Blog Archives

Meningkatkan memori dan memperbaiki mood

Otak manusia merupakan hardware sempurna yang mengendalikan sebagian besar mekanisme pada sistem organ, mental, serta mood. Terdiri dari jutaan bahkan miliaran serabut saraf yang saling terhubung yang disebut neuron. Para pakar mengatakan bahwa semakin banyak koneksi antara neuron otak, maka semakin maksimal kinerja otak anda. Neurotransmitter, suatu senyawa pembawa pesan di otak, akan semakin meningkat ketika otak sering digunakan. Saat anda belajar, koneksi-koneksi otak akan meningkat. Sedangkan saat berfikir atau mengungkapkan emosi, anda meningkatkan neurotransmitter. Baik otak maupun neurotransmitter akan dipengaruhi oleh apa yang anda makan dan minum.

Neurotransmitter, seperti serotonin, menjadi sangat penting peranannya karena memori dan mood dipengaruhi oleh senyawa ini. Serotonin meningkatkan memori anda melalui asam amino dari asupan protein, serta mempengaruhi mood dengan asetilkolin. Salah satu sumber asam amino yang baik diantaranya susu, telur, kacang kedelai, maupun daging. Sedangkan asetilkolin dapat anda peroleh dengan mudah di ikan terutama ikan sarden sebagai sumber kolin. Kolin akan diubah menjadi asetilkolin oleh enzim dan dirangsang oleh vitamin B5. Karena itu asetilkolin, jika dikombinasikan dengan vitamin B5 terbukti efektif meningkatkan performa mental dan memori.

Singkatnya, produksi neurotransmitter di otak tergantung dari makanan dan minuman yang anda konsumsi, secara spesifik vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral yang anda konsumsi tidak hanya mengubah glukosa menjadi energi, tetapi sebagai makanan untuk otak yakni melalui mekanisme pengubahan asam amino dan asetilkolin menjadi neurotransmitter. Karena itu asupan optimal vitamin dan mineral akan sangat baik untuk memori dan mood anda, membuat anda berfikir cepat dan dapat berkonsentrasi dalam waktu yang lama.

Waspada dini kesehatan ginjal anak

Dalam sistem ekskresi manusia, terdapat beberapa organ vital yang berfungsi sebagai organ filtrasi. Diantara organ-organ tersebut, ginjal salah satunya yang memiliki peran besar menjaga kesehatan manusia. Seperti yang telah kita ketahui bahwa ginjal berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, menjaga tekanan darah normal, mendukung pembentukan sel darah merah, membantu pembuangan zat sisa melalui urin, produksi hormon, dan membantu penyerapan mineral.

Kesehatan ginjal harus dijaga sejak dini, karena sudah banyak penyakit ginjal yang tidak hanya dialami orang dewasa tetapi juga remaja, tidak terkecuali anak-anak. Mengapa hal itu juga telah dialami anak-anak? Sebabnya belum diketahui pasti, namun beberapa pakar kesehatan menilai bahwa terjadinya penyakit ginjal pada anak-anak lebih didominasi akibat pola makan dan konsumsi air. Tetapi jika penyakit ginjal itu telah dialami sejak masih balita, kemungkinan besar karena faktor bawaan.

Sekarang ini Indonesia tengah diserang dengan modernisasi gaya hidup dari barat, tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak Indonesia pun “dimanjakan” dengan hal tersebut. Fast food salah satu indikatornya. Cepat disajikan, cepat dimakan, dan disain cita rasa yang sangat enak membuatnya menjadi favorit anak-anak. Sehabis makan, anak-anak kita disuguhi minuman soda, manis, dan tinggi kalori yang seakan-akan telah menjadi air  minum pilihan utama anak-anak. Bagaimana tidak, di kantin-kantin sekolahpun kini menjajakan makanan dan minuman yang seperti itu, nugget, minuman manis, softdrink, dll.

Permasalahan utamanya, apakah kita sebagai orang tua tahu seberapa bahayanya hal itu? Jajanan yang dijual kandungan tinggi, sedangkan softdrink dan minuman berkarbonasi mengandung tinggi asam fosfat. Cenderung anak-anak yang memiliki pola makan dan konsumsi minuman seperti ini menempatkan air putih sebagai pilihan terakhir di daftar menu mereka. Dalam kadar normal sodium akan melewati ginjal dan dikeluarkan melaui urin, namun jika kadar asupan sodium berlebihan dapat menyebabkan penumpukan pada ginjal sehingga membentuk batu. Begitu pula zat asam fosfat yang ditemui di dalalm softdrink dan minuman berkarbonasi. Jika kadarnya berlebihan akan mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, kalsium akan dikeluarkan melalui urin sedangkan asam fosfat akan menumpuk. Ini sangat tidak baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, dan parahnya lagi jika ketidakseimbangan ini bila berlangsung lama akan mengganggu fungsi ginjal akibat asam fosfat yang mengkristal di ginjal.

Air putih yang belakangan ini dipahami sebagai salah satu zat gizi yang sering dilupakan orang-orang , seringkali dikaitkan dengan kesehatan ginjal. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kebutuhan air putih anak pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa karena pada masa ini anak-anak cenderung sangat aktif sehingga juga membutuhkan banyak air untuk mengganti cairan yang keluar. Salah satu solusi mencegah penyakit ginjal pada anak adalah dengan konsumsi air putih yang cukup. Air putih yang cukup dinilai dapat mencegah terjadinya pengkristalan.

at least ajarkan anak-anak kita sejak dini minum teratur, segelas ketika bangun tidur, segelas sehabis sarapan, satu botol (600 ml) dibawa ke sekolah, segelas sehabis makan siang, segelas sehabis makan malam, dan segelas sebelum tidur, sisanya dapat dikonsumsi sesuai kondisi anak misalnya sehabis bermain ataupun saat haus. Sebagai orang tua, promosikan hal tersebut, karena layaknya anak-anak sebagai aset bangsa, ginjal adalah aset bagi masa depan mereka. Mari kita menjaganya

#AmazingKidneys @DanCommunityID

http://www.kidney-facts.com

Gizi geriatric

Kebutuhan gizi pada orang lanjut usia perlu mendapat perhatian, mengapa tidak, karena kebutuhan gizi pada masa ini berubah drastis dibandingkan kebutuhan gizi pada orang dewasa. Terjadi perubahan pada fungsi fisiologis tubuh dan sistem metaboliknya sehingga mempengaruhi banyak hal termasuk kebutuhan gizi yang menunjang status gizi. Semua kebutuhan zat-zat gizi mestinya diperhatikan, namun yang paling dominan adalah zat-zat gizi makro, disamping vitamin, dan beberapa mineral utama.

Protein

Pada usia muda, total otot manusia mencapai 30-35% dari berat badan, bahkan untuk beberapa orang (terutama yang menyukai olahraga mencapai 45%). Jumlah ini kemudian turun menjadi <27% ketika usia lanjut. Tidak lain disebabkan karena terjadi perubahan signifikan jalur metabolisme dan kebutuhan tubuh akan protein. Untuk orang dewasa usia >50 tahun biasanya kebutuhan proteinnya hanya 0,8 gr/kg berat badan, tetapi ada juga yang merekomendasikan hingga 1,2 gr/kg bb. Sangat dianjurkan sumber protein untuk orang lanjut usia berasal dari protein yang berkualitas tinggi. Sumber terbaik adalah ikan, dan daging (hindari bagian lemak), dan pengolahan yang baik adalah dengan cara direbus atau dikukus. Ketika makanan direbus/dikukus, akan memecah kompleks potein menjadi yang lebih sederhana sehingga memudahkan untuk dicerna oleh sistem pencernaan, khususnya pada orang lanjut usia. Ketika makanan digoreng atau dibakar, protein menjadi sulit dicerna, akibatnya membebani sistem pencernaan.

Fungsi dari protein sangat banyak tapi yang terpenting adalah proses regenerasi sel, karena pada fase ini tidak seperti ketika usia muda dulu, sel-sel sangat rentan rusak, karena itu protein membantu memelihara regenerasi sel.

Karbohidrat

Anjuran kebutuhan karbohidrat pada masa ini berkisar 45-60% dari total energi, dan sebaiknya karbohidrat kompleks (misalnya pati, dll). Ada penelitian yang menganjurkan 130 gr/hari untuk pasien usia >70 tahun, dengan asumsi konsumsi soft drink, gula, dan makanan yang mengandung pemanis dan pengawet sudah tidak dimasukkan dalam menu makanan responden/pasien. Selain itu pilihan makanan yang berindeks glikemik rendah harus diutamakan, misalnya makanan beras merah, gandum, roti putih, getuk, dan buah-buah kaya serat. Jadi jenis (indeks glikemik rendah) dan jumlah (tidak lebih dari 60%) patut diperhatikan oleh orang lanjut usia, agar supaya kadar glukosa darah dalam tubuh dapat lebih terjaga. Makanan dengan indeks glikemik rendah cenderung untuk memberikan rasa kenyang lebih lama, hal ini baik bagi orang lanjut usia. Karbohidrat sebagai sumber energi utama bagi tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar organ tubuh, dan untuk melakukan aktivitas fisik.

 

Lemak

Banyak orang mengatakan jika sudah tua sebaiknya tidak usah makan-makanan yang berlemak, padahal pada usia tersebut tidak ada masalah untuk mencerna lemak yang dikonsumsi. Lemak juga dibutuhkan bagi orang usia lanjut, misalnya untuk memberikan energi jangka panjang, memberikan rasa kenyang yang lama, membantu “aktivasi” hormon-hormon, melindungi sel-sel tubuh, mengangkut vitamin larut lemak ke seluruh tubuh, dan menjaga suhu tubuh. Lemak baru agak “berbahaya” jika memang orang tersebut memiliki faktor risiko yang bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit. Misalnya diusia lanjut tapi obesitas sentral atau obesitas berat, ada riwayat aterosklerosis, atau penyakit jantung, dll.

Rekomendasi kebutuhan lemak sekitar 25% dari total kebutuhan energi, kemudian konsumsi lemak jenuh tidak lebih dari 10% serta total kolesterol <200 mg/hari. Sumber lemak jenuh misalnya yang bersantan, daging babi, susu tinggi lemak, minyak kelapa, dll sedangkan sumber kolesterol selain makanan tersebut juga jeroan, otak, telur, mentega, dll.

Prediktor yang cukup baik menggambarkan status gizi akibat perilaku beberapa bulan lalu adalah kadar albumin. Normalnya kadar albumin berikisar antara 4-5,2gr/dl.  Jika kurang dari itu, maka orang tersebut bisa juga dikatakan urang gizi. Metode ini termasuk metode pengukuran laboratorium untuk status gizi. Kembali ke permasalah status gizi orang lanjut usia, dimana banyak diantara orang-orang lanjut usia yang dirawat dirumah sakit dan kekurangan gizi memiliki kadar albumin yang rendah, sangat kurus, pucat, ataupun berat menopang tubuhnya sendiri. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini diantaranya: 1) Hilangnya nafsu makan akibat kemampuan indra perasa dan penciuman telah berkurang; 2) Masalah pada sistem pencernaan yang telah berlangsung cukup lama; dan 3) kehilangan lemak tubuh akibat porses penuaan.

Treatmentnya harus memerhatikan aspek-aspek pemenuhan gizi makro (karbohidrat, lemak, dan protein), disamping itu kebutuhan akan serat, vitamin, dan mineral-mineral utama (kalsium, magnesium, fosfor, zink dll) harus terpenuhi juga. Terutama zink, dimana mineral ini akan mempercepat penyembuhan orang lanjut usia, lalu vitamin yang melakukan perawatan dan memelihara kondisi tubuh ketika sehat.

Sumber:

Handbook of nutrition in aged (Ronald Rosswatson, 2009), dan beberapa supplemen materi.

Sehat dengan penuh warna

lebih banyak warna lebih lezat dan menyehatkan

lebih banyak warna lebih lezat dan menyehatkan

Dalam suatu kesempatan seminar tentang food habit, seorang pakar gizi dan pangan mengungkapkan teori the power of rainbow food. Dalam teori tersebut menyatakan bahwa setiap warna pada makanan menunjukkan keberadaan senyawa yang berkhasiat untuk pencegahan terhadap penyakit tertentu, senyawa tersebut disebut fitokimia. Diantara fungsi fitokimia yang paling populer adalah sebagai antikanker, anti-inflamasi, dan antioksidan. Ternyata, warna-warni makanan sangat mudah dilakukan jika anda mencarinya pada beberapa pangan tradisional Indonesia, karena pangan tradisional secara alami telah mengandung komponen bioaktif.

Sebagai contoh bahan makanan yang menyehatkan adalah kacang kedelai hitam. Jenis kacang ini mempunyai konsentrasi proantosianidin terbaik yaitu antosianin atau senyawa yang membuatnya berwarna gelap. Antosianin termasuk antioksidan alami yang nilai manfaat kesehatannya sangat baik. Tahukah anda jika semakin gelap warna kacang maka semakin tinggi pula kemampuan antioksidannya.  Antosianin dapat menghambat aktivitas enzim HMG-CoA reduktase yang dapat menurunkan kolesterol total dan kadar LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan kerja enzim lechitin cholesterol acyl transferase yang akan meningkatkan HDL (kolesterol baik) dalam plasma. Contoh pangan lainnya adalah alpukat yang mengandung senyawa fitokimia lutein dan karotenoid, senyawa ini mencegah penyakit katarak, kanker, maupun aterosklerosis.

Senyawa-senyawa fitokimia lain yang memiliki nilai manfaat diantaranya alfa dan beta karoten dari warna oranye, vitamin C dan flavonoid dari warna kuning, ellagic acid dari warna merah, maupun allyl sulfides dari warna putih. Perlu anda ketahui bahwa prinsip gizi seimbang yang menganjurkan makanan bervariasi tidak hanya dapat memenuhi berbagai macam zat-zat gizi, tetapi akan memperbesar peluang anda untuk mengonsumsi makanan dengan berbagai macam warna dan senyawa fitokimia di dalamnya. Sekali lagi, perlu diingat bahwa konsep rainbow food ini berada dalam konteks pencegahan maupun mengurangi risiko, bukan merupakan cara untuk menyembuhkan suatu penyakit.

Daerah suburban sebagai “lahan basah” penyumbang obesitas

obesitas menjadi masalah nasional

obesitas menjadi masalah nasional

Obesitas kini tidak dapat lagi dikatakan sebagai faktor resiko melainkan justru sebagai sebuah penyakit yang memiliki patofisiologi tersendiri, selain itu dampaknya terhadap kesehatan sangatlah merugikan. Banyak faktor penyebab obesitas diantaranya pola makan yang salah, sedentary activity, obesogenic (lingkungan yang bisa menyebabkan obesitas), defisiensi mikronutrien, dan penyakit infeksi. Dalam 20 tahun terakhir, kenaikan obesitas di negara-negara berkembang meningkat hingga 3 kali, sebagian besar dari mereka sudah mulai mengadopsi gaya hidup orang barat. Sebagai contoh di Algeria dimana obesitas pada anak sekolah terus meningkat, yang menjadi penyebabnya adalah sedentary behavior, kurang aktivitas fisik, pola konsumsi energi, lemak, dan serat yang tidak seimbang, serta status obesitas pada orang tua, lantas bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, prevalensi obesitas tidak lagi hanya terjadi di perkotaan melainkan juga di pedesaan. Kini banyak desa-desa telah menjadi daerah suburban yaitu daerah transisi antara desa dan kota sehingga terdapat pula perubahan gaya hidup dari pola “ndeso” menjadi gaya hidup “ke-barat-barat-an” atau kebiasaan menetap (sedentari). Sekarang ini di daerah urban dan suburban telah banyak masyarakat yang tidak lagi menyukai berjalan kaki, sebagian besar anak sekolah menggunakan bus atau diantar ke sekolah dibandingkan dengan naik sepeda atau jalan. Berjalan kaki ke sekolah bukan merupakan pilihan yang tepat mereka oleh karena alasan keamanan dan jarak. Jadi bisa dikatakan bahwa kebiasaan sedentari merupakan gaya hidup yang sangat kurang melakukan aktivitas fisik. Dari hasil penelitian Arundhana (2010) bahwa aktivitas fisik yang kurang lebih banyak mengalami obesitas dibandingkan dengan orang yang aktivitas fisiknya cukup. Sudah jelas bahwa aktivitas fisik dapat menjadi faktor penyebab langsung obesitas, jika terjadi ketidakseimbangan intake melalui pola makan yang berlebihan serta pembakaran kalori yang kurang melalui aktivitas fisik yang ringan dalam kurun waktu yang relatif lama akibatnya terjadi penumpukan lemak dibawah kulit yang akhirnya menjadi obesitas. Aktivitas fisik yang kurang menyebabkan simpanan energi yang semakin berlebih dalam tubuh.

Perlu diketahui bahwa masyarakat di daerah suburban tidak lagi bekerja sebagai petani, nelayan, peternak, tukang kebun, melainkan sudah beralih ke pekerjaan yang tidak lagi mengedepankan aktivitas fisik melainkan skill dan pemikiran seperti guru atau pengajar, pegawai, pedagang, atau pengusaha. Profesi-profesi tersebut memang memiliki kesibukan yang sangat padat, sehingga kemungkinan besar tidak memiliki waktu untuk berolahraga. Disamping itu jarak rumah dengan kantor mereka tidak terlalu jauh dan hampir semua profesi tersebut telah memiliki kendaraan pribadi yang digunakan ke kantor. Sebagian dari mereka aktivitasnya selama di kantor hanya duduk, setelah pulang mereka merasa lelah dan langsung istirahat akibatnya waktu untuk melakukan aktivitas fisik memang sangat kurang. Padahal tidak aktif secara fisik berbahaya bagi tubuh, karena fisik yang tidak aktif menyebabkan penumpukan kalori yang jika dibiarkan akan memicu obesitas. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Arundhana (2010), sebagian besar orang obes memang melakukan aktivitas fisik yang kurang (p<0,05). Duduk terlalu lama membuat tubuh mulai mematikan fungsi level metabolisme, saat otot-otot (terutama otot besar untuk bergerak seperti otot kaki) menjadi tidak bergerak maka sirkulasi akan melambat dan tubuh akan membakar kalori lebih sedikit selain itu duduk seharian juga dapat menurunkan aktivitas enzim lipoprotein lipase yang bertugas memecah lemak.

Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi/kampanye anti obesitas yang bertujuan agar informasi terkait masalah kegemukan serta cara mencegahnya dapat diketahui oleh masyarakat khususnya di desa dan daerah suburban. Seperti yang dilakukan baru-baru ini oleh first lady Amerika yang melakukan kampanye anti-obesity dengan melakukan olahraga dan aktivitas fisik. Dapat di lihat disini

  1. http://news.detik.com/read/2013/02/24/134306/2178087/1148/video-michelle-obama-berjoget-rancak-laris-ditonton?nd772205mr
  2. http://www.youtube.com/watch?v=Hq-URl9F17Y&feature=endscreen
  3. http://www.youtube.com/watch?v=TimvpO7TZMA
  4. http://www.youtube.com/watch?v=XoX9qXBP0Bs
  5. Source http://www.letsmove.gov/