Nasunin membantu meregenerasi sel dan pertumbuhan pembuluh darah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker.

Vegetarian dan madu

Pola pikir yang mengembalikan lagi ke ideologi dasar seorang vegan yang memegang prinsip penyayang binatang, mereka juga menolak mengonsumsi madu. Mereka menganggap setiap eksploitasi hewan merupakan pelanggaran terhadap hak-hak yang hewan. Karena madu berasal dari lebah dan lebah adalah hewan, madu merupakan produk hewani apalagi diambil dengan cara eksploitasi hewan sehingga mereka menolak itu. Tapi ini berlaku hanya bagi seorang vegan, tapi untuk jenis vegetarian lainnya, tidak mengapa mengonsumsi madu.

Cook ’em on the right way (www.pomona.edu)

Kesimpulan

Sangat tidak mudah untuk mengevaluasi atau mengaitkan vegetarian dengan beberapa variabel oleh karena non-homogenitas dari vegetarian itu sendiri. Ada yang berdalih karena mereka hanya konsumsi sayur buah sehingga sehat, tapi toh ada jenis-jenis vegetarian lainnya yang masih mengonsumsi makanan lain selain daging. Selain itu risiko terjadinya defisiensi mikronutrient sangat mungkin terjadi meskipun di satu sisi risiko terkena penyakit degeneratif sebagian bisa dicegah oleh karena kontrol IMT mencegah obesitas. Namun yang pasti pola makan sebagai salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi dan status kesehatan seseorang, masih ada faktor lingkungan lainnya yang cukup menentukan juga. Jadi sebenarnya vegetarian sendiri masih terjebak dalam wacana pragmatis vs ideologi.

Advertisements

11 Jenis (bahan) makanan yang meningkatkan berat badan (1)

Artikel yang ditulis dalam foxnews.com menyebutkan bahwa ada 11 jenis makanan/bahan makanan yang menyebabkan Anda merasakan lapar bahkan setelah mengonsumsinya. Ketika itu menjadi sebuah kebiasaan, maka peningkatan berat badan akan terjadi secara cepat. Apabila Anda merasa lapar, maka hal yang utama muncul adalah keinginan untuk makan, dan memang harus makan. Namun, bagaimana jika setelah makan Anda menjadi lebih lapar dari sebelumnya dan ini benar-benar terjadi.

Perlu Anda ketahui bahwa lapar merupakan hasil dari interaksi yang demikian kompleks antara lambung, usus, otak, pankreas, dan aliran darah. Masalahnya adalah interaksi kompleks ini mudah “dibajak” , dimanipulasi, atau menjadi kacau akibat beberapa makanan yang dikonsumsi. Berikut adalah 11 makanan yang bisa membuat Anda merasa seperti Anda berjalan dalam keadaan lapart padahal perut Anda sudah diisi.

interaksi antara otak dan organ-organ yang berperan penting dalam regulasi nafsu makan

interaksi antara otak dan organ-organ yang berperan penting dalam regulasi nafsu makan

  1. Roti putih

roti putih, atau nama populernya roti tawar

Roti putih terbuat dari tepung putih, meskipun pada dasarnya berasal dari gandum akan tetapi proses pembuatannya menghabiskan kadar seratnya. Mengonsumsi roti putih menyebabkan lonjakan kadar insulin darah. Didukung oleh penelitian di Spanyol baru-baru ini, dimana peneliti melacak kebiasaan makan dan berat badan pada lebih dari 9.000 orang. Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang makan dua atau lebih porsi roti putih sehari sekitar 40% memiliki kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan untuk mereka yang makan kurang dari itu.

  1. Juices

Kalau mendengar kata juice/ jus (indonesia) maka yang muncul di pikiran Anda adalah ini merupakan minuman yang sehat. Tapi sekarang ini banyak jus yang hanya mengandung sedikit ekstrak buah asli nya, orang cenderung menambahkan gula untuk memaniskan minuman ini padahal buah-buah sendiri sudah banyak mengandung gula buah yang enak rasanya. Kebanyakan juga orang mengupas kulit dan membuang ampas dan hanya mengambil air perasan buah padahal di kulit/ampas itulah kandungan serat sangat banyak. Campuran smoothie menggunakan buah utuh sebagai gantinya, dan campuran dalam sendok bubuk protein atau selai kacang untuk membantu menyeimbangkan gula darah dan meningkatkan rasa kenyang

  1. Cemilan asin

Rasa asin salah satu favorit di lidah manusia, khususnya di bagi orang Indonesia. Karena itu sangat mudah bisa Anda temukan aneka cemilan asin diberbagai daerah. Ternyata penelitian menunjukkan bahwa ketika Anda telah mengemil aneka cemilan asin, dapat mendorong untuk mencari cemilan manis. Makanan asin lebih cepat dicerna dibandingkan karbohidrat sederhana tetapi dapat memacu naik turunnya insulin. Ketika banyak cemilan asin dikonsumsi maka insulin rendah, dan otak mengirimkan sinyal agar tubuh cepat mendapatkan asupan energi karena itu memacu Anda untuk mengonsumsi yang manis. Karena itu meskipun Anda makan cemilan asin dalam jumlah banyak, “sekat” untuk makanan manis tetap kosong dan Anda diperintahkan oleh otak untuk makan. Ini sama saja senilai memiliki 2 lambung yang harus dipenuhi.

  1. Fast food

Ungkapan yang paling saya senangi untuk menggambarkan fast food adalah “cepat disajikan, cepat dihabiskan, cepat pula menyebabkan penyakit”. Namun kita tidak perlu membahas tentang latar belakang adanya fast food.

Hampir semua bahan di belakang counter makanan cepat saji ini dirancang untuk membuat Anda “supersize” makanan Anda. Misalnya, lemak trans mengobarkan usus, berpotensi mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi neurotransmitter pengendali nafsu makan seperti dopamin dan serotonin. Sementara itu, saluran pencernaan menyerap sirup jagung fruktosa tinggi (umumnya ditemukan di roti, bumbu, dan makanan penutup) dengan cepat, menyebabkan lonjakan insulin dan rasa lapar yang lebih besar. Terakhir, porsi besar makanan cepat saji murah dari garam dapat memacu dehidrasi. Dan dengan gejala yang sangat menyerupai orang-orang kelaparan, mudah untuk dehidrasi untuk menipu Anda agar berpikir Anda perlu kembali untuk keduakalinya.

  1. Alkohol

Meskuipun di Indonesia konsumsi minuman alkohol belum terlalu umum, tetapi ada baiknya Anda mengetahui bahwa ternyata alkohol ini benar-benar minuman yang tidak sehat dan harus dijauhkan dari menu Anda sehari-harinya.

Alkohol benar-benar membuat Anda lapar. Menurut penelitian hanya tiga porsi sudah dapat memangkas tingkat homon leptin tubuh anda, dimana kita tahu bahwa hormon ini disebut juga hormon rasa kenyang yang mengatur rasa kenyang Anda. Alkohol juga dapat menguras candangan karbohidrat tubuh Anda (glikogen), menyebabkan Anda menginginkan karbohidrat untuk menggantikan apa yang hilang. Akibatnya Anda terus ingin makan.

bersambung part (2)

Sumber: http://www.foxnews.com

Selamat Hari Raya Ied 1 Syawal 1435 H

Assalamualaikum wr wb,

Sabda Rasulullah SAW: “Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

di akhir Ramadhan yg penuh rahmat dan hikmah serta di awal Syawal yg pnuh Magfirah, marilah sling memaafkan dan mndoakan.

Berdoalah ; “Ya Allah! Pertemukan daku di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sihat wal’afiat, mudahkanlah rezeki bagiku dan segala urusanku, Ya Allah! “

Dari Jabir bin Abdillah r.a. dari Muhammad al Mustafa SAW: Beliau bersabda, “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadhan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadhan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah.”

“Ya Allah! Janganlah Dikau jadikan puasa kali ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Dikau menetetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang sia-sia.”

Mohon maaf atas segala khilaf dan salah, mohon maaf lahir bathin. Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu ‘aamin wa antum bikhairin.

Semoga sdr(i) kita pejuang Palestina disana tlah menuju kemenangan Aminn ya Rabb

20140727-201420-72860376.jpg

Food combining

Pada kesempatan ini, saya kembali mengulas topik yang telah lama menjadi kontroversi didunia pergizian dunia tak terkecuali di Indonesia. Kita ketahui bahwa tidak ada satu pun makanan untuk orang dewasa yang bisa dikatakan sempurna, sehingga sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang beragam. Namun percayakah anda kalau terkadang ada jenis makanan yang tidak cocok dikonsumsi bersamaan dengan jenis makanan lain? Jika anda salah satu orang yang (pernah) menerapkan pola makan seperti ini berarti anda termasuk penganut food combining (FC) atau kombinasi makanan.

Prinsip pokok dari teori FC adalah keyakinan bahwa setiap golongan makanan sumber karbohidrat, lemak, dan protein memerlukan kondisi yang berbeda-beda untuk dicerna di lambung sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi bersamaan. Jika dikonsumsi bersamaan akan membuat salah satu golongan makanan tersebut tidak akan dicerna dan diserap sempurna oleh tubuh. Teori ini ditemukan pertama kali oleh Dr. Howard Hay pada tahun 1930 dan terus berkembang menjadi sebuah ajaran yang populer seperti halnya vegetarian.

Ada dua aturan wajib dalam FC, yaitu jangalah mencampurkan protein-terkonsentrasi dengan pati-terkonsentrasi dalam satu waktu makan, dan makanlah buah-buahan saat perut kosong. Protein tidak dicerna dengan begitu baik jika dikombinasikan dengan pati, begitu pula sebaliknya pati tidak akan diuraikan dengan benar jika dikombinasikan dengan protein. Alasannya karena protein memerlukan suasana lambung yang asam sementara pati (karbohidrat) memerlukan kondisi basa, karena itu keduanya tidak cocok dikonsumsi bersamaan. Kemudian konsumsi buah saat perut kosong diyakini dapat membantu pencernaan bekerja lebih efisien dan menekan nafsu makan.

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

anda bisa memercayai atau mengabaikannya. Namun yang perlu anda ketahui bahwa teori-teori FC yang dikembangkan tersebut semuanya berdasarkan pengalaman Dr. Hay terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekatnya, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan teori tersebut. Terlepas dari semua gagasan Dr. Hay, ajaran FC menjadi sulit diterapkan karena harus berupaya memisahkan golongan makanan sewaktu makan. Hal itu juga keluar dari prinsip gizi seimbang yang menganjurkan untuk mengonsumsi makanan beraneka ragam selagi makan, agar supaya zat-zat gizi yang tidak diperoleh dari satu jenis makanan dapat diperoleh dari jenis makanan yang lain.

Pola pemberian makan anak

anak harus diberikan makanan dengan jumlah dan bentuk yang sesuai dengan usianya

Menurut World Health Organization (WHO), anak-anak harus diberikan makanan-makanan yang sehat. Jika ia berusia 0-6 bulan maka diberikan ASI eksklusif, sedangkan setelah 6 bulan harus diberikan makanan pendamping ASI (MP ASI) dengan jumlah, takaran, dan jenis yang sesuai disamping tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun (WHO, 2003). Sekarang ini cakupan pemberian ASI eksklusif masing sangat rendah khususnya di negara-negara berkembang, selain itu pola pemberian makanan pendamping juga kurang tepat. Di negara berkembang, rata-rata cakupan pemberian ASI eksklusif hanya 36%, kurang dari 33% anak-anak tidak mendapatkan beragam makanan, serta lebih dari 50% mendapatkan pola pemberian makan yang salah. Brazil sebagai salah satu negara berkembang, hanya sekitar 41% cakupan ASI eksklusifnya, dan 21% anak-anak dibawah 6 bulan yang telah mengenal makanan selain ASI telah dikenalkan makanan-makanan yang tidak cocok untuk anak seperti kue kering, makanan ringan, dan soft drink (MS, 2009). Bayangkan anak-anak usia kurang dari 1 tahun telah mengenal makanan-makanan dengan tekstur yang keras dan berkarbonasi, tentu saja ini sangat tidak sehat khususnya untuk pencernaan anak-anak.

Sesuai standar yang direkomendasikan untuk mencapai pertumbuhan pada periode emas, pola pemberian makanan pada anak adalah inisiasi menyusui dini (IMD), ASI eksklusif dari 0 hingga 6 bulan, pemberian MPASI yang tepat dan tetap diberikan ASI hingga usia 2 tahun. Namun masih banyak juga orang tua yang kurang tepat dalam memberikan makanan kepada anaknya. Selain terlalu cepat mengenalkan anak terhadap makanan lain, kesalahan juga seringkali karena salah tekstur dan variasinya. Pola-pola pemberian makan yang tidak tepat biasanya dalam bentuk pemberian makanan yang padat energi namun rendah zat-zat gizi esensial lainnya. Semuanya sangat dipengaruhi oleh keterampilan ibu dalam memberikan makanan kepada anaknya, keterampilan tersebut tentunya ada jika ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik terkaitnya cara pemberian makanan anak. Dikutip dari pendapat salah satu dosen UGM, Fatma Zuhrotun Nisa, bahwa balita yang besar dalam keluarga miskin juga berpeluang tumbuh sehat jika anak tersebut diasuh dengan tepat oleh orang tua memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan. Sebaliknya, meskipun anak dari keluarga yang tercukupi dari segi finansial, misalnya kedua orang tuanya bekerja sebagai PNS ternyata masih mengalami gizi buruk. Hal tersbut terjadi karena pengasuhan anak diserahkan pada nenek yang memiliki keterbatasan pengetahuan akan pentingnya pemberian makanan berigizi. Meskipun demikian tidak dipungkiri juga faktor kemiskinan bagi beberapa daerah menjadi faktor determinan masalah gizi pada anak.

Pola asuh yang baik yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Jika tingkat pendidikan ibu baik maka pola asuh yang diberikan bisa sesuai dan menyehatkan untuk anak. Pola pemberian makanan yang tidak tepat bisa saja karena kuantitasnya yang kurang atau lebih, kualitasnya yang kurang baik (kurang sehat ataukah jenis yang kurang tepat untuk anak), dan bahkan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (IMD, ASI eksklusif). Penelitian di Brazil menunjukkan bahwa jenis konsumsi makanan anak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu. Penelitian tersebut menunjukkan konsumsi makanan ringan, soft drink, dan makanan tinggi gula semakin meningkat seiring dengan semakin menurunnya tingkat pendidikan ibu (Saldiva et al., 2014). Survei di Brazil juga menunjukkan bahwa sebesar 63% balita usia 6-12 bulan mengonsumsi bubur dengan gula tambahan, sekitar 69% anak-anak usia diatas 12 bulan telah mengenal soft drink. Pola makan seperti ini sangatlah tidak sehat untuk anak-anak (Saldiva et al., 2007; Bernardi et al., 2009).

Pola konsumsi makanan-makanan dengan gula tambahan tidaklah baik untuk anak. Dan perilaku yang salah ini semata-mata karena pengetahuan ibu yang kurang bukan karena kemiskinan. Lihat saja program yang dilakukan oleh pemerintah Brazil yakni program cash transfer untuk keluarga miskin dan yang sangat miskin. Anak balita yang keluarganya mendapatkan program cash transfer memiliki kecenderungan tiga kali lipat mengonsumsi makanan yang manis dibandingkan anak yang keluarganya tidak memperoleh program tersebut. Pendidikan ibu diasumsikan sebagai variabel determinan perilaku makan tersebut (Saldiva et al., 2010).

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

contoh pemberian makanan anak (sumber: http://pongasi.blogspot.com)

Ketidakcermatan ibu memberikan/mengenalkan anak dibawah dua tahun terhadap makanan-makanan ringan, padat energi, soft drink, dan makanan tidak sehat lainnya bisa berdampak terhadap kesehatan anak di usia selanjutnya. Oleh karena masa 2 tahun pertama kehidupannya merupakan periode emas sehingga apabila baik maka pertumbuhan dan kesehatannya secara umum akan baik, namun jika tidak baik dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan pada anak. Konsumsi gula berhubungan dengan karies gigi (Wilson et al., 2009) dan risiko lebih tinggi terkena obesitas (Ruottinen et al., 2008; Buyken et al., 2008). Selain itu, diet berkualitas rendah dapat menyebabkan defisiensi mikronutrien karena kandungan gizi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan produk rendah gula (Erkkola et al., 2009; Kranz et al., 2005). Asupan garam yang berlebihan selama masa kanak-kanak meningkatkan risiko untuk penyakit jantung di usia dewasa. Asupan natrium tinggi selama 6 bulan pertama kehidupan telah dikaitkan dengan tekanan darah tinggi (Hofman et al., 1983; Geleijnse et al., 1997). Temuan ini memperkuat pentingnya mempromosikan kebiasaan gizi sehat selama masa kanak-kanak.

 

Referensi:

  1. World Health Organization: Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. Geneva: WHO; 2003.
  2. Saldiva SRDM, Escuder MM, Mondini L, Levy RB, Venancio SI: Feeding habits of children aged 6 to 12 months and associated maternal factors. J Pediatr (Rio J) 2007, 83(1):53–58.
  3. Saldiva SRDM, Silva LFF, Saldiva PHN: Anthropometric assessment and food intake of children younger than 5 years of age from a city in the semi-arid area of the Northeastern region of Brazil partially covered by the bolsa família program. Rev Nutr 2010, 23(2):221–229.
  4. Saldiva SRDM, Venancio SI, de Santana AC, da Silva Castro AL, Escuder MML, and Giugliani ERJ. The consumption of unhealthy foods by Brazilian children is influenced by their mother’s educational level. Nutrition Journal 2014, 13:33
  5. Bernardi JLB, Jordão RE, Barros Filho AA: Supplementary feeding of infants in a developed city within the context of a developing country. Rev Panam Salud Publica 2009, 26(5):405–411.
  6. Wilson TA, Adolph AL, Butte NF: Nutrient adequacy and diet quality in non-overweight and overweight Hispanic children of low socioeconomic status: the Viva la Familia Study. J Am Diet Assoc 2009, 109:1012–1021.
  7. Ruottinen S, Niinikoski H, Lagstrom H, Ronnemaa T, Hakanen M, Viikari J, Joniken E, Simell O: High sucrose intake is associated with poor quality of diet and growth between 13 months and 9 years of age. The special Turku Coronary Risk Factor Intervention Project. Pediatrics 2008, 121:1676–1685.
  8. Buyken AE, Cheng G, Gunther AL, Liese AD, Remer T, Karaolis-Danckert N: Relation of dietary glycemic index, glycemic load, added sugar intake, or fiber intake to the development of body composition between ages 2 and 7 y. Am J Clin Nutr 2008, 88:755–762.
  9. Erkkola M, Kronberg-Kippila C, Kyttala P, Lehtisalo J, Reinivuo H, Tapanainen H, Veijola R, Knip M, Ovaskainen ML, Virtanen SM: Sucrose in the diet of 3-year-old Finnish children. Sources determinants impact on food nutrient intake. Br J Nutr 2009, 101:1209–1217.
  10. Kranz S, Smiciklas-Wright H, Siega-Riz AM, Mitchell D: Adverse effect of high added sugar consumption on dietary intake in American preschoolers. J Pediatr 2005, 146:105–111.