Monthly Archives: April 2014

Seputar Vegetarian (1)

Dalam suatu kesempatan kami diundang sebagai pembicara dalam talkshow dengan tema Vegetarian, Gizi Seimbang kah? Dengan tema tersebut tentu menimbulkan asumsi bahwa sebenarnya vegetarian itu masih merupakan hal yang diperdebatkan dan memunculkan pro dan kontra tentang sehat tidaknya jika dijalani. Berikut ringkasan singkat terkait seputar vegetarian dan hubungannya dalam keilmuwan gizi.

  • Vegetarian dan spritualisme seseorang

Melihat sejarah perkembangan vegetarian, awal mulanya berkembang sekitar thn 1800an tepatnya 1847 di US. Alasan utama mereka adalah berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan tubuh. Karena konsumsi daging bisa mempengaruhi perilaku manusia. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pola pandang itu berubah menjadi fokus pada aspek spiritual/agama terutama di daerah timur. Hal ini tidak terlepas dari beberapa agama yang memang dalam ajarannya menganjurkan untuk mengonsumsi sayur buah dan menolak makan daging. Dalam beberapa agama, vegetarian adalah cara untuk “menjaga tubuh dan pikiran terjaga murni,” lalu kemudian diikuti adanya rasa kemanusiaan dan belas kasihan terhadap kehidupan binatang hidup. Misalnya Kong Hu Cu, Buddha, para pendeta Yunani dan Mesir, agama TAO, bahkan ada beberapa golongan dari agama Yahudi. Untuk Islam sendiri sama sekali tidak membatasi pola makan vegetarian ini, bahkan dalam kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa. Belum pernah kita mendengar adanya perintah untuk tidak makan daging sapi ayam dll kecuali hewan tersebut cacat atau belum cukup umur sembelih selama itu halal dan baik.

Oleh karena itu sebenarnya untuk menjadikan vegetarian sebagai tolak ukur tingkat “keimanan” seseorang, perlu kita telaah lebih baik lagi. Karena indikator ini berbeda bagi masing-masing keyakinan. Bisa saja beberapa orang taat dan tekun melakukan itu krn mmg di agamanya diperintahkan demikian, dan sebaliknya. Mari kita mengubah pola pikir seperti ini.

  • Vegetarian dan badan lemas

Badan lemas mungkin saja, ada beberapa penyebab yang bisa membuat seorang yang vegetarian murni mengalami badan lemas. Pertama adalah disebabkan karena dihilangkannya dua sumber utama gizi makro yakni lemak dan protein yang sebagian besar diperoleh dari daging. Lemak terbukti sumber energi terbesar setiap 1 gr nya dan bahkan lemak lebih lama dicerna dalam tubuh sehingga memberikan pasokan energi yang stabil bagi yang mengonsumsinya. Protein juga berfungsi sebagai sumber energi, zat pembangun, dan zat pengatur. Kedua, seorang vegetarian memiliki risiko mengalami Anemia seperti penjelasan sebelumnya dibandingkan yang non-vegetarian. Salah satu ciri atau simptom dari anemia adalah selalu merasa lemas, disamping selalu ngantuk dan pucat.

Namun beda halnya ketika seorang vegetarian tapi tetap mengonsumsi produk hewani selain daging, bisa memberikan efek yang berbeda karena kita semua tahu bahwa susu telur ikan merupakan sumber protein tinggi, serta memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Protein pada ikan dan seafood lainnya (bukan yang dikalengkan) bisa membantu proses pembentukan otot, jaringan, hingga sistem imun tubuh.

  • Vegetarian dan penyakit degeneratif

Faktor kesehatan menjadi alasan utama kedua dari sebagian besar penganut vegetarian. Menurut Dwyer (1988) dan Kahn (1983) bahwa beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa vegetarian memeliki inisiden yang lebih rendah terhadap penyakit hipertensi, jantung, diabetes, dan batu empedu dibanding yang bukan vegetarian. Beberapa vegetarian juga memiliki risiko defisiensi beberapa mikronutrients seperti Fe, B12, kalsium, dan zink).

Penelitian Tonstad et al (2009), membuktikan bahwa seseorang dgn diet vegan dan lacto ovo vegan menurunkan risiko DM tipe II hingga setengah, sedangkan yang pesco dan lacto hanya menurunkan sekitar seperempat risiko DM tipe II.

Hipotesisnya adalah, karena pada vegan dalam penelitian ini terbukti memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan semi vegetarian dan non-vegetarian. Sedangkan kita ketahui bahwa obesitas merupakan pintu masuk penyakit kronik degeneratif seperti DM, HT, PJK, dll.

Namun ada juga penyakit degeneratif yang meningkat risikonya akibat vegetarian, misalnya osteoporosis dan osteopenia (berkaitan dengan kepadatan tulang). Masalah utamanya adalah kekurangan kalsium sebagai salah satu unsur penting penyusun kepadatan tulang. Vegetarian baru dapat memenuhi kebutuhan kalsiumnya jika mengonsumsi jumlah yang cukup banyak dari produk olahan susu rendah lemak atau bebas lemak, seperti susu, yogurt, dan keju. Selain itu konsumsi sumber-sumber vitamin D juga seperti keju, margarin, sereal, dan puding yang dicampur susu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa nasunin (fitonutrient) dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan mencegah radikal bebas dari neuron merusak. Nasunin ditemukan dalam terong.

Flavonoid dari berry berpotensi menyelamatkan nyawa (kelas antioksidan) ditemukan dalam kadar tinggi dalam buah beraroma ini, dapat menghalangi enzim terkait dengan pembentukan bekuan darah, menurunkan risiko serangan jantung atau stroke, menurut sebuah studi 2012 dari Harvard Medical School .

berlanjut pada tulisan selanjutnya….

Kebijakan larangan junk food-berbagai strategi

Contoh datang dari California, salah satu negara bagian di United State yang mengeluakan kebijakan strategis dan tepat sasaran. Kebijakan tersebut berupa larangan penjualan junk food di kafetaria dan lingkungan sekitar sekolah-sekolah yg ada disana. Laporan terbaru menunjukkan bahwa siswa-siswa SMA disana memiliki tingkat konsumsi kalori lebih sedikit dan lebih rendah konsumsi lemak dan gula di sekolah dibandingkan siswa-siswa di negara bagian lain di US. Studi ini melaporkan bahwa siswa-siswa yang sekolahnya memberlakukan kebijakan tersebut memiliki sekitar 160 kkal lebih sedikit perharinya dibandingkan siswa di negara bagian lain.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan yang dikeluarkan ternyata bisa sukses sampai batas tertentu dalam mempengaruhi kebiasaan makan remaja. Dalam artian, kebijakan yang diberlakukan ini meskipun hanya sebatas di sekolah, namun ternyata cukup efektif merubah perilaku makan remaja sehingga mendapatkan asupan kalori lebih sedikit dibandingkan siswa lain. Untuk asupan makan dirumah, belum ada kontrol terhadap larangan konsumsi junk food, namun kemungkinan besar dengan adanya informasi di sekolah tentang larangan penjualan junk food, bisa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa ternyata junk food itu tidak baik bagi dirinya.

Kebijakan lain mungkin bisa efektif untuk batasan selama dirumah, yakni dengan mengembangkan kebijakan penampilan iklan junk food di media televisi. Misalnya dengan melarang tampilan iklan-iklan junk food selama anak menonton televisi atau paling tidak hingga waktu puncak anak menonton televisi yakni sekitar pkl 21.00 (9 malam). Simon Gillespie, chief executive dari British Heart Foundation, mengatakan: “Orang tua mengharapkan anak-anak mereka tidak akan dihujani dengan iklan makanan yang tidak sehat selama TV tayang utama, tapi itulah yang terjadi”

Jam tayangan ini sangat efektif, perusahaan tidak mungkin mengeluarkan banyak uang untuk kampanye produk makanannya kalau memang pada jam ini tidak efektif. Hal ini dikarenakan anak-anak dan remaja memiliki jam nonton televisi berkisar hingga pkl 20.00-21.00. Telah terbukti bahwa remaja dan anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh paparan iklan-iklan di TV. Makanya perusahaan berkompetisi untuk menampilkan produknya disini. Parahnya lagi, ternyata iklan-iklan yang banyak muncul adalah makanan-makanan “miskin” nilai gizi.

Suatu studi yang dilakukan di Indonesia (2013) terkait iklan-iklan makanan yang ditampilkan. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya tidak sehat (junk). Parahnya lagi, iklan-iklan ini meningkat durasi dan kuantitasnya di waktu-waktu puncak jam menonton anak-anak yaitu di pagi hari, sore hari, dan malam hari. Penelitian ini dilakukan di beberapa negara, dan di dapatkan bahwa Indonesia memiliki presentase jumlah iklan makanan tidak sehat yang ditampilkan paling banyak.

Beda lagi kebijakan-kebijakan yang dilakukan di Mexico, di sana menerapkan “taxation policy” atau kebijakan dengan memainkan peran pajak. Pajak yang cukup tinggi untuk makanan-makanan tidak sehat khususnya fast food menjadikan ada kontrol tersendiri terhadap perkembangan bisnis junk food disana. Demikian penyampaian Simon Barquera dari National Institute of Public Health Cuernavaca Mexico dalam pertemuan International Congress on Obesity di Kuala Lumpur bulan maret 2014 lalu.

foto: hungryfoodlove.com

foto: hungryfoodlove.com

Kebijakan lainnya, bisa dengan mengembangkan model pemasaran fast food/junk food namun konten yang dijual adalah healthy food, misalnya dengan melakukan pemasaran untuk “mobile vendor food” atau penjualan makanan-makanan sehat dengan sistem bergerak menggunakan kendaraan. Seperti sistem jemput bola, jangan menunggu orang datang membeli makanan sehat, tapi kita yang berkeliling untuk mencari orang-orang yang mau membeli produk-produk makanan sehat, sekaligu sebagai media kampanye makanan sehat. Dalam mobile vendor, macam-macam makanan sehat bisa dijual, seperti buah-buahan segar, salad buah sayur yang siap santap (ditempatkan di kotak pendingin agar segar), paket sarapan sehat (yg bs dijual di pagi hari), air mineral segar, dll.

Jadi kesimpulannya, banyak strategi-strategi yg bisa dikembangkan untuk membuat kebijakan yang bertujuan mengatasi perkembangan pemasaran unhealthy food di negara-negara berkembang dan negara maju. Hal ini sebagai upaya untuk melawan epidemi obesitas di berbagai negara. Karena kita tahu bahwa junk food/fast food berkontribusi signifikan terhadap kenaikan asupan kalori yg berlebih dan kenaikan berat badan.