Blog Archives

Optimalkan kesehatan anda: Resistensi insulin

Manusia makan untuk kelangsungan hidupnya, secara spesifik untuk menyediakan energi agar dapat digunakan beraktivitas. Makan makanan yang sehat dan cukup jumlahnya akan menjaga kelangsungan tubuh yang sehat.

Bagaimana tubuh yang normal merespon insulin dan glukosa? Ketika kita mencerna makanan utamanya dari kelompok karbohidrat, akan diserap kedalam aliran darah dan mempengaruhi kadar gula darah Anda. Hal ini dikarenakan dalam makanan sumber karbohidrat mengandung glukosa (gula). Makanan yang tinggi glukosa, akan membuat kadar glukosa darah tinggi. Menanggapi hal itu, pankreas melepaskan insulin untuk menekan kadar glukosa darah agar turun kembali hingga tahap normal yaitu mendorong glukosa yang berlebih kedalam sel otot. Jadi tugas insulin adalah mengambil glukosa dan menyimpannya dalam sel otot.

Glukosa dalam tatanan normal dan sehat, membuat tubuh Anda berenergi, otot terbentuk (karena ada cadangan), dan menjaga tubuh lebih sehat.

Sederhananya ini yang terjadi, insulin bersifat eksklusif dan mempunyai akses VIP. Dan ketika dia membawa glukosa dan “mengetuk pintu” reseptor insulin, insulin berkata “hi, saya membawa teman yang baik, menyediakan energi serta menjaga sel otot. Dia bersama saya”. Reseptor insulin berkata “Ya tentu saja, jika memiliki akses VIP pasti akan diijinkan masuk”. Ini gambaran orang sehat dengan pola makan yang sehat.

Namun apa yang terjadi pada orang dengan pola makan yang tidak sehat? Hari ini banyak orang-orang yang makan makanan “sampah”, kandungan gizinya rendah, tinggi gula, kalori, dan rendah serat. Ini menjadi penyebab resistensi insulin. Mari kita gambarkan secara sederhana apa yang terjadi.

Konsumsi makanan “sampah” mengandung tinggi gula dan kalori, unit-unit glukosa yang sangat banyak masuk dalam tubuh. Apa yang terjadi jika terlalu banyak glukosa? Pankreas diharuskan bekerja keras dengan memproduksi lebih banyak insulin. Ketika “mengetuk pintu” reseptor insulin dan berkata “Hi saya membawakan sangat banyak teman untuk mu”, reseptor insulin berkata “Hei, kamu membawa banyak orang, ini VIP, kamu tidak bisa membawa semua orang masuk”. Akibatnya akses VIP insulin dimatikan dan tidak mendengarkan insulin lagi.

Advertisements

Bukan lemak yang harus diwaspadai, tapi gula, khususnya fruktosa…

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.

cek label makanan dan minuman yang dibeli, utamanya kadar fruktosanya.
sumber: http://www.wikihow.com

Pernahkan anda ketika berbelanja di supermarket menemui berbagai jenis makanan yang berlabel fat-free atau “bebas lemak”. Sekilas produk itu menarik perhatian bagi mereka yang sedang menjalankan diet, berusaha menurunkan berat badan, atau yang sangat takut menjadi gemuk. Namun ternyata bagi orang yang ingin menurunkan berat badan harus lebih mencemaskan suatu zat dibandingkan lemak itu sendiri yaitu gula.

Diantara molekul gula, terdapat 2 jenis yang paling sering kita konsumsi yaitu glukosa yang tidak terlalu manis dan fruktosa yang sangat manis. Glukosa dan fruktosa sangat berbeda, baik dalam hal fungsi, maupun penyimpanannya/proses metabolismenya.

Glukosa diperlukan untuk proses metabolisme, setiap organisme hidup di planet dapat mencerna, menyerap, dan memetabolisme glukosa karena itu glukosa disebut juga sumber energi dari kehidupan. Jika tubuh kekurangan glukosa, maka sel tubuh membuatnya melalui mekanisme metabolik. Sekitar 80% kabohidrat yang dikonsumsi dalam hal ini glukosa dimetabolis oleh organ-organ vital, dan 20% nya oleh liver. Sebagian besar sumber karbohidrat yang kita makan mengandung glukosa. Glukosa yang dikonsumsi langsung memasuki aliran darah, dan tubuh melepaskan insulin untuk mengaturnya dan mengontrol gula darah. Glukosa yang tidak digunakan sebagai energi akan disimpan setelah sebelumnya diubah menjadi bentuk glikogen melalui proses glikoneogenesis. Glikogen disimpan di otot dan hati. Ketika tubuh memerlukan energi, hati mengubah kembali glikogen menjadi glukosa untuk selanjutnya masuk kedalam membran dan memproduksi energi (siklus kreb).

Fruktosa adalah salah satu jenis monosakarida disamping glukosa dan galaktosa. Fruktosa juga langsung masuk aliran darah ketika dicerna. Apa beda dengan glukosa?

Untuk fruktosa, sejumlah kecil yang dikonsumsi tentu tidak akan menjadi masalah, seperti yang ditemukan pada sebagian besar sayur dan buah. Itu bukanlah hal yang buruk, bahkan sangat membantu untuk mengembalikan kadar glukosa tubuh normal. Namun jika terlalu banyak, akan membahayakan kesehatan.

Fruktosa berbeda glukosa, 100% hanya dapat dimetabolis di liver sehingga jika konsumsi fruktosa ini berlebihan tentu akan membebani liver karena fruktosa memang diproses di hati ketika dikonsumsi. Jika terlalu banyak, maka hati kita tidak cukup cepat memprosesnya untuk digunakan sebagai gula, akibatnya mulailah terbentuk lemak dari fruktosa yang selanjutnya akan diteruskan di aliran darah dalam bentuk trigliserida. Bahayanya, terlalu banyak trigliserida meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah, fruktosa menghalangi sistem sinyal nafsu makan, dan bisa menyebabkan resistensi insulin. Inilah yang menjelaskan keterkaitan antara fruktosa dengan kenaikan berat badan dan diabetes meliitus. Fruktosa sedikit mirip dengan alkohol, dapat menjadi racun pada liver. Alkohol memetabolisme lemak, begitu juga dengan fruktosa namun terjadi dalam waktu lama.

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa sumber: http://www.wikihow.com

restoran cepat saji banyak menyediakan minuman sumber fruktosa
sumber: http://www.wikihow.com

Didukung oleh sebuah penelitian, terhadap tikus yang diberikan glukosa dan dibandingkan dengan tikus dengan kadar fruktosa yang sama. Hasilnya sekitar 86% terjadi peningkatan kadar trigliserida pada tikus yang diberikan fruktosa, sedangkan yang diberikan glukosa tidak memnunjukkan kenaikan yang signifikan.

Jika dilihat penyakit-penyakit yang mungkin timbul akibat paparan alkohol, seperti dislipidemia, tekanan darah tinggi, obesity, disfungsi hati, dan efek adiksi. Penyakit yang mungkin muncul akibat paparan fruktosa seperti tekanan darah tinggi, dislipidemia, obesity, dan kebiasaan (meskipun bukan karena efek adiksi). Fruktosa dan alkohol secara alami menyediakan energi. Jika dalam keadaan yang sangat lapar, misalnya sehabis lari marathon, fruktosa dan alkohol (di negara-negara barat) dapat melakukan re-build energi sehingga tubuh menjadi kembali bertenaga. Tetapi jika tidak sedang dalam keadaan lapar, tidak sedang lari marathon, tidak melakukan aktivitas fisik berat lalu mengonsumsi fruktosa dan alkohol, akan dirubah menjadi liver fat dan kadang bersifat racun.

Sumber yang paling banyak mengandung fruktosa adalah soft drink, sirup, dan minuman rasa buah-yang kadang kita menganggapnya sehat, beberapa sayur dan buah. Hindari soft drink, es teh kemasan, dan sebagian besar minuman manis yang mengandung tinggi fruktosa. Ganti gula anda dengan madu karena madu memiliki rasio perbandingan yang sama antara glukosa dan fruktosa.

Sumber:

Prof Lustig youtube video (The Skinny obesity: about sugar)

Kaumi T et al., VLDL triglyceride kinetics in Wistar fatty rats, an animal model of NIDDM: effects of dietary fructose alone or in combination with pioglitazone. 1996.