Blog Archives

ASSESSMENT: OBESITY MATRIX

OBESITY MATRIX – KONSEP BARU PENGKLASIFIKASIAN OBESITAS

Banyak metode yang dilakukan untuk menentukan kriteria obesitas dan overweight seperti tebal lipatan kulit (skinfold-thickness), linggar pinggang (LP), Indeks Brocca, Berat badan relatif (Relative Body Weight) dan Indeks massa tubuh (IMT). Instrument yang paling umum digunakan dalam skrining obesitas dan overweight pada orang dewasa adalah IMT, juga direkomendasikan untuk skrining obesitas dan overweight pada remaja. Meskipun saat ini masih sangat umum digunakan untuk mengklasifikasikan obesitas adalah IMT, tetapi tidak dapat menghitung jumlah distribusi lemak tubuh dan memiliki keterbatasan dalam memprediksikan akumulasi lemak di sekitar perut. Padahal distribusi lemak di sekitar perut dan beberapa bagian tubuh lainnya penting untuk diketahui karena menyangkut kondisi patofisiologi untuk memprediksikan risiko penyakit kronik. Dibandingkan dengan IMT, yang paling memungkinkan untuk menghitung akumulasi lemak tubuh (obesitas abdominal) tersebut adalah lingkar pinggang/lingkar perut. Oleh karena itu, LP merupakan indeks yang lebih baik untuk mengevaluasi obesitas dibandingkan IMT. Meskipun demikian, keduanya reliable dalam mengklasifikasikan obesitas, baik pada remaja, dan orang dewasa. Untuk anak-anak, pengukuran menggunakan IMT lebih tepat.

Suatu metode yang dikembangkan oleh Hung et al., (2012) untuk mengklasifikasikan obesitas adalah dengan mengkombinasikan kelebihan-kelebihan dari IMT dan LP menggunakan matriks (obesity matrix). Matriks tersebut merupakan penggabungan dari cut off point IMT dan LP, cut-off poin tersebut membagi matriks menjadi 4 kuadran yaitu; kuadran I (Normal), kuadran II (Overweight), kuadran III (Obesitas sentral), dan kuadran IV (Obesitas). Masing-masing cut-off dari kuadran tersebut adalah; kuadran I (IMT<cut off dan WC<cut off) diklasifikasikan sebagai normal, kuadran II (IMT>cut off dan WC<cut off) diklasifikasikan overweight, kuadran III (IMT<cut off dan WC>cut off) diklasifikasikan obesitas sentral, dan kuadran IV (IMT>cut off dan WC>cut off) diklasifikasikan obesitas.

Interpretasi dari matriks obesitas ini juga menggunakan gabungan dari interpretasi IMT dengan LP. Orang tersebut normal jika memiliki IMT dan LP dibawah cutoff, disebut overweight jika kelebihan berat badan diseluruh bagian tubuh. Orang disebut obesitas sentral jika LP lebih besar dari cutoff meskipun IMT nya kurang dari cut off, terkadang ditemukan orang tersebut memang tidak gemuk, tetapi akumulasi lemak di perut melebihi cut off. Kuadran ke IV adalah obesitas yang ditandai dengan IMT dan LP orang tersebut melebihi cut off, artinya orang ini tidak hanya memiliki berat badan yang berlebih di semua bagian tubuh tetapi juga terdapat akumuasi lemak yang berlebih di bagian perut.

Sangat baik digunakan sebagai indikator obesitas karena mampu merekam orang yang mengalami overweight, obesitas sentral, dan gabungan dari obesitas dengan obesitas sentral. Orang yang obesitas yang diklasifikasikan oleh IMT belum tentu memiliki masalah karena bisa jadi orang tersebut rajin melakukan exercise sehingga kelebihan berat badan yang dimiliki bersumber dari otot yang membesar bukan dari lemak yang menumpuk di dalam sel lemak/jaringan adiposa. Kelemahan dari matriks ini adalah belum divalidasi untuk digunakan pada populasi anak usia sekolah.

Banyak metode yang dilakukan untuk menentukan kriteria obesitas dan overweight seperti tebal lipatan kulit (skinfold-thickness), linggar pinggang (LP), Indeks Brocca, Berat badan relatif (Relative Body Weight) dan Indeks massa tubuh (IMT).

Sumber:

Chang-Hung Hung et al., (2012). Obesity Matrix-New Concept of Obesity Classification.

Soegih et al., (2009).  Obesitas: Permasalahan dan Terapi Praktis. Jakarta: Sagung Seto.

Implikasi perkembangan obesitas

obesitas memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan

Prevalensi obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun, sekarang ini hampir setengah dari populasi overweight dan obese. Hal ini menimbulkan konsekuensi yang signifikan terhadap kesehatan karena akan meningkatkan resiko diabetes, penyakit jantung koroner, dan beberapa jenis kanker tertentu. Karena perkembangannya yang demikian pesatnya maka diprediksi di masa mendatang orang obese akan sangat banyak jumlahnya. Beberapa negara seperti di Kanada telah membuat suatu komite program yang ditugaskan untuk memantau dan melaporkan rata-rata pertumbuhan obesitas selanjutnya hingga tahun 2050 dan memprediksi konsekuensinya terhadap kesehatan, biaya pemeliharaan kesehatan, dan harapan hidup. Kekhawatiran dari pemerintah Kanada tersebut adalah estimasi obesitas hingga tahun 2050 mencapai 60% laki-laki dan 50% untuk perempuan dan sekitar 25% dari anak dibawah 16 tahun akan obese. Sekarang ini diseluruh negara di dunia telah menentukan target dan kebijakan untuk membendung pertumbuhan obesitas yang kian cepat. Dalam konteks ini, dietisien dan nutrisionis adalah posisi kunci yang berkontribusi dalam menanggulangi masalah obesitas.

Obesitas secara terminologi dapat didefinisikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), yang merupakan sebuah pengukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan, pada orang Asia jika IMT ≥25 maka sudah dikategorikan obesitas. Obesitas pada anak dan remaja biasanya didefinisikan berdasarkan jenis kelamin atau umur berdasarkan IMT ≥95% persentil kurva referensi menurut umur. Meskipun IMT biasanya digunakan untuk mengukur besarnya resiko kesehatan yang dihubungkan dengan obesitas, beberapa penelitian juga menganjurkan pengukuran dengan waist circumference dan waist to hip ratio karena metode tersebut juga yang reliable dalam mengestimasi besarnya resiko kesehatan yang dihubungkan dengan peningkatan berat badan (massa lemak abdominal). Metode ini juga cocok digunakan pada populasi orang Asia.

Beberapa orang secara genetik mengalami obesitas, tetapi penyebab mendasarnya adalah konsumsi kalori yang lebih (sumber energi) dari makanan dan minuman dibandingkan mengeluarkan kalori melalui aktivitas sehari-hari. Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa alasan utama terjadi peningkatan obesitas pada individu adalah perubahan kebiasaan makan dan gaya hidup sedentary. Fakto psikologi juga memainkan peran yang signifikan dalam perkembangan dan pemeliharaan obesitas, seperti gelisah, depresi, trauma dan keadaan susah yang berkepanjangan, kurang percaya diri, dan masalah-masalah psikologi.

Implikasi dari obesitas perlu mendapat perhatian serius, karena ini menyangkut kesehatan individu di kemudian hari. Orang yang obesitas beresiko menjalani hidupnya dengan penyakit-penyakit non communicable disease yang sangat merugikan. Konsekuensinya sangat besar, aspek kesehatan, terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa penurunan 10% berat badan akan memberikan benefit kesehatan bagi orang obese yaitu terjadi penurunan tekanan darah, profil lipid, dan gula darah. Aspek ekonomi, sangat signifikan terhadap kebijakan kesehatan dan biaya medis seperti yang disampaikan Prof. Hamam Hadi. Obesitas akan memberikan beban baik secara langsung maupun dan tidak langsung terhadap perekonomian – secara langsung melalui pembiayaan medis sementara tidak langsung berhubungan penurunan produktivitas sumber daya manusia, aktivitas terbatas, dan yang paling ekstrim adalah kematian dini.

Sumber

  1. Hindle, Linda and Kendrick, David. Advancing Dietetics and Clinical Nutrition: Obesity. 2010. Elsevier Publisher.
  2. Jung RT. Obesity as disease. Bri. Med. Bull. 1997;53(20):307-321.