Non Communicable Disease


Data WHO menunjukkan bahwa ada sekitar 58 juta total kematian di dunia dan diantaranya ada sekitar 35 juta kematian diakibatkan karena penyakit tidak menular (non communicable disease), serta sekitar 28 juta terjadi di negara miskin dan berkembang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa kematian karena non communicable disease (NCD) ini sangat besar yakni mencapai 60% dari total kematian karena semua penyebab dan lebih ironisnya lagi bahwa kematian karena NCD ini banyak terjadi di negara miskin dan yang sedang berkembang. Berdasarkan evidence based di semua negara bahwa non communicable disease seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, cancer, hipertensi ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Menurut proyeksi dari WHO yang didasari dari data tiap tahunnya bahwa pada tahun 2030 kematian akibat penyakit infeksi akan semakin jarang pada masyarakat menengah keatas, hal ini terlihat dari prevalensi penyakit menular yang terjadi penurunan tiap tahunnya. Namun untuk semua tingkatan sosial ekonomi, kejadian NCD ini akan terus meningkat tiap tahunnya, sehingga pada kelompok sosial ekonomi menengah kebawah akan dihadapkan pada communicable disease dan non communicable disease (double burden of disease).

Dilihat dari etiologinya, NCD dapat terjadi karena modifiable risk factor atau faktor yang dapat dikendalikan dan unmodifiable risk factor atau faktor yang tidak dapat dikendalikan. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan diantaranya adalah usia dan keturunan, sedangkan faktor yang bisa dikendalikan adalah diet yang tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan kurang aktivitas fisik. Sehingga untuk menghindari terkena NCD, seseorang harus dapat mengendalikan faktor resiko yang dapat dikontrol tersebut agar terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi, glukosa darah tinggi, serta kadar lipid dalam darah tinggi yang semuanya akan bermuara pada penyakit-penyakit tidak menular. Selain obesitas dan sindroma metabolik, salah satu pintu masuk terjadinya NCD yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah stunting.

Kondisi di Indonesia sangat memprihatinkan, berdasarkan data dari WHO (2011) bahwa kematian penduduk Indonesia karena NCD (30%) lebih tinggi dibandingkan angka secara global (25%). Sedangkan prevalensi anak yang pendek (stunted) di Indonesia sangat tinggi sekitar 36%, padahal stunting juga menjadi penyebab NCD. Prevalensi stunting secara global masih lebih rendah jika dibandingkan di Indonesia yaitu 32% atau sekitar 178 juta anak yang stunting. Namun tetap saja angka itu masih sangat tinggi, apalagi dampak dari stunting yang sangat merugikan. Indonesia menjadi kotributor nomor 5 penyumbang anak stunting di dunia.

Suatu bentuk intevensi untuk mencegah stunting harus dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan. Banyak penelitian di berbagai negara mengenai intervensi pada anak yang stunting dan hasilnya bahwa suatu intervensi akan sangat efektif untuk meningkatkan status gizi serta pertumbuhan dan perkembangannya jika dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan karena pada usia tersebut masa pertumbuhan anak sangat cepat. Sedangkan pada intervensi yang dilakukan setelah anak berusia 2 tahun hanya dapat memberikan kenaikan berat badan yang cepat, bukan pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga intervensi pada usia tersebut harus tetap mengontrol berat badannya karena kenaikan berat badan setelah fase gizi kurang/gizi buruk akan sangat cepat dan justru dapat menyebabkan obesitas yang nantinya beresiko menderita penyakit tidak menular yang berbahaya. Intervensi sebelum 2 tahun dapat menaikkan berat badan dengan cepat namun pertumbuhan tinggi badannya juga cepat sehingga pada akhirnya proporsinya akan tepat yakni berat badannya akan sesuai dengan tinggi badannya. Anak menjadi tidak stunting, perkembangan otaknya baik, lebih aktif dan produktif dan yang paling penting adalah resiko menderita NCD semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mencegah anak stunting dengan intervensi sebelum 2 tahun akan menjadi cara yang efektif untuk menurunkan resiko NCD pada fase usia berikutnya.

Berdasarkan hal tersebut maka WHO dan beberapa negara sepakat untuk membuat suatu kebijakan yang diimplementasikan menjadi sebuah gerakan untuk mencegah anak yang stunting sebagai upaya dalam menyelamatkan anak-anak dari lost generation. Gerakan tersebut adalah Scaling Up of Nutrition (SUN). SUN terbentuk sebagai upaya dalam mengatasi masalah gizi yang semakin serius terutama stunting, serta sebagai upaya dalam mendorong pencapaian MDG. MDG tidak akan tercapai tanpa adanya gerakan yang menaruh perhatian penuh pada gizi. Gerakan tersebut disebut Scaling Up of Nutrition (SUN), yang evidence base dari SUN berasal dari The Lancet Series (5 series on nutrition) yang telah menemukan isu-isu masalah gizi di berbagai negara. Dalam framework action SUN, yang menjadi fokus perhatiannya adalah pada “window of opportunity” yang dimulai sejak dalam kandungan hingga 24 bulan (sama seperti fokus dari intervensi Lancet).

Berdasarkan publikasi Barker (2012) dalam teorinya tentang transgenerational roots of chronic disease, bahwa suatu perencanaan gizi yang baik apabila dimulai sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun dan hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi generasi berikutnya hingga 100 tahun kemudian. Artinya bahwa kondisi yang sekarang ini terjadi seperti tingginya anak yang stunting dan banyaknya orang yang terkena NCD sebagai dampak dari perilaku gizi dan intervensi gizi yang dilakukan 100 tahun yang lalu. Seribu hari pertama kehidupan anak menjadi penentu kehidupannya di fase usia berikutnya serta transgenerational NCD hingga 100 tahun kedepan. Masih menurut Barker, sekarang ini PJK, DM tipe 2, kanker payudara, serta penyakit kronik lainnya tidak perlu lagi diyakini sebagai suatu penyakit yang didapatkan dari heredity/keturunan serta proses evolusi yang panjang dari ribuan tahun lalu. Penyakit tersebut sebagian besar justru dipengaruhi lingkungan, dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan, dan peningkatan status gizi pada remaja laki-laki dan perempuan.

Terkait dengan sektor lainnya, kemiskinan juga perlu untuk dihilangkan karena paparan terhadap modifiable risk factor akan terus meningkat pada kelompok masyarakat miskin. Dengan demikian perlu suatu intervensi sensitif dari berbagai sector untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Dengan menyelesaikan masalah kemiskinan, secara tidak langsung akan mencegah anak stunting, obesitas, serta sindroma metabolik yang merupakan pintu masuk terjadinya non communicable disease. Hal ini telah dicontohkan Brazil sebagai negara berkembang yang berhasil meningkatkan pendapatan perkapita menjadi 14.000 USD dan yang terjadi sekarang adalah anak yang stunting serta kematian akibat non communicable disease telah menurun di negara tersebut.

Sumber : dirangkum dari kuliah umum Prof A. Razak Thaha di UGM

Email : andiimam.arundhana@gmail.com

Posted on 7 May 2012, in Nutrition Problem and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. great issues altogether, you just received brand new reader. What could you recommend in regards to your post that you just made some days in the past? Any positive?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: