Blog Archives

Implikasi perkembangan obesitas

obesitas memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan

Prevalensi obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun, sekarang ini hampir setengah dari populasi overweight dan obese. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang signifikan terhadap kesehatan karena akan meningkatkan resiko diabetes, penyakit jantung koroner, dan beberapa jenis kanker tertentu. Karena perkembangannya yang demikian pesatnya maka diprediksi di masa mendatang orang obese akan sangat banyak jumlahnya. Beberapa negara seperti di Kanada telah membuat suatu komite program yang ditugaskan untuk memantau dan melaporkan rata-rata pertumbuhan obesitas selanjutnya hingga tahun 2050 dan memprediksi konsekuensinya terhadap kesehatan, biaya pemeliharaan kesehatan, dan harapan hidup. Kekhawatiran dari pemerintah Kanada tersebut adalah estimasi obesitas hingga tahun 2050 mencapai 60% laki-laki dan 50% untuk perempuan dan sekitar 25% dari anak dibawah 16 tahun akan obese. Sekarang ini diseluruh negara di dunia telah menentukan target dan kebijakan untuk membendung pertumbuhan obesitas yang kian cepat. Dalam konteks ini, dietisien dan nutrisionis adalah posisi kunci yang berkontribusi dalam menanggulangi masalah obesitas.

Obesitas secara terminologi dapat didefinisikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), yang merupakan sebuah pengukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan, pada orang Asia jika IMT ≥25 maka sudah dikategorikan obesitas. Obesitas pada anak dan remaja biasanya didefinisikan berdasarkan jenis kelamin atau umur berdasarkan IMT ≥95% persentil kurva referensi menurut umur. Meskipun IMT biasanya digunakan untuk mengukur besarnya resiko kesehatan yang dihubungkan dengan obesitas, beberapa penelitian juga menganjurkan pengukuran dengan waist circumference dan waist to hip ratio karena metode tersebut juga yang reliable dalam mengestimasi besarnya resiko kesehatan yang dihubungkan dengan peningkatan berat badan (massa lemak abdominal). Metode ini juga cocok digunakan pada populasi orang Asia.

Beberapa orang secara genetik mengalami obesitas, tetapi penyebab mendasarnya adalah konsumsi kalori yang lebih (sumber energi) dari makanan dan minuman dibandingkan mengeluarkan kalori melalui aktivitas sehari-hari. Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa alasan utama terjadi peningkatan obesitas pada individu adalah perubahan kebiasaan makan dan gaya hidup sedentary. Fakto psikologi juga memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan dan pemeliharaan obesitas, seperti gelisah, depresi, trauma dan keadaan susah yang berkepanjangan, kurang percaya diri, dan masalah-masalah psikologi.

Implikasi dari obesitas perlu mendapat perhatian serius, karena ini menyangkut kesehatan individu di kemudian hari. Orang yang obesitas beresiko menjalani hidupnya dengan penyakit-penyakit non communicable disease yang sangat merugikan. Konsekuensinya sangat besar, aspek kesehatan, terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa penurunan 10% berat badan akan memberikan benefit kesehatan bagi orang obese yaitu terjadi penurunan tekanan darah, profil lipid, dan gula darah. Aspek ekonomi, sangat signifikan terhadap kebijakan kesehatan dan biaya medis seperti yang disampaikan Prof. Hamam Hadi. Obesitas akan memberikan beban baik secara langsung maupun dan tidak langsung terhadap perekonomian – secara langsung melalui pembiayaan medis sementara tidak langsung berhubungan penurunan produktivitas sumber daya manusia, aktivitas terbatas, dan yang paling ekstrim adalah kematian dini.

Sumber

  1. Hindle, Linda and Kendrick, David. Advancing Dietetics and Clinical Nutrition: Obesity. 2010. Elsevier Publisher.
  2. Jung RT. Obesity as disease. Bri. Med. Bull. 1997;53(20):307-321.

Obesitas Lebih Berbahaya daripada Kecelakaan Lalu Lintas

Berdasarkan data dari PBB bahwa ada sekitar 40.000 ribu jiwa yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2010. Demikian juga dilaporkan bahwa sekitar 31.000 jiwa meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan sekitar 70% berada di usia produktif. Tingginya angka kecelakaan tersebut membuat Indonesia sebagai negara nomor 2 setelah Nepal dalam jumlah kematian karena kecelakaan tersebut. Sedangkan Kecelakaan menempati peringkat ketiga dalam penyebab kematian di Indonesia setelah serangan jantung dan stroke.

Nah perlu kita ketahui bahwa serangan jantung dan stroke ini merupakan penyebab kematian yang terbanyak di Indonesia. Melihat dari data dan fakta bahwa kematian akibat stroke di Indonesia sebesar 26,9% dari total semua kematian sedangkan kematian karena serangan jantung adalah 26%. Angka tersebut sangatlah tinggi mengingat jika setiap tahunnya ada sekitar 100.000 kematian di Indonesia maka setengah diantaranya diakibatkan karena jantung dan stroke (Riskesdas 2007).

Sebenarnya jantung dan stroke merupakan outcome yang awalnya disebabkan karena obesitas. Obesitas divonis sebagai penyebab utama penyakit tidak menular di seluruh dunia. Bahkan WHO mengatakan bahwa kini epidemik obesitas diam-diam membunuh jutaan orang di seluruh dunia. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 388 juta orang akan meninggal akibat penyakit kronis di seluruh dunia di tahun 2020 (WHO, 2009).

Mari kita membandingkan dampak obesitas dengan kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Obesitas merupakan penyebab utama non communicable disease, kematian akibat NCD ini hampir 60% dari total kematian dari semua penyebab, sedangkan kematian karena kecelakaan menyumbang sekitar 6,5% dari semua penyebab. Obesitas juga dipengaruhi oleh heriditas, artinya orang tua yang obesitas kemungkinan menurunkan kepada anaknya sehingga menjadi sebuah siklus yang berkepanjangan jika tidak segera diatasi, faktanya sekarang dapat dilihat bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat tiap tahunnya baik didaerah perkotaan maupun pedesaan. Kecelakaan lalu lintas memiliki pengaruh langsung terhadap perekonomian Indonesia, sebagian besar yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas adalah kelompok usia produktif artinya kemungkinan mereka lah yang menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Keluarga yang hanya bergantung dari mereka yang meninggal karena kecelakaan tersebut justru akan memberikan tambahan beban negara.

Untuk mengatasi dampak dari keduanya baik obesitas maupun kecelakaan lalu lintas, pemerintah harus memiliki perencanaan dan strategi yang efektif dan efisien. Intervensi pada obesitas tidak akan efektif jika hanya diberikan penyuluhan saja, harus disertai dengan aktivitas fisik yang cukup, hindari fast food dan mengatur pola makan bergizi dan seimbang. Jadi pemerintah harus bisa menyediakan sarana dan prasarana yang baik agar masyarakat nyaman untuk berjalan kaki dan bersepeda. Selain itu perlunya suatu regulasi agar keberadaan fast food  tidak semakin menjamur. Sedangkan untuk mengatasi kecelakaan lalu lintas, pemerintah juga perlu menetapkan suatu regulasi yang memberikan efek jera kepada pengendara bukan yang hanya sifatnya aplikatif namun tidak ada power. Banyaknya aturan-aturan lalu lintas yang ada di Indonesia masih belum bisa memberikan efek jera kepada mereka, karena itu masih banyak kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di Indonesia.

Dari uraian diatas, sebenarnya tidak ada kaitan antara obesitas dengan kecelakaan lalu lintas. Hanya memberikan perbandingan besarnya angka kematian akibat keduanya, jika obesitas dapat menyumbang penyakit tidak menular yang memberi kontribusi sekitar 60% dari total kematian, kecelakaan lalu lintas juga cukup fatal dengan 6,5% dari total kematian di Indonesia. Jika pemerintah ingin menurunkan angka kematian di Indonesia, sebaiknya dimulai dari pencegahan obesitas, besarnya kemungkinan yang dapat diturunkan lebih menjanjikan dibandingkan dengan pencegahan kecelakaan lalu lintas. Belum adanya alokasi anggaran khusus untuk menangani obesitas di negara kita tentu saja akan sulit menurunkan prevalensi obesitas di Indonesia, sedangkan alokasi dana untuk membangun infrastruktur dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak sebagai upaya mencegah kecelakaan lalu lintas sangatlah besar. Memang pembangungan infrastruktur dan perbaikan jalan yang rusak sangat penting, namun pencegahan obesitas juga tidak dapat dilupakan justru harus mendapat prioritas utama mengingat dampaknya terhadap masyarakat Indonesia sangat merugikan.

Non Communicable Disease

Data WHO menunjukkan bahwa ada sekitar 58 juta total kematian di dunia dan diantaranya ada sekitar 35 juta kematian diakibatkan karena penyakit tidak menular (non communicable disease), serta sekitar 28 juta terjadi di negara miskin dan berkembang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa kematian karena non communicable disease (NCD) ini sangat besar yakni mencapai 60% dari total kematian karena semua penyebab dan lebih ironisnya lagi bahwa kematian karena NCD ini banyak terjadi di negara miskin dan yang sedang berkembang. Berdasarkan evidence based di semua negara bahwa non communicable disease seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, cancer, hipertensi ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Menurut proyeksi dari WHO yang didasari dari data tiap tahunnya bahwa pada tahun 2030 kematian akibat penyakit infeksi akan semakin jarang pada masyarakat menengah keatas, hal ini terlihat dari prevalensi penyakit menular yang terjadi penurunan tiap tahunnya. Namun untuk semua tingkatan sosial ekonomi, kejadian NCD ini akan terus meningkat tiap tahunnya, sehingga pada kelompok sosial ekonomi menengah kebawah akan dihadapkan pada communicable disease dan non communicable disease (double burden of disease).

Dilihat dari etiologinya, NCD dapat terjadi karena modifiable risk factor atau faktor yang dapat dikendalikan dan unmodifiable risk factor atau faktor yang tidak dapat dikendalikan. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan diantaranya adalah usia dan keturunan, sedangkan faktor yang bisa dikendalikan adalah diet yang tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan kurang aktivitas fisik. Sehingga untuk menghindari terkena NCD, seseorang harus dapat mengendalikan faktor resiko yang dapat dikontrol tersebut agar terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi, glukosa darah tinggi, serta kadar lipid dalam darah tinggi yang semuanya akan bermuara pada penyakit-penyakit tidak menular. Selain obesitas dan sindroma metabolik, salah satu pintu masuk terjadinya NCD yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah stunting.

Kondisi di Indonesia sangat memprihatinkan, berdasarkan data dari WHO (2011) bahwa kematian penduduk Indonesia karena NCD (30%) lebih tinggi dibandingkan angka secara global (25%). Sedangkan prevalensi anak yang pendek (stunted) di Indonesia sangat tinggi sekitar 36%, padahal stunting juga menjadi penyebab NCD. Prevalensi stunting secara global masih lebih rendah jika dibandingkan di Indonesia yaitu 32% atau sekitar 178 juta anak yang stunting. Namun tetap saja angka itu masih sangat tinggi, apalagi dampak dari stunting yang sangat merugikan. Indonesia menjadi kotributor nomor 5 penyumbang anak stunting di dunia.

Suatu bentuk intevensi untuk mencegah stunting harus dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan. Banyak penelitian di berbagai negara mengenai intervensi pada anak yang stunting dan hasilnya bahwa suatu intervensi akan sangat efektif untuk meningkatkan status gizi serta pertumbuhan dan perkembangannya jika dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan karena pada usia tersebut masa pertumbuhan anak sangat cepat. Sedangkan pada intervensi yang dilakukan setelah anak berusia 2 tahun hanya dapat memberikan kenaikan berat badan yang cepat, bukan pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga intervensi pada usia tersebut harus tetap mengontrol berat badannya karena kenaikan berat badan setelah fase gizi kurang/gizi buruk akan sangat cepat dan justru dapat menyebabkan obesitas yang nantinya beresiko menderita penyakit tidak menular yang berbahaya. Intervensi sebelum 2 tahun dapat menaikkan berat badan dengan cepat namun pertumbuhan tinggi badannya juga cepat sehingga pada akhirnya proporsinya akan tepat yakni berat badannya akan sesuai dengan tinggi badannya. Anak menjadi tidak stunting, perkembangan otaknya baik, lebih aktif dan produktif dan yang paling penting adalah resiko menderita NCD semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mencegah anak stunting dengan intervensi sebelum 2 tahun akan menjadi cara yang efektif untuk menurunkan resiko NCD pada fase usia berikutnya.

Berdasarkan hal tersebut maka WHO dan beberapa negara sepakat untuk membuat suatu kebijakan yang diimplementasikan menjadi sebuah gerakan untuk mencegah anak yang stunting sebagai upaya dalam menyelamatkan anak-anak dari lost generation. Gerakan tersebut adalah Scaling Up of Nutrition (SUN). SUN terbentuk sebagai upaya dalam mengatasi masalah gizi yang semakin serius terutama stunting, serta sebagai upaya dalam mendorong pencapaian MDG. MDG tidak akan tercapai tanpa adanya gerakan yang menaruh perhatian penuh pada gizi. Gerakan tersebut disebut Scaling Up of Nutrition (SUN), yang evidence base dari SUN berasal dari The Lancet Series (5 series on nutrition) yang telah menemukan isu-isu masalah gizi di berbagai negara. Dalam framework action SUN, yang menjadi fokus perhatiannya adalah pada “window of opportunity” yang dimulai sejak dalam kandungan hingga 24 bulan (sama seperti fokus dari intervensi Lancet).

Berdasarkan publikasi Barker (2012) dalam teorinya tentang transgenerational roots of chronic disease, bahwa suatu perencanaan gizi yang baik apabila dimulai sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun dan hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi generasi berikutnya hingga 100 tahun kemudian. Artinya bahwa kondisi yang sekarang ini terjadi seperti tingginya anak yang stunting dan banyaknya orang yang terkena NCD sebagai dampak dari perilaku gizi dan intervensi gizi yang dilakukan 100 tahun yang lalu. Seribu hari pertama kehidupan anak menjadi penentu kehidupannya di fase usia berikutnya serta transgenerational NCD hingga 100 tahun kedepan. Masih menurut Barker, sekarang ini PJK, DM tipe 2, kanker payudara, serta penyakit kronik lainnya tidak perlu lagi diyakini sebagai suatu penyakit yang didapatkan dari heredity/keturunan serta proses evolusi yang panjang dari ribuan tahun lalu. Penyakit tersebut sebagian besar justru dipengaruhi lingkungan, dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan, dan peningkatan status gizi pada remaja laki-laki dan perempuan.

Terkait dengan sektor lainnya, kemiskinan juga perlu untuk dihilangkan karena paparan terhadap modifiable risk factor akan terus meningkat pada kelompok masyarakat miskin. Dengan demikian perlu suatu intervensi sensitif dari berbagai sector untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Dengan menyelesaikan masalah kemiskinan, secara tidak langsung akan mencegah anak stunting, obesitas, serta sindroma metabolik yang merupakan pintu masuk terjadinya non communicable disease. Hal ini telah dicontohkan Brazil sebagai negara berkembang yang berhasil meningkatkan pendapatan perkapita menjadi 14.000 USD dan yang terjadi sekarang adalah anak yang stunting serta kematian akibat non communicable disease telah menurun di negara tersebut.

Sumber : dirangkum dari kuliah umum Prof A. Razak Thaha di UGM

Email : andiimam.arundhana@gmail.com