Blog Archives

Yuk Cegah stunting

oleh Asry Dwi Muqni S.Gz

Stunting sebagai pinta masuk penyakit tidak menular

Orang tua mana yang tidak meginginkan buah hati mereka tumbuh sehat dan cerdas. Berbagai upaya dilakukan demi pertumbuhan dan perkembangannya yang optimal. postur tubuh yang ideal menggambarkan tubuh anak yang sehat dan dapat dinilai secara fisik dan penampilan luar. Masa balita dikenal sebagai periode emas pertumbuhan anak. Dan tahukah Anda Bunda, semua berawal dan bergantung pada Anda!!!

Bayi yang lahir dengan status gizi baik lahir dari ibu dengan status gizi baik pula. status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan menjadi pondasi utama di awal kehidupan. Ibu yang sejak awal mengalami KEK (kurang Energi kronik) akan lebih beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu berat badan bayi <2500gr. sebuah hasil studi di salah satu rumah sakit bersalin Makassar menyebutkan bahwa terdapat hubungan ukuran lingkar lengan atas (LILA) ibu dengan berat badan lahir bayi. Dimana ibu dengan LILA <23cm melahirkan bayi dengan berat badan yang lebih ringan (meski tidak selalu BBLR) dibandingkan dengan ibu dengan LILA ≥23,5cm. Bayi yang BBLR menandakan kurang terpenuhinya kebutuhan zat gizi dan beresiko lebih tinggi terhadap kematian bayi (IMR), penyakit kronis pada usia dewasa, keterlambatan mental dan pertumbuhan yang lambat karena kondisi kekurangan gizi yang berisiko mengakibatkan balita menderita KEP. Beberapa penelitian yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa bayi yang BBLR berkali-kali beresiko memiliki status gizi kurang pada usia 1-5 tahun dibandingkan yang tidak BBLR, penelitian yang lain juga menyebutkan bahwa anak yang BBLR pertumbuhan dan perkembangannya lebih lambat dari anak dengan BBLN (normal) terlebih lagi bila diperburuk oleh kurangnya asupan energi dan zat gizi, pola asuh yang kurang baik dan sering menderita penyakit infeksi.

Postur tubuh yang ideal dapat dinilai dengan pengukuran antropometri untuk memastikan apakah komponen tubuh sesuai dengan standar normal atau ideal. Antropometri yang paling sering digunakan adalah rasio berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) terhadap umur. Pada balita pemantauan dan pengukuran antropometri menjadi sangat penting karena akan memberikan informasi utamanya kepada para ibu untuk memperhatikan asupan gizi anaknya. Karena status gizi mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan akan zat gizi dengan asupan zat gizi yang diterima oleh tubuh yang dapat mengindikasikan apakah balita tersebut menderita KEP. Status gizi yang diukur berdasarkan rasio BB/U menggambarkan keadaan masa sekarang karena merupakan outcome saat ini. Sedangkan yang diukur berdasarkan TB/U menggambarkan keadaan masa lampau karena merupakan akumulasi status gizi sejak lahir sampai sekarang. Berat badan kurang (wasting) hanya bersifat akut dan tinggi badan yang kurang atau pendek (stunting) bersifat kronik.

Stunting dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi retardasi pertumbuhan akibat defisiensi zat gizi saat dalam kandungan. Artinya ibu yang kurang gizi sejak awal kehamilan hingga lahir akan beresiko melahirkan anak BBLR yang juga beresiko menjadi stunting. Salah satu studi yang dilakukan di Kelurahan Tamamaung Makassar menunjukkan hubungan bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting terhadap balita di keluraahan tersebut.

Karena masalah gizi dapat terjadi di semua periode atau siklus kehidupan dan masalah gizi yang terjadi disalah satu siklus akan mempengaruhi atau mengakibatkan masalah gizi yang lain di siklus selanjutnya, maka dari itu sangat perlu mempersiapkan gizi yang baik demi kualitas hidup yang lebih baik. Penuhi kebutuhan gizi dan hidup sehat. Utamanya bagi Anda calon ibu yang akan melahirkan anak-anak yang sehat dan hebat karena semua berawal dari Anda.

Non Communicable Disease

Data WHO menunjukkan bahwa ada sekitar 58 juta total kematian di dunia dan diantaranya ada sekitar 35 juta kematian diakibatkan karena penyakit tidak menular (non communicable disease), serta sekitar 28 juta terjadi di negara miskin dan berkembang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa kematian karena non communicable disease (NCD) ini sangat besar yakni mencapai 60% dari total kematian karena semua penyebab dan lebih ironisnya lagi bahwa kematian karena NCD ini banyak terjadi di negara miskin dan yang sedang berkembang. Berdasarkan evidence based di semua negara bahwa non communicable disease seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, cancer, hipertensi ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Menurut proyeksi dari WHO yang didasari dari data tiap tahunnya bahwa pada tahun 2030 kematian akibat penyakit infeksi akan semakin jarang pada masyarakat menengah keatas, hal ini terlihat dari prevalensi penyakit menular yang terjadi penurunan tiap tahunnya. Namun untuk semua tingkatan sosial ekonomi, kejadian NCD ini akan terus meningkat tiap tahunnya, sehingga pada kelompok sosial ekonomi menengah kebawah akan dihadapkan pada communicable disease dan non communicable disease (double burden of disease).

Dilihat dari etiologinya, NCD dapat terjadi karena modifiable risk factor atau faktor yang dapat dikendalikan dan unmodifiable risk factor atau faktor yang tidak dapat dikendalikan. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan diantaranya adalah usia dan keturunan, sedangkan faktor yang bisa dikendalikan adalah diet yang tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan kurang aktivitas fisik. Sehingga untuk menghindari terkena NCD, seseorang harus dapat mengendalikan faktor resiko yang dapat dikontrol tersebut agar terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi, glukosa darah tinggi, serta kadar lipid dalam darah tinggi yang semuanya akan bermuara pada penyakit-penyakit tidak menular. Selain obesitas dan sindroma metabolik, salah satu pintu masuk terjadinya NCD yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah stunting.

Kondisi di Indonesia sangat memprihatinkan, berdasarkan data dari WHO (2011) bahwa kematian penduduk Indonesia karena NCD (30%) lebih tinggi dibandingkan angka secara global (25%). Sedangkan prevalensi anak yang pendek (stunted) di Indonesia sangat tinggi sekitar 36%, padahal stunting juga menjadi penyebab NCD. Prevalensi stunting secara global masih lebih rendah jika dibandingkan di Indonesia yaitu 32% atau sekitar 178 juta anak yang stunting. Namun tetap saja angka itu masih sangat tinggi, apalagi dampak dari stunting yang sangat merugikan. Indonesia menjadi kotributor nomor 5 penyumbang anak stunting di dunia.

Suatu bentuk intevensi untuk mencegah stunting harus dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan. Banyak penelitian di berbagai negara mengenai intervensi pada anak yang stunting dan hasilnya bahwa suatu intervensi akan sangat efektif untuk meningkatkan status gizi serta pertumbuhan dan perkembangannya jika dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan karena pada usia tersebut masa pertumbuhan anak sangat cepat. Sedangkan pada intervensi yang dilakukan setelah anak berusia 2 tahun hanya dapat memberikan kenaikan berat badan yang cepat, bukan pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga intervensi pada usia tersebut harus tetap mengontrol berat badannya karena kenaikan berat badan setelah fase gizi kurang/gizi buruk akan sangat cepat dan justru dapat menyebabkan obesitas yang nantinya beresiko menderita penyakit tidak menular yang berbahaya. Intervensi sebelum 2 tahun dapat menaikkan berat badan dengan cepat namun pertumbuhan tinggi badannya juga cepat sehingga pada akhirnya proporsinya akan tepat yakni berat badannya akan sesuai dengan tinggi badannya. Anak menjadi tidak stunting, perkembangan otaknya baik, lebih aktif dan produktif dan yang paling penting adalah resiko menderita NCD semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mencegah anak stunting dengan intervensi sebelum 2 tahun akan menjadi cara yang efektif untuk menurunkan resiko NCD pada fase usia berikutnya.

Berdasarkan hal tersebut maka WHO dan beberapa negara sepakat untuk membuat suatu kebijakan yang diimplementasikan menjadi sebuah gerakan untuk mencegah anak yang stunting sebagai upaya dalam menyelamatkan anak-anak dari lost generation. Gerakan tersebut adalah Scaling Up of Nutrition (SUN). SUN terbentuk sebagai upaya dalam mengatasi masalah gizi yang semakin serius terutama stunting, serta sebagai upaya dalam mendorong pencapaian MDG. MDG tidak akan tercapai tanpa adanya gerakan yang menaruh perhatian penuh pada gizi. Gerakan tersebut disebut Scaling Up of Nutrition (SUN), yang evidence base dari SUN berasal dari The Lancet Series (5 series on nutrition) yang telah menemukan isu-isu masalah gizi di berbagai negara. Dalam framework action SUN, yang menjadi fokus perhatiannya adalah pada “window of opportunity” yang dimulai sejak dalam kandungan hingga 24 bulan (sama seperti fokus dari intervensi Lancet).

Berdasarkan publikasi Barker (2012) dalam teorinya tentang transgenerational roots of chronic disease, bahwa suatu perencanaan gizi yang baik apabila dimulai sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun dan hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi generasi berikutnya hingga 100 tahun kemudian. Artinya bahwa kondisi yang sekarang ini terjadi seperti tingginya anak yang stunting dan banyaknya orang yang terkena NCD sebagai dampak dari perilaku gizi dan intervensi gizi yang dilakukan 100 tahun yang lalu. Seribu hari pertama kehidupan anak menjadi penentu kehidupannya di fase usia berikutnya serta transgenerational NCD hingga 100 tahun kedepan. Masih menurut Barker, sekarang ini PJK, DM tipe 2, kanker payudara, serta penyakit kronik lainnya tidak perlu lagi diyakini sebagai suatu penyakit yang didapatkan dari heredity/keturunan serta proses evolusi yang panjang dari ribuan tahun lalu. Penyakit tersebut sebagian besar justru dipengaruhi lingkungan, dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan, dan peningkatan status gizi pada remaja laki-laki dan perempuan.

Terkait dengan sektor lainnya, kemiskinan juga perlu untuk dihilangkan karena paparan terhadap modifiable risk factor akan terus meningkat pada kelompok masyarakat miskin. Dengan demikian perlu suatu intervensi sensitif dari berbagai sector untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Dengan menyelesaikan masalah kemiskinan, secara tidak langsung akan mencegah anak stunting, obesitas, serta sindroma metabolik yang merupakan pintu masuk terjadinya non communicable disease. Hal ini telah dicontohkan Brazil sebagai negara berkembang yang berhasil meningkatkan pendapatan perkapita menjadi 14.000 USD dan yang terjadi sekarang adalah anak yang stunting serta kematian akibat non communicable disease telah menurun di negara tersebut.

Sumber : dirangkum dari kuliah umum Prof A. Razak Thaha di UGM

Email : andiimam.arundhana@gmail.com

Masalah stunting di Sulawesi Selatan

Kesehatan merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan serius baik pada individu maupun kelompok sehingga perlu adanya upaya kesehatan yaitu suatu upaya dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Jika dikaitkan dengan beberapa aspek akan nampak permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks, seperti halnya masalah gizi yang tanpa henti terjadi di Indonesia dan tentu saja berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Ada beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika (Riskesdas 2007).

Masalah gizi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sudah menjadi semakin lengkap dengan adanya istilah beban ganda masalah gizi. Sebagai negara yang sedang berkembang beban ganda masalah gizi ini kian terasa karena disatu sisi permasalahan gizi kurang tidak kunjung berkesudahan dan kini Indonesia menghadapi masalah gizi lebih yang mendatangkan masalah baru. Masalah gizi kurang kerap kali dikaitkan dengan penyakit infeksi seperti Infeksi  Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, dan campak sedangkan gizi lebih banyak ditemui di daerah yang cukup maju atau kota-kota besar di Indonesia. Keberhasilan suatu bangsa bergantung pada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya yakni melalui upaya peningkatan mutu sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Walaupun suatu daerah sangat kaya akan sumber daya manusia namun jika tidak dikelola dengan sumber daya yang berkualitas maka akan sulit melakukan pembangunan optimal dan hal tersebut yang sekarang ini menimpa Indonesia (Hadi, 2005).

Jika ditelaah lebih jauh banyak faktor yang menyebabkan tercapainya sumber daya manusia yang rendah salah satunya adalah faktor gizi. Tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk akan berimplikasi secara berkesinambungan pada siklus kehidupan. Sehingga jika tidak segera ditangani maka dapat terjadi penurunan kualitas dari generasi ke generasi. Menurut Hammond (2000), status gizi dipengaruhi secara langsung oleh asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh akan zat gizi, asupan zat gizi tergantung pada konsumsi makanan yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keadaan ekonomi, pola asuh, pola makan, dan kondisi emosional, perilaku ibu mengenai gizi seimbang, kepedulian orang tua, budaya dan penyakit infeksi. Sedangkan menurut Hadi (2005), peranan gizi sudah mulai sejak awal kehidupan dan akan terus berlanjut yang nantinya akan menjadi sebuah siklus. Status gizi ibu akan berpengaruh terhadap asupan gizi anak dalam janin, apabila asupannya kurang maka akan beresiko menjadi berat badan lahir rendah (BBLR). Anak yang BBLR jika tidak ditangani dengan serius akan tumbuh besar menjadi anak yang pendek (stunting). Anak yang stunting cenderung akan sulit mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal baik secara fisik maupun psikomotorik yang erat kaitannya dengan kemunduran kecerdasan dan produktivitas.

Menurut Allen and Gillespie (2001), bahwa stunted pada masa kanak-kanak merupakan faktor risiko bagi meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi-fungsi yang tidak seimbang. Stunted mencerminkan suatu kegagalan proses pertumbuhan linier sebagai hasil ketidakoptimalan kesehatan dan/atau kondisi yang berhubungan dengan gizi. Tingginya angka stunted pada populasi diasosiasikan dengan kemiskinan sosial ekonomi (de Onis, 2001).

Stunting merupakan masalah gizi kornis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan kurang gizi yang terakumulasi dalam waktu yang cukup lama. Status gizi ini dikategorikan menjadi pendek dan tidak pendek yang digabung menjadi satu kategori dan disebut sebagai masalah stunted. Penyebab stunting sangat banyak, diantaranya adalah anemia pada ibu hamil, bayi lahir premature ataupun BBLR, pemberian ASI ekslusif, pola asuh ibu, penyakit infeksi yang diderita anak dalam waktu yang lama, serta menurut penelitian Astari (2006) bahwa praktik pemberian makanan secara dominan berpengaruh bermakna terhadap kejadian stunting. Hal tersebut berkaitan dengan peran keluarga yang memang sangat dominan dalam memberikan asuhan kepada anaknya. Menurut Nadimin (2009), keluarga yang sadar gizi tentu akan menitikberatkan aspek gizi dalam mengasuh anaknya karena perilaku sadar gizi ini erat kaitannya dengan pedoman umum gizi seimbang yaitu konsumsi beraneka ragam makanan, memantau berat badan ideal, melakukan upaya fortifikasi, menggunakan garam yodium, dan lain sebagainya. Selain itu, adanya faktor budaya ikut berpengaruh dalam membentuk karakter food habit dan food pattern keluarga.

 Berdasarkan laporan nasional Riskesdas 2010 bahwa lebih dari sepertiga anak balita Indonesia tergolong stunting yakni sebesar 35,6%. Di Sulawesi selatan (Sulsel) prevalensi stunting justru lebih tinggi daripada angka nasional yakni 38,9%, padahal tahun 2007 lalu hanya 29,1%. Berarti telah mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 9,8%. Ada kecenderungan bahwa sebesar 38,9% anak-anak di Sulsel akan berpotensi mengalami kemunduran kecerdasan dan produktivitas dan tentu saja hal ini harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah daerah Sulsel karena berkaitan dengan keberhasilan pembangunan di Sulsel. Selain itu juga pemerintah perlu mengidentifikasi mengapa sampai terjadi kenaikan prevalensi yang sangat tinggi di Sulsel yang hampir mencapai 10% tersebut. Menurut laporan kesehatan kabupaten Pangkep (2007), bahwa Pangkep adalah kabupaten tidak bermasalah miskin namun prevalensi gizi buruk cukup tinggi jika dibandingkan secara nasional dan tingkat propinsi Sulsel, prevelensi anak yang stunting di Kabupaten Pangkep mencapai 27,8%. Namun untuk tahun 2010 ini belum ada data yang jelas mengenai prevalensi stunting di kabupaten Pangkep, diperkirakan kejadian stunting meningkat seperti halnya data prevalensi di Sulsel yang terjadi kenaikan.

 Kabupaten Pangkep terletak di pantai Barat Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah daratan, pegunungan dan pulau-pulau tanpa lingkup perairannya adalah 1.112 km2, sementara luas lautnya adalah 17.100 km2. Kabupaten Pangkep berbatasan dengan Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Madura, Pulau Nusa Tenggara dan Bali di sebelah barat, sebelah utara dengan Kabupaten Barru, sebelah timur dengan Kabupaten Bone, dan sebelah selatan dengan Kabupaten Maros. Alokasi dana APBD untuk bidang kesehatan hanya 4,73% tahun 2010, secara geografis merupakan daerah yang terdiri dari 7 kecamatan di daratan, 2 kecamatan di pegunungan, dan 3 kecamatan di kepulauan memiliki masyarakat yang sangat beragam dari segi sosial budaya. Aksesbilitas ke pusat kota juga tentunya berbeda bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan dengan yang tinggal di daratan.

 Selain itu, berdasarkan laporan ketersediaan pangan di Sulawesi Selatan tahun 2010 bahwa kabupaten Pangkep merupakan daerah yang surplus pangan yang tinggi, namun masih tergolong daerah yang agak rawan berdasarkan laporan akses pangan tahunan daerah. Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh kondisi geografi yang terdiri dari kepulauan, daratan, dan pegunungan. Perbedaan geografi dan topografi dapat mempengaruhi pola makan masyarakat, berdasarkan hasil penelitian Damanik (2010) bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat konsumsi energi dan protein pada anak yang tinggal di daerah perbukitan dengan yang tinggal di tepi danau. Namun tetap tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan TB/U karena di dua daerah tersebut anak-anaknya tergolong stunting. Hal ini mungkin saja terjadi karena di kedua wilayah tersebut sama-sama memiliki akses pangan yang sulit, sehingga pangan kurang beraneka ragam. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini, ingin menekankan lagi bahwa perbedaan geografi mempengaruhi akses pangan masyarakat.

LIST OF REFERENCE

Semba RD, de Pee S, Sun Kai, Sari M, Akhter N, Bloem MW. Effect of parental formal education on risk of child stunting in Indonesia and Bangladesh: a cross-sectional study. Lancet 2008; 371: 322–28

Nadimin, 2009. Gambaran Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Bulukumba. Studi Analisis Data Survei Kadarzi dan PSG Sulsel 2009. Media Gizi Pangan 2010; IX.01:69-75. 

Norliani, Sudargo T, Budiningsari DR. Tingkat Sosial Ekonomi, Tinggi Badan Orang Tua dan Panjang Badan Lahir dengan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah. BKM. 2005; XXI: 04: 133-139.

Wamani H, Astrom AN, Peterson S, Tumwine KJ, Tylleskar T. Boys Are More Stunted than Girls in Sub-Saharan Africa: meta analysis of 16 demographic and Health Surveys. BMC Pediatrics. 2007. p: 7-17.

Ramli, Agho KE, JI Kerry, JB Steven, Jennifer, Dibley MJ. Prevalence and Risk Factors for Stunting and Severe Stunting Among Under-fives in North Maluku Province of Indonesia. Biomed Central (BMC) Pediatrics. 2009; 9: 64. 

Mendez MA & Adair LS. Severity and Timing in The First Two Year of Life Affect Performance on Cognitive Tests In Late Chilhood. The Journal of Nutrition. 1999; 129:1555-1562.

Madiono, B., Mz, S.M., Sastroasmoro , S., Budiman, I., & Purwanto S. H. (2002) Perkiraan Besar Sampel. Di dalam : Dasar-dasar Metode Penelitian Klinis. Binarupa Aksara. Jakarta. 

Crookston BT, Mary E. Penny, Stephen C. Alder, Ty T. Dickerson, Ray M. Merrill,6 Joseph B. Stanford, Christina A. Porucznik, and Kirk A. Dearden. Children who recover from early stunting and children who are not stunted demonstrate similar levels of cognition. American Society for Nutrition, The Journal of Nutrition 2009; 1996-2001.

Rahayu LS. HUBUNGAN PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN PERUBAHAN STATUS STUNTING DARI USIA 6-12 BULAN KE USIA 3-4 TAHUN. Proseding Penelitian Bidang Ilmu Eksakta Indonesia 2011; 103-115.

Rahmadi, 2009. Hubungan Perilaku Sadar Gizi dan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Status Gizi Balita di Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan. FK UGM, Yogyakarta.

Depkes, 2004. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Mewujudkan Keluarga Cerdas dan Mandiri. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta.

Jayanti LD. 2011. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Serta Perilaku Gizi Seimbang Ibu Kaitannya dengan Status Gizi dan Kesehatan Balita di Kabupaten Bojonegoro. IPB, Bogor.

Rusmimpong, 2007. Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian Makanan Gizi Seimbang pada Balita di Wilayah Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi. FK UGM, Yogyakarta.

Nabuasa CD, 2011. Hubungan Riwayat Pola Asuh Pola Makan, dan Asupan Zat Gizi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur. FK UGM, Yogyakarta.

Association of Low Birth Weight and Stunting events in Infants

Background: Indonesia ranked 5th as a contributor to the prevalence of stunting in the world, and it needs to get focus by the government. Based on the study of early childhood in central Java, South Sulawesi and West Sumatra (2009) showed that the prevalence of stunting reached 29%. Causes of stunting must be given serious attention because it relate to the nutritional life cycle. One cause of stunting is low birth weight (LBW). A malnourished young woman at risk of early pregnancy and it will affect the fetus to be LBW. LBW infants are likely to be failure to thrive that implies to the incidence of stunting in infants.

Objective: This research aimed to identify the relationship between low births weight (LBW) with the incidence of stunting in infants aged over 2 years.

Method: The research design is cross sectional. The infants with/without low birth weight as a research sample. An inclusion criterion is aged over 2 year until 5 year. The key objective was to assess the relative importance of LBW and stunting outcomes. Using of SPSS v.16 or STATA v.11 to conduct the analyses. The data will be analyzed using Chi-square, proportion, and regression. Present coefficients with 95% CI and P-values, significance was declared when P<0.05.

read more… download here

Stunting

dikutip dari http://www.gizikia.depkes.go.id

UMUR SAMA,,TINGGI BADAN BERBEDA…..

  Mengapa stunting menjadi penting? Selain karena jumlahnya yang cukup tinggi di Indonesia, ternyata stunting menggambarkan kejadian kurang gizi pada balita yang berlangsung dalam waktu yang lama dan dampaknya yang bukan hanya secara fisik, tetapi justru pada fungsi kognitif .

Apa yang dimaksud dengan stunting dan bagaimana cara mengukurnya ?

Bila kita merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tanggal 30 Desember 2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian Pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely

Dengan kata lain stunting dapat diketahui bila  seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.

Bagaimana sebaran balita pendek di Indonesia ?

Pendek dan sangat pendek menggambarkan bahwa kita masih menghadapi masalah gizi kurang kronis.

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, walaupun prevalensi gizi kurang dan buruk telah mengalami penurunan dari 18,4% tahun 2007 menjadi 17,9% tahun 2010, namun kita masih memiliki 35,6% balita pendek. Prevalensi Balita pendek terdiri dari sangat pendek 18,5% dan pendek 17,1%. Penurunan terjadi pada balita pendek dari 18,0% menjadi 17,1% dan balita sangat pendek dari 18,8% menjadi 18,5%.

Kita masih harus bekerja keras mengatasi stunting ini, karena batas non public health yang ditetapkan WHO, 2005 adalah 20%, sedangkan saat ini prevalensi balita pendek di seluruh propinsi masih di atas 20%. Artinya semua propinsi masih dalam kondisi bermasalah kesehatan masyarakat.

Mengacu pada Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015, sasaran pembangunan pangan dan gizi pada tahun 2015  yaitu menurunkan prevalensi gizi kurang balita menjadi 15,5% dan prevalensi balita pendek menjadi 32%, artinya sampai tahun 2015 kita masih harus menurunkan 3,6%.  Walaupun secara nasional belum mencapai target prevalensi balita pendek, namun sudah ada 11 propinsi yang sudah berhasil mencapai target yaitu Jambi (30,2%), Bangka Belitung (29,0%), Bengkulu (31,6%), Kepulauan Riau (26,9%), DKI Jakarta (26,6%), DI. Yogyakarta (22,5%), Bali (29,3%), Kalimantan Timur (29,1%), Sulawesi Utara (27,8%), Maluku Utara (29,4%) dan Papua (28,3%).

Apakah gizi buruk disebabkan stunting. Memang “Tidak”., karena prevalensi Stunting kita 35,6%, sedangkan gizi buruk 4,9%.Namun anak stunting bila tidak dipantau pertumbuhannya dapat menderita gizi buruk.

Bagaimana balita pendek berkontribusi terhadap prevalensi gizi kurang ?

Dari gambar di atas, kita akan tercengang melihat banyaknya anak pendek normal (25,3%), yang kalau dikaji berdasarkan berat badan menurut umur sebenarnya beratnya di bawah normal, artinya sebagai penyumbang underweight. Tetapi karena pendek, maka anak ini tetap dikategorikan normal. Bahayanya bila intervensi dan perencanaan kita berdasarkan berat badan menurut umur dan anak ini diberikan terus Makanan Pendamping ASI, maka dia akan masuk pada kategori pendek gemuk dan hal ini menjadi bumerang lagi buat kita, karena sudah menimbulkan masalah baru, yaitu kegemukan. Dalam gambar di atas terlihat prevalensi gemuk pendek (7,6%) hampir dua kali lebih tinggi dari normal gemuk (4,8%)

Bagaimana kronologis terjadinya balita stunting ?

Terjadinya stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah dua tahun  baru terlihat ternyata balita tersebut pendek Masalah gizi yang kronis pada balita disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat orang tua/keluarga tidak tahu atau belum sadar untuk memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anaknya. Riskesdas 2010 menemukan bahwa ada 21,5% balita usia 2-4 tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16% yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat dan tinggi badan.

Pada ibu hamil juga terdapat 44,4% yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 49,5% wanita hamil yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan janin yang dikandungnya.

Selain asupan yang kurang, seringnya anak sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan. Sanitasi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak melalui peningkatan kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang sering sakit akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi pendek.

Dari hasil Riskesdas, 2010 lebih dari setengah (54,9%) masyarakat kita memiliki akses sumber air minum tidak terlindung. Hanya 55,5% masyarakat yang terakses dengan sanitasi, di perkotaan 71,4% dan pedesaan 38,5%. Penanganan sampah di masyarakat 52% dibakar dan penggunaan bahan bakar  arang dan kayu bakar 40,0%. Selain itu juga ternyata Dua dari 3 perokok kita (76,7%) merokok di rumah dan dampak dari semua ini berpotensi menyebabkan penyakit diare dan gangguan pernapasan pada balita.

Pendidikan ayah ternyata berdampak pada status ekonomi keluarga. Dari gambar di atas terlihat bahwa keluarga dengan pendidikan SD, pekerjaan tani, nelayan dan buruh serta status ekonomi paling rendah sangat berhubungan dengan tingginya prevalensi balita pendek. Artinya selain status gizi ibu yang pendek, faktor pendidikian yang berdampak pada status ekonomi keluarga sangat terkait dengan kejadian balita pendek. Keluarga yang berpendidikan akan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan, sehingga lebih terakses terhadap informasi khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi keluarganya.

Untuk status gizi orang tua, ternyata status gizi ibu yang sangat berkaitan dengan kejadian balita pendek. Terlihat dari ibu yang pendek sekalipun ayah normal, prevalensi balita pendek pasti tinggi, tetapi sekalipun ayah pendek tetapi ibu normal, prevalensi balita pendek masih lebih rendah disbanding ibunya yang pendek. Artinya status gizi ibu yang akan menjadi ibu hamil yang sangat menentukan akan melahirkan balita pendek.

Stunting merupakan indikator keberhasilan kesejahteraan, pendidikan dan pendapatan masyarakat.  Dampaknya sangat luas mulai dari dimensi ekonomi, kecerdasan, kualitas, dan dimensi bangsa yang berefek pada masa depan anak.

Hampir 70% pembentukan sel otak terjadi sejak janin masih dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Jika otak mengalami hambatan pertumbuhan, jumlah sel otak, serabut sel otak, dan penghubung sel otak berkurang. Dilihat dari tingkat keparahannya, anak usia 3 tahun yang stunting severe (-3<z≤2)  pada laki-laki memiliki kemampuan membaca lebih rendah 15 poin dan perempuan 11 poin dibanding yang stunting mild (z>-2).

Hal ini mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga prestasi belajar menjadi rendah dan  tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara pekerjaan  menjadi besar dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang berakibat penghasilan rendah (economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.

Strategi apa yang paling tepat untuk mencegah terjadinya balita stunting ini ?

Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani masalah gizi di masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih harus bekerja keras untuk menurunkan prevalensi balita pendek sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.

Bagaimana caranya ?

Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil kemungkinannya.  Maka peluang besar untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita yang dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar tidak semakin berat.

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungandengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting.

Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses  keluarga terhadap daya beli pangan dan biaya berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah terjadinya balita stunting.

FOKUS KITA

Jika kita berhasil menurunkan prevalensi pendek (TB/U) 1% akan diikuti penurunan prevalensi berat kurang (BB/U) 0,5%, sehingga pada untuk tahun 2011-2014 dengan penurunan 4% prevalensi balita pendek dapat menurunkan 2% prevalensi balita berat kurang. Artinya pada tahun 2015, target MDG’s prevalensi balita pendek sebesar 32% dapat tercapai, karena kita berhasil menurunkan 35,6% menjadi 31,6%.

Renungan bagi kita, apakah upaya yang kita lakukan sudah “fokus” ?