Monthly Archives: May 2012

Pica eating disorder

Sering kita mendengar istilah eating disorder atau gangguan makan dan bagi sebagian orang mengartikannya sebagai cara makan yang salah. Macam-macam kelainan makan seringkali terjadi pada anak remaja putri, yang dalam hal ini lebih mengedepankan body image dibandingkan kesehatan jasadiyahnya. Sehingga dengan dorongan yang kuat untuk mempertahankan bentuk tubuh yang menurut mereka “ideal” namun tanpa adanya pengetahuan yang baik maka yang terjadi adalah justru perilaku eating disorder. Selain itu faktor psikologis seperti masalah keluarga, low self-esteem, stress, dan karena tidak puas dengan apa yang ada pada dirinya dapat menyebabkan seseorang mempunyai gangguan makan. Anorexia, binge eating, bulimia nervosa, dan compulsive overeating merupakan perilaku eating disorder yang sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang memiliki masalah psikologis.

Nah bagaimana dengan anak-anak, apakah juga memiliki kecenderungan yang dapat menyebabkan anak mengalami eating disorder. Akhir-akhir ini kita sering mendengar di beberapa media cetak bahwa ada anak yang senang dengan memakan tanah, mengupas lalu memakan cat yang ada di tembok, atau memakan tegel rumah, plastik, pensil, penghapus, batu, kerikil, kayu, batu bata, atau benda-benda lainnya yang seharusnya tidak masuk dalam tubuh kita. Bahkan yang lebih parahnya lagi ada seorang anak usia 2 tahun yang setiap harinya makan bedak dan punting rokok. Perilaku seperti ini sangat tidak lazim, dan yang paling membahayakan adalah dampaknya terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kebiasaan anak yang mengonsumsi benda-benda asing yang kotor disebut Pika (Pika). Pica juga merupakan perilaku eating disorder yang terjadi pada anak kecil. Anak kecil memiliki kebiasaan makan benda yang sama sekali tidak memiliki nilai gizi dan manfaat melainkan justru membahayakan kesehatan.

Menurut beberapa penelitian, sebagian besar kejadian pica berkaitan dengan defisiensi zat besi. Sehingga anak-anak yang mempunyai gangguan makan tersebut pasti memiliki masalah dengan penyakit yang berhubungan dengan zat besi dan hemoglobin. Sebenarnya kasus-kasus eating disorder bisa dihilangkan, apalagi pica yang terjadi pada anak asalkan orang tua berperan secara aktif. Sebenarnya pica adalah suatu praktik yang tidak dianggap sebagai kebiasaan yang memiliki patologis, artinya konsumsi zat-zat non-nutritive pada anak adalah suatu kelainan yang umum dan bukan patologis, mungkin karena anak merasa nyaman atau suka dengan rasa dan struktur benda-benda tersebut. Kebiasaan itu jika berlangsung lebih dari 1 bulan maka anak sudah dikategorikan memiliki pica eating disorder.

Untuk melihat apakah anak tergolong pica, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu; perilaku makan non pangan tidak sesuai dengan perkembangan individu, perilaku tersebut bukan karena adanya penyakit lain melainkan murni karena kebiasaan anak dan kesukaan anak, dan pica terjadi bukan secara eksklusif karena adanya gangguan mental pada anak misalnya pada anak skizofrenia. Dengan melihat benda yang biasa dimakan, tentu kita dapat berkesimpulan bahwa prilaku ini sangat berbahaya. Benda yang dimakan juga hampir selalu merupakan benda yang tidak bersih sehingga dapat menyebabkan infeksi, terutama infeksi cacing dan parasit lainnya yang bisa ikut tertelan. Ini akan menyebabkan semakin beratnya kondisi malnutrisi yang mungkin dialami dan gangguan saluran cerna. Selain itu dampak yang lebih parah bisa menyebabkan terjadinya robek pada saluran cerna, yang pada akhirnya menyebabkan luka hebat dan infeksi.

Cara efektif untuk mencegah agar anak tidak memiliki perilaku pica tidak lain adalah peran orang tua. Orang tua harus aktif menjaga anaknya yang masih dalam tahap pengenalan dari benda-benda yang berbahaya, dan mengenalkannya dengan benda-benda yang aman untuk anak seusia tersebut. Hal seperti itu sangat perlu sebagai upaya pencegahan agar pica tidak terjadi pada anak. Orang tua juga sebaiknya rutin memeriksakan anak untuk mengecek apakah tidak ada bahan berbahaya yang pernah ditelan oleh anak. Namun jika anak sudah memiliki kebiasaan itu, maka orang tua harus bisa tegas dan intensif untuk menyembuhkan kebiasaan anak. Kenyataannya sekarang banyak orang tua yang kasian melihat anaknya menangis karena ingin makan serbuk bata atau bedak sehingga mereka membiarkannya makan sekehendak anak. Cara tersebut jelas salah dan merupakan pengejewantahan dari wujud ketidaktahuan orang tua dalam mendidik anaknya. Karena bentuk rasa kasihan seperti itu bukanlah wujud kasih sayang orang tua kepada anak, melainkan justru malah membahayakan kesehatan anaknya.

Sekali lagi orang tua harus tegas! Orang tua tidak boleh menuruti keinginan anaknya jika meminta benda-benda asing untuk dimakan, orang tua juga harus mengawasi anak ketika bermain. Ketika anak lapar dan ingi makan, orang tua bisa memanfaatkan hal tersebut untuk mengenalkannya jenis-jenis makanan yang sehat dan bergizi dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian anak pada benda yang ingin dimakan ke makanan yang betul-betul layak untuk dimakan. Rangsang otak anak dengan makanan-makanan yang bergizi ketika dirinya lapar, ketika otak terbiasa dengan rangsangan dari makanan maka lama kelamaan perhatian anak akan teralihkan dari benda-benda asing yang ingin dia makan.

Jadi intinya adalah fokus perhatian orang tua terhadap perilaku anak, kebiasaan anak, dan tumbuh kembang anak karena kewajiban orang tua memang mengasuh anaknya. Untuk mencegah dan mengobati pica, orang tua perlu meluangkan waktunya untuk menemani anak bermain, mengajarkannya makanan yang baik, menjauhkannya dari benda-benda keras dan berbahaya, serta menjaga kebiasaan tidur anak sehingga anak dapat tumbuh dengan sehat dan jauh dari pica eating disorder.

Obesitas Lebih Berbahaya daripada Kecelakaan Lalu Lintas

Berdasarkan data dari PBB bahwa ada sekitar 40.000 ribu jiwa yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2010. Demikian juga dilaporkan bahwa sekitar 31.000 jiwa meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan sekitar 70% berada di usia produktif. Tingginya angka kecelakaan tersebut membuat Indonesia sebagai negara nomor 2 setelah Nepal dalam jumlah kematian karena kecelakaan tersebut. Sedangkan Kecelakaan menempati peringkat ketiga dalam penyebab kematian di Indonesia setelah serangan jantung dan stroke.

Nah perlu kita ketahui bahwa serangan jantung dan stroke ini merupakan penyebab kematian yang terbanyak di Indonesia. Melihat dari data dan fakta bahwa kematian akibat stroke di Indonesia sebesar 26,9% dari total semua kematian sedangkan kematian karena serangan jantung adalah 26%. Angka tersebut sangatlah tinggi mengingat jika setiap tahunnya ada sekitar 100.000 kematian di Indonesia maka setengah diantaranya diakibatkan karena jantung dan stroke (Riskesdas 2007).

Sebenarnya jantung dan stroke merupakan outcome yang awalnya disebabkan karena obesitas. Obesitas divonis sebagai penyebab utama penyakit tidak menular di seluruh dunia. Bahkan WHO mengatakan bahwa kini epidemik obesitas diam-diam membunuh jutaan orang di seluruh dunia. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 388 juta orang akan meninggal akibat penyakit kronis di seluruh dunia di tahun 2020 (WHO, 2009).

Mari kita membandingkan dampak obesitas dengan kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Obesitas merupakan penyebab utama non communicable disease, kematian akibat NCD ini hampir 60% dari total kematian dari semua penyebab, sedangkan kematian karena kecelakaan menyumbang sekitar 6,5% dari semua penyebab. Obesitas juga dipengaruhi oleh heriditas, artinya orang tua yang obesitas kemungkinan menurunkan kepada anaknya sehingga menjadi sebuah siklus yang berkepanjangan jika tidak segera diatasi, faktanya sekarang dapat dilihat bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat tiap tahunnya baik didaerah perkotaan maupun pedesaan. Kecelakaan lalu lintas memiliki pengaruh langsung terhadap perekonomian Indonesia, sebagian besar yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas adalah kelompok usia produktif artinya kemungkinan mereka lah yang menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Keluarga yang hanya bergantung dari mereka yang meninggal karena kecelakaan tersebut justru akan memberikan tambahan beban negara.

Untuk mengatasi dampak dari keduanya baik obesitas maupun kecelakaan lalu lintas, pemerintah harus memiliki perencanaan dan strategi yang efektif dan efisien. Intervensi pada obesitas tidak akan efektif jika hanya diberikan penyuluhan saja, harus disertai dengan aktivitas fisik yang cukup, hindari fast food dan mengatur pola makan bergizi dan seimbang. Jadi pemerintah harus bisa menyediakan sarana dan prasarana yang baik agar masyarakat nyaman untuk berjalan kaki dan bersepeda. Selain itu perlunya suatu regulasi agar keberadaan fast food  tidak semakin menjamur. Sedangkan untuk mengatasi kecelakaan lalu lintas, pemerintah juga perlu menetapkan suatu regulasi yang memberikan efek jera kepada pengendara bukan yang hanya sifatnya aplikatif namun tidak ada power. Banyaknya aturan-aturan lalu lintas yang ada di Indonesia masih belum bisa memberikan efek jera kepada mereka, karena itu masih banyak kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di Indonesia.

Dari uraian diatas, sebenarnya tidak ada kaitan antara obesitas dengan kecelakaan lalu lintas. Hanya memberikan perbandingan besarnya angka kematian akibat keduanya, jika obesitas dapat menyumbang penyakit tidak menular yang memberi kontribusi sekitar 60% dari total kematian, kecelakaan lalu lintas juga cukup fatal dengan 6,5% dari total kematian di Indonesia. Jika pemerintah ingin menurunkan angka kematian di Indonesia, sebaiknya dimulai dari pencegahan obesitas, besarnya kemungkinan yang dapat diturunkan lebih menjanjikan dibandingkan dengan pencegahan kecelakaan lalu lintas. Belum adanya alokasi anggaran khusus untuk menangani obesitas di negara kita tentu saja akan sulit menurunkan prevalensi obesitas di Indonesia, sedangkan alokasi dana untuk membangun infrastruktur dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak sebagai upaya mencegah kecelakaan lalu lintas sangatlah besar. Memang pembangungan infrastruktur dan perbaikan jalan yang rusak sangat penting, namun pencegahan obesitas juga tidak dapat dilupakan justru harus mendapat prioritas utama mengingat dampaknya terhadap masyarakat Indonesia sangat merugikan.

Smile with Nutrition

Mungkin kita masih mengingat ketika orang tua kita sering menyuruh sikat gigi sehabis makan permen atau makanan yang manis sebelum tidur. Sebagian besar dari orang tua menyuruh demikian agar mulut kita terjaga dari karies gigi yang menyebabkan lubang pada gigi. Terkadang anak-anak yang tidak memperhatikan kesehatan giginya sewaktu kecil akan kehilangan beberapa jumlah gigi saat dewasa nanti.

Berdasarkan data dan fakta bahwa kesehatan gigi dan mulut sangat berkaitan dengan gizi. Agar seorang anak ingin memiliki status gizi yang baik maka hendaknya orang tua tidak hanya memperhatikan asupan makanannya namun juga kesehatan gigi dan mulutnya. Jika anak dibiasakan untuk menyikat gigi sehabis makan manis maka hal itu dapat menanamkan sebuah prinsip bahwa kesehatan mulut yang dijaga sewaktu masih kecil akan tetap dinikmati semasa dewasa nanti.

Gula dan Pati

Kita tentu mengetahui bahwa makanan manis dan banyak yang mengandung gula merupakan faktor yang menyebabkan kerusakan pada gigi. Namun sebetulnya ada faktor lain yang harus diperhatikan dalam menjaga kesehatan mulut, seperti keturunan, dan frekuensi air liur. Kerusakan pada gigi bermula dari plak yang ada di gigi yang ditemukan oleh bakteri. Bakteri akan menghasilkan asam dari makanan yang mengandung gula dan pati, asam yang diproduksi oleh bakteri akan menempel pada email gigi dan merusak lapisan tersebut hingga gigi menjadi rusak atau bahkan berlubang.

Permen yang keras

Mungkin sebagian dari kita berfikir apa kaitan antara gizi dengan kesehatan mulut terutama dalam mencegah kerusakan gigi. Alasan mengapa permen yang keras dapat menyebabkan sakit pada gigi adalah karena permen merupakan salah satu sumber makanan bagi bakteri penyebab kerusakan gigi. Sehingga kita dianjurkan setiap kali makan manis, sebelum tidur harus menyikat gigi terlebih dahulu – namun jangan terlalu sering karena dapat menghilangkan pelindung gigi – karena bakteri memanfaatkan sisa-sisa makanan tersebut untuk membentuk plak pada gigi. Bakteri akan melakukan aktivitas tersebut setiap 30 menit sehabis kita makan. Perlu diketahui bahwa semakin banyak makan makanan yang mengandung karbohidrat maka akan semakin besar asam yang akan terbentuk dan akan menyerang gigi dan gusi, karena sisa makanan dari karbohidrat yang tinggal di gigi merupakan makanan bagi bakteri. Jadi semua tergantung dari seberapa banyak dan seberapa lama sisa makanan tinggal dimulut. Oleh karena itu setiap kali habis makan, sebaiknya berkumur-kumur untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan yang tidak sempat tertelan sewaktu makan.

Nutrient anti gigi berlubang

Ada beberapa jenis makanan yang bisa menguatkan gigi dan mulut oleh karena kandungan zat gizi yang dimilikinya. Zat-zat gizi yang yang membantu dalam menjaga kesehatan gigi adalah kalsium, fosfor, dan vit. D.

Air (Water)

Air merupakan salah satu komponen zat gizi makro yang manfaatnya sangat banyak bagi tubuh. Air dapat membantu untuk melancarkan produksi saliva (air ludah) di dalam mulut. Saliva memiliki peran penting dalam membantu kinerja mulut mengunyah makanan. Semakin banyak saliva yang dimiliki maka semakin bagus pula untuk menjaga kesehatan gigi agar tidak berlubang karena saliva membersihkan sisa makanan dari karbohidrat di dalam mulut sehingga mengurangi waktu bakteri untuk membentuk asam plak di gigi dan gusi. Selain itu saliva juga membantu menguatkan gigi karena mengandung kalsium, fosfor dan fluoride yang fungsinya melindungi gigi.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi:

  • Mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, tidak terlalu banyak mengandung makanan yang berkarbohidrat.
  • Menghindari minuman berkarbonasi karena dapat menyebabkan karies pada gigi, begitu pula softdrink rasa buah yang manis. Ganti dengan minum air putih sebanyak mungkin.
  • Kurangi makan makanan yang manis, usahakan menggantinya dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan karena buah-buahan mengandung vitamin dan mineral serta kandungan airnya juga cukup tinggi sehingga dapat membantu meningkatkan produksi saliva dalam mulut.
  • Sikat gigi sesudah mengkonsumsi buah yang memiliki konsentrasi gula yang tinggi. Selain itu cukup menyikat gigi 2 kali sehari karena jika lebih dapat menipiskan lapisan email gigi.
  • Keju dan olahannya dapat membantu menstimulasi aliran saliva.
  • Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung kalsium yang tinggi seperti susu, brokoli dan yogurt.
  • Selalu merencanakan makan dengan menyenangkan and smile.

from The Cleaner

Short Course UGM 2012

Minat gizi dan kesehatan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada akan mengadakan Short Course dibtahun 2012 ini. short course tersebut diperuntukkan bagi akademisi, praktisi, dan mahasiswa dibidang gizi dan kesehatan yang ingin menambah wawasan dan skill dibidang gizi. Rencananya short course yang mendapat akreditasi Persagi ini menawrkan kursus-kursus dengan tema yang sangat menarik yaitu:

1. Upaya Peningkatan Pelayanan Gizi Berbasis Kuliner (4-5 juni)
2. Up date Manajemen Equipment Gizi untuk Meningkatkan Efisiensi dalm Penyelenggaraan Makanan Fumah Sakit (6-7 juni)
3. Manajemen Kesiapan Penyediaan Makanan pada Kondisi Bencana (8-9 juni)
4. Akreditasi Instalasi Gizi oleh Joint Commision International (11-13 juni)
5. Intepretasi Pengukuran Data Standar Pelayanan Minimal Gizi RS (14-15 juni)
6. Analisis Kebutuhan dan Pengukuran Kinerja Karyawan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia di Instalasi Gizi (18-19 juni)
7. Reformasi Birokrasi dalam Pengelolaan Logistik Gizi Rumah Sakit (20-21 juni)
8. Nutrition and Sport Performance (25-27 juni)
9. Manajemen Gizi Penyakit Ginjal (28-29 juni)
10. Penangulangan Osteoporosis Terpadu (2-3 juli)
11. Manajemen Gizi pada Geriatri (4-6 juli)

Pendaftaran dapat dilakukan di sekrtariat gizi dan kesehatan FK UGM:
Jalan Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281, Telp./faks. (0274) 547775
CP: Adhe 08156865589, Siti 081328601706

Informasi lebih lanjut kunjungi : http://www.gizikesehatan.ugm.ac.id/content/view/114/76/

Non Communicable Disease

Data WHO menunjukkan bahwa ada sekitar 58 juta total kematian di dunia dan diantaranya ada sekitar 35 juta kematian diakibatkan karena penyakit tidak menular (non communicable disease), serta sekitar 28 juta terjadi di negara miskin dan berkembang. Dari data diatas dapat dilihat bahwa kematian karena non communicable disease (NCD) ini sangat besar yakni mencapai 60% dari total kematian karena semua penyebab dan lebih ironisnya lagi bahwa kematian karena NCD ini banyak terjadi di negara miskin dan yang sedang berkembang. Berdasarkan evidence based di semua negara bahwa non communicable disease seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, cancer, hipertensi ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Menurut proyeksi dari WHO yang didasari dari data tiap tahunnya bahwa pada tahun 2030 kematian akibat penyakit infeksi akan semakin jarang pada masyarakat menengah keatas, hal ini terlihat dari prevalensi penyakit menular yang terjadi penurunan tiap tahunnya. Namun untuk semua tingkatan sosial ekonomi, kejadian NCD ini akan terus meningkat tiap tahunnya, sehingga pada kelompok sosial ekonomi menengah kebawah akan dihadapkan pada communicable disease dan non communicable disease (double burden of disease).

Dilihat dari etiologinya, NCD dapat terjadi karena modifiable risk factor atau faktor yang dapat dikendalikan dan unmodifiable risk factor atau faktor yang tidak dapat dikendalikan. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan diantaranya adalah usia dan keturunan, sedangkan faktor yang bisa dikendalikan adalah diet yang tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alcohol yang berlebihan, dan kurang aktivitas fisik. Sehingga untuk menghindari terkena NCD, seseorang harus dapat mengendalikan faktor resiko yang dapat dikontrol tersebut agar terhindar dari obesitas, tekanan darah tinggi, glukosa darah tinggi, serta kadar lipid dalam darah tinggi yang semuanya akan bermuara pada penyakit-penyakit tidak menular. Selain obesitas dan sindroma metabolik, salah satu pintu masuk terjadinya NCD yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah adalah stunting.

Kondisi di Indonesia sangat memprihatinkan, berdasarkan data dari WHO (2011) bahwa kematian penduduk Indonesia karena NCD (30%) lebih tinggi dibandingkan angka secara global (25%). Sedangkan prevalensi anak yang pendek (stunted) di Indonesia sangat tinggi sekitar 36%, padahal stunting juga menjadi penyebab NCD. Prevalensi stunting secara global masih lebih rendah jika dibandingkan di Indonesia yaitu 32% atau sekitar 178 juta anak yang stunting. Namun tetap saja angka itu masih sangat tinggi, apalagi dampak dari stunting yang sangat merugikan. Indonesia menjadi kotributor nomor 5 penyumbang anak stunting di dunia.

Suatu bentuk intevensi untuk mencegah stunting harus dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan. Banyak penelitian di berbagai negara mengenai intervensi pada anak yang stunting dan hasilnya bahwa suatu intervensi akan sangat efektif untuk meningkatkan status gizi serta pertumbuhan dan perkembangannya jika dilakukan sebelum anak berusia 24 bulan karena pada usia tersebut masa pertumbuhan anak sangat cepat. Sedangkan pada intervensi yang dilakukan setelah anak berusia 2 tahun hanya dapat memberikan kenaikan berat badan yang cepat, bukan pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga intervensi pada usia tersebut harus tetap mengontrol berat badannya karena kenaikan berat badan setelah fase gizi kurang/gizi buruk akan sangat cepat dan justru dapat menyebabkan obesitas yang nantinya beresiko menderita penyakit tidak menular yang berbahaya. Intervensi sebelum 2 tahun dapat menaikkan berat badan dengan cepat namun pertumbuhan tinggi badannya juga cepat sehingga pada akhirnya proporsinya akan tepat yakni berat badannya akan sesuai dengan tinggi badannya. Anak menjadi tidak stunting, perkembangan otaknya baik, lebih aktif dan produktif dan yang paling penting adalah resiko menderita NCD semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mencegah anak stunting dengan intervensi sebelum 2 tahun akan menjadi cara yang efektif untuk menurunkan resiko NCD pada fase usia berikutnya.

Berdasarkan hal tersebut maka WHO dan beberapa negara sepakat untuk membuat suatu kebijakan yang diimplementasikan menjadi sebuah gerakan untuk mencegah anak yang stunting sebagai upaya dalam menyelamatkan anak-anak dari lost generation. Gerakan tersebut adalah Scaling Up of Nutrition (SUN). SUN terbentuk sebagai upaya dalam mengatasi masalah gizi yang semakin serius terutama stunting, serta sebagai upaya dalam mendorong pencapaian MDG. MDG tidak akan tercapai tanpa adanya gerakan yang menaruh perhatian penuh pada gizi. Gerakan tersebut disebut Scaling Up of Nutrition (SUN), yang evidence base dari SUN berasal dari The Lancet Series (5 series on nutrition) yang telah menemukan isu-isu masalah gizi di berbagai negara. Dalam framework action SUN, yang menjadi fokus perhatiannya adalah pada “window of opportunity” yang dimulai sejak dalam kandungan hingga 24 bulan (sama seperti fokus dari intervensi Lancet).

Berdasarkan publikasi Barker (2012) dalam teorinya tentang transgenerational roots of chronic disease, bahwa suatu perencanaan gizi yang baik apabila dimulai sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun dan hal tersebut akan memberikan dampak positif bagi generasi berikutnya hingga 100 tahun kemudian. Artinya bahwa kondisi yang sekarang ini terjadi seperti tingginya anak yang stunting dan banyaknya orang yang terkena NCD sebagai dampak dari perilaku gizi dan intervensi gizi yang dilakukan 100 tahun yang lalu. Seribu hari pertama kehidupan anak menjadi penentu kehidupannya di fase usia berikutnya serta transgenerational NCD hingga 100 tahun kedepan. Masih menurut Barker, sekarang ini PJK, DM tipe 2, kanker payudara, serta penyakit kronik lainnya tidak perlu lagi diyakini sebagai suatu penyakit yang didapatkan dari heredity/keturunan serta proses evolusi yang panjang dari ribuan tahun lalu. Penyakit tersebut sebagian besar justru dipengaruhi lingkungan, dapat dicegah dengan meningkatkan status kesehatan, dan peningkatan status gizi pada remaja laki-laki dan perempuan.

Terkait dengan sektor lainnya, kemiskinan juga perlu untuk dihilangkan karena paparan terhadap modifiable risk factor akan terus meningkat pada kelompok masyarakat miskin. Dengan demikian perlu suatu intervensi sensitif dari berbagai sector untuk menyelesaikan masalah kemiskinan. Dengan menyelesaikan masalah kemiskinan, secara tidak langsung akan mencegah anak stunting, obesitas, serta sindroma metabolik yang merupakan pintu masuk terjadinya non communicable disease. Hal ini telah dicontohkan Brazil sebagai negara berkembang yang berhasil meningkatkan pendapatan perkapita menjadi 14.000 USD dan yang terjadi sekarang adalah anak yang stunting serta kematian akibat non communicable disease telah menurun di negara tersebut.

Sumber : dirangkum dari kuliah umum Prof A. Razak Thaha di UGM

Email : andiimam.arundhana@gmail.com