Monthly Archives: January 2013

#HGN2013 Formazi FKM Unhas

Menuju Hari Gizi Nasional, 25 Januari 2013

23 Jan, Nantikan kami, Mahasiswa Gizi UH di titik2 keramaian Kota Makassar hadir menyampaikan pesan gizi seimbang

25 Jan, Formazi UH bkerjasama dg Djuku Resto dan AIMI mengadakan Talkshow dgn Tema : Smart Parents for Healthy Kids, btempat di Djuku Resto lantai 1 Wisma Kalla. HTM : 75rb (Talkshow with 3 Keynote Speakers, Cooking Demo, Healthy Food, Sertifikat)

27 Jan : Bagi yg blum punya acara di Minggu nanti, silahkan ajak kerabat Anda ke Anjungan Pantai Losari pukul 6-10 pagi krn akan ada Konsultasi Gizi gratis, pemeriksaan status gizi (kolesterol, glukosa, asam urat (berbayar), jajanan sehat, donor darah, dan dapatkan doorprizenya.

Mari “Selamatkan Generasi Bangsa melalui Gizi Seimbang demi Menuju Indonesia Prima”

Advertisements

Lowongan Kerja: Ahli Gizi PT Shape Up Indonesia

PT Shape-Up Indonesia

Sebuah perusahaan kesehatan yang sedang berkembang dan telah memiliki 3 cabang di Jakarta membutuhkan segera beberapa karyawati dengan kriteria :

Ahli Gizi
Jakarta Raya

 Responsibilities:

  • Memberikan konsultasi gizi

Requirements:

  • Wanita Max usia 28 tahun
  • Pendidikan Min D3 jurusan Gizi
  • Memiliki tinggi dan berat badan proporsional
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik
  • Memiliki pengetahuan tentang ilmu gizi
  • Mampu mengoperasikan komputer
  • Jujur, dinamis, rajin, cekatan, dan berjiwa pelayanan
Kirimkan surat Lamaran serta lampirkan Data diri lengkap, No,Telepon yang bisa dihubungi,
Fotokopi Ijasah, Fotokopi Surat Referensi Pekerjaan, Fotokopi KTP dan Pas Foto Terbaru ukuran 4 x 6 cm (1 Lembar).
Cantumkan Posisi di sudut kanan atas amplop dan ditujukan kepada :
PT Shape-Up Indonesia
Jl Wolter Monginsidi No 75, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan – 12180
Up: HRD
“Only short-listed candidates will be invited via e-mail/phone for Test and Interview”

Power of brain: Sistem kontrol nafsu makan

from brain to mouth mechanism

from brain to mouth mechanism

Obesitas kini telah menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia yang tidak kunjuung berkurang, tiap tahun prevalensinya selalu meningkat. Jika di negara maju peningkatan obesitas tidak terlalu ekstrim di negara berkembang justru meningkat dua hingga tiga kali lipat tiap 10 tahun. Mungkin saja karena di beberapa negara maju telah memiliki perencanaan penganggaran yang baik dalam melawan epidemic obesitas, seperti di Australia dan Amerika. Berbeda halnya di negara berkembang yang masih fokus memerangi gizi buruk sehingga terkesan mereka belum siap dalam menghadapi dampak dari obesitas dan menjadi beban ganda masalah gizi.

Di tingkat individu, penanganan obesitas yang efektif adalah dengan memahami prinsip pengontrolan nafsu makan dan berat badan ideal. Dengan manajemen nafsu makan dan pemantauan berat badal ideal akan menciptakan pada individu suatu sistem kontrol terhadap faktor-faktor penyebab obesitas. Faktor genetik dan fisiologi cenderung menjadi penentu yang sangat penting dari sistem kontrol tersebut, namun perubahan lingkungan dan gaya hidup juga tidak dapat diabaikan sebagai penggerak utama dari perkembangan obesitas. Jika yang mempengaruhi fisiologis itu adalah peranan otak sebagai pusat regulasi hormon-hormon, sebaliknya gaya hidup dan lingkungan akan mempengaruhi intake zat-zat gizi. Sehingga yang menjadi fokus pembahasan artikel kali ini adalah seberapa besarkah peranan hormon-hormon yang dikendalikan oleh otak terhadap proses metabolisme zat gizi, kontrol nafsu makan, dan gaya hidup dalam kaitannya dengan obesitas.

mekanisme hormon

mekanisme hormon

Peran otak (bagian hipotalamus) yang utama adalah mengatur regulasi keseimbangan (homeostatis), termasuk homeostatis makronutrien, mikronutrien, dan energi. Namun dalam proses pengaturannya, otak memerlukan informasi dari organ-organ yang berkaitan dengan komponen-komponen tersebut dan informasi itu dapat diperoleh dari neurohormon yang dilepaskan oleh masing-masing organ (Woods dan Allesio, 2008). Misalnya colon melepaskan tirosin (peptida) dalam merespon asupan lipid dan energi yang dikandung makanan langsung ke hipotalamus. Setelah informasi sampai, hipotalamus akan mengirimkan perintah dengan merangsang dan mengeluarkan hormon-hormon seperti insulin, ghrelin, leptin, kortisol, dan lainnya. Setelah hormon-hormon tersebut bekerja, otak akan merespon informasi yang diperolehnya denagan tindakan apakah zat gizi tersebut masih akan digunakan untuk kerja organ-organ tubuh dan memberikan sinyal masih membutuhkan makanan ataukah disimpan dalam bentuk cadangan di otot, hati ataupun jaringan lainnya dan memberikan sinyal rasa kenyang ataupun nafsu makan.

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai leptin dan ghrelin, leptin dan ghrelin merupakan hormon yang  disekresikan dari jaringan lemak. Peran kedua hormon ini sangat signifikan terhadap manajemen berat badan, leptin berperan menekan nafsu makan seseorang sedangkan ghrelin mengatur rasa lapar. Hormon-hormon tersebut dikendalikan oleh hipotalamus begitu pula dengan hormon-hormon lain yang terkait metabolisme zat-zat gizi. Meskipun hipotalamus memainkan peran penting regulasi energi dan zat-zat gizi lain terutama berkaitan dengan pembahasan obesitas, faktor lingkungan secara garis besarnya juga mempengaruhi peran hipotalamus tersebut. Misalnya saja bagi orang yang sering lembur dan begadang akibat bekerja, akan berefek pada pengaturan hipotalamus. Jika seseorang kurang tidur akan meningkatkan pengeluaran grhelin dan menurunkan leptin. Jika berlangsung setiap malam, maka berpengaruh kembali pada perilaku individu tersebut misalnya akan sering mengemil malam, atau justru makan “besar” pada malam hari akibatnya energi tidak terpakai tersimpan dalam sel dan jaringan dalam bentuk lemak. Karena itu sebaiknya dalam mengatur berat badan, sebaiknya tidak hanya memerhatikan pola makan saja, karena ternyata faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya. Hindari Junk food, banyak melakukan aktivitas fisik,  kurang menonton TV (<2 jam/hari), dan menjaga kualitas tidur menjadi lebih baik adalah solusi yang cukup tepat menangani obesitas secara individu. Selain itu, masalah tidur juga berkaitan erat dengan sistem control nafsu makan, kaitannya terdapat pada mekanisme sekresi hormon leptin dan ghrelin yang sedikit banyak dipengaruhi oleh pola tidur.

4 Pilar Gizi Seimbang

4 prinsip gizi seimbang

Secara teknis PUGS memang terasa lebih susah dipahami dibanding slogan 4 sehat 5 sempurna yang lebih dahulu lahir. Banyak orang awam bahkan para praktisi gizi yang “meragukan” kehandalan PUGS sebagai metode memperoleh kesehatan yang optimal, pada akhirnya PUGS seakan kalah bersaing dengan berbagai metode diet yang ada semisal food combining, diet golongan darah diet zona dll.

Agar dapat menggunakan PUGS sebagai pedoman untuk mencapai kondisi gizi yang optimal maka kita harus memahami dan melaksanakan 4 pilar PUGS, 4 pilar tersebut adalah:

1. Makan bervariasi sesuai kebutuhan;
pesan pentingnya adalah makan harus beraneka ragam,Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi, Batasi konsumsi lemak & minyak sampai seperempat dari kecukupan energi, Biasakan makan pagi,Gunakan garam beryodium, makanlah makanan sumber zat besi, Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya, Hindari minum minuman beralkohol

2. Aktivitas fisik secara teratur dan terukur;
pesan pentingnya Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur dan terukur sesuai kondisi masing-masing.

3. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan;
Pesan pentingnya Minumlah air bersih, aman, dan cukup jumlahnya, Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, Bacalah label pada makanan yang dikemas.

4. Pertahankan berat badan ideal;
Pesan pentingnya adalah kita harus selalu memonitor berat badan dan pertahankan berat badan dalam keadaan ideal.

Dengan memahami dan melaksanakan Pesan-pesan tersebut dengan baik dan benar maka diharapkan kita akan mampu memperoleh derajat kesehatan yang optimal…Salam Sadar Gizi.

Eksistensi Sarjana Gizi Dalam Pengembangan Kesehatan Di Sulawesi Selatan

Gizi merupakan hal penting yang akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan manusia,mulai dari bayi hingga lansia. Karena itulah perbaikan gizi diperlukan sebagai salah satu unsur penting dalam mencapai kesejahteraan rakyat Indonesia. Permasalahan gizi di Indonesia semakin kompleks seiring terjadinya transisi epidemiologis. Berbagai permasalahan gizi kurang, menunjukkan angka penurunan seperti prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) sementara itu di lain pihak masalah gizi lebih dan penyakit degeneratif justru menunjukkan peningkatan bahkan dari laporan terakhir masalah gizi kurang saat ini cenderung tetap. Untuk menanggulangi berbagai permasalah gizi tersebut dibutuhkan tenaga kesehatan dan ahli gizi serta ilmuwan yang dinamis, mandiri dan menjungjung etik professional yang tinggi sehingga dapat memberikan kontribusi dalam upaya berbagai pengembangan ilmu dan pelayanan kesehatan di berbagai bidang termasuk bidang gizi.

Selain itu, perkembangan globalisasi yang ditandai dengan kesepakatan perdagangan bebas di tingkat Asia melalui Asian Free Trade Aggreement (AFTA) pada tahun 2003 dan tingkat dunia tahun 2010 (WTO) memungkinkan masuknya tenaga asing dengan bebas ke Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan tenaga gizi yang professional dengan kemampuan keilmuan/kompetensi lulusan serta dengan standar professional gizi di tingkat internasional. Disamping untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan gizi di masyarakat baik secara individu maupun kelompok.

Dari berbagai pengertian mengenai ahli gizi dapat disimpulkan bahwa ahli gizi adalah profesi khusus, orang yang mengabdikan diri dalam bidang gizi serta memiliki pengetahuan dan atau  keterampilan melalui suatu pendidikan khususnya bidang gizi. Tugas yang diemban oleh ahli gizi berguna untuk kesejahteraan manusia. Demikian juga dengan pengertian masyarakat, ada permasalahan gizi pasti ada ahli gizi.

Dengan adanya peran ahli gizi di dalam masyarakat, diharapkan dapat membantu memperbaiki status kesehatan masyarakat, khususnya melalui berbagai upaya preventif (pencegahan). Mudahnya begini, jika kita tahu apa saja dan bagaimana makanan yang aman, sehat, dan bergizi untuk dikonsumsi, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan terhindar dari berbagi penyakit mengerikan yang sudah disebutkan di atas. Bayangkan jika tidak, dan kemudian kita harus mengobati penyakit-penyakit itu, tentunya akan terasa sangat menyakitkan dan pastinya akan mengabiskan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Kita semua  tahu, bahwa mencegah itu lebih baik (dan lebih murah) daripada mengobati. Jika kita bisa menerapkan kebiasaan itu, kita menjadi tidak mudah sakit, dan tidak terlalu tergantung kepada jasa dokter dan perawat, serta tidak perlu mengonsumsi obat-obatan yang umumnya selalu memiliki efek samping terhadap kesehatan.

Bertolak dari hal tersebut, para sarjana gizi yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Gizi (ISAGI) SulSel, ingin mendiskusikan idealisme tersebut kedalam suatu forum ilmiah yang sekaligus untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke 61 di Makassar dengan tema “Eksistensi dan Peran Serta Sarjana Gizi dalam Pengembangan Kesehatan di Sul-Sel”. Forum tersebut berencana menghadirkan para narasumber dari Akademisi, Pihak Pemerintah, dan Pihak DPRD dengan harapan tercipta suatu naskah kesepahaman terkait peran serta sarjana gizi dalam menanggulangi masalah gizi di Sulawesi Selatan dan regulasi yang mengaturnya. Bagi yang berdomisili di Sulawesi Selatan dan sekitarnya mari merapat di Makassar akhir Januari nanti Insya Allah.