Stabilitas relatif dari berat badan


Teori ‘set point’

Dasar dari teori set point ini adalah mengenali bahwa setiap inidvidu itu cenderung memiliki kestabilan berat badan dan akan bertahan selama periode tertentu yang cukup lama. Misalnya, pada waktu SMA kita cenderung merasakan berat badan kita tidak naik dan tidak turun, namun cenderung tetap pada kisaran tertentu (contoh 45-48 kg). Contoh lain pada saat kita merasa nafsu makan kuat lalu makan berlebih atau sebaliknya sangat malas makan, memang terjadi perubahan berat badan secara spontan akan tetapi sifatnya relative sementara dan kembali lagi bertahan pada kisaran yang sama dengan kondisi kita pada saat sebelumnya (starting condition).

persepsi tentang berat badan dipengaruhi oleh berbagai teori

Meskipun terjadi penurunan berat badan ketika sedikit makan dalam waktu yang lama, namun hal itu tidak cukup signifikan untuk bertahan dan tidak kembali pada kondisi awal sebelum penurunan berat badan terjadi. Menurut Sims dan Horton (1968) bahwa seseorang yang mengalami penurunan berat badan karena kondisi tertentu akan mendapatkan kembali berat badan yang hilang itu dengan cepat pada saat kondisi negatif keseimbangan energi terjadi. Kondisi negatif keseimbangan energi adalah suatu kondisi tidak terjadinya keseimbangan energi pada siklus metabolisme seseorang. Orang yang mengalami penurunan berat badan secara ekstrim berarti mengalami kondisi negatif keseimbangan energi, akibatnya tubuh memerlukan asupan energi yang juga ekstrim. Dampaknya terjadi kenaikan berat badan yang signifikan dan secara cepat mendekati kondisi awal sebelum terjadi penurunan berat badan. Kondisi demikianlah yang terjadi pada orang yang melakukan diet ketat, cenderung program diet ketat tersebut tidak berhasil dan ketika berat badan telah turun secara ekstrim, sangat berpotensi untuk kembali ke keadaan semula. Teori inilah yang disebut dengan set point theory.

Observasi ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang menemukan bahwa konsep set point berat badan, seperti konsep sistem keseimbangan energi memang diprogram untuk menahan berat badan utama (kisaran berat badan pada kondisi individu saat itu). Keesey dan Corbett (1984) juga melakukan studi eksperimen pada hewan berhasil menunjukkan bukti mekanisme fisiologi yaitu bertahannya berat badan tertentu meskipun terjadi defisit energi ataupun surplus. Akan tetapi bukan berarti dengan adanya set point ini berat badan kita tidak akan terjadi perubahan. Pada dasarnya untuk mengubah set point berat badan, perubahan pada mekanisme dasar sistem saraf pusat (CNS) yang mengatur asupan energi yang masuk dan keluar diperlukan. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan pada hewan dengan merusak hipotalamus ventromedial di otak yang kemudian dikenal sebagai pusat rasa kenyang menyebabkan hewan tersebut overeating dan mencapai berat badan baru yang lebih berat (sebagai set point baru). Alternatif lain yaitu merusak hipotalamus lateral yang juga disebut sebagai pusat makan, menghasilkan intake makan berkurang, kehilangan berat badan, dan berat badan baru yang lebih ringan (juga sebagai set point baru).

Teori ‘settling point’

Sepanjang hidup orang dewasa berat badan sering tidak tetap, meskipun ada waktu-waktu tertentu relatif konstan. Teori settling point menetapkan perubahan berat badan dari waktu ke waktu dalam dua arah. Oleh karena itu, akan lebih akurat untuk menunjuk suatu berat badan utama pada waktu tertentu sebagai titik menetap (settling point) daripada titik yang memang semestinya (set point). Artinya settling point ini sifatnya lebih relatif, oleh karena banyaknya hal yang mempengaruhi.

Settling point ditentukan dipengaruhi oleh perbedaan fisiologi, psikologi, dan kondisi lingkungan individu. Sebagai contoh, penurunan tingkat aktivitas fisik mendorong terjadinya ketidakseimbangan energi, berat badan meningkat, dan demikian, settling point yang lebih tinggi (Hill et al, 2003).

Jadi sebagai kesimpulannya bahwa teori set point dan settling point pada dasarnya saling bertolak belakang, karena itu keduanya digolongkan dalam stabilitas relatif berat badan. Namun, tanpa memperhatikan keduanya apakah teori set point ataukah settling point yang paling mempengaruhi berat badan, keberadaan sistem kontrol fisiologi yang mempertahankan berat badan tidak dapat juga diabaikan karena berdasarkan bukti yang tersedia (penelitian).

Referensi:

  1. Berryman, Davy, and Edwar (2013). Control of Energy Balance. In Stipanuk MH and Caudill MA (3rd eds.) Biochemical, Physiological, and Molecular Aspects of Human Nutrition. (pp.504). New York: Elsevier.
  2. Hill et al. (2003). Obesity and the environment: Where do we go from here? Science, 299, 853-855.
  3. Sims and Horton (1968). Endocrine and metabolic adaptation to obesity and starvation. The American Journal of Clinical Nutrition, 21, 1455-1470.
  4. Keesey and Corbett (1984). Metabolic defense of the body weight set point. In A. J. Stunkard and E. Stellar (Eds.), Eating and its disorders (pp.87-96). New York: Raven Press.

Posted on 6 March 2013, in kontroversi, Material and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: