Blog Archives

Kegemukan – New World Syndrome

Sebagian besar “orang-orang dulu” atau yang kini menjadi orang-orang tua kita memiliki gaya hidup “tradisional” yang dilakukannya dari dulu hingga sekarang. Karena gaya hidup seperti itulah banyak diantara mereka terlihat tidak gemuk atau kurus sama sekali. Berdasarkan penelitian Brown (1991), tidak adanya kasus obes pada populasi tipe pemburu-pengumpul karena pada masa itu keluaran energi sangat tinggi dan ketersediaan makanan masih jarang, tidak seperti sekarang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, di sebagian besar populasi-terutama di negara maju-telah terjadi “modernisasi” besar-besaran dan memberikan dampak awal pada lingkungan dan pada gaya hidup dalam 50-60 tahun terakhir. Aspek-aspek tersebut adalah:

  • Transportasi – terjadi peningkatan pemilikan kendaraan bermotor secara dramatis, hal ini berarti bahwa semakin banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi, meski berpergian dengan jarak dekat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan tersebut dibandingkan bersepeda atau jalan kaki.
  • Di rumah – Saat ini banyak peralatan rumah tangga yang sangat memudahkan pekerjaan rumah tangga. Misalnya alat memasak rumah tangga, membuat proses memasak lebih hemat waktu dan tenaga. Begitu pula dengan alat membersihkan rumah, tidak lagi menggunakan sapu untuk atau lap untuk membersihkan debu dan kotoran rumah, tetapi vacuum cleaner membuat rumah bersih lebih cepat dan mudah. Jika orang dulu mencuci pakaian dengan menyikat, menggosok, memeras pakaian kini dipermudah dengan bantuan mesin cuci otomatis, mulai dari cuci hingga mengeringkan pakaian.
  • Tempat umum – Penyediaan fasilitas umum yang membuat orang lebih sedikit gerak, misalnya tersedianya lift, escalator di berbagai sarana umum. Bahkan membuka pintu pun saat ini sudah otomatis. Semuanya di disain untuk mempermudah manusia sehingga efektif dalam waktu akan tetapi membuat lebih banyak energi yang tersimpan.
  • Gaya hidup sedentari – Pola hidup sedentari meliputi kebiasaan menonton televisi, bermain video games, menggunakan computer, kebiasaan duduk yang lama, bahkan menggunakan media komunikasi telepon genggam seperti mengirim pesan dan menelpon termasuk perilaku sedentari. Tidak sama dengan 10-15 tahun yang lalu, saat ini semua device tersebut sangat mudah dan murah untuk didapatkan. Gaya hidup sedentari juga dikaitkan dengan kebiasaan mengemil, karena cenderung orang-orang yang memiliki waktu nonton televisi lebih lama akan disertai dengan mengonsumsi makanan ringan yang mengandung energi dan lemak.
  • Tinggal di daerah urban (kota) – di daerah perkotaan negara-negara yang makmur, anak-anak, wanita, dan orang tua akan enggan untuk keluar malam hari karena alasan ketakutan akan keamanan mereka. Anak-anak juga cenderung takut untuk bermain diluar bagi yang tinggal di daerah kota karena risiko bahaya di jalanan. Sehingga bagi sebagian besar masyarakat diperkotaan untuk mengisi waktu luang, mereka pergi menggunakan kendaraan untuk jalan-jalan dibandingkan melakukan kegiatan fisik seperti olahraga rutin.
  • Tinggal di daerah suburban (/pinggiran kota) – didaerah suburban telah terjadi transisi lingkungan, dimana yang awalnya masih di dominasi dengan kendaraan yang menggunakan tenaga fisik seperti sepeda kini mengalami pertumbuhan jumlah kendaraan yang cukup dramatis. Perubahan pola makan juga terjadi dengan berkembangnya minimarket, restoran fast food, dan jajanan tidak sehat.
  • Tinggal di daerah rural (desa) – Peningkatan obesitas di perkotaan memang terjadi secara signifikan, dan prevalensi obesitas di perkotaan masih lebih banyak dibandingkan di pedesaan. Namun bukan berarti tidak terjadi peningkatan obesitas di pedesaan, justru kenaikan obesitas di daerah pedesaan sangat ekstrim dibandingkan di perkotaan. Hanya karena pada awalnya kasus obesitas di pedesaan hampir tidak ada, sehingga peningkatan ekstrim tersebut masih terlihat kecil. Menurut penelitian Hodge et al., (1994) bahwa terjadi kenaikan prevalensi obesitas sekitar 297% pada laki-laki dan 115% pada perempuan pada masyarakat pedesaan di daerah Samoa barat.

Kini makanan berlebih dan pengeluaran energi secara keseluruhan pada kehidupan modern menjadi lebih sedikit karena modernisasi tersebut. Proses modernisasi dari beberapa aspek tersebut nyata terjadi di negara-negara berkembang tidak terkecuali di Indonesia. Perlu diketahui bahwa beban ganda masalah gizi ada di hadapan kita semua, dan menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk diselesaikan. Saat ini kasus gizi buruk telah berkurang dengan signifikan tetapi masih tetap banyak, sedangkan kasus gizi lebih yang ditandai dengan berat badan berlebih bertambah dengan signifikan dan diprediksi akan menjadi banyak seiring waktu berjalan. Pada tahun 2010 peningkatan obesitas terjadi secara ekstrim, dan kita ketahui bahwa obesitas menjadi gelombang awal untuk masuk dalam ranah klasifikasi non communicable disease atau penyakit tidak menular, inilah yang disebut “New world syndrome” yang menjadi perhatian secara global baik di negara maju maupun negara berkembang.

Referensi :

  1. WHO Consultation (2000). Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of WHO. Geneva.
  2. Brown PJ. (1991). Culture and the evolution of obesity. Human nature, 2:31-57.
  3. Hodge AM. et al. (1994). Dramatic increase in the prevalence of obesity in Western Samoa over 13 year period 1978-1991. International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders, 18: 419-428.

#Faktaobesitas

  • Telah kita sepakati bahwa obesitas telah menjadi epidemi baik negara maju dan berkembang, populasi barat dan timur #faktaobesitas
  • Menjadi masalah yang sangat merugikan negara,  keluarga, dan individu.  Semakin banyak pembiayaan kesehatan negara, memberatkan penanganan tingkat keluarga, dan menyebabkan penyakit tidak menular bagi individu #faktaobesitas
  • Semakin dicari penyebabnya semakin banyak yang kami temukan, namun kesimpulan review menemukan 2 hal pokok faktor determinan yaitu lingkungan, dan genetik #faktaobesitas
  • Muncul sebagai hasil interaksi gen dan lingkungan ataupun secara independen genetik mempengaruhi sekitar 30% dan lingkungan sekitar 70% #faktaobesitas
  • Individu yang nampaknya memeiliki kecenderungan genetik menjadi obesitas-orang tua obes-adalah yang berada di lingkungan modern dimana terjadi maladaptive #faktaobesitas
  • Artinya seseorang yang secara genetik berpotensi menjadi obesitas, apabila berada dilingkungan modern akan lebih berpeluang menjadi obesitas, karena terjadi interaksi genetik dan lingkungan #faktaobesitas
  • Bagaimana di Indonesia? Survey terakhir (2010) menyebutkan bahwa prevalensi obesitas di daerah urban (kota) dan rural (pedesaan) tidak jauh berbeda #faktaobesitas
  • Ada 2 hipotesis yang mungkin, pertama terjadi determinasi genetik terhadap lingkungan, dan yang kedua terjadi transisi lingkungan yaitu transisi gaya hidup di daerah rural #faktaobesitas
  • Namun dari 2 hipotesis/ tersebut,setelah kami telaah lagi, menyimpulkan bahwa ternyata interaksi genetik dengan lingkungan besar pengaruhnya #faktaobesitas
  • Sekali lagi kami sampaikan pemfokusan kultwit ini menyangkut genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi #faktaobesitas
  • Neel seorang peneliti di tahun 1962 mengatakan bahwa obesitas berawal dari nenek moyang kita yang diturunkan melalui genotype yang disebut thrifty #faktaobesitas
  • Thrifty gene dapat dikatakan sebagai gen obesitas yang diturunkan oleh orang tua, namun gen ini memberikan dampak tergantung pada lingkungan dari individu #faktaobesitas
  • Mengapa orang-orang primitive meskipun memiliki genotype ini tetapi tidak obes? Karena pada cara berkehidupan mereka, periode makan sedikit dan tidak berlimpah, banyak aktivitas fisik melalui berburu, dan sering terjadi musim paceklik #faktaobesitas
  • Musim paceklik banyak dibahas bersama dengan teori evolusi manusia, dan perkembangan perilaku-perilaku makan pada masyarakat menjadi suatu hipotesis yang disebut famine hypothesis #faktaobesitas
  • Back to thrifty-bahwa gen ini memungkinkan orang menyimpan lemak dalam tubuh mereka dan membuat obes sepanjang lingkungan mereka memang menyediakan makan dan tidak terjadi famine #faktaobesitas
  • Masyarakat sekarang sudah kan modern, dimana selalu tersedia makanan sehingga genotype ini diaktifkan melalui remote control bahan-bahan genetik kita #faktaobesitas
  •  Yah sedikit banyak menyangkut nutrigenomik dan nutrigenetik, baca tulisan diblog saya yuukk 😀 #faktaobesitas
  • Back to laptop-dampak merugikannya aktif karena terkena interaksi lingkungan, membuat orang semakin menimbun lemak dalam periode tidak makan yang singkat (sela makan) #faktaobesitas
  • Kesimpulannya, thrifty gen lebih terpengaruh oleh lingkungan, akan aktif apabila lingkungan mendorongnya untuk memberi dampak #faktaobesitas
  • Tidak akan muncul pada masa kelaparan dan tidak terjadi transisi gaya hidup sedentary #faktaobesitas
  • Berarti kondisi di Indonesia menyangkut hipotesis yg kedua yaitu terjadi transisi lingkungan yaitu transisi gaya hidup di daerah rural #faktaobesitas
  • Terjadi transisi pola makan dan aktivitas fisik yang menyebabkan obesitas #faktaobesitas
  • Baik lingkungan tersebut mengaktifkan thrifty gen ini ataupun tidak #faktaobesitas
  • 2012 ini kami melakukan penelitian untuk menangkap fenomena dan membuktikan hipotesis tersebut #faktaobesitas
  • Sekian kultwit kali ini, smoga bermanfaat dan mohon doa kelancaran penelitian obesitas kami #faktaobesitas


Seri obesitas : Television viewing and food advertising

Kecenderungan terhadap peningkatan gaya hidup sedentary secara nyata sudah terjadi hari ini, hal itu terlihat jelas jika membandingkan tingkat aktivitas anak-anak generasi sekarang dengan dua atau tiga generasi sebelumnya. Belajar, bermain, dan aktif secara fisik dahulunya menjadi bagian dari kebiasaan keluarga namun sekarang hal itu sudah berkurang dan tergantikan dengan nonton televisi, game, dan komputer. Nonton televisi, termasuk kebiasaan sedentary, dan merupakan bagian yang paling sering dilakukan dalam kehidupan keluarga. Dapat dikatakan bahwa kebiasaan nonton televisi berkaitan langsung dengan aktivitas fisik kurang, dan berdampak pada kenaikan berat badan anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menonton televisi lebih dari 4 jam sehari cenderung mengalami obesitas.

Menonton televisi sangat menyita waktu dan membuat orang tidak produktif, pada anak yang sering menonton televisi akan menyisakan sedikit waktunya untuk berinteraksi dan positif dengan keluarga sehingga cenderung anak akan semakin mudah terpapar oleh hal-hal yang ditampilkan di televisi. Program dan iklan-iklan yang ditampilkan di televisi juga perlu dipertanyakan apakah dapat mempengaruhi penonton televisi yang masih muda, karena anak relative mudah untuk terpengaruh dan akan melekat karena daya ingat sistem bawah sadarnya. Sangat banyak beneficial program yang dapat dilihat di televisi, namun sayangnya tidak semua program dan iklan tersebut memprioritaskan kesehatan anak bahkan di Indonesia sama sekali tidak ada. Semakin meningkatnya industri makanan dan tingginya persaingan antar produsen makanan membuat banyak perusahaan-perusahaan mempromosikan produknya dengan gencar dan menggunakan media periklanan. Iklan makanan sangatlah kuat dampaknya dalam mempengaruhi pemilihan makanan oleh konsumen. Iklan makanan dapat juga dikategorikan menjadi obesogenic karena iklan makanan sangat memungkinkan untuk menyebabkan seseorang obesitas. Obesogenic adalah lingkungan atau keadaan yang mendorong kejadian obesitas dari beberapa penyebab seperti jumlah yang tidak terbatas dari beragam makanan tinggi kalori bersamaan dengan kurangnya energi yang dikeluarkan.

Perusahaan-perusahaan yang memasarkan produk melalui iklan akan menampilkan produk mereka diantara dan selama program televisi berlangsung pada waktu tertentu. Segmen iklan yang menarik dan memikat ditargetkan kepada anak untuk meningkatkan keinginan mereka untuk memilih makanan padahal makanan yang diiklankan tersebut hampir seluruhnya merupakan makanan yang tidak sehat. Segmen yang dimaksud adalah pada saat waktu-waktu menonton anak dimana intensitas tayangan anak seperti kartun, serial anak, dan lain sebagainya sangat tinggi sehingga saat itulah produsen-produsen makanan tidak sehat menampilkan produknya. Produk makanan yang diiklankan secara langsung kepada anak-anak sepanjang program televisi segmen anak-anak tayang memiliki kontribusi dalam meningkatkan jumlah penjualan makanan-makanan manis, sarapan sereal, dan makanan ringan yang semuanya itu dikategorikan unhealthy food. Anak-anak diprediksi akan tertarik dan meminta atau bahkan membeli sendiri produk-produk tersebut, karena anak-anak memang sangat mudah dipengaruhi apalagi jika produk tersebut diiklankan dengan menggunakan karakter kartoon kesukaan mereka.

Selain dampak buruknya melalui paparan iklan unhealthy food, nonton televisi juga menjadikan anak kurang aktivitas fisik dan mengkonsumsi banyak makanan tinggi kalori selama menonton. Kebiasaan “mengemil” dipengaruhi oleh iklan makanan yang ditonton sebelumnya, kebiasaan ini akan terus berlangsung karena anak akan merasa nyaman dengan aktivitas seperti itu. Formula inilah yang mungkin memicu kenaikan jumlah kejadian overweight dan obesitas pada anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat anak melakukan gerakan-gerakan fisik seperti berolahraga, bermain secara fisik, dan menghindari pola-pola sedentary lainnya, selain itu juga perlu mediasi orang tua untuk memberikan pengawasan dan pemahaman kepada anak.. Hal ini mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan praktisi kesehatan untuk menghambat naiknya prevalensi obesitas pada anak. Sekarang ini sebagian besar anak hidup dalam lingkungan obesogenic dimana mereka terhalang untuk memilih hidup sehat, seperti transportasi ke sekolah yang menggunakan mobil, playstation, game online, dan jajanan-jajanan yang tidak sehat tinggi kalori (junk food). Pertanyaannya adalah sadarkah orang tua kita dengan kondisi seperti ini?