Cara tepat mengatasi alergi anak akibat makanan


alergi pada anak sebagian besar disebabkan karena makanan yang tidak cocok, carilah alternatif makanan lain.

Mungkin kita pernah merasa makan sesuatu lalu beberapa saat kemudian merasakan gatal-gatal yang lama kelamaan semakin tidak tertahankan, atau justru bintik-bintik kemerahan yang cukup perih bermunculan di sekitar kulit kita. Hal demikian tentu saja sangat mengganggu kita. Gejala seperti itu bisa jadi karena alergi makanan-makanan tertentu yang memberikan efek . Alergi sering kali kita temui pada anak-anak dan remaja, padahal semestinya usia anak-anak menjadi fase usia yang sangat bebas mengonsumsi bahan makanan sehat apapun mengingat pentingnya makanan yang bervariasi dan cukup jumlahnya untuk masa pertumbuhan mereka.

Alergi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup krusial dalam 2 dekade terakhir ini terutama di sebagian besar negara barat. Di Amerika sendiri prevalensi anak yang alergi yang disebabkan makanan mencapai 18%, dan sebagian besar menjadi penyebab utama terjadinya anafilaksis (anaphylaxis). Anafilaksis merupakan reaksi alergi terhadap sesuatu yang sangat parah yang terjadi dengan cepat dan membahayakan jiwa. Makanan menjadi pemicu utama anafilaksis pada kelompok anak-anak dan remaja, sedangkan anafilaksis pada orang dewasa terkadang diakibatkan karena gigitan serangga, cuaca, maupun obat-obatan. Anafilaksis pada anak-anak yang disebabkan makanan terkadang sangat fatal akibatnya, mulai dari wajah membengkak, sesak nafas hingga kematian. Banyak makanan yang bisa menyebabkan anafilaksis pada anak-anak dan remaja, misalnya saja kacang-kacangan, gandum, kerang, ikan, susu, buncis, nasi, dan telur.

Menurut Boden dan Weasley (2011), anak-anak dapat mengatasi alergi yang mereka temui seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 16 tahun atau memasuki fase remaja akhir, sekitar 80% anak-anak dengan anafilaksis susu dan telur sedikit demi sedikit dapat mentolerir makanan ini. Selain secara alami, alergi anak-anak terhadap makanan juga dapat ditangani melalui manajemen alergi yaitu dengan cara benar-benar menghindari makanan tersebut, melakukan uji sensitifitas makanan, konseling gizi, dan melalui pengobatan (bagi alergi yang sangat parah). Tetapi cara yang paling enak dan mudah adalah dengan melakukan sensitifitas untuk menentukan ambang batas konsumsi makanan tersebut. Misalnya anak yang alergi telur, bisa dilakukan uji bertahap dengan tetap mengonsumsi telur ¼ butir, jika tidak ada gangguan maka bisa ditambahkan sekitar ½ hingga ¾ butir telur tergantung efek alergi terhadap anak. Dengan begitu meskipun anak-anak alergi terhadap jenis makanan tertentu tetapi mereka tetap masih bisa menikmati makanan tersebut asalkan tidak melebihi ambang batas tersebut.

Alergi berkaitan erat dengan sistem imun, sehingga saat ini telah dikembangkan metode terapi untuk alergi makanan berbasis mekanisme sistem imun, yaitu immunoterapi. Awalnya orang yang mengalami alergi dibagi menjadi 3 fenotip dasar yaitu: alergi makanan sementara, alergi makanan permanen, dan sindrom alergi oral. Masing-masing dari kelompok tersebut memiliki mekanisme immunologi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan immunoterapi yang berbeda pula. Alergi makanan sementara yang paling merespon terapi immunologi ini. Meskipun dapat dikatakan bahwa alergi makanan sementara tidak memerlukan pengobatan, manfaat potensial dari terapi termasuk percepatan pembangunan toleransi dan meningkatkan kualitas hidup dan status gizi. Sedangkan pada alergi makanan permanen, mungkin akan menghadirkan tantang tersendiri dalam melakukan terapi. Alergi jenis ini cenderung memiliki respon yang kurang menguntungkan terhadap terapi, termasuk kegagalan untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh, kegagalan untuk memiliki toleransi oral, perlu untuk pengobatan yang lebih lama, dan pengembangan efek samping lebih serius selama terapi. Sedangkan pada alergi oral, dapat dilakukan terapi modifikasi makanan seperti yang telah dijelaskan diatas, respon terhadap terapi itu cukup baik sehingga terapi tersebut cenderung memberikan efek keberhasilan dalam mengatasi alergi makanan pada anak.

Sedangkan menurut kompas.com bahwa Jika anak alergi terhadap makanan tertentu, usahakan untuk selalu membaca label makanan kemasan yang dibeli. Alasannya adalah agar kandungan dalam makanan yang dibeli tersebut dapat diketahui seberapa banyak jenis bahan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi. Begitu pula jika berada di area foodcourt, usahakan untuk mepertanyakan apakah makanan yang yang dibeli tidak atau sedikit mengandung zat yang harus dihindari anak.

Referensi:

Nowak-Wegrzyn A., Sampson HA. (2010). Future therapies for food allergies. J Allergy clin immunol 127 (3): 559-573.

Boden, SR; Wesley Burks, A (2011 Jul). Anaphylaxis: a history with emphasis on food allergy. Immunological reviews 242 (1): 247–57.

Posted on 16 February 2013, in Health and Nutrition, Material, Nutrition Problem, What you are eat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: