Blog Archives

Semakin sering duduk, semakin cepat terkena penyakit

aktif bergerak membantu meningkatkan kebugaran dan menghindarkan dari obesitas dan penyakit

Saat ini aktivitas olahraga mulai dikampanyekan di berbagai negara, alasannya hanya satu yaitu dalam rangka melawan perkembangan obesitas yang insidennya meningkat setiap tahun. Baru-baru ini first lady America, Michelle Obama, juga ikut mengampanyekan antiobesitas “Let’s move”. Michelle melakukan kampanye antiobesitas karena prevalensi obesitas pada anak-anak di Amerika kian meningkat. Kampanye ‘Let’s Move’ mengajarkan anak-anak untuk bergerak aktif agar tak obesitas. Keluar dari permasalahan tingginya obesitas di berbagai negara, perlu diketahui penyebabnya dan mengapa hal tersebut menjadi kekhawatiran. Obesitas besar kemungkinannya terjadi karena ketidakseimbangan energi, dimana energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dikeluarkan sehingga akan terakumulasi dan tersimpan di dalam tubuh dalam bentuk cadangan lemak trigliserida di otot dan sel lemak.

Cara yang efektif untuk menghindari ketidakseimbangan tersebut adalah dengan memperbanyak gerak sehingga energi yang dikeluarkan lebih banyak atau setidaknya sama dengan energi yang masuk. Hal itu kian berat karena perilaku sedentari atau perilaku tidak aktif semakin sering dilakukan masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang memudahkan masyarakat dalam segala hal. Akibatnya manusia semakin malas menggerakkan tubuhnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Padahal banyak duduk/malas bergerak kelihatannya sepele akan tetapi berimplikasi pada banyaknya penyakit yang di peroleh karena kegemukan. Menurut penelitian di Amerika, yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, bahwa lamanya duduk berpengaruh secara signifikan terhadap insiden penyakit. Penelitian tersebut diikuti oleh 123.216 orang yang terdiri dari 53,440 laki-laki and 69,776 perempuan, dengan tanpa riwayat penyakit dan bersedia berpartisipasi dalam studi Cancer Prevention II, partisipan diikuti selama 14 tahun 1993 hingga 2006.

Dalam penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa partisipan kebanyakan meninggal diakibatkan oleh penyakit jantung dibandingkan kanker. Setelah dilakukan penyesuaian terhadap beberapa faktor risiko, ditemukan bahwa orang yang lebih lama duduknya cenderung terkena penyakit, lalu diikuti oleh faktor merokok. Sebanyak 37% perempuan yang duduk lebih dari 6 jam sehari terkena berbagai macam penyakit dibandingkan perempuan yang duduknya kurang dari 3 jam sehari, sedangkan pada laki-laki mencapai 17%. Orang yang duduk lebih banya dan jarang berolahraga atau hanya beraktivitas ringan memiliki angka risiko kematian lebih tinggi yaitu 48% pada laki-laki dan 94% pada perempuan. Suatu nilai statistik yang menurut kami mengerikan, itu berarti bahwa aktivitas duduk yang sangat sering kita lakukan memiliki dampak yang fatal terhadap kesehatan manusia.

Menurut seorang epidemiologis Dr. Alpa Patel, bahwa “semakin lama Anda duduk semakin sedikit energi yang keluar dan memiliki konsekuensi seperti meningkatnya berat badan dan menjadi obesitas”, dan berdampak pada risiko berbagai macam penyakit. Dari fakta yang ditemukan tersebut maka dianjurkan bagi setiap individu untuk dapat mengurangi aktivitas sedentari dan memperbanyak aktivitas fisik seperti misalnya rutin berolahraga, ataupun menggunakan sepeda untuk sarana transportasi jarak dekat.

Abstrak Aktivitas Fisik Dan Asupan Kalsium Sebagai Faktor Resiko Obesitas

Diterbitkan dalam Buletin Gizi Kita DIY Edisi September 2012

Latar belakang: Prevalensi obesitas di Makassar cukup tinggi yakni 7,2%. Kurang aktivitas fisik juga paling tinggi di Makassar (72,9%) dan ada kecenderungan semakin tinggi pendidikan semakin rendah aktivitas fisik yang dilakukan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa seseorang yang aktivitasnya kurang cenderung asupan kalsiumnya juga kurang. Asupan kalsium rendah berkaitan dengan peningkatan enzim sintase yang berperan mengubah energi menjadi lemak. Asupan kalsium dan aktivitas fisik kurang dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh, pada akhirnya obesitas.

Tujuan: Untuk melihat apakah aktivitas fisik dan asupan kalsium yang rendah merupakan faktor resiko kejadian obesitas pada dosen Universitas Hasanuddin.

Metode: Jenis penelitian adalah analitik dengan desain case control. Pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling dengan jumlah subjek 216 orang yang terdiri dari kasus 108 orang dan kontrol 108 orang. Variabel yang diukur adalah asupan kalsium dan akifitas fisik yang diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan univariat, bivariat, dan multivariat (regresi logistik).

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang kurang secara signifikan berhubungan dengan kejadian obesitas pada dosen Unhas (p= 0,028). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa asupan kalsium yang rendah secara signifikan berhubungan dengan kejadian kejadian obesitas pada dosen Unhas (p=0,022).

Kesimpulan: Aktifitas fisik dan asupan kalsium kurang merupakan faktor resiko kejadian obesitas pada dosen. Subjek penelitian yang memiliki aktivitas fisik kurang akan memiliki resiko 1,83 kali menjadi obesitas dibandingkan yang memiliki aktivitas fisik cukup. Subjek penelitian yang memiliki asupan kalsium kurang akan memiliki resiko 2,84 kali menjadi obesitas dibandingkan yang memiliki asupan kalsium cukup.

Kata kunci: Aktivitas fisik, asupan kalsium, obesitas

Seri obesitas : Television viewing and food advertising

Kecenderungan terhadap peningkatan gaya hidup sedentary secara nyata sudah terjadi hari ini, hal itu terlihat jelas jika membandingkan tingkat aktivitas anak-anak generasi sekarang dengan dua atau tiga generasi sebelumnya. Belajar, bermain, dan aktif secara fisik dahulunya menjadi bagian dari kebiasaan keluarga namun sekarang hal itu sudah berkurang dan tergantikan dengan nonton televisi, game, dan komputer. Nonton televisi, termasuk kebiasaan sedentary, dan merupakan bagian yang paling sering dilakukan dalam kehidupan keluarga. Dapat dikatakan bahwa kebiasaan nonton televisi berkaitan langsung dengan aktivitas fisik kurang, dan berdampak pada kenaikan berat badan anak. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menonton televisi lebih dari 4 jam sehari cenderung mengalami obesitas.

Menonton televisi sangat menyita waktu dan membuat orang tidak produktif, pada anak yang sering menonton televisi akan menyisakan sedikit waktunya untuk berinteraksi dan positif dengan keluarga sehingga cenderung anak akan semakin mudah terpapar oleh hal-hal yang ditampilkan di televisi. Program dan iklan-iklan yang ditampilkan di televisi juga perlu dipertanyakan apakah dapat mempengaruhi penonton televisi yang masih muda, karena anak relative mudah untuk terpengaruh dan akan melekat karena daya ingat sistem bawah sadarnya. Sangat banyak beneficial program yang dapat dilihat di televisi, namun sayangnya tidak semua program dan iklan tersebut memprioritaskan kesehatan anak bahkan di Indonesia sama sekali tidak ada. Semakin meningkatnya industri makanan dan tingginya persaingan antar produsen makanan membuat banyak perusahaan-perusahaan mempromosikan produknya dengan gencar dan menggunakan media periklanan. Iklan makanan sangatlah kuat dampaknya dalam mempengaruhi pemilihan makanan oleh konsumen. Iklan makanan dapat juga dikategorikan menjadi obesogenic karena iklan makanan sangat memungkinkan untuk menyebabkan seseorang obesitas. Obesogenic adalah lingkungan atau keadaan yang mendorong kejadian obesitas dari beberapa penyebab seperti jumlah yang tidak terbatas dari beragam makanan tinggi kalori bersamaan dengan kurangnya energi yang dikeluarkan.

Perusahaan-perusahaan yang memasarkan produk melalui iklan akan menampilkan produk mereka diantara dan selama program televisi berlangsung pada waktu tertentu. Segmen iklan yang menarik dan memikat ditargetkan kepada anak untuk meningkatkan keinginan mereka untuk memilih makanan padahal makanan yang diiklankan tersebut hampir seluruhnya merupakan makanan yang tidak sehat. Segmen yang dimaksud adalah pada saat waktu-waktu menonton anak dimana intensitas tayangan anak seperti kartun, serial anak, dan lain sebagainya sangat tinggi sehingga saat itulah produsen-produsen makanan tidak sehat menampilkan produknya. Produk makanan yang diiklankan secara langsung kepada anak-anak sepanjang program televisi segmen anak-anak tayang memiliki kontribusi dalam meningkatkan jumlah penjualan makanan-makanan manis, sarapan sereal, dan makanan ringan yang semuanya itu dikategorikan unhealthy food. Anak-anak diprediksi akan tertarik dan meminta atau bahkan membeli sendiri produk-produk tersebut, karena anak-anak memang sangat mudah dipengaruhi apalagi jika produk tersebut diiklankan dengan menggunakan karakter kartoon kesukaan mereka.

Selain dampak buruknya melalui paparan iklan unhealthy food, nonton televisi juga menjadikan anak kurang aktivitas fisik dan mengkonsumsi banyak makanan tinggi kalori selama menonton. Kebiasaan “mengemil” dipengaruhi oleh iklan makanan yang ditonton sebelumnya, kebiasaan ini akan terus berlangsung karena anak akan merasa nyaman dengan aktivitas seperti itu. Formula inilah yang mungkin memicu kenaikan jumlah kejadian overweight dan obesitas pada anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat anak melakukan gerakan-gerakan fisik seperti berolahraga, bermain secara fisik, dan menghindari pola-pola sedentary lainnya, selain itu juga perlu mediasi orang tua untuk memberikan pengawasan dan pemahaman kepada anak.. Hal ini mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan praktisi kesehatan untuk menghambat naiknya prevalensi obesitas pada anak. Sekarang ini sebagian besar anak hidup dalam lingkungan obesogenic dimana mereka terhalang untuk memilih hidup sehat, seperti transportasi ke sekolah yang menggunakan mobil, playstation, game online, dan jajanan-jajanan yang tidak sehat tinggi kalori (junk food). Pertanyaannya adalah sadarkah orang tua kita dengan kondisi seperti ini?