Blog Archives

Seri obesitas : yodium dan perubahan berat badan

Dalam menjalankan fungsi metabolismenya, tubuh memerlukan berbagai macam mikronutrien dari kelompok vitamin dan mineral. Salah satu mineral makro yang penting dalam siklus kehidupan manusia adalah iodine (yodium). Fungsi yodium adalah untuk sintesa hormon tiroid yang mempengaruhi kelenjar tiroid. Kekurangan yodium pada anak sering dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, apabila anak mengalami defisiensi yodium maka dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Sedangkan pada orang dewasa, kekurangan yodium bisa menyebabkan goiter atau gondok, menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup seseorang. Gangguan-gangguan tersebut, baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak disebut dengan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) atau Iodine deficiency disorder.

Selain dampaknya terhadap berbagai macam masalah kesehatan, ada satu hal yang perlu mendapat perhatian yaitu pengaruh yodium dengan Obesitas. Bagaimana mekanismenya mengapa sampai iodine deficiency disorders dapat menyebabkan obesitas, apakah terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Gangguan karena yodium dapat menyebabkan hipertiroid maupun hipotiroid, namun jika defisiensi yodium terjadi hal tersebut lebih dikatikan pada penyakit hipotiroid. Orang yang hipotiroid cenderung metabolisme tubuhnya lambat, apabila metabolisme lambat kemudian aktivitas fisik kurang akan menyebabkan terjadinya penumpukan lemak dan pada akhirnya menjadi obesitas. Karena kalori yang dibutuhkan menurun akibat adanya perubahan metabolisme, meskipun intakenya tidak berlebihan berdampak pada perubahan berat badan. Oleh karena itu, pada orang obese yang mengalami kesulitan menurunkan berat badan meskipun telah menerapkan pola makan sehat dengan porsi kecil kemungkinannya akan mengalami kekurangan yodium. Walaupun pola makan telah teratur namun juga terjadi penurunan kebutuhan basal akibat perubahan metabolic rate tubuh karena gangguan yodium.

Suatu studi yang dilakukan oleh Caroline et al. (2008) yaitu pemberian treatment Thyroid Hormone Therapy pada pasien yang hipertiroid dan hipotiroid dan memberikan hasil yang positive dari mekanisme metabolisme orang-orang yang mengalami gangguan yodium tersebut. Orang yang hipotiroid cenderung mengalami penurunan berat badan ketika diberikan treatment tiroid, begitupula orang yang hipertiroid mengalami kenaikan berat badan setelah diberikan treatment. Ada 3 potensi mekanisme yang mungkin terjadi, yaitu energy expenditure, thermogenesis, dan fungsi dari tiroid itu sendiri. Konsentrasi serum triiodotironin yang rendah menyebabkan penurunan metabolisme tubuh, dan penurunan energi yang keluar seperti yang telah disebutkan di atas. Memang masih perlu dilakukan penulusuran referensi lebih jauh lagi mengenai kaitan antara kekurangan yodium dengan obesitas, karena hubungan antara keduanya bersifat inverse. Kami berkesimpulan bahwa yodium secara tidak langsung berdampak pada terjadinya kenaikan berat badan yang jika terjadi dalam waktu yang lama akan menyebabkan obesitas. Mekanismenya berkaitan dengan metabolisme rate tubuh dan hormon tiroid.

andiimam.arundhana@gmail.com

Referensi

Caroline et al. Relations of Thyroid Function to Body Weight. 2008

Obesity and adipose tissue

Jaringan Adiposit merupakan jaringan lemak yang berfungsi menyimpan cadangan lemak yang siap digunakan (trigliserida) di dalam tubuh. Jaringan adipose mensekresi hormon-hormon  yaitu leptin, resistin, dan TNF-α. Selain itu adiposit mengeluarkan zat yang dinamakan adipositokin, yang memiliki efek terhadap obesitas. Leptin dan resistin memiliki mekanisme yang saling bertolak belakang. Fungsi dari adiposity selain menyimpan cadangan lemak tubuh, juga berfungsi melindungi tubuh dari suhu panas dan dingin, serta melapisi dan melindungi organ tubuh. Terdapat 2 jenis sel adipose yaitu sel brown adipose tissue dan white adipose tissue, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Leptin merupakan suatu peptide yang disekresi oleh jaringan adipose yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan energi (homeostatis), dan menekan nafsu makan ketika tubuh sudah merasa cukup energi, mekanisme kerja leptin terjadi di hipotalamus. Orang obese cenderung memiliki kadar leptin yang sedikit dalam hipotalamus, hal ini karena pada orang obese terjadi gangguan transport leptin ke otak akibatnya terjadi resistensi leptin. Apabila tubuh rendah asupan makananannya, leptin akan mengirimkan sinyal ke otak dan mengatur pencadangan lemak tubuh. Ketika tubuh kurang berenergi karena kurangnya asupan makanan, maka cadangan lemak akan digunakan untuk kemudian diubah menjadi energi begitu pula sebaliknya. Mekanisme ini diatur oleh leptin, oleh sebab itu peningkatan kadar leptin akan menyebabkan penurunan asupan makanan, selain itu juga akan menurunkan kadar neuropeptida Y yang menekan appetite atau nafsu makan.

Orang obese umumnya memiliki gangguan resistensi leptin sehingga akan menimbulkan pula gangguan pada mekanisme leptin dalam mengatur nafsu makan. Oleh karena itu sering kita jumpai orang obesitas akan mengalami kesulitan ketika melakukan diet ketat. Selain regulasinya dalam pengaturan signal, leptin juga dikenal sebagai hormone yang dapat meningkatkan sensitivitas dari insulin. Orang obese sebagian besar mengalami resistensi insulin karena kadar leptin dalam tubuh cenderung sedikit.

Resistin merupakan salah satu adipositokin yang dihasilkan di jaringan adipose yang memiliki mekanisme bertolak belakang dengan leptin. Kalau pada leptin akan meningkatkan sensitivitas insulin dan menekan nafsu makan, resistin cenderung dapat menyebabkan obesitas dan meningkatkan resistensi insulin. Resistin mengurangi kerja insulin dalam menjalankan mekanisme kerja glukosa dalam tubuh, akibatnya justru mengurangi sensitivitas insulin yang lama kelamaan akan memunculkan efek resistensi. Namun penelitian-penelitian yang membuktikan teori tersebut masih berlaku pada tikus. Dari suatu penelitian, mencit yang mengekspresikan resistin secara berlebihan akan memberikan efek gangguan pada insulin dalam mengatur transportasi glukosa. Selain dampaknya pada resistensi insulin, resistin juga berhubungan dengan inflamasi.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa jaringan adipose dapat di analogikan seperti sebuah gudang yang berisi simpanan-simpanan energi. Dalam mengatur tertibnya penggunaan dan penyimpanan di dalam gudang tersebut, adipose menggunakan bantuan dengan mensekresi leptin, resistin dan adiponektin, dan pro inflamasi lainnya. leptin merupakan hormon yang terlibat dengan metabolisme energi dan sensitivitas insulin (anti-inflammatory), sedangkan resistin terlibat dengan inflamasi (pro-inflammatory) dan resistensi insulin. Namun keduanya sama-sama berkaitan dengan obesitas baik obesitas perifer maupun obesitas visceral.

Sumber :

Permana, Hikmat. Sel Adiposit sebagai organ endokrin. Bandung.

Marfianti, Erlina. Perbedaan kadar resistin pada obese dengan resistensi insulin dan obese tanpa resistensi insulin. JKKI; 2006.

Megawati, Tjhi. Perbedaan kadar resistin antara penderita dengan dan tanpa penyakit jantung koroner, Semarang, 2008.