Monthly Archives: November 2013

Gizi geriatric

Kebutuhan gizi pada orang lanjut usia perlu mendapat perhatian, mengapa tidak, karena kebutuhan gizi pada masa ini berubah drastis dibandingkan kebutuhan gizi pada orang dewasa. Terjadi perubahan pada fungsi fisiologis tubuh dan sistem metaboliknya sehingga mempengaruhi banyak hal termasuk kebutuhan gizi yang menunjang status gizi. Semua kebutuhan zat-zat gizi mestinya diperhatikan, namun yang paling dominan adalah zat-zat gizi makro, disamping vitamin, dan beberapa mineral utama.

Protein

Pada usia muda, total otot manusia mencapai 30-35% dari berat badan, bahkan untuk beberapa orang (terutama yang menyukai olahraga mencapai 45%). Jumlah ini kemudian turun menjadi <27% ketika usia lanjut. Tidak lain disebabkan karena terjadi perubahan signifikan jalur metabolisme dan kebutuhan tubuh akan protein. Untuk orang dewasa usia >50 tahun biasanya kebutuhan proteinnya hanya 0,8 gr/kg berat badan, tetapi ada juga yang merekomendasikan hingga 1,2 gr/kg bb. Sangat dianjurkan sumber protein untuk orang lanjut usia berasal dari protein yang berkualitas tinggi. Sumber terbaik adalah ikan, dan daging (hindari bagian lemak), dan pengolahan yang baik adalah dengan cara direbus atau dikukus. Ketika makanan direbus/dikukus, akan memecah kompleks potein menjadi yang lebih sederhana sehingga memudahkan untuk dicerna oleh sistem pencernaan, khususnya pada orang lanjut usia. Ketika makanan digoreng atau dibakar, protein menjadi sulit dicerna, akibatnya membebani sistem pencernaan.

Fungsi dari protein sangat banyak tapi yang terpenting adalah proses regenerasi sel, karena pada fase ini tidak seperti ketika usia muda dulu, sel-sel sangat rentan rusak, karena itu protein membantu memelihara regenerasi sel.

Karbohidrat

Anjuran kebutuhan karbohidrat pada masa ini berkisar 45-60% dari total energi, dan sebaiknya karbohidrat kompleks (misalnya pati, dll). Ada penelitian yang menganjurkan 130 gr/hari untuk pasien usia >70 tahun, dengan asumsi konsumsi soft drink, gula, dan makanan yang mengandung pemanis dan pengawet sudah tidak dimasukkan dalam menu makanan responden/pasien. Selain itu pilihan makanan yang berindeks glikemik rendah harus diutamakan, misalnya makanan beras merah, gandum, roti putih, getuk, dan buah-buah kaya serat. Jadi jenis (indeks glikemik rendah) dan jumlah (tidak lebih dari 60%) patut diperhatikan oleh orang lanjut usia, agar supaya kadar glukosa darah dalam tubuh dapat lebih terjaga. Makanan dengan indeks glikemik rendah cenderung untuk memberikan rasa kenyang lebih lama, hal ini baik bagi orang lanjut usia. Karbohidrat sebagai sumber energi utama bagi tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi dasar organ tubuh, dan untuk melakukan aktivitas fisik.

 

Lemak

Banyak orang mengatakan jika sudah tua sebaiknya tidak usah makan-makanan yang berlemak, padahal pada usia tersebut tidak ada masalah untuk mencerna lemak yang dikonsumsi. Lemak juga dibutuhkan bagi orang usia lanjut, misalnya untuk memberikan energi jangka panjang, memberikan rasa kenyang yang lama, membantu “aktivasi” hormon-hormon, melindungi sel-sel tubuh, mengangkut vitamin larut lemak ke seluruh tubuh, dan menjaga suhu tubuh. Lemak baru agak “berbahaya” jika memang orang tersebut memiliki faktor risiko yang bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit. Misalnya diusia lanjut tapi obesitas sentral atau obesitas berat, ada riwayat aterosklerosis, atau penyakit jantung, dll.

Rekomendasi kebutuhan lemak sekitar 25% dari total kebutuhan energi, kemudian konsumsi lemak jenuh tidak lebih dari 10% serta total kolesterol <200 mg/hari. Sumber lemak jenuh misalnya yang bersantan, daging babi, susu tinggi lemak, minyak kelapa, dll sedangkan sumber kolesterol selain makanan tersebut juga jeroan, otak, telur, mentega, dll.

Prediktor yang cukup baik menggambarkan status gizi akibat perilaku beberapa bulan lalu adalah kadar albumin. Normalnya kadar albumin berikisar antara 4-5,2gr/dl.  Jika kurang dari itu, maka orang tersebut bisa juga dikatakan urang gizi. Metode ini termasuk metode pengukuran laboratorium untuk status gizi. Kembali ke permasalah status gizi orang lanjut usia, dimana banyak diantara orang-orang lanjut usia yang dirawat dirumah sakit dan kekurangan gizi memiliki kadar albumin yang rendah, sangat kurus, pucat, ataupun berat menopang tubuhnya sendiri. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini diantaranya: 1) Hilangnya nafsu makan akibat kemampuan indra perasa dan penciuman telah berkurang; 2) Masalah pada sistem pencernaan yang telah berlangsung cukup lama; dan 3) kehilangan lemak tubuh akibat porses penuaan.

Treatmentnya harus memerhatikan aspek-aspek pemenuhan gizi makro (karbohidrat, lemak, dan protein), disamping itu kebutuhan akan serat, vitamin, dan mineral-mineral utama (kalsium, magnesium, fosfor, zink dll) harus terpenuhi juga. Terutama zink, dimana mineral ini akan mempercepat penyembuhan orang lanjut usia, lalu vitamin yang melakukan perawatan dan memelihara kondisi tubuh ketika sehat.

Sumber:

Handbook of nutrition in aged (Ronald Rosswatson, 2009), dan beberapa supplemen materi.

Advertisements

#Riskesdas2013

 

  1. Penyajian hasil-hasil pokok #Riskesdas(2013) riset kesehatan dasar, filenya dapat didownload –> https://www.dropbox.com/s/h7ronwwa0pdj2og/Riskesdas2013.pdf
  2. #Riskesdas2013 riset brbsis masy. u/ mnydiakn infrmasi indiktor pmbngunan kesh. dgn mnggunakn smpel RT yg mwkili nsional, prov., kab/kota
  3. #Riskesdas2013 pngmpulan datax dlkukan sluruh prop, kab/kota (33 Prov, 497 kab/kota) di Indonesia. smpel individu 1,02jt, sampel RT 295rb
  4. #Riskesdas2013 bertujuan sbg bhan input kbijakan, prencanaan n pncapaian prgram2 pmerintah yg ada, khsusx brkaitan dgn bbn gnda msalah gz.
  5. bbrapa poin yg kali ini dipaparkan, diantarax BBLR, pnjang lahir rendah, prvalensi stunting balita n prvalensi obesitas #Riskesdas2013
  6. Prevalensi BBLR turun dari 11,1% (2010) menjadi 10,2% (2013) trtinggi sulteng (>15%) dan terendah sumut (<7%) #Riskesdas2013
  7. Sedangkan proporsi bayi lahir pendek (<48 cm) di Indonesia 20,2%. Tertinggi NTT (28,7%) terendah Bali (9,6%) #Riskesdas2013
  8. Proporsi bayi lahir pendek+BBLR mencapai 4,8%, tertinggi di Papua (7,6%) dan trendah di Maluku (0,8%) #Riskesdas2013
  9. Data #Riskesdas2013 menujukkan masih lbh dr 1/3 anak balita di Indonesia #stunting, angka ini naik 36,8% (2007) menjadi 37,2% (2013)
  10. Hal ini menggambarkan bahwa kita masih gagal menurunkan mslh gz kronis di INA #Riskesdas2013. Batas non public health yg ditetapkn WHO 20%.
  11. Program pencegahan stunting dituangkan dalam gerakan 1000 HPK dan RANPG, angkanya justru meningkat. program pmerintah gagal? #Riskesdas2013
  12. Pemerintah melalui program #1000HPK melakukan intervensi spesifik dan sensitif dalam perencanaannya dgn sasaran bumil, balita, dan masy. #Riskesdas2013
  13. Program sustainable lainnya air bersih n sanitasi, kthanan pngan n gz, fortifikasi pngan, pengntasan kmiskinan, pningkatn pndidikan, KIE, dll #Riskesdas2013
  14. Dalam dokumen SUN (scaling up nutrition), intervensi spesifik hnya efektif 30% mngtasi masalah gz #1000HPK #Riskesdas2013
  15. 70% hrus mlibatkan berbagai sektor dluar kesehatan, namun ternyata angka 30% itu tidak berhasil dicapai #Riskesdas2013
  16. Target INA menurunkan 2.9% atau prevalensi mjd 32% di tahun 2015 sbg target MDG, apakah masih on track ataukah sdh gagal? #Riskesdas 2013
  17. Lihat dokumen “Kerangka kebijakan Gerakan Sadar Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (#1000HPK) –> kgm.bappenas.go.id/document/datadokumen/40_DataDokumen.pdf
  18. Beralih ke usia 5-18 tahun, terdapat prbdaan yg ckp bsar dr prtumbuhan TB anak2 INA dibandingkan rujukannya #Riskesdas2013
  19. menunjukkan bahwa terdapat prbdaan 12,5 cm pd laki-laki dan 9,8 cm pd prmpuan, dibandingkan kurva rujukan WHO (2007) #Riskesdas2013
  20. #Obesitas anak balita juga gagal dturunkn, dlm waktu 6 tahun obesitas hanya turun 0,3% dari 12,2% (2007) jd 11,9% (2013) #Riskesdas2013
  21. Pd org dwasa, u/ laki-laki, terjadi kenaikan angka obesitas 5,8%, dari 13,9% (2007) menjadi 19,7% (2013) #Riskesdas2013
  22. Kenaikan yang sangat ekstrim ditunjukkan pd prmpuan dwasa, dimana t’jd perubahan dari 14,8% (2007) menjadi 32,9% (2013) #Riskesdas2013
  23. Obesitas sentral juga mengalami kenaikan sekitar 7,8%, yakni 18,8% (2007) menjadi 26,6% (2013) #Riskesdas2013
  24. Aktivitas #sedentari sbg salah satu pnybab obesitas ikut diangkat dlm #Riskesdas2013, dimana jmlh pddk yg tggi sedentarinya mncpai 24,1%.
  25. Dimanakah fokus kita? Mgpa #stunting n #obes sbg pintu msuk #non-communicable-disease masih belum turun secara signifikan #Riskesdas2013
  26. Tdk heran jika angka kejadian pnyakit tdk menular jg ikut meningkat. DM, HT, dan stroke naik, dari tahun 2007 hingga 2013 #Riskesdas2013
  27. Hasil yg paling mengejutkan, tidak ada perbedaan yg signifikan antara hasil pmriksaan pddk di perkotaan dgn di pedesaan #Riskesdas2013
  28. Mari kita menunggu hasil publikasi #Riskedas2013 secara resmi, beserta tanggapan2 yg mncul.
  29. Bagaimana respon akademisi & praktisi kesehatan, serta para stakeholder terkait ttg kondisi kesehatan di INA tercinta #Riskesdas2013

#obesanak

1) mmpung lg tdk ada krjaan dan perjalanan k JKT  yg masih jauh jd buat catatan kecil dlu ttg #obesanak
2) jika dahulu, ank gemuk pertanda kemakmuran kluarga #obesanak
3) skrg anggapan itu tdk berlaku lgi, bnyk org kaya anak2 ny buka melebar keaamping tp lebih kearah pertumbuhan tingg #obesanak
4) apa yg brubah? Pasca era globalisasi terjdi fase transisi d masyarakat terutama d kota2 bsar #obesanak
5) transisi itu melibatkan perubahan pola hidup anak, misalnya permainan tradisional kini ditinggalkan #obesanak
6) tergantikan permainan modern spt game online, ps, komputer, dll #obesanak
7) pola jajan, dimana anak2 dgn sangat mudah mmperoleh cemilan “junkfood” krn pertumbuhan minimarket tdk terkendali #obesanak
8) pdhl dulu supermarket hanya sdikit dan trpusat di kota., sedangkan anak desa sulit menjangkaunya #obesanak
9) di kota bsr, sbgian org tua mnghruskan ank brmain d dlm rmh shbis skolah, krn tgginya ksus pnculikan #obesanak
10) akibatnya ank mnghbiskan wktu drmh dgn pola sedentari/berdiam disertai mengemil mknan2 tggi klori natrium #obesanak
11) thn 2010 angka #obesanak Indonesia 11,8%, tjd prtumbuhan 1,2% pertahun. Jk tdk dcegah, 2020 angka itu mncapai >20%
12) apa sih yg jd kekhawatiran jika ank kita gemuk? Toh lbih baik drpd kurus?? *anggapan salah #anakobes
13) anak kurus, slama pertumbuhan tggi badannya normal/tdk stunting maka tdk mnjdi masalah #anakobes
14) sdgkn #anakobes besar risiko pnurunan kualitas hidup,, yi produktivitas, aspek kesehatannya, dan usia harapan hidup.
15) #anakobes otaknya akan mnglami gangguan, sulit bergerak, sleep apnea (sulit nafas) dan brisiko jd obes pd saat remaja dan dewasa
16) jika remaja mnjdi obes, risiko trkena pnyakit kronik diusia muda spt dm, hipertensi, dislipid, dll smakin meningkat #anakobes
17) pemerintah msih fokus menurunkn stunting, pdhl #obesanak sama bahaya dan besar kerugiannya
18) Amerika mengestimasi cost health untuk menghambat obes dan kerugian akibat #anakobes
18) tenyata kerugian akibat #anakobes ini lebih dari 3x biaya untuk mncegah #obesanak yg hanya 14 miliar dollar
19) bgmn di Indonesia? Anggaran itu masih blm ada, mgkn sj krn kerugian akibat #anakobes blm nampak
20) smg #obesanak bs mnjd perhtian bg smua pihak, dmikian slmat mlm… htpp://catatanseorangahligizi.wordpress.com