Blog Archives

Infant Feeding

ASI harus menjadi pilihan utama bagi anak usia hingga 2 tahun

ASI memang makanan terbaik bagi bayi, tidak ada yang mampu menggantikan posisi ASI. Namun seiring perkembangan zaman, dimana banyak ibu yang tidak lagi ingin memberikan ASI nya kepada anak-anaknya dengan berbagai alasan; bekerja, ASI sulit keluar, anak tidak mau menyusui dari payudara dan berbagai alasan lainnya. Sebagian besar dari mereka ingin mencari mudahnya dan berprinsip yang penting anak minum susu mau dari ASI atau dari susu formula.

Memang sekarang ini susu formula sudah jauh berkembang, dan semakin memiliki nilai gizi yang mendekati ASI, dengan berbagai macam penambahan zat-zat gizi yang bermanfaat bagi anak menjadikan susu formula sebagai pilihan utama bagi ibu yang tidak memberikan ASI kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa susu formula biasanya dari susu sapi, karena susu sapi mudah untuk dimodifikasi dan kandungan gizinya yang paling mendekati ASI. Bahkan penambahan DHA, AA, oligosakarida sederhana (FOS dan GOS), dan zat-zat lainnya yang semakin menaikkan nilai susu formula.

Sekedar informasi bahwa susu formula harus dimodifikasi karena kandungan protein dan garam mineralnya tinggi sedangkan gula susunya (laktosa) rendah, dan kita ketahui bahwa laktosa merupakan salah satu jenis karbohidrat yang penting bagi perkembangan otak. Ketika anak memiliki alergi atau sangat sensitif terhadap susu formula, sebaiknya diberikan susu sintetik, biasanya yang terbuat dari susu kedelai. Sebagai tambahan, lemak pada susu formula rendah bioavaibilitasnya (daya serap), tidak seperti ASI susu formula hanya dapat diserap sekitar 5-10% saja padahal lemak sangat baik untuk tubuh dan otak bayi. Oleh karena itu ASI memang sangat tepat diberikan untuk anak terutama pada 6 bulan pertama kehidupan anak.

Susu formula biasanya tersedia dalam bentuk bubuk, cair, dan yang siap minum. Untuk susu bubuk dan cair harus ditambahkan air panas untuk dikonsumsi. Takaran air yang dicampurkan haruslah tepat. Apabila air yang dicampurkan terlalu sedikit maka akan membuat susu sangat kental, kandungan protein dan mineralnya akan tinggi dan dapat membebani ginjal bayi. Sebaliknya jika terlalu banyak air yang digunakan untuk melarutkan susu, nilai gizi dan kalorinya tidak akan bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Anak dibawah 6 bulan seharusnya tidak diberikan susu sapi, karena proteinnya sulit dan lama untuk dicerna oleh sistem pencernaan bayi dibandingkan ASI. Apabila anak sebelum 6 bulan diberikan susu sapi, bisa menyebabkan gangguan pencernaan, ginjal akan terbebani oleh kandungan protein dan mineral yang ada pada susu sapi. Selain itu bisa menyebabkan gangguan sistem saraf pusat.

Nah jika memang bayi dengan TERPAKSA harus diberikan susu formula tanpa ASI, maka sebaiknya ibu harus memperhatikan beberapa hal terkait cara memberikan susu formula bagi bayi. Ukur suhu susu dengan cara meneteskannya ke punggung tangan, hal ini untuk menghindari mulut anak luka karena susu terlalu panas. Jika bayi ingin ditidurkan, tidak seharusnya sambil minum susu dari botol. Saliva (air liur) bayi jika dalam keadaan anak mengantuk hingga tertidur, akan membersihkan gigi dan mulut. Jika anak diberikan susu ketika hendak ditidurkan maka hal tersebut justru akan merusak perkembangan gigi dan mulut anak, dapat menyebabkan gigi tumbuh jelek dan rusak. Selain itu bisa menyebabkan dagu menonjol keluar dan hasilnya anak kemungkinan akan mengalami sindrom nursing bottle atau baby bottle mouth.

Pemberian susu formula harus sesuai takaran dan kebutuhan bayi dan jangan sampai berlebihan, karena bisa menyebabkan obesitas pada anak. Pencegahan obesitas di usia dini perlu dilakukan dengan mencegah pemberian susu formula yang berlebihan kepada anak sehingga pada saat dewasa nanti akan menghindari terkena penyakit tidak menular.

Sumber

Roth, AR. Nutrition and Diet Therapy; 10th. Indiana; 2010.

Nirwana. Obesitas anak dan pencegahannya. Nuha Medika. Yogyakarta; 2012.

 

 

 

Oligosakarida pada susu sapi (Bovine Milk) dan kesehatan anak

ASI eksklusif merupakan hak setiap anak untuk mendapatkannya hingga usia 6 bulan

Oligosakarida diketahui berpotensi menjadi prebiotik dan dapat berinteraksi langsung dengan sel imun tubuh. Memiliki struktur yang sangat kompleks dan memiliki keragaman yang sangat banyak, oligosakarida dapat menstimulasi pengembangbiakan beneficial bacteria atau bakteri baik yang akan memerangi bakteri pathogen di dalam usus (Arslanoglu, 2007). Komponen tersebut hanya dapat ditemui dalam jumlah yang banyak pada ASI, oleh karena itu anak-anak dianjurkan untuk mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun atau selama “window of opportunity”.

ASI memang diketahui sebagai makanan yang sangat efektif untuk mencegah infeksi, Berbagai strategi telah digunakan untuk meniru kompleksitas struktural oligosakarida ASI mengingat fungsi oligosakarida bagi kesehatan anak. Strategi tersebut adalah pembentukan struktur oligosakarida yang lebih sederhana yaitu seperti kombinasi dari rantai panjang fructo-oligosakarida (lcFOS) dan rantai pendek galacto-oligosakarida (scGOS), dan sejauh ini telah digunakan dalam produk makanan terutama susu formula untuk anak. 90% scGOS dan 10% lcFOS berdasarkan beberapa penelitian yang telah dikembangkan juga menunjukkan efek modulasi imunitas dan prebiotik yang hampir sama dengan oligosakarida pada ASI (Zivkovic dan Barile, 2011., Arslanoglu, 2007).

Pemberian susu formula pada anak sebelum 6 bulan hanya sebagai alternatif

Meskipun oligosakarida yang telah dikembangkan tersebut tidaklah identik dengan yang ada pada ASI. Dari beberapa studi intervensi pada bayi, Boehm et al. (2002) menemukan bahwa susu formula yang diberikan oligosakarida sederhana tersebut memiliki mikrobiota usus yang baik sama seperti yang ditemukan pada bayi yang mendapatkan ASI. Begitu juga pada penelitian eksperimental yang dilakukan Arslanoglu (2007) dengan randomized double blind controlled trial (RCT) menunjukkan bahwa  scGOS dan lcFOS mampu menurunkan jumlah infeksi, kejadian kumulatif dari infeksi, dan infeksi berulang selama 6 bulan pertama kehidupan anak. Sehingga bisa dihipotesiskan bahwa oligosakarida sederhana pada susu formula juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari bayi yang mendapatkan susu formula.

Namun bukan berarti susu formula mampu menggantikan ASI, karena ASI merupakan satu-satunya sumber semua zat gizi yang dibutuhkan bayi hingga usia 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan pertama kehidupan mampu menghindarkan anak dari berbagai penyakit. Konsumsi susu formula dimaksudkan untuk 2 keadaan yang pertama adalah ketika ibu tidak mampu menyediakan ASI kepada anaknya karena kondisi psikologis atau karena adanya kelainan dan penyakit. Kondisi kedua adalah ketika anak sudah mencapai usia diatas 6 bulan sehingga membutuhkan makanan tambahan yang bisa diperoleh dari susu. Selain 2 kondisi diatas, anak memiliki hak untuk mendapatkan ASI eksklusif dari ibu hingga berusia 6 bulan dan dilanjutkan tetap memberikan ASI hingga usia 2 tahun disamping makanan tambahan.

Referensi

  1. Agunbiade and Ogunleye: Constraints to exclusive breastfeeding practice among breastfeeding mothers in Southwest Nigeria: implications for scaling up. International Breastfeeding Journal 2012 7:5
  2. Arslanoglu et al.: Early Supplementation of Prebiotic Oligosaccharides Protects Formula-Fed Infants against Infections during the First 6 Months of Life. J. Nutr. 137: 2420–2424, 2007.
  3. Boehm G, Lidestri M, Casetta P, Jelinek J, Negretti F, Stahl B, Marini A. Supplementation of an oligosaccharide mixture to a bovine milk formula increases counts of faecal bifidobacteria in preterm infants. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2002;86:F178–81.
  4. Zivkovic, AM., and Barile, Daniela: Bovine Milk as a Source of Functional Oligosaccharides for Improving Human Health. American Society for Nutrition. Adv. Nutr. 2: 284–289, 2011.