Monthly Archives: March 2013

Kafein dan Penurunan berat badan

kafeinProgram intervensi penurunan berat badan kini tidak lagi menjadi suatu upaya yang sulit dilakukan, karena saat ini telah banyak metode dan cara yang bisa dilakukan tergantung kemauan orang yang bersangkutan. Kini saatnya diet ketat dan menyiksa itu dibuang jauh dan ditinggalkan karena tidak hanya membebani orang yang sedang berupaya menurunkan berat badan tetapi juga dapat merugikan kesehatan dan yang paling fatal adalah sifatnya yang temporer. Diet ketat cenderung bersifat sementara, berat badan memang akan nampak turun drastis namun cepat pula kembali ke berat badan semula ketika diet tersebut tidak dijalankan lagi. Kini telah muncul berbagai metode untuk menjawab masalah tersebut, misalnya dengan meningkatkan aktivitas fisik olahraga, terapi teh hijau, dan yang terbaru ini adalah intervensi dengan kafein.

Tips-agar-kopi-tetap-nikmatPerlu diketahui bahwa kafein bersifat anoreksia, yakni dapat menunda rasa lapar dan ketika dikonsumsi sebelum makan maka dapat menurunkan selera makan sehingga rasa kenyang akan lebih cepat datang. Menurut Kulkosky1, bahwa kafein memang terbukti efektif sebagai penekan nafsu makan. Hal ini dibuktikan melalui penelitian terhadap tikus menyimpulkan bahwa kafein yang dikonsumsi secara oral sangat ampuh untuk menekan nafsu makan. Namun jika kesulitan mendapatkan pil kafein, bisa digantikan dengan mengonsumsi 2-3 cangkir kopi setiap hari sebelum waktu makan. Pendapat ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Sours2 yang menyebutkan bahwa seringkali penderita anoreksia nervosa, gangguan pola makan kronis dengan gejala patologis bila berat badan bertambah, akan menghilangkan selera makannya dengan kopi atau minuman sumber kafein lainnya.

Meskipun dosis tinggi terbukti secara signifikan dapat menekan nafsu makan, akan tetapi bagi seseorang yang mungkin agak sensitif dengan kafein tidak perlu memaksa diri untuk mengonsumsi kafein secara ekstrim, karena dosis rendah kafein ternyata sudah mampu membuat seseorang mengurangi porsi makannya sekitar 10%3. Hal tersebut terjadi karena kafein memberikan efek terhadap sistem neurotransmitter, yakni senyawa seperti serotonin, dopamine, atau asetilkolin yang mengatur kapan rasa lapar datang, berapa banyak energi yang dibutuhkan tubuh, dan berapa banyak lemak yang harus dibakar4. Bray5 seorang penulis dan peneliti yang fokus pada obesitas dan penanganannya menyimpulkan bahwa mekanisme kerja kafein dalam menekan nafsu makan berhubungan dengan kemampuan kafein dalam mengaktifkan sistem saraf simpatik yang bereaksi terhadap asupan makanan dengan memunculkan rasa kenyang, meningkatkan metabolisme, dan meningkatkan lipolisis atau pembakaran lemak.

Sumber:

  1. Kulkosky P.J. Effect of CCK-8 on intake caffeine, ethanol, and water. Bulletin of the Psychonomic Society 1981; (29): 441-444.
  2. Sours J.A. Case reports of anorexia nervosa and caffeinsm. Am J of Psychiatry 1983; (140): 235-236.
  3. Weinberg B.A and Bealer B.K. The caffeine advantage. The Free Press, New York. 2002.
  4. Bray G.A. Reciprocal relation of food intake and sympathetic activity. Experimental observations and clinical implications. Int. J of Obesity 2000; (24): s8-s17.

Pengganti susu sapi

susuKarena mengonsumsi susu sapi dikhawatirkan akan membuat gemuk, orang lantas memilih susu kedelai. Tetapi, dapatkah susu kedelai menggantikan zat gizi dari susu sapi itu sendiri?

Pada dasarnya, susu merupakan cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar susu dari sapi betina sebagai makanan untuk anak-anak sapi (hal yang sama juga berlaku pada kita). Namun, susu juga bisa menggambarkan cairan menyerupai susu yang berasal dari tanaman, seperti kelapa atau biji kedelai. Susu yang diproses dari tumbuhan pun sudah lama dikonsumsi, bahkan sudah diberi berbagai macam aroma seperti green tea, cappuccino, dan lain sebagainya. Namun, coba kita cari tahu bagaimana kandungan zat gizi susu kedelai.

Kalsium: Susu sapi mengandung protein, dan kalsium yang bermanfaat untuk membangun tulang yang kuat. Segelas susu sapi saja sudah memberikan 30 persen dari kebutuhan kalsium harian, dan 8 gram protein. Kalsium ini secara alami diproduksi dalam susu hewani, namun harus ditambahkan pada produk pengganti susu selama pemrosesannya untuk meningkatkan nilai gizinya. Oleh karena itu, kebanyakan produk pengganti susu memiliki kandungan kalsium yang sama (bahkan bisa lebih) daripada susu sapi. Sehingga, susu kedelai, santan, susu almon, susu biji matahari, bisa memberikan 45 persen dari kebutuhan kalsium harian. Namun yang perlu diingat, kalsium tersebut hanya merupakan tambahan, bukan diproduksi secara alami.

Protein: Seperti telah disebutkan tadi, secangkir susu sapi mengandung 8 gram protein. Sedangkan santan, biji bunga matahari, dan susu almon, hanya mengandung 1 gram protein per porsi. Yang paling mendekati kandungan protein pada susu sapi adalah susu kedelai, dengan 6 gram protein kedelai yang menyehatkan jantung dalam satu cangkir.

Vitamin dan zat gizi lain: Susu sapi dan susu dari tumbuh-tumbuhan memiliki perbedaan kandungan zat gizi, namun masing-masing sebenarnya memiliki keuntungan sendiri-sendiri. Susu sapi merupakan sumber vitamin dan mineral seperti kalium, fosfor, dan vitamin D. Secangkir susu almon atau biji bunga matahari memberikan separuh dari kebutuhan harian akan vitamin E, antioksidan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Susu biji bunga matahari juga menyediakan 60 persen dari kebutuhan harian akan fosfor.

Adapun susu kedelai mengandung isoflavon, tipe estrogen yang mengurangi efek estrogen pada tubuh Anda sendiri. Jika Anda memiliki riwayat keluarga yang mengidap kanker payudara, sebaiknya Anda berkonsultasi lebih dulu pada dokter sebelum mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kedelai. Kaum perempuan yang memiliki risiko lebih besar terhadap penyakit ini, sebaiknya membatasi paparan estrogen dalam berbagai bentuk. Begitu pula dengan perempuan yang sedang berusaha hamil, sedang hamil, atau menyusui, perlu memastikan keamanannya pada dokter.

Lemak: Kecuali santan, pengganti susu dari tumbuh-tumbuhan yang lain, atau susu sapi rendah lemak, memiliki kandungan lemak jenuh yang rendah dan tidak mengandung kolesterol. Produk pengganti susu ini juga bebas laktosa, yang bisa menjadi pilihan bagi konsumen yang mengidap alergi susu sapi atau intoleransi laktosa.

Sumber: Kompas.com

Stabilitas relatif dari berat badan

Teori ‘set point’

Dasar dari teori set point ini adalah mengenali bahwa setiap inidvidu itu cenderung memiliki kestabilan berat badan dan akan bertahan selama periode tertentu yang cukup lama. Misalnya, pada waktu SMA kita cenderung merasakan berat badan kita tidak naik dan tidak turun, namun cenderung tetap pada kisaran tertentu (contoh 45-48 kg). Contoh lain pada saat kita merasa nafsu makan kuat lalu makan berlebih atau sebaliknya sangat malas makan, memang terjadi perubahan berat badan secara spontan akan tetapi sifatnya relative sementara dan kembali lagi bertahan pada kisaran yang sama dengan kondisi kita pada saat sebelumnya (starting condition).

persepsi tentang berat badan dipengaruhi oleh berbagai teori

Meskipun terjadi penurunan berat badan ketika sedikit makan dalam waktu yang lama, namun hal itu tidak cukup signifikan untuk bertahan dan tidak kembali pada kondisi awal sebelum penurunan berat badan terjadi. Menurut Sims dan Horton (1968) bahwa seseorang yang mengalami penurunan berat badan karena kondisi tertentu akan mendapatkan kembali berat badan yang hilang itu dengan cepat pada saat kondisi negatif keseimbangan energi terjadi. Kondisi negatif keseimbangan energi adalah suatu kondisi tidak terjadinya keseimbangan energi pada siklus metabolisme seseorang. Orang yang mengalami penurunan berat badan secara ekstrim berarti mengalami kondisi negatif keseimbangan energi, akibatnya tubuh memerlukan asupan energi yang juga ekstrim. Dampaknya terjadi kenaikan berat badan yang signifikan dan secara cepat mendekati kondisi awal sebelum terjadi penurunan berat badan. Kondisi demikianlah yang terjadi pada orang yang melakukan diet ketat, cenderung program diet ketat tersebut tidak berhasil dan ketika berat badan telah turun secara ekstrim, sangat berpotensi untuk kembali ke keadaan semula. Teori inilah yang disebut dengan set point theory.

Observasi ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti yang menemukan bahwa konsep set point berat badan, seperti konsep sistem keseimbangan energi memang diprogram untuk menahan berat badan utama (kisaran berat badan pada kondisi individu saat itu). Keesey dan Corbett (1984) juga melakukan studi eksperimen pada hewan berhasil menunjukkan bukti mekanisme fisiologi yaitu bertahannya berat badan tertentu meskipun terjadi defisit energi ataupun surplus. Akan tetapi bukan berarti dengan adanya set point ini berat badan kita tidak akan terjadi perubahan. Pada dasarnya untuk mengubah set point berat badan, perubahan pada mekanisme dasar sistem saraf pusat (CNS) yang mengatur asupan energi yang masuk dan keluar diperlukan. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan pada hewan dengan merusak hipotalamus ventromedial di otak yang kemudian dikenal sebagai pusat rasa kenyang menyebabkan hewan tersebut overeating dan mencapai berat badan baru yang lebih berat (sebagai set point baru). Alternatif lain yaitu merusak hipotalamus lateral yang juga disebut sebagai pusat makan, menghasilkan intake makan berkurang, kehilangan berat badan, dan berat badan baru yang lebih ringan (juga sebagai set point baru).

Teori ‘settling point’

Sepanjang hidup orang dewasa berat badan sering tidak tetap, meskipun ada waktu-waktu tertentu relatif konstan. Teori settling point menetapkan perubahan berat badan dari waktu ke waktu dalam dua arah. Oleh karena itu, akan lebih akurat untuk menunjuk suatu berat badan utama pada waktu tertentu sebagai titik menetap (settling point) daripada titik yang memang semestinya (set point). Artinya settling point ini sifatnya lebih relatif, oleh karena banyaknya hal yang mempengaruhi.

Settling point ditentukan dipengaruhi oleh perbedaan fisiologi, psikologi, dan kondisi lingkungan individu. Sebagai contoh, penurunan tingkat aktivitas fisik mendorong terjadinya ketidakseimbangan energi, berat badan meningkat, dan demikian, settling point yang lebih tinggi (Hill et al, 2003).

Jadi sebagai kesimpulannya bahwa teori set point dan settling point pada dasarnya saling bertolak belakang, karena itu keduanya digolongkan dalam stabilitas relatif berat badan. Namun, tanpa memperhatikan keduanya apakah teori set point ataukah settling point yang paling mempengaruhi berat badan, keberadaan sistem kontrol fisiologi yang mempertahankan berat badan tidak dapat juga diabaikan karena berdasarkan bukti yang tersedia (penelitian).

Referensi:

  1. Berryman, Davy, and Edwar (2013). Control of Energy Balance. In Stipanuk MH and Caudill MA (3rd eds.) Biochemical, Physiological, and Molecular Aspects of Human Nutrition. (pp.504). New York: Elsevier.
  2. Hill et al. (2003). Obesity and the environment: Where do we go from here? Science, 299, 853-855.
  3. Sims and Horton (1968). Endocrine and metabolic adaptation to obesity and starvation. The American Journal of Clinical Nutrition, 21, 1455-1470.
  4. Keesey and Corbett (1984). Metabolic defense of the body weight set point. In A. J. Stunkard and E. Stellar (Eds.), Eating and its disorders (pp.87-96). New York: Raven Press.

Dampak Negatif Susu Kedelai Yang Tidak Diketahui

dikutip dari artikel ini dengan judul yang sama

Oleh : dr. Indiradewi Hestinignsih

Tahukah Anda? Susu kedelai bermanfaat jika produk kedelai telah terfermentasi. Namun ”tidak” bermanfaat jika produk tersebut adalah non-fermentasi. The Cancer Council of New South Wales, Australia telah memperingatkan penderita kanker untuk menghindari makanan yang berbahan dasar kedelai. Peringatan tersebut dilatarbelakangi oleh karena kedelai non-fermentasi akan mempercepat pertumbuhan kanker.

Produk kedelai terbagi menjadi 2 jenis, yakni produk yang terfermentasi adalah tempe, kecap, miso, natto dan kecambah kedelai. Dilain sisi terdapat produk NON-FERMENTASI seperti misalnya tahu dan susu kedelai, dan lainnya. Pada produk kacang kedelai yang non-fermentasi terdapat kandungan zat yang diyakini membawa dampak buruk dan perlu diperhatikan, diantaranya seperti:

  1. Goitrogen – komponen yang mengganggu fungsi tiroid, dapat menyebabkan hypotiroid dan juga beresiko menyebabkan kanker tiroid. Untuk terjadi kanker, tergantung banyaknya dan usia.
  2. Berdasarkan Soy Online Service, bayi seharusnya tidak mengonsumsi kedelai sama sekali. Bagi orang dewasa, hanya dengan 30 mg isoflavone (termasuk komponen goitrogen) per hari cukup mengganggu fungsi tiroid. Takaran isoflavon yang perlu diwaspadai ini ada pada 5-8 ons susu kedelai.
  3. Asam Phytic – Kedelai mengandung asam Phytic, yaitu asam yang dapat menghalangi penyerapan mineral seperti misalnya zat besi, kalsium, tembaga, dan terutama seng dalam saluran pencernaan.   Seng dibutuhkan untuk perkembangan dan fungsi otak serta sistem syaraf. Juga berperan penting dalam mengendalikan mekanisme kadar gula darah sehingga melindungi dari diabetes serta menjaga kesuburan. Pada proses fermentasi kandungan asam phytic ini jauh berkurang sampai pada level aman untuk segala umur.
  4. Penghambat Trypsin – mengurangi kemampuan untuk mencerna protein. Pemberian produk kedelai yang non-fermentasi pada bayi dan anak secara teratur akan mengganggu pertumbuhannya. Kacang-kacangan lain yang memiliki kandungan penghambat trypsin yang tinggi adalah kacang lima.
  5. Nitrat – bersifat karsinogen (penyebab kanker), terbentuk pada saat pengeringan, dan zat beracun lysinoalanin terbentuk selama proses alkalin. Berbagai macam zat aditif buatan, terutama MSG (zat aditif yang merusak sel syaraf) telah ditambahkan pada produk kedelai untuk menyamarkan “aroma kacang”nya yang kuat dan memberikan rasa mirip daging.
  6. Phytoestrogen – Biasanya dipakai untuk membantu mengurangi efek produksi estrogen yang rendah dalam tubuh, kini ditemukan sebagai faktor penyebab kanker payudara dan leukemia pada anak.
  7. Aluminum – Dari beberapa penelitian telah diketahui adanya hubungan antara keberadaan aluminium dengan penyakit Alzheimer. Tapi tahukah Anda bahwa susu kedelai mengandung aluminium 11 kali (1100 persen) lebih banyak dibandingkan susu formula biasa?!
  8. Mangan – Produk formula kedelai memiliki kandungan mangan berlebih bagi tubuh kita. Mangan dalam tingkat kecil sangat kita butuhkan untuk membantu sel tubuh kita mengumpulkan energi. Tapi jika berlebih, mangan bisa menyebabkan kerusakan otak seperti pada penyakit Parkinson.

Tingkat kandungan mangan di tiap susu bayi berbeda-beda, yaitu:

  • ASI mengandung 4-6 mcg/L.
  • Susu formula bayi biasa (dari sapi) mengandung 30-50 mcg/L.
  • Susu formula kedelai mengandung 200-300 mcg/L.

 9.Terlalu Banyak Omega-6. Produk kedelai non-fermentasi mengandung kandungan Omega-6 yang lebih banyak dibandingkan Omega-3. Ketidakseimbangan rasio antara Omega-3 dengan Omega-6 akan membuat kita rentan terkena penyakit kanker, diabetes, penyakit jantung, arthritis, asma, hiperaktif, dan depresi.

Dampak Bagi Anak Laki-Laki

“Pubertas dini (yang disebabkan oleh produk kedelai) bisa meningkatkan resiko anak laki-laki menderita kanker testicular di saat menjelang dewasa, karena telah terpapar berbagai hormone seks terus menerus,” ujar Marcia Herman-Giddens , peneliti dari University of North Carolina.  Kandungan berlebih isoflavon memiliki sifat feminisasi, yang akan MENGAKIBATKAN UKURAN KELAMIN BAYI LAKI-LAKI JADI LEBIH KECIL DAN KECENDERUNGAN GENETIKA YANG MENGARAH KE HOMOSEKSUALITAS. Beberapa ahli mempersalahkan pengkonsumsian susu formula bayi sebagai salah satu faktor kecenderungan genetika anak laki-laki menjadi seperti perempuan.

Dampak Bagi Anak Perempuan

Produk formula kedelai mengandung tingkat hormon sebanyak 240 kali lebih tinggi dibandingkan ASI. Anak-anak perempuan yang memasuki masa pubertas akan beresiko besar menderita kanker payudara dan juga kista rahim jika mengalami gangguan tiroid karena rutin mengonsumsi produk kedelai non-fermentasi.

Dampak Bagi Wanita Muda

Disamping itu juga didapati bahwa dua gelas susu kedelai sehari dalam satu bulan penuh, mengandung cukup komponen kimiawi yang dapat mengganggu siklus menstruasi wanita. Para wanita yang memakai pil-pil kontrasepsi lebih sering mudah marah-marah seiring adanya gangguan hormonal. Hanya dengan 100 gr dari produk kedelai, mengandung komponen estrogenik yang sama dengan satu pil kontrasepsi.

Dampak Bagi Pria Dewasa

Phytoestrogen kedelai menghambat enzim yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan hormone testoteron (hormone pria). Penelitian terhadap pejantan hewan-hewan juga telah banyak dilakukan, baik dari belalang sampai dengan cheetah. Dari penelitian-penelitian tersebut didapati bahwa kedelai mengakibatkan para pejantan ini kurang percaya diri, kurang agresif, hasrat seksual menurun, dan jumlah sperma pun berkurang. Dampaknya pada manusia terlihat lebih lambat daripada pada hewan. Tapi tetap saja berdampak negatif jika kedelai secara rutin diberikan pada pria.

Make your chair as your enemy

saat ini duduk menjadi titik awal masalah kesehatan

Sadar atau tidak sadar, kursi sebagai musuh kita memang merupakan hal yang nyata, karena sebagaimana definisi musuh itu adalah sesuatu yang memberikan ancaman bagi jiwa dan fisik kita, ternyata benda ini pun demikian. Mungkin agak mengherankan, bagaimana mungkin benda mati yang tak bergerak bisa memberikan ancaman bagi manusia. Sebagian dari kita setiap harinya berolahraga, namun bagi sebagian yang lain yang hanya menghabiskan waktu untuk duduk di kursi-di mobil, kursi kantor, sofa di rumah, atau kursi di kelas-secara tidak langsung kita telah meningkatkan risiko berbagai penyakit kepada diri kita seperti obesitas, diabetes, jantung, dan berbagai macam penyakit tidak menular lainnya yang bisa menyebabkan kematian. Terlepas apakah kita melakukan banyak aktivitas fisik, tetapi jika duduk dalam waktu yang lama akan tetap memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan, seperti tulisan saya sebelumnya tentang Semakin lama duduk, semakin cepat terkena penyakit

Bagi orang yang memiliki waktu duduk lebih lama, terlebih jika waktu luangnya dalam sehari digunakan untuk duduk, nonton tv sambil mengemil, main game, atau duduk membaca novel, berisiko memiliki lingkar pinggang yang relatif lebih besar serta profil gula darah dan tekanan darah cenderung tinggi. Meskipun orang sering melakukan jogging akan tetapi duduknya sangat lama, lebih dari 3 jam menonton TV, lebih dari 2 jam duduk membaca, dan/atau lebih dari 5 jam duduk di kelas/dikantor akan dapat mengimbangi manfaat dari jogging yang rutin dilakukan. Berdasarkan penelitian Pulsford et al. (2013) bahwa obesitas itu ternyata sangat kompleks, tidak hanya disebabkan karena kurang melakukan aktivitas fisik tetapi juga karena banyak melakukan aktivitas sedentari (tidak aktif bergerak). Ada apa dengan duduk? Mengapa hal itu menjadi masalah yang begitu merugikan?

Dari beberapa artikel menyatakan bahwa duduk itu adalah perilaku yang paling pasif yang pernah dan sering orang-orang lakukan terutama di kota-kota besar. Mungkin energi yang digunakan untuk mengunyah permen karet, atau bahkan untuk menyisir rambut akan lebih banyak yang keluar dibandingkan dengan hanya duduk di kursi saja. Berdiri diam juga lebih baik dibandingkan duduk karena pada saat berdiri otot-otot kaki kita berkontraksi, dan semuanya akan membakar energi. Mari kita mulai berpikir tentang efek duduk ini, seharusnya semakin banyak bergerak lebih di anjurkan, meskipun saat ini fasilitas semakin memudahkan dan me”nyaman”kan masyarakat. Semakin banyak duduk semakin banyak pula energi yang tidak digunakan, ini akan lebih memudahkan naiknya berat badan, dan memunculkan masalah kesehatan yaitu masalah-masalah yang diikuti/kemungkinan muncul setelah kegemukan itu muncul.

Beberapa bukti ilmiah berdasarkan teori “physiology of inactivity” bahwa ketika kita duduk dalam waktu yang cukup lama, pada saat itu tubuh melakukan suatu hal yang jahat pada tubuh kita. Salah satu contohnya adalah produksi enzim lipoprotein lipase akan maksimal ketika tubuh aktif bergerak. Seperti diketahui bahwa enzim ini berperan dalam mempercepat reaksi hidrolisis pada gliserida dan trigliserida, jika kadar LPL ini rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti jantung, hiperkolesterol, dan penumpukan lemak di jaringan tubuh (Mead, 2002). Implikasinya adalah, ketika kita duduk maka seluruh aliran metabolisme tubuh akan melambat, termasuk produksi enzim LPL ini. Penelitian ini mungkin dapat menjelaskan teori tersebut yaitu penelitian yang dilakukan pada pria yang biasanya berjalan banyak (sekitar 10.000 langkah per hari, yang diukur dengan pedometer) akan diminta untuk menguranginya (menjadi sekitar 1.350 langkah per hari) selama dua minggu, harus menggunakan elevator bukannya tangga, naik mobil untuk bekerja bukannya berjalan dan seterusnya. Pada akhir penelitian selama dua minggu, semua dari mereka memiliki metabolisme yang lebih buruk. Distribusi lemak tubuh juga berubah, mereka menjadi lebih gemuk.