Tren obesitas menurut kelompok usia


obesitas menurut kelompok usiaDari data di atas dapat dilihat kejadian obesitas berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Paling tinggi pada kelompok usia 0-5 tahun yaitu 14% dan paling rendah pada kelompok remaja usia 16-18 tahun yaitu 1,4%. Kejadian obesitas kembali meningkat pada orang dewasa usia >18 tahun yaitu sebesar 11,7%. Terdapat tren yang signifikan bahwa semakin meningkatnya usia prevalensi obesitas juga menurun, akan tetapi pada usia dewasa prevalensi itu meningkat dengan sangat ekstrim.

Pada usia 0-5 tahun, kebutuhan energi balita sangat bervariasi karena setiap kenaikan usia perbulannya maka kebutuhannya pun meningkat dengan perbedaan yang cukup besar. Tingginya prevalensi obesitas pada anak usia 0-5 tahun mungkin saja terjadi karena faktor pola asuh orang tua yang kurang tepat, misalnya saja yang berkaitan dengan pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Kemudian pada usia 6-12 tahun, faktor yang mempengaruhi sudah demikian banyak, karena pada masa ini anak-anak sudah mulai bisa mandiri melakukan aktivitas nya dengan bebas. Namun faktor yang paling berpengaruh bisa jadi karena adanya transisi pola hidup. Kini anak-anak tidak lagi banyak yang memainkan permainan tradisional (engrang, dende, petak umpet, dll) tetapi mereka cenderung melakukan sedentary activity seperti main game, komputer, intrnet, hp, tidak lagi berangkat kesekolah dengan sepeda atau jalan kaki tetapi di antar jmput dengan mobil atau motor.

Pada usia remaja awal (13-15) terjadi penurunan yang signifikan dimana prevalensi obesitas cukup rendah hanya 2,5%. Fase remaja awal pertumbuhan fisik anak sangat pesat, kebutuhan zat gizi nya pun meningkat. Di saat kebutuhan zat gizi meningkat, pada fase remaja awal ini intensitas aktivitas sangat tinggi, mulai dari bermain, sekolah, berangkat les, olahraga, dan yang cukup berpengaruh adalah fase ini telah mengenal adanya stress dari lingkungan yang cukup menyita waktu dan tenaga. Dari faktor-faktor tersebut diyakini menjadi penyebab mengapa prevalensi menurun drastis dan berlanjut hingga fase remaja akhir. Kemudian pada fase remaja akhir (16-18) dimana prevalensi justru paling rendah menurut kelompok umur yaitu hanya 1,4%. Pada fase ini mungkin saja berkaitan dgn body image, tingginya mobilitas/aktivitas, terpapar tingkat stressor yang lebih tinggi lagi, dll.

Mengapa kelompok usia dewasa (>18 tahun) prevalensi kembali meningkat dengan sangat ekstrim yaitu 11,8%. Prevalensi pada usia dewasa ini meningkat 2,8% dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Berdasarkan survei Riskesdas 2007 dan 2010, obesitas paling banyak terjadi pada kelompok sosial ekonomi menengah keatas. Secara keseluruhan, semua kelompok sosial ekonomi mengalami kenaikan prevalensi obesitas. Namun  yang mengalami kenaikan paling banyak terdapat pada kelompok sosial ekonomi rendah yaitu 2,5% sedangkan pada kelompok sosial ekonomi tinggi hanya 0,9%. Hal ini berarti obesitas kini tidak lagi dialami oleh golongan yang memiliki pendapatan yang cukup besar. Faktor-faktor yang berpengaruh selain pola makan juga berkaitan dengan pola perilaku sedentari. Kebanyakan yang bekerja di kantoran sepanjang hari hanya duduk dan kurang mengeluarkan energi tetapi asupan makanan yang tetap ada belum lagi diselingi makanan/minuman ringan padat energi. Adapun pada orang dewasa yang tidak bekerja kantoran, mungkin saja dipengaruhi oleh transisi lifestyle, transisi itu akibat perkembangan teknologi, aksestabilitas makanan fast food yang cukup tinggi baik di daerah suburban maupun rural.

tren obese

Prevalensi obesitas tahun 2007 dan 2010

Ternyata tren yang meningkat tidak hanya terjadi menurut kelompok usia, tren tersebut juga terjadi dari tahun ke tahun yang dibuktikan dari hasil survei Riskesdas 2007 dan 2010. Pada kelompok umur 0-5 tahun kenaikannya 1,8%, pada usia anak dan remaja sekitar 3,7%, dan pada kelompok usia dewasa kenaikannya mencapai 2,8%. Diprediksi akan terjadi kenaikan sekitar 1-2% pertahunnya, jika hal tersebut tidak ditangani dengan serius oleh pemerintah maka masalah obesitas ini akan memberi dampak negatif yang luar biasa. Beban negara akan meningkat untuk membiayai masalah penyakit kronik tidak menular yang disebabkan obesitas, kematian akan semakin tinggi, semakin banyaknya orang yang akan memiliki beban psikologis dan retardasi mental akibat body image, dan beban diskriminasi sosial bagi orang obes (WHO, 2000). Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani agar masalah obesitas ini tidak menjadi “bom waktu masalah” bagi negara, dengan fokus terhadap optimalisasi 4 aspek yaitu: 1. Intervensi/modifikasi perilaku (perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik), 2. Program pemberdayaan keluarga (semua keluarga harus peduli), 3. Disediakannya promosi pola hidup sehat di tempat-tempat pelayanan umum, dan 4. Dapat dilakukan treatment dengan obat-obatan maupun bedah (Jones, 2008).

Sumber :

  1. Laporan Nasional Riskesdas 2007 dan 2010.
  2. WHO. (2000). Obesity: Preventing and Marketing The Global Epidemic.
  3. Jones KB. (2011). Obesity Surgery: Principles and Practice.

Posted on 8 December 2012, in Health and Nutrition, Material, Nutrition Problem and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: