Daily Archives: 20 November 2012

Kebiasaan Makan Anak Usia Sekolah (2)

Kebiasaan makan pagi

Menurut Titis (2012) permasalah yang sering dilakukan anak usia sekolah diantaranya tidak makan pagi, banyak jajan, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula dan kurang serat, jarang konsumsi susu, tidak suka sayur dan buah, dan pola sedentari. Kesadaran anak untuk makan pagi setiap harinya masih sangat kurang, tidak hanya disebabkan karena kemalasan dari anak tetapi juga perhatian dari orang tua yang seakan belum mengetahui esensi dari makan pagi.  Pada saat anak tidur, tubuh seperti mengalami puasa sehingga sekresi glukagon meningkat dan terjadilah glikogenolisis untuk mengubah glikogen menjadi energi awal di pagi hari. Namun cadangan energi tersebut belum memenuhi kebutuhan untuk beraktivitas pagi hari sehingga diperlukan asupan energi segera yang bisa diperoleh dari makan pagi-diperkirakan makan pagi memenuhi 25-30% kebutuhan kalori harian.

Dengan mengonsumsi makan pagi akan menjaga kondisi homeostatis tubuh terutama regulasi energi. Di Amerika Serikat prevalensi yang sering melewatkan makan pagi tertinggi terjadi pada kelompok usia sekolah dan remaja. Di Indonesia (2008) lebih dari 50% anak melewatkan makan pagi sebelum berangkat ke sekolah dan sebagian lagi sarapan dengan hanya minuman (susu, teh, dan air putih). Banyak manfaat yang diperoleh anak yang makan pagi, kadar kolesterol total, LDL dan trigilserida lebih rendah, nafsu makan lebih terkontrol, gula darah normal, dan meningkatkan sensitivitas insulin. Saat anak sarapan, rasa lapar hilang sehingga memudahkan anak untuk berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung dan meningkatkan memori jangka pendek dan jangka panjang anak.

Perilaku makan anak dipengaruhi oleh lingkungan dan orang tua, begitupula dengan sarapan. Anak yang tidak sarapan bisa jadi karena memang orang tua yang tidak menyediakan sarapan atau perilaku orang tua yang sering melewatkan sarapan dan hal itu dicontoh oleh anak (orang tua menjadi panutan). Anak yang melewatkan makan pagi seringkali mengganti makan paginya dengan jajan di sekolah, padahal sebagian besar jajanan di sekolah itu tidak sehat setidaknya kandungan zat gizi rendah dan padat energi. Untuk para orang tua, pilihlah menu makan pagi yang menyehatkan untuk anak anda seperti sereal dengan susu rendah lemak, nasi goreng disertai sayuran hijau, roti gandum putih yang dibakar ditambah susu kedelai atau yogurt. Menu sarapan seperti itu tidak hanya mengandung karbohidrat kompleks tetapi juga lengkap dengan protein, vitamin, dan antioksidan yang berasal dari produk kedelai. Jika bahan makanan tidak terjangkau, bisa menggantinya dengan bahan makanan yang relatif lebih murah misalnya nasi dengan tempe yang digoreng dengan minyak yang telah difortifikasi, roti selai/keju dengan teh manis (gula 5-10 gr), salad sayur-sayuran ditambah jagung manis, atau menggantinya dengan konsumsi buah-buah yang kaya akan serat dan vitamin dan memiliki kalori seperti apel, semangka, ataupun buah pir. Selamat mencoba.

sumber:

Prawitasari, Titis. (2012). Healthy breakfast: how does it help my kid’s performance. FK UI. Jakarta.

Kebiasaan Makan Anak Usia Sekolah (1)

Anak-anak usia 5-12 tahun atau usia sekolah masih belum mengetahui risiko masalah kesehatan, sehingga mereka cenderung belum peduli terhadap perilaku hidup bersih dan sehat. Pemilihan makanan pada anak-anak belum berdasarkan pertimbangan sehat atau tidak sehat, bersih atau tidak bersih, tetapi berdasarkan kesukaan mereka. Anak usia sekolah memerlukan kebutuhan gizi yang maksimal, karena pada usia tersebut proses pertumbuhan dan perkembangan fisik dan otak terjadi sangat cepat. Perlu perhatian penuh terhadap kebiasaan makan anak, kebiasaan konsumsi makanan ringan, kebiasaan makan pagi, dan kebiasaan konsumsi sayur dan buah menjadi masalah kebiasaan makan anak sekolah.

 

Konsumsi makanan ringan

Menonton televisi dan paparan iklan televisi menjadi faktor determinan perilaku jajan dan konsumsi makanan ringan anak usia sekolah. Mereka cepat terpengaruh terhadap bujukan-bujukan yang menarik dari iklan televisi ataupun media promosi disamping rasa dari makanan ringan itu tentunya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia (2012) bahwa sebagian besar makanan ringan di Indonesia terkategorikan tidak sehat, mungkin saja karena kandungan dari makanan ringan tersebut. Tinggi kalori, tinggi natrium, dan tinggi lemak menghiasi beberapa jenis makanan ringan yang dijual di Indonesia, tetapi justru banyak kita temukan makanan-makanan tersebut dinikmati oleh anak-anak Indonesia. Belum lagi makanan ringan yang mengandung pemanis buatan, pengawet makanan, dan yang belum terdaftar di BPOM, adalah makanan ringan yang perlu diwaspadai karena memberi dampak yang merugikan bagi kesehatan mereka dan patut menjadi kekhawatiran kita bersama.

Menurut laporan nasional (2007) pada kelompok anak-anak usia sekolah, sekitar 63,1% mengonsumsi makanan manis, 24,4% sering mengonsumsi makanan asin, dan 8,6% mengonsumsi makanan yang diawetkan. Hipotesis kami mengatakan bahwa menonton televisi juga telah diidentifikasi sebagai faktor yang berkontribusi untuk masalah masa anak-anak, yang mempengaruhi pemilihan makanan tersebut tidak lain adalah karena kebiasaan menonton televisi yang juga berkaitan dengan pengaruh buruk iklan, termasuk iklan makanan dan minuman tidak sehat. Review sistematis the United States Institute of Medicine menunjukkan bahwa pemilihan makanan makanan dan minuman anak berusia 2-11 tahun dipengaruhi oleh iklan makanan di televisi.

Pilihlah makanan ringan yang sehat bagi anak, rendah lemak dan kalori yang tidak hanya memberikan kenikmatan saat mengonsumsinya tetapi juga zat-zat gizi yang dibutuhkan. Seperti mengganti pizza daging dengan pizza sayuran, es krim dengan yogurt, burger dengan sandwich ayam, lalu hindarkan anak dari snack yang mengandung tinggi natrium seperti “chiki” dan potato chips. Biasakan anak minum susu rendah lemak, mengganti teh dalam kemasan dengan teh manis yang dibuat sendiri (tanpa pemanis buatan), variasi bakso goreng sebagai pengganti sosis dengan pengawet. Cobalah pudding, dan beberapa susu kedelai dapat menyediakan kebutuhan protein, serat, dan sedikit energi akan membuat anak tetap tampil energik dan sehat.