Blog Archives

Kebijakan larangan junk food-berbagai strategi

Contoh datang dari California, salah satu negara bagian di United State yang mengeluakan kebijakan strategis dan tepat sasaran. Kebijakan tersebut berupa larangan penjualan junk food di kafetaria dan lingkungan sekitar sekolah-sekolah yg ada disana. Laporan terbaru menunjukkan bahwa siswa-siswa SMA disana memiliki tingkat konsumsi kalori lebih sedikit dan lebih rendah konsumsi lemak dan gula di sekolah dibandingkan siswa-siswa di negara bagian lain di US. Studi ini melaporkan bahwa siswa-siswa yang sekolahnya memberlakukan kebijakan tersebut memiliki sekitar 160 kkal lebih sedikit perharinya dibandingkan siswa di negara bagian lain.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan ternyata bisa sukses sampai batas tertentu dalam mempengaruhi kebiasaan makan remaja. Dalam artian, kebijakan yang diberlakukan ini meskipun hanya sebatas di sekolah, namun ternyata cukup efektif merubah perilaku makan remaja sehingga mendapatkan asupan kalori lebih sedikit dibandingkan siswa lain. Untuk asupan makan dirumah, belum ada kontrol terhadap larangan konsumsi junk food, namun kemungkinan besar dengan adanya informasi di sekolah tentang larangan penjualan junk food, bisa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata junk food itu tidak baik bagi dirinya.

Kebijakan lain mungkin bisa efektif untuk batasan selama dirumah, yakni dengan mengembangkan kebijakan penampilan iklan junk food di media televisi. Misalnya dengan melarang tampilan iklan-iklan junk food selama anak menonton televisi atau paling tidak hingga waktu puncak anak menonton televisi yakni sekitar pkl 21.00 (9 malam). Simon Gillespie, chief executive dari British Heart Foundation, mengatakan: “Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak akan dihujani dengan iklan makanan yang tidak sehat selama TV tayang utama, tapi itulah yang terjadi”

Jam tayangan ini sangat efektif, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk kampanye produk makanannya kalau memang pada jam ini tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anak dan remaja memiliki jam nonton televisi berkisar hingga pkl 20.00-21.00. Telah terbukti bahwa remaja dan anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh paparan iklan-iklan di TV. Makanya perusahaan berkompetisi untuk menampilkan produknya disini. Parahnya lagi, ternyata iklan-iklan yang banyak muncul adalah makanan-makanan “miskin” nilai gizi.

Suatu studi yang dilakukan di Indonesia (2013) terkait iklan-iklan makanan yang ditampilkan. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya tidak sehat (junk). Parahnya lagi, iklan-iklan ini meningkat durasi dan kuantitasnya di waktu-waktu puncak jam menonton anak-anak yaitu di pagi hari, sore hari, dan malam hari. Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, dan di dapatkan bahwa Indonesia memiliki presentase jumlah iklan makanan tidak sehat yang ditampilkan paling banyak.

Beda lagi kebijakan-kebijakan yang dilakukan di Mexico, di sana menerapkan “taxation policy” atau kebijakan dengan memainkan peran pajak. Pajak yang cukup tinggi untuk makanan-makanan tidak sehat khususnya fast food menjadikan ada kontrol tersendiri terhadap perkembangan bisnis junk food disana. Demikian penyampaian Simon Barquera dari National Institute of Public Health Cuernavaca Mexico dalam pertemuan International Congress on Obesity di Kuala Lumpur bulan maret 2014 lalu.

foto: hungryfoodlove.com

foto: hungryfoodlove.com

Kebijakan lainnya, bisa dengan mengembangkan model pemasaran fast food/junk food namun konten yang dijual adalah healthy food, misalnya dengan melakukan pemasaran untuk “mobile vendor food” atau penjualan makanan-makanan sehat dengan sistem bergerak menggunakan kendaraan. Seperti sistem jemput bola, jangan menunggu orang datang membeli makanan sehat, tapi kita yang berkeliling untuk mencari orang-orang yang mau membeli produk-produk makanan sehat, sekaligu sebagai media kampanye makanan sehat. Dalam mobile vendor, macam-macam makanan sehat bisa dijual, seperti buah-buahan segar, salad buah sayur yang siap santap (ditempatkan di kotak pendingin agar segar), paket sarapan sehat (yg bs dijual di pagi hari), air mineral segar, dll.

Jadi kesimpulannya, banyak strategi-strategi yg bisa dikembangkan untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatasi perkembangan pemasaran unhealthy food di negara-negara berkembang dan negara maju. Hal ini sebagai upaya untuk melawan epidemi obesitas di berbagai negara. Karena kita tahu bahwa junk food/fast food berkontribusi signifikan terhadap kenaikan asupan kalori yg berlebih dan kenaikan berat badan.

Kegemukan – New World Syndrome

Sebagian besar “orang-orang dulu” atau yang kini menjadi orang-orang tua kita memiliki gaya hidup “tradisional” yang dilakukannya dari dulu hingga sekarang. Karena gaya hidup seperti itulah banyak diantara mereka terlihat tidak gemuk atau kurus sama sekali. Berdasarkan penelitian Brown (1991), tidak adanya kasus obes pada populasi tipe pemburu-pengumpul karena pada masa itu keluaran energi sangat tinggi dan ketersediaan makanan masih jarang, tidak seperti sekarang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, di sebagian besar populasi-terutama di negara maju-telah terjadi “modernisasi” besar-besaran dan memberikan dampak awal pada lingkungan dan pada gaya hidup dalam 50-60 tahun terakhir. Aspek-aspek tersebut adalah:

  • Transportasi – terjadi peningkatan pemilikan kendaraan bermotor secara dramatis, hal ini berarti bahwa semakin banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi, meski berpergian dengan jarak dekat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan tersebut dibandingkan bersepeda atau jalan kaki.
  • Di rumah – Saat ini banyak peralatan rumah tangga yang sangat memudahkan pekerjaan rumah tangga. Misalnya alat memasak rumah tangga, membuat proses memasak lebih hemat waktu dan tenaga. Begitu pula dengan alat membersihkan rumah, tidak lagi menggunakan sapu untuk atau lap untuk membersihkan debu dan kotoran rumah, tetapi vacuum cleaner membuat rumah bersih lebih cepat dan mudah. Jika orang dulu mencuci pakaian dengan menyikat, menggosok, memeras pakaian kini dipermudah dengan bantuan mesin cuci otomatis, mulai dari cuci hingga mengeringkan pakaian.
  • Tempat umum – Penyediaan fasilitas umum yang membuat orang lebih sedikit gerak, misalnya tersedianya lift, escalator di berbagai sarana umum. Bahkan membuka pintu pun saat ini sudah otomatis. Semuanya di disain untuk mempermudah manusia sehingga efektif dalam waktu akan tetapi membuat lebih banyak energi yang tersimpan.
  • Gaya hidup sedentari – Pola hidup sedentari meliputi kebiasaan menonton televisi, bermain video games, menggunakan computer, kebiasaan duduk yang lama, bahkan menggunakan media komunikasi telepon genggam seperti mengirim pesan dan menelpon termasuk perilaku sedentari. Tidak sama dengan 10-15 tahun yang lalu, saat ini semua device tersebut sangat mudah dan murah untuk didapatkan. Gaya hidup sedentari juga dikaitkan dengan kebiasaan mengemil, karena cenderung orang-orang yang memiliki waktu nonton televisi lebih lama akan disertai dengan mengonsumsi makanan ringan yang mengandung energi dan lemak.
  • Tinggal di daerah urban (kota) – di daerah perkotaan negara-negara yang makmur, anak-anak, wanita, dan orang tua akan enggan untuk keluar malam hari karena alasan ketakutan akan keamanan mereka. Anak-anak juga cenderung takut untuk bermain diluar bagi yang tinggal di daerah kota karena risiko bahaya di jalanan. Sehingga bagi sebagian besar masyarakat diperkotaan untuk mengisi waktu luang, mereka pergi menggunakan kendaraan untuk jalan-jalan dibandingkan melakukan kegiatan fisik seperti olahraga rutin.
  • Tinggal di daerah suburban (/pinggiran kota) – didaerah suburban telah terjadi transisi lingkungan, dimana yang awalnya masih di dominasi dengan kendaraan yang menggunakan tenaga fisik seperti sepeda kini mengalami pertumbuhan jumlah kendaraan yang cukup dramatis. Perubahan pola makan juga terjadi dengan berkembangnya minimarket, restoran fast food, dan jajanan tidak sehat.
  • Tinggal di daerah rural (desa) – Peningkatan obesitas di perkotaan memang terjadi secara signifikan, dan prevalensi obesitas di perkotaan masih lebih banyak dibandingkan di pedesaan. Namun bukan berarti tidak terjadi peningkatan obesitas di pedesaan, justru kenaikan obesitas di daerah pedesaan sangat ekstrim dibandingkan di perkotaan. Hanya karena pada awalnya kasus obesitas di pedesaan hampir tidak ada, sehingga peningkatan ekstrim tersebut masih terlihat kecil. Menurut penelitian Hodge et al., (1994) bahwa terjadi kenaikan prevalensi obesitas sekitar 297% pada laki-laki dan 115% pada perempuan pada masyarakat pedesaan di daerah Samoa barat.

Kini makanan berlebih dan pengeluaran energi secara keseluruhan pada kehidupan modern menjadi lebih sedikit karena modernisasi tersebut. Proses modernisasi dari beberapa aspek tersebut nyata terjadi di negara-negara berkembang tidak terkecuali di Indonesia. Perlu diketahui bahwa beban ganda masalah gizi ada di hadapan kita semua, dan menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk diselesaikan. Saat ini kasus gizi buruk telah berkurang dengan signifikan tetapi masih tetap banyak, sedangkan kasus gizi lebih yang ditandai dengan berat badan berlebih bertambah dengan signifikan dan diprediksi akan menjadi banyak seiring waktu berjalan. Pada tahun 2010 peningkatan obesitas terjadi secara ekstrim, dan kita ketahui bahwa obesitas menjadi gelombang awal untuk masuk dalam ranah klasifikasi non communicable disease atau penyakit tidak menular, inilah yang disebut “New world syndrome” yang menjadi perhatian secara global baik di negara maju maupun negara berkembang.

Referensi :

  1. WHO Consultation (2000). Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of WHO. Geneva.
  2. Brown PJ. (1991). Culture and the evolution of obesity. Human nature, 2:31-57.
  3. Hodge AM. et al. (1994). Dramatic increase in the prevalence of obesity in Western Samoa over 13 year period 1978-1991. International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders, 18: 419-428.