Blog Archives

Make your chair as your enemy

saat ini duduk menjadi titik awal masalah kesehatan

Sadar atau tidak sadar, kursi sebagai musuh kita memang merupakan hal yang nyata, karena sebagaimana definisi musuh itu adalah sesuatu yang memberikan ancaman bagi jiwa dan fisik kita, ternyata benda ini pun demikian. Mungkin agak mengherankan, bagaimana mungkin benda mati yang tak bergerak bisa memberikan ancaman bagi manusia. Sebagian dari kita setiap harinya berolahraga, namun bagi sebagian yang lain yang hanya menghabiskan waktu untuk duduk di kursi-di mobil, kursi kantor, sofa di rumah, atau kursi di kelas-secara tidak langsung kita telah meningkatkan risiko berbagai penyakit kepada diri kita seperti obesitas, diabetes, jantung, dan berbagai macam penyakit tidak menular lainnya yang bisa menyebabkan kematian. Terlepas apakah kita melakukan banyak aktivitas fisik, tetapi jika duduk dalam waktu yang lama akan tetap memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan, seperti tulisan saya sebelumnya tentang Semakin lama duduk, semakin cepat terkena penyakit

Bagi orang yang memiliki waktu duduk lebih lama, terlebih jika waktu luangnya dalam sehari digunakan untuk duduk, nonton tv sambil mengemil, main game, atau duduk membaca novel, berisiko memiliki lingkar pinggang yang relatif lebih besar serta profil gula darah dan tekanan darah cenderung tinggi. Meskipun orang sering melakukan jogging akan tetapi duduknya sangat lama, lebih dari 3 jam menonton TV, lebih dari 2 jam duduk membaca, dan/atau lebih dari 5 jam duduk di kelas/dikantor akan dapat mengimbangi manfaat dari jogging yang rutin dilakukan. Berdasarkan penelitian Pulsford et al. (2013) bahwa obesitas itu ternyata sangat kompleks, tidak hanya disebabkan karena kurang melakukan aktivitas fisik tetapi juga karena banyak melakukan aktivitas sedentari (tidak aktif bergerak). Ada apa dengan duduk? Mengapa hal itu menjadi masalah yang begitu merugikan?

Dari beberapa artikel menyatakan bahwa duduk itu adalah perilaku yang paling pasif yang pernah dan sering orang-orang lakukan terutama di kota-kota besar. Mungkin energi yang digunakan untuk mengunyah permen karet, atau bahkan untuk menyisir rambut akan lebih banyak yang keluar dibandingkan dengan hanya duduk di kursi saja. Berdiri diam juga lebih baik dibandingkan duduk karena pada saat berdiri otot-otot kaki kita berkontraksi, dan semuanya akan membakar energi. Mari kita mulai berpikir tentang efek duduk ini, seharusnya semakin banyak bergerak lebih di anjurkan, meskipun saat ini fasilitas semakin memudahkan dan me”nyaman”kan masyarakat. Semakin banyak duduk semakin banyak pula energi yang tidak digunakan, ini akan lebih memudahkan naiknya berat badan, dan memunculkan masalah kesehatan yaitu masalah-masalah yang diikuti/kemungkinan muncul setelah kegemukan itu muncul.

Beberapa bukti ilmiah berdasarkan teori “physiology of inactivity” bahwa ketika kita duduk dalam waktu yang cukup lama, pada saat itu tubuh melakukan suatu hal yang jahat pada tubuh kita. Salah satu contohnya adalah produksi enzim lipoprotein lipase akan maksimal ketika tubuh aktif bergerak. Seperti diketahui bahwa enzim ini berperan dalam mempercepat reaksi hidrolisis pada gliserida dan trigliserida, jika kadar LPL ini rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti jantung, hiperkolesterol, dan penumpukan lemak di jaringan tubuh (Mead, 2002). Implikasinya adalah, ketika kita duduk maka seluruh aliran metabolisme tubuh akan melambat, termasuk produksi enzim LPL ini. Penelitian ini mungkin dapat menjelaskan teori tersebut yaitu penelitian yang dilakukan pada pria yang biasanya berjalan banyak (sekitar 10.000 langkah per hari, yang diukur dengan pedometer) akan diminta untuk menguranginya (menjadi sekitar 1.350 langkah per hari) selama dua minggu, harus menggunakan elevator bukannya tangga, naik mobil untuk bekerja bukannya berjalan dan seterusnya. Pada akhir penelitian selama dua minggu, semua dari mereka memiliki metabolisme yang lebih buruk. Distribusi lemak tubuh juga berubah, mereka menjadi lebih gemuk.

Semakin sering duduk, semakin cepat terkena penyakit

aktif bergerak membantu meningkatkan kebugaran dan menghindarkan dari obesitas dan penyakit

Saat ini aktivitas olahraga mulai dikampanyekan di berbagai negara, alasannya hanya satu yaitu dalam rangka melawan perkembangan obesitas yang insidennya meningkat setiap tahun. Baru-baru ini first lady America, Michelle Obama, juga ikut mengampanyekan antiobesitas “Let’s move”. Michelle melakukan kampanye antiobesitas karena prevalensi obesitas pada anak-anak di Amerika kian meningkat. Kampanye ‘Let’s Move’ mengajarkan anak-anak untuk bergerak aktif agar tak obesitas. Keluar dari permasalahan tingginya obesitas di berbagai negara, perlu diketahui penyebabnya dan mengapa hal tersebut menjadi kekhawatiran. Obesitas besar kemungkinannya terjadi karena ketidakseimbangan energi, dimana energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dikeluarkan sehingga akan terakumulasi dan tersimpan di dalam tubuh dalam bentuk cadangan lemak trigliserida di otot dan sel lemak.

Cara yang efektif untuk menghindari ketidakseimbangan tersebut adalah dengan memperbanyak gerak sehingga energi yang dikeluarkan lebih banyak atau setidaknya sama dengan energi yang masuk. Hal itu kian berat karena perilaku sedentari atau perilaku tidak aktif semakin sering dilakukan masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang memudahkan masyarakat dalam segala hal. Akibatnya manusia semakin malas menggerakkan tubuhnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Padahal banyak duduk/malas bergerak kelihatannya sepele akan tetapi berimplikasi pada banyaknya penyakit yang di peroleh karena kegemukan. Menurut penelitian di Amerika, yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, bahwa lamanya duduk berpengaruh secara signifikan terhadap insiden penyakit. Penelitian tersebut diikuti oleh 123.216 orang yang terdiri dari 53,440 laki-laki and 69,776 perempuan, dengan tanpa riwayat penyakit dan bersedia berpartisipasi dalam studi Cancer Prevention II, partisipan diikuti selama 14 tahun 1993 hingga 2006.

Dalam penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa partisipan kebanyakan meninggal diakibatkan oleh penyakit jantung dibandingkan kanker. Setelah dilakukan penyesuaian terhadap beberapa faktor risiko, ditemukan bahwa orang yang lebih lama duduknya cenderung terkena penyakit, lalu diikuti oleh faktor merokok. Sebanyak 37% perempuan yang duduk lebih dari 6 jam sehari terkena berbagai macam penyakit dibandingkan perempuan yang duduknya kurang dari 3 jam sehari, sedangkan pada laki-laki mencapai 17%. Orang yang duduk lebih banya dan jarang berolahraga atau hanya beraktivitas ringan memiliki angka risiko kematian lebih tinggi yaitu 48% pada laki-laki dan 94% pada perempuan. Suatu nilai statistik yang menurut kami mengerikan, itu berarti bahwa aktivitas duduk yang sangat sering kita lakukan memiliki dampak yang fatal terhadap kesehatan manusia.

Menurut seorang epidemiologis Dr. Alpa Patel, bahwa “semakin lama Anda duduk semakin sedikit energi yang keluar dan memiliki konsekuensi seperti meningkatnya berat badan dan menjadi obesitas”, dan berdampak pada risiko berbagai macam penyakit. Dari fakta yang ditemukan tersebut maka dianjurkan bagi setiap individu untuk dapat mengurangi aktivitas sedentari dan memperbanyak aktivitas fisik seperti misalnya rutin berolahraga, ataupun menggunakan sepeda untuk sarana transportasi jarak dekat.