Monthly Archives: September 2013

Manfaat teh oolong a.k.a wulong tea

Dalam suatu kesempatan, saya membaca artikel mengenai teh oolong ini. Di dalam artikel yang berjudul teh oolong and weight loss tersebut ada hal menarik menurut saya, terutama kaitannya dengan berat badan. Saat ini banyak orang yang tertarik dengan metode penurunan berat badan malalui terapi suatu bahan makanan, misalnya saja dengan konsumsi teh hijau, kacang hitam, kacang kedelai, dll. Teh wulong ini juga dapat dimanfaatkan untuk terapi penurunan berat badan. Terapi penurunan berat badan dengan bahan makanan dianggap lebih mengasyikkan dan tidak berisiko dibandingkan metode lainnya seperti diet ketat, olahraga berat, bahkan operasi pengangkatan lemak. Teh oolong atau wulong berasal dari tumbuhan Camellia Sinesis. Tanaman ini melindungi dirinya dari stressor fotosintesis dengan mengeluarkan bahan kimia yang disebut polifenol (flavonoid), yang berfungsi sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan.

sumber foto: wikipedia

sumber foto: wikipedia

Hampir semua teh sama, misalnya teh oolong ini tidak jauh berbeda dengan teh hijau karena perbedaannya terdapat pada prosesingnya. Teh hijau diperoleh dengan cara pemanasan, untuk menghadang reaksi enzimatik alami (oksidasi) daun. Begitu dikeringkan, daun-daun teh hijau lalu digulung dengan maksud memecah struktur sel di dalamnya. Sementara teh Oolong, setelah daun teh dipetik, ditempatkan dalam kelembapan dan temperatur untuk memungkinkan oksidasi. Namun dibuat kondisi oksidasi hanya setengah jalan, dan daun-daun teh Oolong tidak dibuat pecah sehingga sebagian struktur sel daun masih menyatu.

Pada prinsipnya, mencegah seseorang dari berat badan berlebih ada 2 cara yaitu meningkatkan keluaran energi ataupun mencegah asupan yang berlebihan terutama lemak dan karbohidrat. Teh oolong sebenarnya sudah sangat lama diketahui dan dikonsumsi masyarakat. Masyarakat cina mengonsumsi teh oolong ini untuk menjaga dan mempertahankan berat badan, hal ini berdasarkan penelitian di China tahun 1998. Di Indonesia, popularitas teh oolong masih kalah jauh dengan green tea, sehingga belum banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi jenis teh ini. Kembali pada penelitian yang dilakukan di China, bahwa konsumsi teh oolong selama 6 minggu berturut-turut dapat menurunkan berat badan. Bagaimana mekanisme teh oolong ini dalam menurunkan atau menjaga berat badan Anda?

Di iklan salah satu produk minuman ringan berbahan dasar teh oolong, disebutkan bahwa teh oolong dapat mencegah penyerapan lemak. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa polifenol dalam teh oolong berfungsi membakar lemak atau mempercepat metabolisme dalam tubuh, memblokade penyerapan lemak dan karbohidrat, menyingkirkan radikal bebas, dan  bisa menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Fungsi-fungsi tersebut bermanfaat menjaga berat badan ataupun dalam rangka menurunkan berat badan, cocok juga bagi penderita diabetes. Penelitian-penelitian di Indonesia terkait teh oolong ini masih sangat kurang, sehingga untuk membuktikan kesimpulan tersebut, perlu dilakukan studi sebagai evidence based nya. Namun begitu, segelas teh oolong di sore hari dengan rutin bersama keluarga tidak ada salahnya kan, Minimal jika belum terasa manfaatnya, dapat merasakan kenikmatannya :D.

 Dari berbagai sumber

Minimarket dan Obesitas

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

imbangi belanja junk food dengan buah dan sayur di mini market (sumber: http://fishtrain.com)

Pada tingkat pemahaman dasar, bahwa obesitas merupakan masalah yang timbul akibat ketidakseimbangan energi yaitu energi yang masuk lebih banyak dibandingkan dengan energi yang keluar.  Pada semua tingkat usia, prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun dan menunjukkan angka yang cukup tinggi dan penyebarannya merata, karena itu masalah ini disebut sebagai masalah epidemik kesehatan masyarakat. Sebenarnya banyak faktor penyebab obesitas, atau jika dijabarkan lebih dalam lagi, banyak faktor penyebab ketidakseimbangan energi tersebut. Salah satu faktor determinan adalah lingkungan-lingkungan yang menyebabkan obesitas disebut obesogenic enviroment.

Obesogenic environment diantaranya adalah ketersediaan berbagai teknologi, keberadaan restoran cepat saji, tumbuhnya mini market, serta semakin banyaknya kendaraan. Sarana dan prasarana tersebut berhasil mengubah pola-pola hidup masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang. Menyebabkan rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya perilaku sedentary dan konsumsi fast food, serta memudahkan akses terhadap junk food. Beberapa penelitian telah menjelaskan keterkaitan antara media teknologi, kepemilikan kendaraan, serta keberadaan restoran cepat saji dengan perilaku gizi yang salah serta peningkatan indeks massa tubuh. Namun penelitian terkait pengaruh keberadaan mini market yang akhir-akhir ini kian berkembang terutama di Indonesia masih sangat kurang.

Studi sebelumnya menyimpulkan kaitan positif antara keberadaan makanan bergizi dalam supermarket dengan makanan yang di konsumsi oleh masyarakat disekitar supermarket. Karakteristik dari supermarket mungkin saja berkaitan dengan asupan makanan dan obesitas. Sebagian besar masyarakat masih memilih supermarket sebagai tempat belanja makanan dan bahan makanan, karena itu melalui supermarket pula potensi untuk mencegah obesitas dapat dilakukan. Karakteristik dari supermarket cukup menentukan asupan makanan masyarakat sekitarnya karena terkait penyediaan bahan-bahan makanan di supermarket tersebut. Misalnya saja ketika supermarket tersebut banyak menjual buah-buahan dan sayuran, kemungkinan besar asupan buah dan sayur di masyarakat sekitarnya juga akan baik.

Hasil penelitian Lear et al (2013), bahwa IMT dari pelanggan berkaitan erat dengan jumlah total sayuran dan buah yang dijual dan jumlah uang yang dibelanjakan untuk makanan. Semakin banyak total belanja makanan oleh pelanggan dan total buah dan sayur yang dijual disuatu supermarket semakin meningkat pula indeks massa tubuh. Temuan lainnya bahwa harga dari bahan makanan di suatu supermarket memiliki hubungan timbal balik dengan IMT pelanggan. Peningkatan harga makanan mungkin akan membuat kebimbangan dan rawan, sebagai konsekuensi, dalam penelitian ini membuktikan bahwa kehati-hatian dalam menentukan harga makanan sebenarnya merupakan poin penting jika ingin melakukan intervensi untuk mencegah peningkatan obesitas.

minimarketDi Indonesia, banyaknya makanan-makanan yang tergolong unhealthy dijual di mini market menjadi cara tersendiri peningkatan masalah obesitas di Indonesia. Saat ini mini market tumbuh dengan signifikan, disetiap sudut kota, disetiap wilayah, dan bahkan persaingan bukan lagi terjadi antara pasar tradisional dengan mini market melainkan antar mini market karena banyaknya mini market yang berdiri. Apabila di seluruh mini market di Indonesia menjual berbagai macam junk food, bagaimana mungkin masyarakat kita khususnya yang tinggal di dekat mini market tersebut tidak terpapar oleh junk food. Lihat saja, sebagian besar orang-orang yang belanja di mini market kebanyakan membeli soft drink tinggi gula, snack ringan tinggi natrium dan pengawet, dll.

Perubahan gaya hidup (lifestyle) akibat modernisasi memberi warna tersendiri bagi epidemiologi obesitas di Indonesia. Untuk mencegah itu semua, sebaiknya pemerintah dengan tegas memberlakukan kebijakan-kebijakan yang menyangkut pertumbuhan minimarket tersebut. Memang jika dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi modern Indonesia meningkat, namun justru mematikan keberadaan pasar tradisional dimana kita ketahui di pasar tradisional banyak menyediakan aneka bahan makanan yang sehat dan jauh dari paparan junk food. Akibatnya ketika angka kejadian obesitas meningkat, akan memberikan beban tersendiri bagi Indonesia. Anak-anak yang obese berpotensi akan obes di fase kehidupan selanjutnya, menurunkan produktivitas, akibatnya sumber daya manusia kita akan sulit bersaing secara global. Mari para aktivitas kesehatan, dan pelaku pasar menyikapi hal ini.