Pica eating disorder


Sering kita mendengar istilah eating disorder atau gangguan makan dan bagi sebagian orang mengartikannya sebagai cara makan yang salah. Macam-macam kelainan makan seringkali terjadi pada anak remaja putri, yang dalam hal ini lebih mengedepankan body image dibandingkan kesehatan jasadiyahnya. Sehingga dengan dorongan yang kuat untuk mempertahankan bentuk tubuh yang menurut mereka “ideal” namun tanpa adanya pengetahuan yang baik maka yang terjadi adalah justru perilaku eating disorder. Selain itu faktor psikologis seperti masalah keluarga, low self-esteem, stress, dan karena tidak puas dengan apa yang ada pada dirinya dapat menyebabkan seseorang mempunyai gangguan makan. Anorexia, binge eating, bulimia nervosa, dan compulsive overeating merupakan perilaku eating disorder yang sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang memiliki masalah psikologis.

Nah bagaimana dengan anak-anak, apakah juga memiliki kecenderungan yang dapat menyebabkan anak mengalami eating disorder. Akhir-akhir ini kita sering mendengar di beberapa media cetak bahwa ada anak yang senang dengan memakan tanah, mengupas lalu memakan cat yang ada di tembok, atau memakan tegel rumah, plastik, pensil, penghapus, batu, kerikil, kayu, batu bata, atau benda-benda lainnya yang seharusnya tidak masuk dalam tubuh kita. Bahkan yang lebih parahnya lagi ada seorang anak usia 2 tahun yang setiap harinya makan bedak dan punting rokok. Perilaku seperti ini sangat tidak lazim, dan yang paling membahayakan adalah dampaknya terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kebiasaan anak yang mengonsumsi benda-benda asing yang kotor disebut Pika (Pika). Pica juga merupakan perilaku eating disorder yang terjadi pada anak kecil. Anak kecil memiliki kebiasaan makan benda yang sama sekali tidak memiliki nilai gizi dan manfaat melainkan justru membahayakan kesehatan.

Menurut beberapa penelitian, sebagian besar kejadian pica berkaitan dengan defisiensi zat besi. Sehingga anak-anak yang mempunyai gangguan makan tersebut pasti memiliki masalah dengan penyakit yang berhubungan dengan zat besi dan hemoglobin. Sebenarnya kasus-kasus eating disorder bisa dihilangkan, apalagi pica yang terjadi pada anak asalkan orang tua berperan secara aktif. Sebenarnya pica adalah suatu praktik yang tidak dianggap sebagai kebiasaan yang memiliki patologis, artinya konsumsi zat-zat non-nutritive pada anak adalah suatu kelainan yang umum dan bukan patologis, mungkin karena anak merasa nyaman atau suka dengan rasa dan struktur benda-benda tersebut. Kebiasaan itu jika berlangsung lebih dari 1 bulan maka anak sudah dikategorikan memiliki pica eating disorder.

Untuk melihat apakah anak tergolong pica, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu; perilaku makan non pangan tidak sesuai dengan perkembangan individu, perilaku tersebut bukan karena adanya penyakit lain melainkan murni karena kebiasaan anak dan kesukaan anak, dan pica terjadi bukan secara eksklusif karena adanya gangguan mental pada anak misalnya pada anak skizofrenia. Dengan melihat benda yang biasa dimakan, tentu kita dapat berkesimpulan bahwa prilaku ini sangat berbahaya. Benda yang dimakan juga hampir selalu merupakan benda yang tidak bersih sehingga dapat menyebabkan infeksi, terutama infeksi cacing dan parasit lainnya yang bisa ikut tertelan. Ini akan menyebabkan semakin beratnya kondisi malnutrisi yang mungkin dialami dan gangguan saluran cerna. Selain itu dampak yang lebih parah bisa menyebabkan terjadinya robek pada saluran cerna, yang pada akhirnya menyebabkan luka hebat dan infeksi.

Cara efektif untuk mencegah agar anak tidak memiliki perilaku pica tidak lain adalah peran orang tua. Orang tua harus aktif menjaga anaknya yang masih dalam tahap pengenalan dari benda-benda yang berbahaya, dan mengenalkannya dengan benda-benda yang aman untuk anak seusia tersebut. Hal seperti itu sangat perlu sebagai upaya pencegahan agar pica tidak terjadi pada anak. Orang tua juga sebaiknya rutin memeriksakan anak untuk mengecek apakah tidak ada bahan berbahaya yang pernah ditelan oleh anak. Namun jika anak sudah memiliki kebiasaan itu, maka orang tua harus bisa tegas dan intensif untuk menyembuhkan kebiasaan anak. Kenyataannya sekarang banyak orang tua yang kasian melihat anaknya menangis karena ingin makan serbuk bata atau bedak sehingga mereka membiarkannya makan sekehendak anak. Cara tersebut jelas salah dan merupakan pengejewantahan dari wujud ketidaktahuan orang tua dalam mendidik anaknya. Karena bentuk rasa kasihan seperti itu bukanlah wujud kasih sayang orang tua kepada anak, melainkan justru malah membahayakan kesehatan anaknya.

Sekali lagi orang tua harus tegas! Orang tua tidak boleh menuruti keinginan anaknya jika meminta benda-benda asing untuk dimakan, orang tua juga harus mengawasi anak ketika bermain. Ketika anak lapar dan ingi makan, orang tua bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mengenalkannya jenis-jenis makanan yang sehat dan bergizi dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian anak pada benda yang ingin dimakan ke makanan yang betul-betul layak untuk dimakan. Rangsang otak anak dengan makanan-makanan yang bergizi ketika dirinya lapar, ketika otak terbiasa dengan rangsangan dari makanan maka lama kelamaan perhatian anak akan teralihkan dari benda-benda asing yang ingin dia makan.

Jadi intinya adalah fokus perhatian orang tua terhadap perilaku anak, kebiasaan anak, dan tumbuh kembang anak karena kewajiban orang tua memang mengasuh anaknya. Untuk mencegah dan mengobati pica, orang tua perlu meluangkan waktunya untuk menemani anak bermain, mengajarkannya makanan yang baik, menjauhkannya dari benda-benda keras dan berbahaya, serta menjaga kebiasaan tidur anak sehingga anak dapat tumbuh dengan sehat dan jauh dari pica eating disorder.

Posted on 31 May 2012, in Health and Nutrition, What you are eat and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: