Blog Archives

Selamat Hari Ibu 2013

Refleksi hari ibu

Tanggal 22 Desember kita peringati sebagai Hari Ibu, hari dimana paling tidak bisa “mengingatkan” kembali kepada kita sebagai anak tentang hakikat mencintai beliau dan membaktikan diri kepadanya terlebih di masa tuanya. Dalam renungan itu, saya berfikir, hal apa yang bisa diberikan kepadanya paling tidak dalam peranan sebagai orang kesehatan dan orang gizi.

Masalah kesehatan di Indonesia sampai sekarang semakin kompleks dan berat untuk diselesaikan. Yang paling miris adalah tingginya kematian Ibu yang melahirkan, tidak terawasinya kondisi mereka pasca melahirkan, dan tidak difasilitasinya masa ketika hendak menyapih anak-anak mereka. Padahal seorang ibu memiliki peranan luar biasa bagi keluarga. Beliau sebagai seorang dokter yang menyembuhkan dengan kasih sayangnya, psikolog yang meneduhkan dengan kelembutannya, dan guru yang mengajarkan dengan sifat bijaknya.

Alhmdulillah Ibu saya telah melewati semua itu, anak-anak sudah besar dan risiko akibat melahirkan dan selama merawat anak-anak dan mengenalkan dunia kepada mereka telah dilewati semua. Namun fase kerentanan terhadap penyakit-penyakit akan selalu ada, karena memang kaum perempuan adalah kelompok berisiko pada semua fase kehidupan/usia.

Saat ini masanya beliau memasuki masa dimana penyakit-penyakit degeneratif sangat rentan menghampiri. Di saat jauh seperti ini, sangat sedih rasanya tiap kali mengetahui beliau sakit, dan ingin membersamainya walau sesaat, hingga beliau sembuh. Pernah suatu ketika mendapatkan kabar beliau sedang sakit akibat penyumbatan pembuluh darah, pernah juga batu empedu, dan yang paling sering maag akut yang membuatnya sangat kesakitan. Saya sedih dengan semua itu. Apa yang bisa saya lakukan? Hanya memberikan beberapa anjuran terkait menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat yang seharusnya. Setiap mengetahui kondisi beliau, saya berupaya untuk menuliskannya dalam naskah yang mudah dipahami tentang kesehatan, serta pola makan terkait penyakit/gejala yang beliau alami. Sebagai orang gizi, apalagi yang lebih membahagiakan selain dapat menjaga dan memelihara kesehatan orang tua dan semua anggota keluarga dirumah. Tidak ada lagi! karena memang sudah sunnatullah hal demikian terjadi, disamping selalu mendoakan beliau agar senantiasa diberikan kesehatan. Adapun promosi ke masyarakat, itu adalah tanggungjawab moral sebagai manusia sosial dan harus dilakukan.

Sungguh benarlah kutipan perkataan seseorang di sebuah buku, “bahwa ibu kita ada dan dengan sabar merawat kita untuk melihat kita tumbuh menjadi dewasa sedangkan disaat kita dewasa, kita dengan sabar merawat ibu untuk melihatnya tua, lemah, dan sakit”. Semoga beliau senantiasa diberikan kekuatan dan sugesti untuk selalu sehat dalam setiap kondisi. Di saat yang bersamaan, ibu dari sahabat saya juga sedang sakit, dan semoga beliau diberi kesembuhan. Amiin.

Dari Yogyakarta, Happy Mom’s day…

loved ones

loved ones

Refleksi Hari Ibu: Anda Yang Menilai, Patutkah Kita Berterima Kasih?

Tidak ada kemaknaan dihari ini melebihi kebersamaan dengan ibu. Beliau orang yang memberikan kepeduliaan sejak dalam kandungan, merawat kita di tempat suci itu selama 270 hari, lalu ketika terlahir di dunia, tanpa ragu memberikan kita imunitas tak ternilai dengan pendekatan emosional ibu dan anak dengan inisiasi menyusui dini (IMD). Setelah itu Selama 180 hari ibu memberikan program ASI eksklusif dan berlanjut hingga hari ke-1000 awal kehidupan kita di dunia disertai dengan makanan pendamping asi.

Setelah dua tahun penyapihan dengan kasih sayang itu, ibu-ibu kita melanjutkan dengan memberikan semua hal guna pertumbuhan dan perkembangan kita secara keseluruhan. Tanpa ada sangsi, gengsi, ibu akan berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan gizi, kenyamanan, dan kesehatan kita. Hari-hari kita kemudian berlanjut dengan mengonsumsi makanan layaknya orang dewasa dari makanan yang di masak ibunda terkasih. Fase kehidupan ini adalah masa transisi awal dimana kita akan mengenal makanan dengan rasa dan tekstur yang baru. Kebutuhan gizi kita meningkat, setidaknya sekitar 1000-1400 kkal perhari harus terpenuhi belum lagi kebutuhan zat gizi mikro yang sangat penting perannya, dan beruntungnya, sentuhan ibu yang peduli dengan kehidupan kita akan bisa memenuhi kebutuhan itu.

Mencapai fase usia sekolah, kita semakin aktif, semakin tumbuh dan berkembang baik secara psikomotorik maupun fisik yang nampak. Peran siapakah? Ya itu adalah peran ibu-ibu kita hingga fase transisi akhir. Apakah berhenti sampai disitu? Jawabannya Tidak. Beliau yang semakin bertambah usia masih tetap memberikan rasa kepedulian kasih sayangnya yang tak terhingga, membuatkan bekal sarapan, memandikan kita dengan harapan kita menjadi bersih,sehat, mengantar lalu menjemput di sekolah, menyuruh kita tidur siang, mengajarkan kita makan makanan bervariasi, mencukupkan istirahat kita pada hari itu, dan banyak kepedulian kasih sayang yang ibu-ibu kita berikan. Hal itu terus berlanjut seiring pertumbuhan kita hingga menjadi remaja.

Kehidupan remaja. Tak hentinya, ibunda terkasih menegur ketika kita tidak makan dengan alasan ingin menjaga body image, selalu diet ketat agar tidak gemuk, dan merasa sedih ketika kita jatuh sakit dengan pola-pola makan yang salah seperti itu. Kasih sayangnya pun berlanjut pada fase kehidupan ini, di rumah makanan yang bergizi, banyak sayur dan buah selalu tersedia. Kita terus diperingatkan bahwa untuk menjaga agar tidak gemuk tidak mesti dengan melakukan pola seperti itu, cukup dengan pola bergizi seimbang dapat menjaga ke-ideal-an tubuh kita (remaja-red). Pola bergizi seimbang itu dengan makan bervariasi, sering melakukan aktivitas olahraga dan menjaga tubuh kita senantiasa aktif bergerak, menjaga pola hidup sehat (tanpa rokok, alkohol,dll), dan sering mengontrol berat badan.

Fase remaja akhir, perhatian ibu kita justru tidak surut, beliau memberlakukan syarat pranikah demi menjaga kesehatan mental psikis dan masa depan kita. Jangan melakukan sex bebas, fisik ideal kita harus terpenuhi yang ditandai dengan berat badan ideal, lingkar lengan atas cukup (>22,9 cm), dan cukup usia, larangan merokok, dan senantiasa berolahraga. Bagi kita cukup berat, tapi….. Ya ini penting dan ibu tahu itu. Beliau memahamkan bahwa (diluar konteks agama) free sex meningkatkan risiko penyakit menular seksual (PMS). Fisik ideal akan menciptakan masa depan kesehatan bagi kita dan keturunan kita, jika kita-sebelum menikah-memiliki fisik yang kurus, kurang gizi, maka anak-anak kita akan lahir dengan kondisi yang rentan dengan gizi kurang pula atau setidaknya pertumbuhan dalam janin akan terhambat. Maukah kita?

Itulah Ibu, kepedulian maksimal sejak dalam kandungan hingga masa kedewasaan kita, bahkan setelah kita menikah dan berkeluarga kepedulian beliau tak surut, anak-anak kita pun diperhatikan selayaknya kita dahulu. Beliau paham betul akan kesehatan kita sekeluarga. Saat ini, ketika kita semua berdiri di masing-masing perahu berlatar belakang berbeda, tapi penyikapan kepada ibu kita sama, yaitu kebaikan untuknya. Disaat dalam kandungan, lahir, hingga meranjak dewasa, kasih sayangnya tak henti. Beliau menjalani hidup untuk melihat kita tumbuh, sedangkan kita membalaskan kebaikannya untuk melihat beliau menjadi tua dan sakit karena itu, berikanlah hal terbaik kepada ibu kita. Catatan kali ini dalam rangka memperingati HARI IBU tanggal 22 desember 2012. Terima kasih ibu, engkaulah wujud kepedulian untuk kita, yang tak henti menghiasi kehidupan kita.

my beloved mom n sister

my beloved mom n sister

 My devotion for you, always.