Blog Archives

Kegemukan – New World Syndrome

Sebagian besar “orang-orang dulu” atau yang kini menjadi orang-orang tua kita memiliki gaya hidup “tradisional” yang dilakukannya dari dulu hingga sekarang. Karena gaya hidup seperti itulah banyak diantara mereka terlihat tidak gemuk atau kurus sama sekali. Berdasarkan penelitian Brown (1991), tidak adanya kasus obes pada populasi tipe pemburu-pengumpul karena pada masa itu keluaran energi sangat tinggi dan ketersediaan makanan masih jarang, tidak seperti sekarang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, di sebagian besar populasi-terutama di negara maju-telah terjadi “modernisasi” besar-besaran dan memberikan dampak awal pada lingkungan dan pada gaya hidup dalam 50-60 tahun terakhir. Aspek-aspek tersebut adalah:

  • Transportasi – terjadi peningkatan pemilikan kendaraan bermotor secara dramatis, hal ini berarti bahwa semakin banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi, meski berpergian dengan jarak dekat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan tersebut dibandingkan bersepeda atau jalan kaki.
  • Di rumah – Saat ini banyak peralatan rumah tangga yang sangat memudahkan pekerjaan rumah tangga. Misalnya alat memasak rumah tangga, membuat proses memasak lebih hemat waktu dan tenaga. Begitu pula dengan alat membersihkan rumah, tidak lagi menggunakan sapu untuk atau lap untuk membersihkan debu dan kotoran rumah, tetapi vacuum cleaner membuat rumah bersih lebih cepat dan mudah. Jika orang dulu mencuci pakaian dengan menyikat, menggosok, memeras pakaian kini dipermudah dengan bantuan mesin cuci otomatis, mulai dari cuci hingga mengeringkan pakaian.
  • Tempat umum – Penyediaan fasilitas umum yang membuat orang lebih sedikit gerak, misalnya tersedianya lift, escalator di berbagai sarana umum. Bahkan membuka pintu pun saat ini sudah otomatis. Semuanya di disain untuk mempermudah manusia sehingga efektif dalam waktu akan tetapi membuat lebih banyak energi yang tersimpan.
  • Gaya hidup sedentari – Pola hidup sedentari meliputi kebiasaan menonton televisi, bermain video games, menggunakan computer, kebiasaan duduk yang lama, bahkan menggunakan media komunikasi telepon genggam seperti mengirim pesan dan menelpon termasuk perilaku sedentari. Tidak sama dengan 10-15 tahun yang lalu, saat ini semua device tersebut sangat mudah dan murah untuk didapatkan. Gaya hidup sedentari juga dikaitkan dengan kebiasaan mengemil, karena cenderung orang-orang yang memiliki waktu nonton televisi lebih lama akan disertai dengan mengonsumsi makanan ringan yang mengandung energi dan lemak.
  • Tinggal di daerah urban (kota) – di daerah perkotaan negara-negara yang makmur, anak-anak, wanita, dan orang tua akan enggan untuk keluar malam hari karena alasan ketakutan akan keamanan mereka. Anak-anak juga cenderung takut untuk bermain diluar bagi yang tinggal di daerah kota karena risiko bahaya di jalanan. Sehingga bagi sebagian besar masyarakat diperkotaan untuk mengisi waktu luang, mereka pergi menggunakan kendaraan untuk jalan-jalan dibandingkan melakukan kegiatan fisik seperti olahraga rutin.
  • Tinggal di daerah suburban (/pinggiran kota) – didaerah suburban telah terjadi transisi lingkungan, dimana yang awalnya masih di dominasi dengan kendaraan yang menggunakan tenaga fisik seperti sepeda kini mengalami pertumbuhan jumlah kendaraan yang cukup dramatis. Perubahan pola makan juga terjadi dengan berkembangnya minimarket, restoran fast food, dan jajanan tidak sehat.
  • Tinggal di daerah rural (desa) – Peningkatan obesitas di perkotaan memang terjadi secara signifikan, dan prevalensi obesitas di perkotaan masih lebih banyak dibandingkan di pedesaan. Namun bukan berarti tidak terjadi peningkatan obesitas di pedesaan, justru kenaikan obesitas di daerah pedesaan sangat ekstrim dibandingkan di perkotaan. Hanya karena pada awalnya kasus obesitas di pedesaan hampir tidak ada, sehingga peningkatan ekstrim tersebut masih terlihat kecil. Menurut penelitian Hodge et al., (1994) bahwa terjadi kenaikan prevalensi obesitas sekitar 297% pada laki-laki dan 115% pada perempuan pada masyarakat pedesaan di daerah Samoa barat.

Kini makanan berlebih dan pengeluaran energi secara keseluruhan pada kehidupan modern menjadi lebih sedikit karena modernisasi tersebut. Proses modernisasi dari beberapa aspek tersebut nyata terjadi di negara-negara berkembang tidak terkecuali di Indonesia. Perlu diketahui bahwa beban ganda masalah gizi ada di hadapan kita semua, dan menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk diselesaikan. Saat ini kasus gizi buruk telah berkurang dengan signifikan tetapi masih tetap banyak, sedangkan kasus gizi lebih yang ditandai dengan berat badan berlebih bertambah dengan signifikan dan diprediksi akan menjadi banyak seiring waktu berjalan. Pada tahun 2010 peningkatan obesitas terjadi secara ekstrim, dan kita ketahui bahwa obesitas menjadi gelombang awal untuk masuk dalam ranah klasifikasi non communicable disease atau penyakit tidak menular, inilah yang disebut “New world syndrome” yang menjadi perhatian secara global baik di negara maju maupun negara berkembang.

Referensi :

  1. WHO Consultation (2000). Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of WHO. Geneva.
  2. Brown PJ. (1991). Culture and the evolution of obesity. Human nature, 2:31-57.
  3. Hodge AM. et al. (1994). Dramatic increase in the prevalence of obesity in Western Samoa over 13 year period 1978-1991. International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders, 18: 419-428.

APA ITU GIZI ?

zat-zat gizi dapat diperoleh dari aneka ragam makanan

Seperti yang sering kita dengar sebelumnya bahwa ilmu gizi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai makanan dan interaksinya dengan organisme yang mengonsumsinya dengan tujuan sebagai pemeliharaan dan peningkatan kesehatan organisme. Selain itu, gizi juga merupakan kombinasi dari proses dimana semua bagian tubuh menerima dan memanfaatkan material yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya dan juga untuk pertumbuhan peremajaan komponen-komponen tubuh. Berikut beberapa istilah yang sering berkaitan dengan gizi.

  • Makanan, merupakan substansi yang dimasukkan dalam tubuh yang akan membantu tubuh memenuhi kebutuhan energi, pemeliharaan kesehatan, pertumbuhan, dan reproduksi.
  • Gizi optimum, berarti bahwa setiap orang menerima dan memanfaatkan zat-zat gizi esensial dalam proporsi yang sesuai dengan kondisi tubuh dan juga mampu menyediakan cadangan bagi tubuh.
  • Status gizi, adalah suatu kondisi dari tubuh yang merupakan suatu bentuk akumulasi intake zat-zat gizi melalui makanan yang dikonsumsi tubuh. Status gizi berhubungan dengan konsumsi dan pemanfaatan zat-zat gizi, sehingga memungkinkan status gizi setiap orang berbeda-beda.
  • Status gizi baik, merujuk pada asupan makanan yang baik dan seimbang, yang memenuhi semua kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Orang dalam kondisi seperti ini bisa juga dikatakan telah menerima gizi optimum.
  • Status gizi buruk, merujuk pada asupan makanan yang tidak adequate atau bahkan asupan yang berlebih atau rendahnya penyerapan zat-zat gizi oleh tubuh sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Makan berlebihan dapat juga menghasilkan status gizi yang buruk bagi seseorang.
  • Malnutrisi, merujuk pada efek fisik pada tubuh seseorang akibat intake makanan yang tidak adekuat dalam hal jumlah dan kualitas.
  • Gizi kurang, adalah suatu kondisi yang diakibatkan oleh rendahnya asupan makanan. Biasanya kondisi ini karena asupan makanan seseorang tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolic basalnya (BMR) yaitu energi minimum yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi fisiologis tubuh.
  • Zat gizi, adalah komponen kimia dari makanan yang menyediakan kebutuhan makanan bagi tubuh. Dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup dan mesti dikonsumsi secara teratur. Setiap zat gizi – protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air – masing-masing memiliki fungsi yang spesifik bagi tubuh. Namun secara umum, fungsi zat gizi adalah menyediakan energi bagi tubuh, membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, dan mengatur proses metabolisme tubuh.

Sumber : Nutrition and Dietetics 2nd edition, Joshi. 2002.

 

 

 

Short Course ISAGI Sulsel; Nutrition in dietary assessment

oleh Muh. Nur Hasan Syah S.Gz (Ketua ISAGI Sulsel)

peserta short course dietary assessment

Kamis, 28 Juni 2012, bertempat di ruang seminar Prodi Ilmu Gizi FKM Unhas, Ikatan Sarjana Gizi Indonesia ( ISAGI ) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan khusus bagi penggiat gizi, dengan Tema “ Be Good in Nutritional Assessment “. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua ISAGI SULSEL, MUh. Nur Hasan Syah, S.Gz. dan menghadirkan pemateri Healthy Hidayanti, SKM., M.Kes , beliau merupakan staf pengajar Prodi Ilmu Gizi FKM Unhas, yang telah mendapatkan materi langsung dari Rosalind S Gibson, Ph.d yang merupakan peneliti dan pengarang buku tentang penentuan status gizi. Pada kesempatan ini pemateri membagikan ilmu dan pengalaman yang telah didapatkan, dengan materi ; Evaluasi kecukupan Zat Gizi Individu ; Pedoman untuk memilih metode konsumsi yang tepat ; Error pengukuran dalam penilaian konsumsi makanan dan mengontorlnya ; Metode penilaian konsumsi makanan ; dan Evaluasi kecukupan zat gizi individu dan kelompok. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari.

Pelatihan ini akan dibagi beberapa kelas yang disajikan dalam bentuk small discussion class, dengan peserta yang terbatas tiap kelasnya, maksimal 15 peserta/kelas. Pelaksanaan kelas pertama, menghadirkan para sarjana gizi, dosen dari prodi ilmu gizi, dan juga penggiat gizi lainnya. Pada hari pertama disajikan berbagai teori mengenai survei konsumsi pada individu/kelompok dan hari kedua melanjutakn materi teori kemudian praktek dengan menggunaan software pc-site.  Salah satu peserta yaitu Abdul Salam, SKM, M.Kes yang juga merupakan dosen prodi Ilmu Gizi FKM Unhas, mengutarakan alasannya untuk mengikuti pelatihan ini, Abdul mengatakan “Saya ikut pelatihan ini untuk menambah wawasan/ilmu pengetahuan terutama dalam hal menentukan metode penilaian konsumsi kelompok/individu yan tepat“ . Peserta lain, Sigit, S.Gz mengatakan “Pelatihan dengan diskusi ini sangat bagus, apalagi diskusi langsung bersama dosen dan fasilitator yang telah belajar langsung dari Mrs. Gibson. Dari diskusi ini kami telah mengetahui beberapa kesalahan-kesalahan yang ternyata telah dilakukan selama ini. Dan semoga dengan pelatihan ini salah satu keluaran yang diharapkan yaitu kesalahan-kesalahan tersebut dapat diminimalkan bahkan dihilangkan“.

Pelatihan ini berlangsung sangat kekeluargaan dari awal sampai penutupan kelas, sesuai dengan visi dan misi ISAGI. Tidak ada perbedaan status, jabatan dan pangkat yang dirasakan semua menjadi satu dan belajar bersama guna mendapatkan penetahuan baru. (Anca)

Yuk Cegah stunting

oleh Asry Dwi Muqni S.Gz

Stunting sebagai pinta masuk penyakit tidak menular

Orang tua mana yang tidak meginginkan buah hati mereka tumbuh sehat dan cerdas. Berbagai upaya dilakukan demi pertumbuhan dan perkembangannya yang optimal. postur tubuh yang ideal menggambarkan tubuh anak yang sehat dan dapat dinilai secara fisik dan penampilan luar. Masa balita dikenal sebagai periode emas pertumbuhan anak. Dan tahukah Anda Bunda, semua berawal dan bergantung pada Anda!!!

Bayi yang lahir dengan status gizi baik lahir dari ibu dengan status gizi baik pula. status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan menjadi pondasi utama di awal kehidupan. Ibu yang sejak awal mengalami KEK (kurang Energi kronik) akan lebih beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu berat badan bayi <2500gr. sebuah hasil studi di salah satu rumah sakit bersalin Makassar menyebutkan bahwa terdapat hubungan ukuran lingkar lengan atas (LILA) ibu dengan berat badan lahir bayi. Dimana ibu dengan LILA <23cm melahirkan bayi dengan berat badan yang lebih ringan (meski tidak selalu BBLR) dibandingkan dengan ibu dengan LILA ≥23,5cm. Bayi yang BBLR menandakan kurang terpenuhinya kebutuhan zat gizi dan beresiko lebih tinggi terhadap kematian bayi (IMR), penyakit kronis pada usia dewasa, keterlambatan mental dan pertumbuhan yang lambat karena kondisi kekurangan gizi yang berisiko mengakibatkan balita menderita KEP. Beberapa penelitian yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa bayi yang BBLR berkali-kali beresiko memiliki status gizi kurang pada usia 1-5 tahun dibandingkan yang tidak BBLR, penelitian yang lain juga menyebutkan bahwa anak yang BBLR pertumbuhan dan perkembangannya lebih lambat dari anak dengan BBLN (normal) terlebih lagi bila diperburuk oleh kurangnya asupan energi dan zat gizi, pola asuh yang kurang baik dan sering menderita penyakit infeksi.

Postur tubuh yang ideal dapat dinilai dengan pengukuran antropometri untuk memastikan apakah komponen tubuh sesuai dengan standar normal atau ideal. Antropometri yang paling sering digunakan adalah rasio berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) terhadap umur. Pada balita pemantauan dan pengukuran antropometri menjadi sangat penting karena akan memberikan informasi utamanya kepada para ibu untuk memperhatikan asupan gizi anaknya. Karena status gizi mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan akan zat gizi dengan asupan zat gizi yang diterima oleh tubuh yang dapat mengindikasikan apakah balita tersebut menderita KEP. Status gizi yang diukur berdasarkan rasio BB/U menggambarkan keadaan masa sekarang karena merupakan outcome saat ini. Sedangkan yang diukur berdasarkan TB/U menggambarkan keadaan masa lampau karena merupakan akumulasi status gizi sejak lahir sampai sekarang. Berat badan kurang (wasting) hanya bersifat akut dan tinggi badan yang kurang atau pendek (stunting) bersifat kronik.

Stunting dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi retardasi pertumbuhan akibat defisiensi zat gizi saat dalam kandungan. Artinya ibu yang kurang gizi sejak awal kehamilan hingga lahir akan beresiko melahirkan anak BBLR yang juga beresiko menjadi stunting. Salah satu studi yang dilakukan di Kelurahan Tamamaung Makassar menunjukkan hubungan bermakna antara BBLR dengan kejadian stunting terhadap balita di keluraahan tersebut.

Karena masalah gizi dapat terjadi di semua periode atau siklus kehidupan dan masalah gizi yang terjadi disalah satu siklus akan mempengaruhi atau mengakibatkan masalah gizi yang lain di siklus selanjutnya, maka dari itu sangat perlu mempersiapkan gizi yang baik demi kualitas hidup yang lebih baik. Penuhi kebutuhan gizi dan hidup sehat. Utamanya bagi Anda calon ibu yang akan melahirkan anak-anak yang sehat dan hebat karena semua berawal dari Anda.

Stunting

dikutip dari http://www.gizikia.depkes.go.id

UMUR SAMA,,TINGGI BADAN BERBEDA…..

  Mengapa stunting menjadi penting? Selain karena jumlahnya yang cukup tinggi di Indonesia, ternyata stunting menggambarkan kejadian kurang gizi pada balita yang berlangsung dalam waktu yang lama dan dampaknya yang bukan hanya secara fisik, tetapi justru pada fungsi kognitif .

Apa yang dimaksud dengan stunting dan bagaimana cara mengukurnya ?

Bila kita merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tanggal 30 Desember 2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian Pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely

Dengan kata lain stunting dapat diketahui bila  seorang balita sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.

Bagaimana sebaran balita pendek di Indonesia ?

Pendek dan sangat pendek menggambarkan bahwa kita masih menghadapi masalah gizi kurang kronis.

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, walaupun prevalensi gizi kurang dan buruk telah mengalami penurunan dari 18,4% tahun 2007 menjadi 17,9% tahun 2010, namun kita masih memiliki 35,6% balita pendek. Prevalensi Balita pendek terdiri dari sangat pendek 18,5% dan pendek 17,1%. Penurunan terjadi pada balita pendek dari 18,0% menjadi 17,1% dan balita sangat pendek dari 18,8% menjadi 18,5%.

Kita masih harus bekerja keras mengatasi stunting ini, karena batas non public health yang ditetapkan WHO, 2005 adalah 20%, sedangkan saat ini prevalensi balita pendek di seluruh propinsi masih di atas 20%. Artinya semua propinsi masih dalam kondisi bermasalah kesehatan masyarakat.

Mengacu pada Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015, sasaran pembangunan pangan dan gizi pada tahun 2015  yaitu menurunkan prevalensi gizi kurang balita menjadi 15,5% dan prevalensi balita pendek menjadi 32%, artinya sampai tahun 2015 kita masih harus menurunkan 3,6%.  Walaupun secara nasional belum mencapai target prevalensi balita pendek, namun sudah ada 11 propinsi yang sudah berhasil mencapai target yaitu Jambi (30,2%), Bangka Belitung (29,0%), Bengkulu (31,6%), Kepulauan Riau (26,9%), DKI Jakarta (26,6%), DI. Yogyakarta (22,5%), Bali (29,3%), Kalimantan Timur (29,1%), Sulawesi Utara (27,8%), Maluku Utara (29,4%) dan Papua (28,3%).

Apakah gizi buruk disebabkan stunting. Memang “Tidak”., karena prevalensi Stunting kita 35,6%, sedangkan gizi buruk 4,9%.Namun anak stunting bila tidak dipantau pertumbuhannya dapat menderita gizi buruk.

Bagaimana balita pendek berkontribusi terhadap prevalensi gizi kurang ?

Dari gambar di atas, kita akan tercengang melihat banyaknya anak pendek normal (25,3%), yang kalau dikaji berdasarkan berat badan menurut umur sebenarnya beratnya di bawah normal, artinya sebagai penyumbang underweight. Tetapi karena pendek, maka anak ini tetap dikategorikan normal. Bahayanya bila intervensi dan perencanaan kita berdasarkan berat badan menurut umur dan anak ini diberikan terus Makanan Pendamping ASI, maka dia akan masuk pada kategori pendek gemuk dan hal ini menjadi bumerang lagi buat kita, karena sudah menimbulkan masalah baru, yaitu kegemukan. Dalam gambar di atas terlihat prevalensi gemuk pendek (7,6%) hampir dua kali lebih tinggi dari normal gemuk (4,8%)

Bagaimana kronologis terjadinya balita stunting ?

Terjadinya stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah dua tahun  baru terlihat ternyata balita tersebut pendek Masalah gizi yang kronis pada balita disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat orang tua/keluarga tidak tahu atau belum sadar untuk memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anaknya. Riskesdas 2010 menemukan bahwa ada 21,5% balita usia 2-4 tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16% yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat dan tinggi badan.

Pada ibu hamil juga terdapat 44,4% yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 49,5% wanita hamil yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan janin yang dikandungnya.

Selain asupan yang kurang, seringnya anak sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan. Sanitasi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak melalui peningkatan kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang sering sakit akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi pendek.

Dari hasil Riskesdas, 2010 lebih dari setengah (54,9%) masyarakat kita memiliki akses sumber air minum tidak terlindung. Hanya 55,5% masyarakat yang terakses dengan sanitasi, di perkotaan 71,4% dan pedesaan 38,5%. Penanganan sampah di masyarakat 52% dibakar dan penggunaan bahan bakar  arang dan kayu bakar 40,0%. Selain itu juga ternyata Dua dari 3 perokok kita (76,7%) merokok di rumah dan dampak dari semua ini berpotensi menyebabkan penyakit diare dan gangguan pernapasan pada balita.

Pendidikan ayah ternyata berdampak pada status ekonomi keluarga. Dari gambar di atas terlihat bahwa keluarga dengan pendidikan SD, pekerjaan tani, nelayan dan buruh serta status ekonomi paling rendah sangat berhubungan dengan tingginya prevalensi balita pendek. Artinya selain status gizi ibu yang pendek, faktor pendidikian yang berdampak pada status ekonomi keluarga sangat terkait dengan kejadian balita pendek. Keluarga yang berpendidikan akan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan, sehingga lebih terakses terhadap informasi khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi keluarganya.

Untuk status gizi orang tua, ternyata status gizi ibu yang sangat berkaitan dengan kejadian balita pendek. Terlihat dari ibu yang pendek sekalipun ayah normal, prevalensi balita pendek pasti tinggi, tetapi sekalipun ayah pendek tetapi ibu normal, prevalensi balita pendek masih lebih rendah disbanding ibunya yang pendek. Artinya status gizi ibu yang akan menjadi ibu hamil yang sangat menentukan akan melahirkan balita pendek.

Stunting merupakan indikator keberhasilan kesejahteraan, pendidikan dan pendapatan masyarakat.  Dampaknya sangat luas mulai dari dimensi ekonomi, kecerdasan, kualitas, dan dimensi bangsa yang berefek pada masa depan anak.

Hampir 70% pembentukan sel otak terjadi sejak janin masih dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Jika otak mengalami hambatan pertumbuhan, jumlah sel otak, serabut sel otak, dan penghubung sel otak berkurang. Dilihat dari tingkat keparahannya, anak usia 3 tahun yang stunting severe (-3<z≤2)  pada laki-laki memiliki kemampuan membaca lebih rendah 15 poin dan perempuan 11 poin dibanding yang stunting mild (z>-2).

Hal ini mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga prestasi belajar menjadi rendah dan  tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara pekerjaan  menjadi besar dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang berakibat penghasilan rendah (economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.

Strategi apa yang paling tepat untuk mencegah terjadinya balita stunting ini ?

Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani masalah gizi di masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih harus bekerja keras untuk menurunkan prevalensi balita pendek sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.

Bagaimana caranya ?

Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil kemungkinannya.  Maka peluang besar untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita yang dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar tidak semakin berat.

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungandengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting.

Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses  keluarga terhadap daya beli pangan dan biaya berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.

Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah terjadinya balita stunting.

FOKUS KITA

Jika kita berhasil menurunkan prevalensi pendek (TB/U) 1% akan diikuti penurunan prevalensi berat kurang (BB/U) 0,5%, sehingga pada untuk tahun 2011-2014 dengan penurunan 4% prevalensi balita pendek dapat menurunkan 2% prevalensi balita berat kurang. Artinya pada tahun 2015, target MDG’s prevalensi balita pendek sebesar 32% dapat tercapai, karena kita berhasil menurunkan 35,6% menjadi 31,6%.

Renungan bagi kita, apakah upaya yang kita lakukan sudah “fokus” ?