Blog Archives

Food combining

Pada kesempatan ini, saya kembali mengulas topik yang telah lama menjadi kontroversi didunia pergizian dunia tak terkecuali di Indonesia. Kita ketahui bahwa tidak ada satu pun makanan untuk orang dewasa yang bisa dikatakan sempurna, sehingga sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang beragam. Namun percayakah anda kalau terkadang ada jenis makanan yang tidak cocok dikonsumsi bersamaan dengan jenis makanan lain? Jika anda salah satu orang yang (pernah) menerapkan pola makan seperti ini berarti anda termasuk penganut food combining (FC) atau kombinasi makanan.

Prinsip pokok dari teori FC adalah keyakinan bahwa setiap golongan makanan sumber karbohidrat, lemak, dan protein memerlukan kondisi yang berbeda-beda untuk dicerna di lambung sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi bersamaan. Jika dikonsumsi bersamaan akan membuat salah satu golongan makanan tersebut tidak akan dicerna dan diserap sempurna oleh tubuh. Teori ini ditemukan pertama kali oleh Dr. Howard Hay pada tahun 1930 dan terus berkembang menjadi sebuah ajaran yang populer seperti halnya vegetarian.

Ada dua aturan wajib dalam FC, yaitu jangalah mencampurkan protein-terkonsentrasi dengan pati-terkonsentrasi dalam satu waktu makan, dan makanlah buah-buahan saat perut kosong. Protein tidak dicerna dengan begitu baik jika dikombinasikan dengan pati, begitu pula sebaliknya pati tidak akan diuraikan dengan benar jika dikombinasikan dengan protein. Alasannya karena protein memerlukan suasana lambung yang asam sementara pati (karbohidrat) memerlukan kondisi basa, karena itu keduanya tidak cocok dikonsumsi bersamaan. Kemudian konsumsi buah saat perut kosong diyakini dapat membantu pencernaan bekerja lebih efisien dan menekan nafsu makan.

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

food combining, bagi sebagian orang sulit diterapkan tapi sebagian lagi percaya bahwa metode diet ini efektif untuk menjaga kebugaran dan kesehatan

anda bisa memercayai atau mengabaikannya. Namun yang perlu anda ketahui bahwa teori-teori FC yang dikembangkan tersebut semuanya berdasarkan pengalaman Dr. Hay terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekatnya, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan teori tersebut. Terlepas dari semua gagasan Dr. Hay, ajaran FC menjadi sulit diterapkan karena harus berupaya memisahkan golongan makanan sewaktu makan. Hal itu juga keluar dari prinsip gizi seimbang yang menganjurkan untuk mengonsumsi makanan beraneka ragam selagi makan, agar supaya zat-zat gizi yang tidak diperoleh dari satu jenis makanan dapat diperoleh dari jenis makanan yang lain.

Cara tepat mengatasi alergi anak akibat makanan

alergi pada anak sebagian besar disebabkan karena makanan yang tidak cocok, carilah alternatif makanan lain.

Mungkin kita pernah merasa makan sesuatu lalu beberapa saat kemudian merasakan gatal-gatal yang lama kelamaan semakin tidak tertahankan, atau justru bintik-bintik kemerahan yang cukup perih bermunculan di sekitar kulit kita. Hal demikian tentu saja sangat mengganggu kita. Gejala seperti itu bisa jadi karena alergi makanan-makanan tertentu yang memberikan efek . Alergi sering kali kita temui pada anak-anak dan remaja, padahal semestinya usia anak-anak menjadi fase usia yang sangat bebas mengonsumsi bahan makanan sehat apapun mengingat pentingnya makanan yang bervariasi dan cukup jumlahnya untuk masa pertumbuhan mereka.

Alergi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup krusial dalam 2 dekade terakhir ini terutama di sebagian besar negara barat. Di Amerika sendiri prevalensi anak yang alergi yang disebabkan makanan mencapai 18%, dan sebagian besar menjadi penyebab utama terjadinya anafilaksis (anaphylaxis). Anafilaksis merupakan reaksi alergi terhadap sesuatu yang sangat parah yang terjadi dengan cepat dan membahayakan jiwa. Makanan menjadi pemicu utama anafilaksis pada kelompok anak-anak dan remaja, sedangkan anafilaksis pada orang dewasa terkadang diakibatkan karena gigitan serangga, cuaca, maupun obat-obatan. Anafilaksis pada anak-anak yang disebabkan makanan terkadang sangat fatal akibatnya, mulai dari wajah membengkak, sesak nafas hingga kematian. Banyak makanan yang bisa menyebabkan anafilaksis pada anak-anak dan remaja, misalnya saja kacang-kacangan, gandum, kerang, ikan, susu, buncis, nasi, dan telur.

Menurut Boden dan Weasley (2011), anak-anak dapat mengatasi alergi yang mereka temui seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 16 tahun atau memasuki fase remaja akhir, sekitar 80% anak-anak dengan anafilaksis susu dan telur sedikit demi sedikit dapat mentolerir makanan ini. Selain secara alami, alergi anak-anak terhadap makanan juga dapat ditangani melalui manajemen alergi yaitu dengan cara benar-benar menghindari makanan tersebut, melakukan uji sensitifitas makanan, konseling gizi, dan melalui pengobatan (bagi alergi yang sangat parah). Tetapi cara yang paling enak dan mudah adalah dengan melakukan sensitifitas untuk menentukan ambang batas konsumsi makanan tersebut. Misalnya anak yang alergi telur, bisa dilakukan uji bertahap dengan tetap mengonsumsi telur ¼ butir, jika tidak ada gangguan maka bisa ditambahkan sekitar ½ hingga ¾ butir telur tergantung efek alergi terhadap anak. Dengan begitu meskipun anak-anak alergi terhadap jenis makanan tertentu tetapi mereka tetap masih bisa menikmati makanan tersebut asalkan tidak melebihi ambang batas tersebut.

Alergi berkaitan erat dengan sistem imun, sehingga saat ini telah dikembangkan metode terapi untuk alergi makanan berbasis mekanisme sistem imun, yaitu immunoterapi. Awalnya orang yang mengalami alergi dibagi menjadi 3 fenotip dasar yaitu: alergi makanan sementara, alergi makanan permanen, dan sindrom alergi oral. Masing-masing dari kelompok tersebut memiliki mekanisme immunologi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan immunoterapi yang berbeda pula. Alergi makanan sementara yang paling merespon terapi immunologi ini. Meskipun dapat dikatakan bahwa alergi makanan sementara tidak memerlukan pengobatan, manfaat potensial dari terapi termasuk percepatan pembangunan toleransi dan meningkatkan kualitas hidup dan status gizi. Sedangkan pada alergi makanan permanen, mungkin akan menghadirkan tantang tersendiri dalam melakukan terapi. Alergi jenis ini cenderung memiliki respon yang kurang menguntungkan terhadap terapi, termasuk kegagalan untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh, kegagalan untuk memiliki toleransi oral, perlu untuk pengobatan yang lebih lama, dan pengembangan efek samping lebih serius selama terapi. Sedangkan pada alergi oral, dapat dilakukan terapi modifikasi makanan seperti yang telah dijelaskan diatas, respon terhadap terapi itu cukup baik sehingga terapi tersebut cenderung memberikan efek keberhasilan dalam mengatasi alergi makanan pada anak.

Sedangkan menurut kompas.com bahwa Jika anak alergi terhadap makanan tertentu, usahakan untuk selalu membaca label makanan kemasan yang dibeli. Alasannya adalah agar kandungan dalam makanan yang dibeli tersebut dapat diketahui seberapa banyak jenis bahan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi. Begitu pula jika berada di area foodcourt, usahakan untuk mepertanyakan apakah makanan yang yang dibeli tidak atau sedikit mengandung zat yang harus dihindari anak.

Referensi:

Nowak-Wegrzyn A., Sampson HA. (2010). Future therapies for food allergies. J Allergy clin immunol 127 (3): 559-573.

Boden, SR; Wesley Burks, A (2011 Jul). Anaphylaxis: a history with emphasis on food allergy. Immunological reviews 242 (1): 247–57.

Infant Feeding

ASI harus menjadi pilihan utama bagi anak usia hingga 2 tahun

ASI memang makanan terbaik bagi bayi, tidak ada yang mampu menggantikan posisi ASI. Namun seiring perkembangan zaman, dimana banyak ibu yang tidak lagi ingin memberikan ASI nya kepada anak-anaknya dengan berbagai alasan; bekerja, ASI sulit keluar, anak tidak mau menyusui dari payudara dan berbagai alasan lainnya. Sebagian besar dari mereka ingin mencari mudahnya dan berprinsip yang penting anak minum susu mau dari ASI atau dari susu formula.

Memang sekarang ini susu formula sudah jauh berkembang, dan semakin memiliki nilai gizi yang mendekati ASI, dengan berbagai macam penambahan zat-zat gizi yang bermanfaat bagi anak menjadikan susu formula sebagai pilihan utama bagi ibu yang tidak memberikan ASI kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa susu formula biasanya dari susu sapi, karena susu sapi mudah untuk dimodifikasi dan kandungan gizinya yang paling mendekati ASI. Bahkan penambahan DHA, AA, oligosakarida sederhana (FOS dan GOS), dan zat-zat lainnya yang semakin menaikkan nilai susu formula.

Sekedar informasi bahwa susu formula harus dimodifikasi karena kandungan protein dan garam mineralnya tinggi sedangkan gula susunya (laktosa) rendah, dan kita ketahui bahwa laktosa merupakan salah satu jenis karbohidrat yang penting bagi perkembangan otak. Ketika anak memiliki alergi atau sangat sensitif terhadap susu formula, sebaiknya diberikan susu sintetik, biasanya yang terbuat dari susu kedelai. Sebagai tambahan, lemak pada susu formula rendah bioavaibilitasnya (daya serap), tidak seperti ASI susu formula hanya dapat diserap sekitar 5-10% saja padahal lemak sangat baik untuk tubuh dan otak bayi. Oleh karena itu ASI memang sangat tepat diberikan untuk anak terutama pada 6 bulan pertama kehidupan anak.

Susu formula biasanya tersedia dalam bentuk bubuk, cair, dan yang siap minum. Untuk susu bubuk dan cair harus ditambahkan air panas untuk dikonsumsi. Takaran air yang dicampurkan haruslah tepat. Apabila air yang dicampurkan terlalu sedikit maka akan membuat susu sangat kental, kandungan protein dan mineralnya akan tinggi dan dapat membebani ginjal bayi. Sebaliknya jika terlalu banyak air yang digunakan untuk melarutkan susu, nilai gizi dan kalorinya tidak akan bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Anak dibawah 6 bulan seharusnya tidak diberikan susu sapi, karena proteinnya sulit dan lama untuk dicerna oleh sistem pencernaan bayi dibandingkan ASI. Apabila anak sebelum 6 bulan diberikan susu sapi, bisa menyebabkan gangguan pencernaan, ginjal akan terbebani oleh kandungan protein dan mineral yang ada pada susu sapi. Selain itu bisa menyebabkan gangguan sistem saraf pusat.

Nah jika memang bayi dengan TERPAKSA harus diberikan susu formula tanpa ASI, maka sebaiknya ibu harus memperhatikan beberapa hal terkait cara memberikan susu formula bagi bayi. Ukur suhu susu dengan cara meneteskannya ke punggung tangan, hal ini untuk menghindari mulut anak luka karena susu terlalu panas. Jika bayi ingin ditidurkan, tidak seharusnya sambil minum susu dari botol. Saliva (air liur) bayi jika dalam keadaan anak mengantuk hingga tertidur, akan membersihkan gigi dan mulut. Jika anak diberikan susu ketika hendak ditidurkan maka hal tersebut justru akan merusak perkembangan gigi dan mulut anak, dapat menyebabkan gigi tumbuh jelek dan rusak. Selain itu bisa menyebabkan dagu menonjol keluar dan hasilnya anak kemungkinan akan mengalami sindrom nursing bottle atau baby bottle mouth.

Pemberian susu formula harus sesuai takaran dan kebutuhan bayi dan jangan sampai berlebihan, karena bisa menyebabkan obesitas pada anak. Pencegahan obesitas di usia dini perlu dilakukan dengan mencegah pemberian susu formula yang berlebihan kepada anak sehingga pada saat dewasa nanti akan menghindari terkena penyakit tidak menular.

Sumber

Roth, AR. Nutrition and Diet Therapy; 10th. Indiana; 2010.

Nirwana. Obesitas anak dan pencegahannya. Nuha Medika. Yogyakarta; 2012.