Blog Archives

Kafein dan Penurunan berat badan

kafeinProgram intervensi penurunan berat badan kini tidak lagi menjadi suatu upaya yang sulit dilakukan, karena saat ini telah banyak metode dan cara yang bisa dilakukan tergantung kemauan orang yang bersangkutan. Kini saatnya diet ketat dan menyiksa itu dibuang jauh dan ditinggalkan karena tidak hanya membebani orang yang sedang berupaya menurunkan berat badan tetapi juga dapat merugikan kesehatan dan yang paling fatal adalah sifatnya yang temporer. Diet ketat cenderung bersifat sementara, berat badan memang akan nampak turun drastis namun cepat pula kembali ke berat badan semula ketika diet tersebut tidak dijalankan lagi. Kini telah muncul berbagai metode untuk menjawab masalah tersebut, misalnya dengan meningkatkan aktivitas fisik olahraga, terapi teh hijau, dan yang terbaru ini adalah intervensi dengan kafein.

Tips-agar-kopi-tetap-nikmatPerlu diketahui bahwa kafein bersifat anoreksia, yakni dapat menunda rasa lapar dan ketika dikonsumsi sebelum makan maka dapat menurunkan selera makan sehingga rasa kenyang akan lebih cepat datang. Menurut Kulkosky1, bahwa kafein memang terbukti efektif sebagai penekan nafsu makan. Hal ini dibuktikan melalui penelitian terhadap tikus menyimpulkan bahwa kafein yang dikonsumsi secara oral sangat ampuh untuk menekan nafsu makan. Namun jika kesulitan mendapatkan pil kafein, bisa digantikan dengan mengonsumsi 2-3 cangkir kopi setiap hari sebelum waktu makan. Pendapat ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Sours2 yang menyebutkan bahwa seringkali penderita anoreksia nervosa, gangguan pola makan kronis dengan gejala patologis bila berat badan bertambah, akan menghilangkan selera makannya dengan kopi atau minuman sumber kafein lainnya.

Meskipun dosis tinggi terbukti secara signifikan dapat menekan nafsu makan, akan tetapi bagi seseorang yang mungkin agak sensitif dengan kafein tidak perlu memaksa diri untuk mengonsumsi kafein secara ekstrim, karena dosis rendah kafein ternyata sudah mampu membuat seseorang mengurangi porsi makannya sekitar 10%3. Hal tersebut terjadi karena kafein memberikan efek terhadap sistem neurotransmitter, yakni senyawa seperti serotonin, dopamine, atau asetilkolin yang mengatur kapan rasa lapar datang, berapa banyak energi yang dibutuhkan tubuh, dan berapa banyak lemak yang harus dibakar4. Bray5 seorang penulis dan peneliti yang fokus pada obesitas dan penanganannya menyimpulkan bahwa mekanisme kerja kafein dalam menekan nafsu makan berhubungan dengan kemampuan kafein dalam mengaktifkan sistem saraf simpatik yang bereaksi terhadap asupan makanan dengan memunculkan rasa kenyang, meningkatkan metabolisme, dan meningkatkan lipolisis atau pembakaran lemak.

Sumber:

  1. Kulkosky P.J. Effect of CCK-8 on intake caffeine, ethanol, and water. Bulletin of the Psychonomic Society 1981; (29): 441-444.
  2. Sours J.A. Case reports of anorexia nervosa and caffeinsm. Am J of Psychiatry 1983; (140): 235-236.
  3. Weinberg B.A and Bealer B.K. The caffeine advantage. The Free Press, New York. 2002.
  4. Bray G.A. Reciprocal relation of food intake and sympathetic activity. Experimental observations and clinical implications. Int. J of Obesity 2000; (24): s8-s17.

Stabilitas relatif dari berat badan

Teori ‘set point’

Dasar dari teori set point ini adalah mengenali bahwa setiap inidvidu itu cenderung memiliki kestabilan berat badan dan akan bertahan selama periode tertentu yang cukup lama. Misalnya, pada waktu SMA kita cenderung merasakan berat badan kita tidak naik dan tidak turun, namun cenderung tetap pada kisaran tertentu (contoh 45-48 kg). Contoh lain pada saat kita merasa nafsu makan kuat lalu makan berlebih atau sebaliknya sangat malas makan, memang terjadi perubahan berat badan secara spontan akan tetapi sifatnya relative sementara dan kembali lagi bertahan pada kisaran yang sama dengan kondisi kita pada saat sebelumnya (starting condition).

persepsi tentang berat badan dipengaruhi oleh berbagai teori

Meskipun terjadi penurunan berat badan ketika sedikit makan dalam waktu yang lama, namun hal itu tidak cukup signifikan untuk bertahan dan tidak kembali pada kondisi awal sebelum penurunan berat badan terjadi. Menurut Sims dan Horton (1968) bahwa seseorang yang mengalami penurunan berat badan karena kondisi tertentu akan mendapatkan kembali berat badan yang hilang itu dengan cepat pada saat kondisi negatif keseimbangan energi terjadi. Kondisi negatif keseimbangan energi adalah suatu kondisi tidak terjadinya keseimbangan energi pada siklus metabolisme seseorang. Orang yang mengalami penurunan berat badan secara ekstrim berarti mengalami kondisi negatif keseimbangan energi, akibatnya tubuh memerlukan asupan energi yang juga ekstrim. Dampaknya terjadi kenaikan berat badan yang signifikan dan secara cepat mendekati kondisi awal sebelum terjadi penurunan berat badan. Kondisi demikianlah yang terjadi pada orang yang melakukan diet ketat, cenderung program diet ketat tersebut tidak berhasil dan ketika berat badan telah turun secara ekstrim, sangat berpotensi untuk kembali ke keadaan semula. Teori inilah yang disebut dengan set point theory.

Observasi ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang menemukan bahwa konsep set point berat badan, seperti konsep sistem keseimbangan energi memang diprogram untuk menahan berat badan utama (kisaran berat badan pada kondisi individu saat itu). Keesey dan Corbett (1984) juga melakukan studi eksperimen pada hewan berhasil menunjukkan bukti mekanisme fisiologi yaitu bertahannya berat badan tertentu meskipun terjadi defisit energi ataupun surplus. Akan tetapi bukan berarti dengan adanya set point ini berat badan kita tidak akan terjadi perubahan. Pada dasarnya untuk mengubah set point berat badan, perubahan pada mekanisme dasar sistem saraf pusat (CNS) yang mengatur asupan energi yang masuk dan keluar diperlukan. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan pada hewan dengan merusak hipotalamus ventromedial di otak yang kemudian dikenal sebagai pusat rasa kenyang menyebabkan hewan tersebut overeating dan mencapai berat badan baru yang lebih berat (sebagai set point baru). Alternatif lain yaitu merusak hipotalamus lateral yang juga disebut sebagai pusat makan, menghasilkan intake makan berkurang, kehilangan berat badan, dan berat badan baru yang lebih ringan (juga sebagai set point baru).

Teori ‘settling point’

Sepanjang hidup orang dewasa berat badan sering tidak tetap, meskipun ada waktu-waktu tertentu relatif konstan. Teori settling point menetapkan perubahan berat badan dari waktu ke waktu dalam dua arah. Oleh karena itu, akan lebih akurat untuk menunjuk suatu berat badan utama pada waktu tertentu sebagai titik menetap (settling point) daripada titik yang memang semestinya (set point). Artinya settling point ini sifatnya lebih relatif, oleh karena banyaknya hal yang mempengaruhi.

Settling point ditentukan dipengaruhi oleh perbedaan fisiologi, psikologi, dan kondisi lingkungan individu. Sebagai contoh, penurunan tingkat aktivitas fisik mendorong terjadinya ketidakseimbangan energi, berat badan meningkat, dan demikian, settling point yang lebih tinggi (Hill et al, 2003).

Jadi sebagai kesimpulannya bahwa teori set point dan settling point pada dasarnya saling bertolak belakang, karena itu keduanya digolongkan dalam stabilitas relatif berat badan. Namun, tanpa memperhatikan keduanya apakah teori set point ataukah settling point yang paling mempengaruhi berat badan, keberadaan sistem kontrol fisiologi yang mempertahankan berat badan tidak dapat juga diabaikan karena berdasarkan bukti yang tersedia (penelitian).

Referensi:

  1. Berryman, Davy, and Edwar (2013). Control of Energy Balance. In Stipanuk MH and Caudill MA (3rd eds.) Biochemical, Physiological, and Molecular Aspects of Human Nutrition. (pp.504). New York: Elsevier.
  2. Hill et al. (2003). Obesity and the environment: Where do we go from here? Science, 299, 853-855.
  3. Sims and Horton (1968). Endocrine and metabolic adaptation to obesity and starvation. The American Journal of Clinical Nutrition, 21, 1455-1470.
  4. Keesey and Corbett (1984). Metabolic defense of the body weight set point. In A. J. Stunkard and E. Stellar (Eds.), Eating and its disorders (pp.87-96). New York: Raven Press.

Menjaga berat badan ideal dengan terapi teh hijau

teh hijau dengan segala manfaatnya bagi kesehatan

Sebagian besar masyarakat mengonsumsi teh hijau karena rasa dan keyakinan kita bahwa bisa memberikan manfaat kesehatan yang banyak dan hal itu secara ilmiah telah dibuktikan. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, manfaat teh hijau untuk kesehatan sangatlah banyak terutama yang berkaitan dengan pengaruhnya terhadap penurunan berat badan. Teh hijau mengandung zat antioksidan yang dapat menolak racun yang akan masuk ke tubuh kita. Teh hijau juga mengandung vitamin E dan vitamin C yang bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh, kesehatan kulit, dan kesehatan rambut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (diepvens et al,. 2007) selama 3 bulan menunjukan bahwa konsumsi cathecin teh mampu menginduksi reduksi berat badan dan lemak tubuh serta meningkatkan energy expenditure.

Penelitian experimental yang dilakukan oleh (Hidayati,2011) dengan Randomized Controlled Trial (RCT) dan double blind selama 90 hari menunjukan bahwa ekstrak teh hijau dapat menurunkan berat badan wanita dewasa overweight. Subjek dengan aktivitas berat dan mengkonsumsi ekstrak teh hijau mempunyai kecenderungan mengalami penurunan berat badan 2x lebih besar daripada subjek yang mempunyai aktvitas fisik berat namun tidak mengkonsumsi ekstrak teh hijau.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh (Nagao, 2005) menunjukan bahwa berat badan, BMI, lingkar pinggang, massa lemak tubuh, dan lemak subkutan secara signifikan lebih rendah pada kelompok dengan konsumsi ekstrak teh hijau dibandingkan pada kelompok kontrol. Konsumsi harian teh hijau mengandung cathecin 690 mg selama 12 minggu dapat mengurangi lemak tubuh, yang menunjukkan bahwa konsumsi catechin mungkin berguna dalam pencegahan peningkatan berat badan.

Selain terhadap penurunan berat badan. Terdapat beberapa manfaat teh hijau untuk kesehatan adalah: untuk menjaga kadar kolesterol dalam tubuh agar tetap baik, mencegah kanker dan tekanan darah tinggi, menurunkan resiko stroke dan berbagai penyakit hati (lever), menjaga stamina dan menghilangkan keletihan, sebagai anti radang tenggorokan, mencegah gigi berlubang, dll.

Selain itu, kandungan bioflavonoid dalam teh hijau juga dapat memperkuat sistem pencernaan.Teh hijau juga diketahui memiliki kandungan senyawa epigallocatechin gallate yang diketahui dapat menghambat perkembangan senyawa karsinogenik, sehingga dapat mencegah pembentukan kanker. Untuk mendapatkan manfaat dari zat antioksidan yang terkandung dalam teh hijau secara alami, Anda dapat meminum 2-3 cangkir teh hijau/hari (mengandung 240 hingga 320 mg polifenol).

dikutip dari http://manfaat.org/ dan http://ahligizionlineblogku.wordpress.com/