Monthly Archives: February 2013

Semakin sering duduk, semakin cepat terkena penyakit

aktif bergerak membantu meningkatkan kebugaran dan menghindarkan dari obesitas dan penyakit

Saat ini aktivitas olahraga mulai dikampanyekan di berbagai negara, alasannya hanya satu yaitu dalam rangka melawan perkembangan obesitas yang insidennya meningkat setiap tahun. Baru-baru ini first lady America, Michelle Obama, juga ikut mengampanyekan antiobesitas “Let’s move”. Michelle melakukan kampanye antiobesitas karena prevalensi obesitas pada anak-anak di Amerika kian meningkat. Kampanye ‘Let’s Move’ mengajarkan anak-anak untuk bergerak aktif agar tak obesitas. Keluar dari permasalahan tingginya obesitas di berbagai negara, perlu diketahui penyebabnya dan mengapa hal tersebut menjadi kekhawatiran. Obesitas besar kemungkinannya terjadi karena ketidakseimbangan energi, dimana energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dikeluarkan sehingga akan terakumulasi dan tersimpan di dalam tubuh dalam bentuk cadangan lemak trigliserida di otot dan sel lemak.

Cara yang efektif untuk menghindari ketidakseimbangan tersebut adalah dengan memperbanyak gerak sehingga energi yang dikeluarkan lebih banyak atau setidaknya sama dengan energi yang masuk. Hal itu kian berat karena perilaku sedentari atau perilaku tidak aktif semakin sering dilakukan masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang memudahkan masyarakat dalam segala hal. Akibatnya manusia semakin malas menggerakkan tubuhnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Padahal banyak duduk/malas bergerak kelihatannya sepele akan tetapi berimplikasi pada banyaknya penyakit yang di peroleh karena kegemukan. Menurut penelitian di Amerika, yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, bahwa lamanya duduk berpengaruh secara signifikan terhadap insiden penyakit. Penelitian tersebut diikuti oleh 123.216 orang yang terdiri dari 53,440 laki-laki and 69,776 perempuan, dengan tanpa riwayat penyakit dan bersedia berpartisipasi dalam studi Cancer Prevention II, partisipan diikuti selama 14 tahun 1993 hingga 2006.

Dalam penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa partisipan kebanyakan meninggal diakibatkan oleh penyakit jantung dibandingkan kanker. Setelah dilakukan penyesuaian terhadap beberapa faktor risiko, ditemukan bahwa orang yang lebih lama duduknya cenderung terkena penyakit, lalu diikuti oleh faktor merokok. Sebanyak 37% perempuan yang duduk lebih dari 6 jam sehari terkena berbagai macam penyakit dibandingkan perempuan yang duduknya kurang dari 3 jam sehari, sedangkan pada laki-laki mencapai 17%. Orang yang duduk lebih banya dan jarang berolahraga atau hanya beraktivitas ringan memiliki angka risiko kematian lebih tinggi yaitu 48% pada laki-laki dan 94% pada perempuan. Suatu nilai statistik yang menurut kami mengerikan, itu berarti bahwa aktivitas duduk yang sangat sering kita lakukan memiliki dampak yang fatal terhadap kesehatan manusia.

Menurut seorang epidemiologis Dr. Alpa Patel, bahwa “semakin lama Anda duduk semakin sedikit energi yang keluar dan memiliki konsekuensi seperti meningkatnya berat badan dan menjadi obesitas”, dan berdampak pada risiko berbagai macam penyakit. Dari fakta yang ditemukan tersebut maka dianjurkan bagi setiap individu untuk dapat mengurangi aktivitas sedentari dan memperbanyak aktivitas fisik seperti misalnya rutin berolahraga, ataupun menggunakan sepeda untuk sarana transportasi jarak dekat.

Advertisements

Daerah suburban sebagai “lahan basah” penyumbang obesitas

obesitas menjadi masalah nasional

obesitas menjadi masalah nasional

Obesitas kini tidak dapat lagi dikatakan sebagai faktor resiko melainkan justru sebagai sebuah penyakit yang memiliki patofisiologi tersendiri, selain itu dampaknya terhadap kesehatan sangatlah merugikan. Banyak faktor penyebab obesitas diantaranya pola makan yang salah, sedentary activity, obesogenic (lingkungan yang bisa menyebabkan obesitas), defisiensi mikronutrien, dan penyakit infeksi. Dalam 20 tahun terakhir, kenaikan obesitas di negara-negara berkembang meningkat hingga 3 kali, sebagian besar dari mereka sudah mulai mengadopsi gaya hidup orang barat. Sebagai contoh di Algeria dimana obesitas pada anak sekolah terus meningkat, yang menjadi penyebabnya adalah sedentary behavior, kurang aktivitas fisik, pola konsumsi energi, lemak, dan serat yang tidak seimbang, serta status obesitas pada orang tua, lantas bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, prevalensi obesitas tidak lagi hanya terjadi di perkotaan melainkan juga di pedesaan. Kini banyak desa-desa telah menjadi daerah suburban yaitu daerah transisi antara desa dan kota sehingga terdapat pula perubahan gaya hidup dari pola “ndeso” menjadi gaya hidup “ke-barat-barat-an” atau kebiasaan menetap (sedentari). Sekarang ini di daerah urban dan suburban telah banyak masyarakat yang tidak lagi menyukai berjalan kaki, sebagian besar anak sekolah menggunakan bus atau diantar ke sekolah dibandingkan dengan naik sepeda atau jalan. Berjalan kaki ke sekolah bukan merupakan pilihan yang tepat mereka oleh karena alasan keamanan dan jarak. Jadi bisa dikatakan bahwa kebiasaan sedentari merupakan gaya hidup yang sangat kurang melakukan aktivitas fisik. Dari hasil penelitian Arundhana (2010) bahwa aktivitas fisik yang kurang lebih banyak mengalami obesitas dibandingkan dengan orang yang aktivitas fisiknya cukup. Sudah jelas bahwa aktivitas fisik dapat menjadi faktor penyebab langsung obesitas, jika terjadi ketidakseimbangan intake melalui pola makan yang berlebihan serta pembakaran kalori yang kurang melalui aktivitas fisik yang ringan dalam kurun waktu yang relatif lama akibatnya terjadi penumpukan lemak dibawah kulit yang akhirnya menjadi obesitas. Aktivitas fisik yang kurang menyebabkan simpanan energi yang semakin berlebih dalam tubuh.

Perlu diketahui bahwa masyarakat di daerah suburban tidak lagi bekerja sebagai petani, nelayan, peternak, tukang kebun, melainkan sudah beralih ke pekerjaan yang tidak lagi mengedepankan aktivitas fisik melainkan skill dan pemikiran seperti guru atau pengajar, pegawai, pedagang, atau pengusaha. Profesi-profesi tersebut memang memiliki kesibukan yang sangat padat, sehingga kemungkinan besar tidak memiliki waktu untuk berolahraga. Disamping itu jarak rumah dengan kantor mereka tidak terlalu jauh dan hampir semua profesi tersebut telah memiliki kendaraan pribadi yang digunakan ke kantor. Sebagian dari mereka aktivitasnya selama di kantor hanya duduk, setelah pulang mereka merasa lelah dan langsung istirahat akibatnya waktu untuk melakukan aktivitas fisik memang sangat kurang. Padahal tidak aktif secara fisik berbahaya bagi tubuh, karena fisik yang tidak aktif menyebabkan penumpukan kalori yang jika dibiarkan akan memicu obesitas. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Arundhana (2010), sebagian besar orang obes memang melakukan aktivitas fisik yang kurang (p<0,05). Duduk terlalu lama membuat tubuh mulai mematikan fungsi level metabolisme, saat otot-otot (terutama otot besar untuk bergerak seperti otot kaki) menjadi tidak bergerak maka sirkulasi akan melambat dan tubuh akan membakar kalori lebih sedikit selain itu duduk seharian juga dapat menurunkan aktivitas enzim lipoprotein lipase yang bertugas memecah lemak.

Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi/kampanye anti obesitas yang bertujuan agar informasi terkait masalah kegemukan serta cara mencegahnya dapat diketahui oleh masyarakat khususnya di desa dan daerah suburban. Seperti yang dilakukan baru-baru ini oleh first lady Amerika yang melakukan kampanye anti-obesity dengan melakukan olahraga dan aktivitas fisik. Dapat di lihat disini

  1. http://news.detik.com/read/2013/02/24/134306/2178087/1148/video-michelle-obama-berjoget-rancak-laris-ditonton?nd772205mr
  2. http://www.youtube.com/watch?v=Hq-URl9F17Y&feature=endscreen
  3. http://www.youtube.com/watch?v=TimvpO7TZMA
  4. http://www.youtube.com/watch?v=XoX9qXBP0Bs
  5. Source http://www.letsmove.gov/

Cara tepat mengatasi alergi anak akibat makanan

alergi pada anak sebagian besar disebabkan karena makanan yang tidak cocok, carilah alternatif makanan lain.

Mungkin kita pernah merasa makan sesuatu lalu beberapa saat kemudian merasakan gatal-gatal yang lama kelamaan semakin tidak tertahankan, atau justru bintik-bintik kemerahan yang cukup perih bermunculan di sekitar kulit kita. Hal demikian tentu saja sangat mengganggu kita. Gejala seperti itu bisa jadi karena alergi makanan-makanan tertentu yang memberikan efek . Alergi sering kali kita temui pada anak-anak dan remaja, padahal semestinya usia anak-anak menjadi fase usia yang sangat bebas mengonsumsi bahan makanan sehat apapun mengingat pentingnya makanan yang bervariasi dan cukup jumlahnya untuk masa pertumbuhan mereka.

Alergi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup krusial dalam 2 dekade terakhir ini terutama di sebagian besar negara barat. Di Amerika sendiri prevalensi anak yang alergi yang disebabkan makanan mencapai 18%, dan sebagian besar menjadi penyebab utama terjadinya anafilaksis (anaphylaxis). Anafilaksis merupakan reaksi alergi terhadap sesuatu yang sangat parah yang terjadi dengan cepat dan membahayakan jiwa. Makanan menjadi pemicu utama anafilaksis pada kelompok anak-anak dan remaja, sedangkan anafilaksis pada orang dewasa terkadang diakibatkan karena gigitan serangga, cuaca, maupun obat-obatan. Anafilaksis pada anak-anak yang disebabkan makanan terkadang sangat fatal akibatnya, mulai dari wajah membengkak, sesak nafas hingga kematian. Banyak makanan yang bisa menyebabkan anafilaksis pada anak-anak dan remaja, misalnya saja kacang-kacangan, gandum, kerang, ikan, susu, buncis, nasi, dan telur.

Menurut Boden dan Weasley (2011), anak-anak dapat mengatasi alergi yang mereka temui seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 16 tahun atau memasuki fase remaja akhir, sekitar 80% anak-anak dengan anafilaksis susu dan telur sedikit demi sedikit dapat mentolerir makanan ini. Selain secara alami, alergi anak-anak terhadap makanan juga dapat ditangani melalui manajemen alergi yaitu dengan cara benar-benar menghindari makanan tersebut, melakukan uji sensitifitas makanan, konseling gizi, dan melalui pengobatan (bagi alergi yang sangat parah). Tetapi cara yang paling enak dan mudah adalah dengan melakukan sensitifitas untuk menentukan ambang batas konsumsi makanan tersebut. Misalnya anak yang alergi telur, bisa dilakukan uji bertahap dengan tetap mengonsumsi telur ¼ butir, jika tidak ada gangguan maka bisa ditambahkan sekitar ½ hingga ¾ butir telur tergantung efek alergi terhadap anak. Dengan begitu meskipun anak-anak alergi terhadap jenis makanan tertentu tetapi mereka tetap masih bisa menikmati makanan tersebut asalkan tidak melebihi ambang batas tersebut.

Alergi berkaitan erat dengan sistem imun, sehingga saat ini telah dikembangkan metode terapi untuk alergi makanan berbasis mekanisme sistem imun, yaitu immunoterapi. Awalnya orang yang mengalami alergi dibagi menjadi 3 fenotip dasar yaitu: alergi makanan sementara, alergi makanan permanen, dan sindrom alergi oral. Masing-masing dari kelompok tersebut memiliki mekanisme immunologi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan immunoterapi yang berbeda pula. Alergi makanan sementara yang paling merespon terapi immunologi ini. Meskipun dapat dikatakan bahwa alergi makanan sementara tidak memerlukan pengobatan, manfaat potensial dari terapi termasuk percepatan pembangunan toleransi dan meningkatkan kualitas hidup dan status gizi. Sedangkan pada alergi makanan permanen, mungkin akan menghadirkan tantang tersendiri dalam melakukan terapi. Alergi jenis ini cenderung memiliki respon yang kurang menguntungkan terhadap terapi, termasuk kegagalan untuk menurunkan rasa mudah terpengaruh, kegagalan untuk memiliki toleransi oral, perlu untuk pengobatan yang lebih lama, dan pengembangan efek samping lebih serius selama terapi. Sedangkan pada alergi oral, dapat dilakukan terapi modifikasi makanan seperti yang telah dijelaskan diatas, respon terhadap terapi itu cukup baik sehingga terapi tersebut cenderung memberikan efek keberhasilan dalam mengatasi alergi makanan pada anak.

Sedangkan menurut kompas.com bahwa Jika anak alergi terhadap makanan tertentu, usahakan untuk selalu membaca label makanan kemasan yang dibeli. Alasannya adalah agar kandungan dalam makanan yang dibeli tersebut dapat diketahui seberapa banyak jenis bahan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi. Begitu pula jika berada di area foodcourt, usahakan untuk mepertanyakan apakah makanan yang yang dibeli tidak atau sedikit mengandung zat yang harus dihindari anak.

Referensi:

Nowak-Wegrzyn A., Sampson HA. (2010). Future therapies for food allergies. J Allergy clin immunol 127 (3): 559-573.

Boden, SR; Wesley Burks, A (2011 Jul). Anaphylaxis: a history with emphasis on food allergy. Immunological reviews 242 (1): 247–57.

Job vacancy: as MR in PT Meiji Indonesia

PT. Meiji Indonesia is committed to provide the best medicine for the society. We invite professional and talented candidates who seek for challenges to fulfill the following post:

Medical Representative – Ethical
Aceh, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, Gorontalo, Jakarta Raya, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Yogyakarta

Responsibilities:

  • Achieve Sales Target on each assigned area
  • Do promotion activities on appointed area
  • Built relationship and network with users: doctors & health institutions

Requirements:

  • Male / Female, max age. 28 years old
  • Having own motorcycle and valid driving license (SIM C)
  • Possess at least a Diploma, Bachelor Degree, any field.
  • Required skill(s): Salesmanship, Customer Service, Relationship Building.
  • 1 year(s) of working experience as medical representative are advantage
  • Fresh graduates are welcome to apply

 

Application must be sent 1 week after this article appeared

Job vacancy: As Formulator in PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group)

ORANGTUA GROUP, a group of fast moving manufacturing companies dealing with food & beverage and consumer products. We are well known with our products such as Anggur Orang tua, Tango Wafer, Oops, Formula, Vita Charm, Kayaking peanuts, Kiranti. In order to accelerate our business growth, we invite dynamic and motivated professionals to join our outstanding team as:

Formulator
Jakarta Raya

Requirements:

  • Candidate must possess at least a Bachelor’s Degree in Food Technology/Nutrition/Dietetics or equivalent.
  • Min. 1 year working in Formulator and have an experience in chili sauce/condiment/fermented food.
  • Age Between 21 – 24 years old
  • Have analytical skill, interpersonal skill, & able to work under pressure
  • 1 Full-Time position(s) available.
Send your resume detail, CV, recent photograph (4×6), a copy of identity card, university transcript, references and High school diploma to: HRD PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group) Jl. Lingkar Luar Barat Kav. 35-36, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat Or by email to : recruitment@ot co.id For further info, please visit our website :www.ot.co.id Put the position code on the upper left of envelope. Deadline 1 week after this information appeared