Blog Archives

Menembus dinding “Fat” (kegemukan)

was published by Buletin Gizi (BUZI) FORMAZI FKM UNHAS

Tidak kurang 12 persen orang Indonesia mengalami obesitas, dan diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketika orang-orang menjadi obes, risiko diabetes meningkat hingga 7-11 kali, dan ketika orang itu diabet maka risiko penyakit jantung ikut meningkat hingga 8 kali (Holford, 2005). Karena itu obesitas adalah isu masalah yang sangat serius, tidak hanya bagi individu yang bersangkutan tetapi secara nasional. Bayangkan saja, beban negara untuk membiayai dampak “penyakit” ini bisa berlipat ganda, hal yang sudah terjadi di negara-negara maju seperti Amerika. Terdapat fakta mengejutkan adalah bahwa masalah itu relatif mudah dipecahkan dengan mengatasi penyebab sesungguhnya-dengan memulihkan kontrol gula darah.

Sebagian besar orang percaya bahwa makan terlalu banyak kalori menyebabkan penambahan berat badan. Namun, orang-orang di negara yang sangat jarang obesitasnya justru memiliki tingkat konsumsi kalori yang sangat tinggi, sebut saja China (2.630 kkal). Dibandingkan dengan Amerika yang prevalensi obesitasnya diatas 25% konsumsi kalorinya hanya (2.360 kkal). Kualitas dari apa yang kita makan bisa menjelaskan. Bertentangan dengan pendapat umum, bukan lemak yang merupakan penyebab utama. Seperti asupan kalori kita, persentase lemak dalam diet kita telah menurun tapi masalah terus meningkat. Ya kita makan terlalu banyak gula dan karbohidrat olahan.

Serotonin mengontrol nafsu makan anda

Salah satu alasan mengapa diet dengan karbohidrat seimbang bekerja lebih baik dibandingkan diet dengan karbohidrat yang sangat rendah adalah karena mereka memproduksi serotonin. Asam amino tertentu yang disebut 5-hydroxytryptophan (5-HTP) merupakan turunan dari tryptophan dan induk atau penghasil serotonin, neurotransmitter “happy” otak. Banyak orang memiliki kadar rendah senyawa esensial otak ini, dan sebagai hasilnya merasa depresi. Khususnya pada orang-orang dengan diet menurunkan berat badan, seringkali terjadi, yakni kadar serotonin rendah. Perlu diketahui bahwa serotonin mengontrol nafsu makan. Semakin banyak anda miliki semakin sedikit anda makan. Jika orang yang sedang diet, kadar serotoninnya rendah, anda justru akan banyak makan jika kesempatan ada, paling tidak anda depresi ketika keinginan makan itu memuncak. Atau sebaliknya jika anda sedang depresi akibat lingkungan (kadar serotonin menjadi rendah), anda akan sering makan.

Jika anda berada dalam kadar serotonin yang rendah, cara tercepat adalah dengan mengembalikan kadarnya menjadi normal, dan buat anda merasa rileks (good mood), bisa dengan supplement 5-HTP. Hal ini sudah dibuktikan pada studi dengan subjek manusia dan hewan (menyimpulkan hasil yang sama). Supplementasi 5-HTP menyebabkan reduksi langsung nafsu makan, dan mengurangi hasrat untuk gula dan karbo.

mengapa mengurangi keinginan untuk karbohidrat? Misalnya di depan Anda terdapat dua pilihan sarapan. Salah satunya adalah daging dan telur atau makanan berprotein tinggi dengan sedikit nasi. Yang lainnya adalah sereal jagung dengan pisang yang dipotong-potong dan muffin. Yang akan memberikan dorongan serotonin Anda, sehingga sangat memuaskan Anda adalah?

Jika kita berfikir secara logika, sebagian besar mengatakan pastinya yang kaya protein oleh karena kaya triptofan. Tapi itu salah. Sereal jagung dengan pisang dan muffin adalah pilihan yang tepat. Meskipun makanan kaya protein mengandung triptophan, tetapi memerlukan waktu lebih banyak untuk mendapatkan triptopan itu dari darah ke otak. Karena adanya kompetisi dengan semua asam amino lainnya dalam makanan yang tinggi protein. Jadi, apa yang mendorong ke otak? Jawabannya adalah insulin. Insulin akan dilepaskan dengan Anda mengonsumsi karbohidrat yang cukup, lalu kemudian membawa triptophan kedalam otak, dan memberikan mood bagi Anda.

Artinya apa? Jika Anda merasa lelah dan lapar serta sedikit tidak senang, Anda pasti menginginkan sesuatu yang manis, bukan yang berbumbu atau pedas. Sering merasa begitu?

Satu rahasia besar dari kesuksesan menurunkan berat badan adalah memastikan bahwa anda memiliki cukup serotonin, jadi anda memiliki hasrat untuk makan berlebih itu terkontrol, lalu kemudian jaga kadar gula darah dan pelepasan insulin sehingga Anda tidak mengalami peningkatan nafsu makan karena penurunan gula darah. Ingatlah, terlalu banyak insulin membawa gula darah menjadi lemak tubuh, tetapi terlalu sedikit juga merugikan karena tidak menghasilkan serotonin, yang mengontrol nafsu makan.

Holford, Patrick (2005). Optimum Nutrition

 

Advertisements

Pandangan tentang obesitas

‘‘There is no sincerer love than the love of food.’’

—George Bernard Shaw

obesitas berkaitan erat dengan mental seseorang foto: http://gbi-imra.org

obesitas berkaitan erat dengan mental seseorang

Telah kita ketahui bersama bahwa obesitas merupakan kondisi abnormal tubuh dimana terjadi kelebihan simpanan lemak di jaringan lemak. Menurut O’Rahilly (2009), kondisi tersebut pada dasarnya dihasilkan oleh kelebihan nafsu makan atau penurunan tingkat metabolisme. Seperti halnya sebuah penyakit, seseorang yang menderita obesitas cenderung mendapatkan stigma sosial, maka tidak heran jika ada beberapa orang obes yang tertekan secara psikologis (Bean et al., 2008). Pengembangan jenis-jenis diet saat ini mengarah pada penurunan berat badan hingga mencapai berat badan ideal, sebut saja OCD (Obsessive Cobuzier’s Diet), Food combining, Fad Diet, hingga terbaru yang dikembangkan di Eropa adalah Fast Diet. Jenis-jenis diet tersebut akan dibahas di tulisan selanjutnya, namun perlu kami sampaikan bahwa pada dasarnya diet-diet tersebut cukup efektif bagi orang obes TETAPI hanya bagi mereka yang memiliki keyakinan yang kuat untuk menurunkan berat badannya.

Sebagian besar konsep pengaturan makanan oleh otak Anda tidak terlepas dari 3 kondisi homeostatis dari sistem rasa lapar, rasa kenyang, dan jaringan lemak. Disini peran hormon sangat dominan untuk menjaga ketiga kondisi tersebut dalam keadaan homeostatis, karena jika kondisi tersebut tercapai maka perilaku makan Anda akan normal dan akan mencapai/mempertahankan berat badan ideal. Sebaliknya, jika 3 kondisi tersebut abnormal, maka kemungkinannya Anda akan menjadi kurus atau menjadi gemuk. Hormon-hormon yang berperan diantaranya leptin, ghrelin, dan insulin. Leptin sendiri dikenal sebagai hormon rasa lapar, ghrelin sebagai hormon rasa kenyang, sedangkan insulin berperan dalam sintesis glukogen dari jaringan lemak (adiposa). Hormon leptin, ghrelin, dan insulin ini bekerja di hipotalamus dan sirkuit batang otak merangsang atau menghambat pemberian makanan untuk mempertahankan tingkat yang tepat dari keseimbangan energi (Kenny, 2011). Kegagalan menjalankan fungsi dalam menjaga homeostatis seperti resistensi leptin, ghrelin, dan insulin dapat mengakibatkan kondisi ketidakseimbangan energi dan pada akhirnya obesitas (Campfield, 1995).

Selain ketiga kondisi diatas, terdapat satu kondisi lagi yang menurut kami sangat berpengaruh yaitu kepuasan. Pernahkah Anda merasa tidak bernafsu mencicipi makanan yang terasa hambar, sudah dingin, atau sedikit bau? tentu Anda segera meninggalkan itu. Akan tetapi ketika makanan yang disajikan hangat, lezat, harum, dan rasanya pas dengan lidah Anda, saya rasa Anda baru akan berhenti makan sesaat setelah merasa puas (Volkow and Wise, 2005). Kondisi tersebut bisa jadi sebagai faktor risiko yang menyebabkan lonjakan lemak tubuh Anda. Menurut Kenny (2011), bahwa visualisasi dan bau dari makanan enak sedikit banyak mempengaruhi sinyal-sinyal yang menjaga kondisi homeostatis, dalam artian bahwa rasa ingin puas dari seseorang terhadap makanan enak bisa membuat Anda yang tadinya telah terpenuhi kebutuhan energi nya menjadi ingin makan lagi. Akibatnya energi yang tadi jika tidak digunakan akan tertumpuk di jaringan lemak dan tentu membuat Anda lebih “kelihatan” gemuk. Penelitian yang dilakukan pada tikus, bahwa tikus yang sudah cukup makan ketika mendapatkan sinyal-sinyal makanan enak cenderung untuk mencari makanan tersebut dan ingin mengonsumsinya (Oswald et al., 2010). Temuan dari penelitian menimbulkan asumsi bahwa mungkin beberapa kandungan makronutrien dari makanan lezat dapat merangsang sistem otak dalam menjaga kondisi homeostatis tersebut.

Jika dianalogikan dengan kecanduan narkoba, obat-obatan TERLARANG itu menyebabkan tingginya perilaku konsumtif yaitu melalui mekanisme yang langsung menyerang otak. Tanpa melihat nilai kalori, selama otak merasa “terpuaskan” dengan mengonsumsi obat tersebut maka Anda akan kencanduan. Begitu pula dengan makanan lezat, Konsumsi makanan lezat dapat meningkatkan suasana hati dan mendukung terciptanya kepuasan. Terlepas dari nilai kalori yang dikandungnya, selama Anda belum mencapai kepuasan mengonsumsi makanan tersebut maka Anda akan kecanduan. Melalui penjelasan inilah kami berasumsi bahwasanya obesitas merupakan hasil dari gangguan otak dan gangguan mental, dan menurut Kenny (2011) bahwa gejala ini merupakan efek hedonis makanan enak. Mekaninsme sebenarnya mengapa sampai rasa kepuasan tersebut sangat mempengaruhi sistem homeostatis diatur oleh otak dapat dijelaskan oleh teori tentang “Struktur otak dalam mempridiksi obesitas” (namun hari ini belum berkesempatan untuk membahasnya).

Sumber:

  1. O’Rahilly, S. (2009). Human genetics illuminates the paths to metabolic disease. Nature 462, 307–314.
  2. Bean, M.K., Stewart, K., and Olbrisch, M.E. (2008). Obesity in America: Implications for clinical and health psychologists. J. Clin. Psychol. Med. Settings 15, 214–224.
  3. Kenny P.J. (2011). Reward mechanism in obesity: new insight and future direction. Neuron 69:2.
  4. Campfield, L.A., Smith, F.J., Guisez, Y., Devos, R., and Burn, P. (1995). Recombinant mouse OB protein: evidence for a peripheral signal linking adiposity and central neural networks. Science 269, 546–549.
  5. Volkow, N.D., and Wise, R.A. (2005). How can drug addiction help us understand obesity? Nat. Neurosci. 8, 555–560.
  6. Oswald, K.D., Murdaugh, D.L., King, V.L., and Boggiano, M.M. (2010). Motivation for palatable food despite consequences in an animal model of binge eating. Int. J. Eat. Disord., in press. Published online February 22, 2010. 10.1002/eat.20808.

Stabilitas relatif dari berat badan

Teori ‘set point’

Dasar dari teori set point ini adalah mengenali bahwa setiap inidvidu itu cenderung memiliki kestabilan berat badan dan akan bertahan selama periode tertentu yang cukup lama. Misalnya, pada waktu SMA kita cenderung merasakan berat badan kita tidak naik dan tidak turun, namun cenderung tetap pada kisaran tertentu (contoh 45-48 kg). Contoh lain pada saat kita merasa nafsu makan kuat lalu makan berlebih atau sebaliknya sangat malas makan, memang terjadi perubahan berat badan secara spontan akan tetapi sifatnya relative sementara dan kembali lagi bertahan pada kisaran yang sama dengan kondisi kita pada saat sebelumnya (starting condition).

persepsi tentang berat badan dipengaruhi oleh berbagai teori

Meskipun terjadi penurunan berat badan ketika sedikit makan dalam waktu yang lama, namun hal itu tidak cukup signifikan untuk bertahan dan tidak kembali pada kondisi awal sebelum penurunan berat badan terjadi. Menurut Sims dan Horton (1968) bahwa seseorang yang mengalami penurunan berat badan karena kondisi tertentu akan mendapatkan kembali berat badan yang hilang itu dengan cepat pada saat kondisi negatif keseimbangan energi terjadi. Kondisi negatif keseimbangan energi adalah suatu kondisi tidak terjadinya keseimbangan energi pada siklus metabolisme seseorang. Orang yang mengalami penurunan berat badan secara ekstrim berarti mengalami kondisi negatif keseimbangan energi, akibatnya tubuh memerlukan asupan energi yang juga ekstrim. Dampaknya terjadi kenaikan berat badan yang signifikan dan secara cepat mendekati kondisi awal sebelum terjadi penurunan berat badan. Kondisi demikianlah yang terjadi pada orang yang melakukan diet ketat, cenderung program diet ketat tersebut tidak berhasil dan ketika berat badan telah turun secara ekstrim, sangat berpotensi untuk kembali ke keadaan semula. Teori inilah yang disebut dengan set point theory.

Observasi ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang menemukan bahwa konsep set point berat badan, seperti konsep sistem keseimbangan energi memang diprogram untuk menahan berat badan utama (kisaran berat badan pada kondisi individu saat itu). Keesey dan Corbett (1984) juga melakukan studi eksperimen pada hewan berhasil menunjukkan bukti mekanisme fisiologi yaitu bertahannya berat badan tertentu meskipun terjadi defisit energi ataupun surplus. Akan tetapi bukan berarti dengan adanya set point ini berat badan kita tidak akan terjadi perubahan. Pada dasarnya untuk mengubah set point berat badan, perubahan pada mekanisme dasar sistem saraf pusat (CNS) yang mengatur asupan energi yang masuk dan keluar diperlukan. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan pada hewan dengan merusak hipotalamus ventromedial di otak yang kemudian dikenal sebagai pusat rasa kenyang menyebabkan hewan tersebut overeating dan mencapai berat badan baru yang lebih berat (sebagai set point baru). Alternatif lain yaitu merusak hipotalamus lateral yang juga disebut sebagai pusat makan, menghasilkan intake makan berkurang, kehilangan berat badan, dan berat badan baru yang lebih ringan (juga sebagai set point baru).

Teori ‘settling point’

Sepanjang hidup orang dewasa berat badan sering tidak tetap, meskipun ada waktu-waktu tertentu relatif konstan. Teori settling point menetapkan perubahan berat badan dari waktu ke waktu dalam dua arah. Oleh karena itu, akan lebih akurat untuk menunjuk suatu berat badan utama pada waktu tertentu sebagai titik menetap (settling point) daripada titik yang memang semestinya (set point). Artinya settling point ini sifatnya lebih relatif, oleh karena banyaknya hal yang mempengaruhi.

Settling point ditentukan dipengaruhi oleh perbedaan fisiologi, psikologi, dan kondisi lingkungan individu. Sebagai contoh, penurunan tingkat aktivitas fisik mendorong terjadinya ketidakseimbangan energi, berat badan meningkat, dan demikian, settling point yang lebih tinggi (Hill et al, 2003).

Jadi sebagai kesimpulannya bahwa teori set point dan settling point pada dasarnya saling bertolak belakang, karena itu keduanya digolongkan dalam stabilitas relatif berat badan. Namun, tanpa memperhatikan keduanya apakah teori set point ataukah settling point yang paling mempengaruhi berat badan, keberadaan sistem kontrol fisiologi yang mempertahankan berat badan tidak dapat juga diabaikan karena berdasarkan bukti yang tersedia (penelitian).

Referensi:

  1. Berryman, Davy, and Edwar (2013). Control of Energy Balance. In Stipanuk MH and Caudill MA (3rd eds.) Biochemical, Physiological, and Molecular Aspects of Human Nutrition. (pp.504). New York: Elsevier.
  2. Hill et al. (2003). Obesity and the environment: Where do we go from here? Science, 299, 853-855.
  3. Sims and Horton (1968). Endocrine and metabolic adaptation to obesity and starvation. The American Journal of Clinical Nutrition, 21, 1455-1470.
  4. Keesey and Corbett (1984). Metabolic defense of the body weight set point. In A. J. Stunkard and E. Stellar (Eds.), Eating and its disorders (pp.87-96). New York: Raven Press.

Power of brain: Sistem kontrol nafsu makan

from brain to mouth mechanism

from brain to mouth mechanism

Obesitas kini telah menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia yang tidak kunjuung berkurang, tiap tahun prevalensinya selalu meningkat. Jika di negara maju peningkatan obesitas tidak terlalu ekstrim di negara berkembang justru meningkat dua hingga tiga kali lipat tiap 10 tahun. Mungkin saja karena di beberapa negara maju telah memiliki perencanaan penganggaran yang baik dalam melawan epidemic obesitas, seperti di Australia dan Amerika. Berbeda halnya di negara berkembang yang masih fokus memerangi gizi buruk sehingga terkesan mereka belum siap dalam menghadapi dampak dari obesitas dan menjadi beban ganda masalah gizi.

Di tingkat individu, penanganan obesitas yang efektif adalah dengan memahami prinsip pengontrolan nafsu makan dan berat badan ideal. Dengan manajemen nafsu makan dan pemantauan berat badal ideal akan menciptakan pada individu suatu sistem kontrol terhadap faktor-faktor penyebab obesitas. Faktor genetik dan fisiologi cenderung menjadi penentu yang sangat penting dari sistem kontrol tersebut, namun perubahan lingkungan dan gaya hidup juga tidak dapat diabaikan sebagai penggerak utama dari perkembangan obesitas. Jika yang mempengaruhi fisiologis itu adalah peranan otak sebagai pusat regulasi hormon-hormon, sebaliknya gaya hidup dan lingkungan akan mempengaruhi intake zat-zat gizi. Sehingga yang menjadi fokus pembahasan artikel kali ini adalah seberapa besarkah peranan hormon-hormon yang dikendalikan oleh otak terhadap proses metabolisme zat gizi, kontrol nafsu makan, dan gaya hidup dalam kaitannya dengan obesitas.

mekanisme hormon

mekanisme hormon

Peran otak (bagian hipotalamus) yang utama adalah mengatur regulasi keseimbangan (homeostatis), termasuk homeostatis makronutrien, mikronutrien, dan energi. Namun dalam proses pengaturannya, otak memerlukan informasi dari organ-organ yang berkaitan dengan komponen-komponen tersebut dan informasi itu dapat diperoleh dari neurohormon yang dilepaskan oleh masing-masing organ (Woods dan Allesio, 2008). Misalnya colon melepaskan tirosin (peptida) dalam merespon asupan lipid dan energi yang dikandung makanan langsung ke hipotalamus. Setelah informasi sampai, hipotalamus akan mengirimkan perintah dengan merangsang dan mengeluarkan hormon-hormon seperti insulin, ghrelin, leptin, kortisol, dan lainnya. Setelah hormon-hormon tersebut bekerja, otak akan merespon informasi yang diperolehnya denagan tindakan apakah zat gizi tersebut masih akan digunakan untuk kerja organ-organ tubuh dan memberikan sinyal masih membutuhkan makanan ataukah disimpan dalam bentuk cadangan di otot, hati ataupun jaringan lainnya dan memberikan sinyal rasa kenyang ataupun nafsu makan.

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai leptin dan ghrelin, leptin dan ghrelin merupakan hormon yang  disekresikan dari jaringan lemak. Peran kedua hormon ini sangat signifikan terhadap manajemen berat badan, leptin berperan menekan nafsu makan seseorang sedangkan ghrelin mengatur rasa lapar. Hormon-hormon tersebut dikendalikan oleh hipotalamus begitu pula dengan hormon-hormon lain yang terkait metabolisme zat-zat gizi. Meskipun hipotalamus memainkan peran penting regulasi energi dan zat-zat gizi lain terutama berkaitan dengan pembahasan obesitas, faktor lingkungan secara garis besarnya juga mempengaruhi peran hipotalamus tersebut. Misalnya saja bagi orang yang sering lembur dan begadang akibat bekerja, akan berefek pada pengaturan hipotalamus. Jika seseorang kurang tidur akan meningkatkan pengeluaran grhelin dan menurunkan leptin. Jika berlangsung setiap malam, maka berpengaruh kembali pada perilaku individu tersebut misalnya akan sering mengemil malam, atau justru makan “besar” pada malam hari akibatnya energi tidak terpakai tersimpan dalam sel dan jaringan dalam bentuk lemak. Karena itu sebaiknya dalam mengatur berat badan, sebaiknya tidak hanya memerhatikan pola makan saja, karena ternyata faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya. Hindari Junk food, banyak melakukan aktivitas fisik,  kurang menonton TV (<2 jam/hari), dan menjaga kualitas tidur menjadi lebih baik adalah solusi yang cukup tepat menangani obesitas secara individu. Selain itu, masalah tidur juga berkaitan erat dengan sistem control nafsu makan, kaitannya terdapat pada mekanisme sekresi hormon leptin dan ghrelin yang sedikit banyak dipengaruhi oleh pola tidur.