Daily Archives: 2 January 2013

4 Pilar Gizi Seimbang

4 prinsip gizi seimbang

Secara teknis PUGS memang terasa lebih susah dipahami dibanding slogan 4 sehat 5 sempurna yang lebih dahulu lahir. Banyak orang awam bahkan para praktisi gizi yang “meragukan” kehandalan PUGS sebagai metode memperoleh kesehatan yang optimal, pada akhirnya PUGS seakan kalah bersaing dengan berbagai metode diet yang ada semisal food combining, diet golongan darah diet zona dll.

Agar dapat menggunakan PUGS sebagai pedoman untuk mencapai kondisi gizi yang optimal maka kita harus memahami dan melaksanakan 4 pilar PUGS, 4 pilar tersebut adalah:

1. Makan bervariasi sesuai kebutuhan;
pesan pentingnya adalah makan harus beraneka ragam,Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, Batasi konsumsi lemak & minyak sampai seperempat dari kecukupan energi, Biasakan makan pagi,Gunakan garam beryodium, makanlah makanan sumber zat besi, Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya, Hindari minum minuman beralkohol

2. Aktivitas fisik secara teratur dan terukur;
pesan pentingnya Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur dan terukur sesuai kondisi masing-masing.

3. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan;
Pesan pentingnya Minumlah air bersih, aman, dan cukup jumlahnya, Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, Bacalah label pada makanan yang dikemas.

4. Pertahankan berat badan ideal;
Pesan pentingnya adalah kita harus selalu memonitor berat badan dan pertahankan berat badan dalam keadaan ideal.

Dengan memahami dan melaksanakan Pesan-pesan tersebut dengan baik dan benar maka diharapkan kita akan mampu memperoleh derajat kesehatan yang optimal…Salam Sadar Gizi.

Eksistensi Sarjana Gizi Dalam Pengembangan Kesehatan Di Sulawesi Selatan

Gizi merupakan hal penting yang akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan manusia,mulai dari bayi hingga lansia. Karena itulah perbaikan gizi diperlukan sebagai salah satu unsur penting dalam mencapai kesejahteraan rakyat Indonesia. Permasalahan gizi di Indonesia semakin kompleks seiring terjadinya transisi epidemiologis. Berbagai permasalahan gizi kurang, menunjukkan angka penurunan seperti prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) sementara itu di lain pihak masalah gizi lebih dan penyakit degeneratif justru menunjukkan peningkatan bahkan dari laporan terakhir masalah gizi kurang saat ini cenderung tetap. Untuk menanggulangi berbagai permasalah gizi tersebut dibutuhkan tenaga kesehatan dan ahli gizi serta ilmuwan yang dinamis, mandiri dan menjungjung etik professional yang tinggi sehingga dapat memberikan kontribusi dalam upaya berbagai pengembangan ilmu dan pelayanan kesehatan di berbagai bidang termasuk bidang gizi.

Selain itu, perkembangan globalisasi yang ditandai dengan kesepakatan perdagangan bebas di tingkat Asia melalui Asian Free Trade Aggreement (AFTA) pada tahun 2003 dan tingkat dunia tahun 2010 (WTO) memungkinkan masuknya tenaga asing dengan bebas ke Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan tenaga gizi yang professional dengan kemampuan keilmuan/kompetensi lulusan serta dengan standar professional gizi di tingkat internasional. Disamping untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan gizi di masyarakat baik secara individu maupun kelompok.

Dari berbagai pengertian mengenai ahli gizi dapat disimpulkan bahwa ahli gizi adalah profesi khusus, orang yang mengabdikan diri dalam bidang gizi serta memiliki pengetahuan dan atau  keterampilan melalui suatu pendidikan khususnya bidang gizi. Tugas yang diemban oleh ahli gizi berguna untuk kesejahteraan manusia. Demikian juga dengan pengertian masyarakat, ada permasalahan gizi pasti ada ahli gizi.

Dengan adanya peran ahli gizi di dalam masyarakat, diharapkan dapat membantu memperbaiki status kesehatan masyarakat, khususnya melalui berbagai upaya preventif (pencegahan). Mudahnya begini, jika kita tahu apa saja dan bagaimana makanan yang aman, sehat, dan bergizi untuk dikonsumsi, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan terhindar dari berbagi penyakit mengerikan yang sudah disebutkan di atas. Bayangkan jika tidak, dan kemudian kita harus mengobati penyakit-penyakit itu, tentunya akan terasa sangat menyakitkan dan pastinya akan mengabiskan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Kita semua  tahu, bahwa mencegah itu lebih baik (dan lebih murah) daripada mengobati. Jika kita bisa menerapkan kebiasaan itu, kita menjadi tidak mudah sakit, dan tidak terlalu tergantung kepada jasa dokter dan perawat, serta tidak perlu mengonsumsi obat-obatan yang umumnya selalu memiliki efek samping terhadap kesehatan.

Bertolak dari hal tersebut, para sarjana gizi yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Gizi (ISAGI) SulSel, ingin mendiskusikan idealisme tersebut kedalam suatu forum ilmiah yang sekaligus untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke 61 di Makassar dengan tema “Eksistensi dan Peran Serta Sarjana Gizi dalam Pengembangan Kesehatan di Sul-Sel”. Forum tersebut berencana menghadirkan para narasumber dari Akademisi, Pihak Pemerintah, dan Pihak DPRD dengan harapan tercipta suatu naskah kesepahaman terkait peran serta sarjana gizi dalam menanggulangi masalah gizi di Sulawesi Selatan dan regulasi yang mengaturnya. Bagi yang berdomisili di Sulawesi Selatan dan sekitarnya mari merapat di Makassar akhir Januari nanti Insya Allah.