Daily Archives: 23 April 2012

Double Burden of Malnutrition (DBM)

Masalah gizi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sudah semakin kompleks dengan adanya istilah beban ganda masalah gizi. Sebagai negara yang sedang berkembang, masalah gizi ini kian terasa berat karena disatu sisi permasalahan gizi kurang tidak kunjung berkesudahan dan kini Indonesia menghadapi masalah gizi lebih yang mendatangkan masalah baru. Sebenarnya masalah gizi kurang terutama kasus gizi buruk sudah tidak menjadi masalah terlebih lagi prevalensinya di seluruh daerah di Indonesia sudah turun kecuali NTT. Hal ini karena pemerintah fokus dalam menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan kesehatan ibu menyebabkan perhatian kepada anak yang gizi kurang dan gizi buruk cukup besar. Berdasarkan laporan mengenai progress MDG di Indonesia, pemerintah optimis dapat mencapai target MDG poin 4 dan 5 mengenai kematian bayi dan kesehatan ibu pada tahun 2015 nanti.

Masalah gizi lebih kerap kali dikaitkan dengan penyakit non-infeksi (non communicable disease) seperti penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, dan stroke. Gizi lebih ini banyak ditemui di daerah yang cukup maju atau seperti kota-kota besar di Indonesia. Menurut Roger Shrimpton (2012) bahwa di Indoesia orang yang mengalami kelebihan berat badan (overweight) mencapai 21,7% dan terus meningkat setiap tahunnya. Padahal waktu tahun 2007 penduduk di Indonesia yang mengalami berat badan lebih (>15 tahun) hanya 19,1%. Prevalensi obesitas justru lebih banyak dibandingkan dengan overweight, tahun 2007 obesitas mencapai 10,3% sedangkan overweight hanya 8,8%.

Data Indonesian Family Life Surveys menunjukkan bahwa sejak tahun 1993 hingga tahun 2007 prevalensi underweight terus menurun sedangkan overweight terus meningkat. Walaupun underweight terus menurun namun tidak signifikan dan prevalensinya tetap tinggi, sedangkan kejadian overweight terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal inilah yang menjadi beban ganda masalah gizi di Indonesia, angka kejadian underweight dan overweight di Indonesia sama-sama tinggi.

Isu mengenai over dan under nutrition masih dirasa dipisahkan. Pada kenyataannya bahwa kedua masalah tersebut sangat sering dijumpai di masyarakat miskin dan bahkan dalam satu keluarga. Sementara under-nutrition membunuh diawal kehidupan anak, over-nutrition justru membawa resiko yang sangat tinggi bagi seseorang untuk terkena penyakit kronik (NCD) yang sewaktu-waktu bisa membunuh orang yang over-nutrition (obesitas). Inilah Double Burden of Malnutrition.

DBM ini sangat banyak penyebabnya, mulai dari inadekuat asupan gizi pada janin, balita, dan anak diikuti dengan konsumsi dan keterpaparan terhadap makanan yang tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik. Window of opportunity harus dijadikan fokus dalam mengatasi DBM ini, yaitu perhatian terhadap anak mulai dari dalam kandungan hingga berumur sekitar 24 bulan. Asupan yang adekuat, dan gizi seimbang menjadi hal yang paling dibutuhkan dalam mengatasi masalah DBM ini dan juga untuk pencapaian MDG (SCN, 2006).

Dari beberapa jurnal, ada perbedaan yang sangat besar diantara 2 masalah gizi under-nutrition dan over-nutrition. Anak yang mengalami malnutrition akan sulit mengalami perbaikan gizi dalam hal mencapai potensi pertumbuhan serta perkembangan otaknya jika tidak dilakukan recovery sebelum usia 2 tahun. Usia sebelum 24 bulan merupakan waktu yang paling kritis yang dimiliki anak untuk mendapatkan asupan gizi yang adekuat, setelah lewat dari 24 bulan anak akan sulit recovery lagi disebabkan sifatnya yang irreversible. Sedangkan pada kasus obesitas, karena sifatnya reversible maka obesitas mudah untuk dilakukan perbaikan gizi. Namun hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan tindakan yang komprehensif dari akar masalahnya. Jika tidak dilakukan recovery maka anak yang obesitas juga akan mengalami obesitas ketika dewasa, dan berdampak pada resiko terkena non communicable disease yang bisa menyebabkan kematian.

 Sumber: Indonesia Family Life Surveys, 2007

Ada beberapa program intervensi dalam mengurangi beban dari DBM ini, dimulai dari masa konsepsi hingga masa dewasa. Program yang dirumuskan dapat dibedakan secara langsung maupun tidak langsung. Pada masa konsepsi, asupan mikronutrien utama salah satu program intervensi yang efektif, dilanjutkan pemberian ASI eksklusif hingga umur 2 tahun dan dilanjutkan hingga berumur 5 tahun. Pada  anak usia sekolah, pemberian makanan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, serta pemberian suplemen akan membantu pertumbuhan dan kesehatannya. Kemudian pada usia dewasa perlu memerhatikan pola makan seimbang, serta aktifitas fisik yang mencukupi. Selain itu program fortifikasi makanan seperti fortifikasi garam, tepung dan minyak juga merupakan intervensi yang cukup efektif untuk dilakukan. Sedangkan program intervensi tidak langsung dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mencegah anak remaja menikah dan hamil muda, mempromosikan susu eksklusif dan memberikan edukasi mengenai susu formula yang tidak cocok diberikan kepada anak berumur dibawah 6 bulan. Selain itu perlunya ada kebijakan dan kesepakatan dari pihak industry untuk tidak menyediakan mesin minuman dan junk food disekolah, serta tidak menampilkan iklan minuman dan makanan tinggi kalori di saat jadwal nonton anak.

Dalam menjalankan program intervensi tersebut, pemerintah harus memiliki kekuatan dalam merumuskan kebijakan terkait penangggulangan DBM. Kekuatan tersebut harus didasari dari 4 pilar serta dukungan dari segala sector baik kesehatan, pertanian, ekonomi, pendidikan, industry dan perdagangan. Keempat pilar tersebut adalah ketahanan pangan yang berkelanjutan, keamanan pangan, pola hidup sehat, dan terakhir adalah gizi. Dengan kompleksitas intervensi dan komitmen dari pemerintah, beban ganda masalah gizi bukan hal yang mustahil untuk ditanggulangi.

Email : andiimam.arundhana@gmail.com

“Optimum Nutrition”

Sumber dari buku “The New Optimum Nutrition Bible”

 

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang membahas mengenai Optimum nutrition atau gizi optimal. Sederhananya, gizi optimum adalah memberikan asupan zat gizi yang tepat yang terbaik untuk membuat tubuh menjadi sesehat yang seharusnya dan dapat bekerja sebaik mungkin. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa untuk mencapai gizi optimum, kita tidak lagi harus selalu berkaitan dengan aturan-aturan seperti halnya seseorang tidak harus menjadi seorang vegetarian atau mengkonsumsi suplemen atau menghindari beberapa makanan tertentu, melainkan untuk seseorang seperti menyarankan yang seharusnya. Kebutuhan kita sangatlah unik dan secara keseluruhan tergantung pada faktor masing-masing individu, dari kekuatan dan kelemahan yang telah dimiliki sejak lahir dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Tidak ada satupun jenis makanan yang sempurna selain ASI tentunya, walaupun ada pedoman umum yang telah diberikan yakni Recommended Dietary Allowance (RDA) atau di Indonesia lebih dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang yang digambarkan dalam bentuk tumpeng gizi seimbang. Dalam buku tersebut menyebutkan bahwa gizi optimal adalah zat-zat gizi yang :

–          Meningkatkan penampilan mental optimal dan memiliki keseimbangan emosional

–          Meningkatkan penampilan fisik optimal

–          Berhubungan dengan kejadian sakit yang jarang

–          Berhubungan dengan kesehatan yang panjang selama masa hidup

Sekarang ini, lima puluh jenis zat-zat gizi telah diidentifikasi sebagai hal yang dibutuhkan untuk kesehatan kita. Kesehatan manusia dapat ditingkatkan dan diatur hingga pada tingkat tertinggi jika mampu mencapai asupan yang optimal dari setiap zat gizi setiap harinya. Secara bertahap, seluruh tubuh termasuk tulang diremajakan. Melalui gizi optimum, seseorang dapat:

–          Meningkatkan kecerdasan mental, mood, dan konsentrasi

–          Meningkatkan IQ

–          Meningkatkan kemampuan fisik

–          Meningkatkan kualitas tidur

–          Meningkatkan daya tahan terhadap infeksi

–          Melindungi tubuh dari penyakit

–          Menjaga kelangsungan hidup

Ini mungkin terdengar seperti pernyataan yang berani, namun kenyataannya memang sebelumnya telah dibuktikan oleh beberapa peneliti. Akhir-akhir ini dapat dilihat tanda-tanda bahwa gizi akan menjadi bagian yang utama dari pengobatan yang telah dapat diduga dimasa mendatang. Beberapa orang mendapatkan hasil yang lebih baik setelah mengatur makanan dan mengkonsumsi suplemen dibandingkan dengan menggunakan obat. Beberapa dokter di Irlandia juga mengatakan bahwa terapi gizi telah terbukti secara kuat, sehingga sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika seorang dokter tidak mempelajari gizi maka dimasa mendatang dokter akan digantikan oleh nutrisionis atau lebih dikenal dengan ahli gizi.

Sebuah konsep lama di dunia pergizian adalah penilaian kebutuhan gizi dilakukan dengan menganalisis apa yang telah dimakan lalu kemudian dibandingkan dengan RDA dari masing-masing zat gizi. Metode ini merupakan dasar, RDA tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan untuk bisa lebih sehat secara optimal, dan tidak dapat menghitung variasi kebutuhan secara individu dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti tingkat stress, dan aktivitas. Optimum Daily Allowance (ODA) memiliki 3 metode pendekatan yang mendasar untuk mencapai gizi yang optimal yakni:

–          Analisis gejala

Pendekatan ini dilakukan dengan melihat tanda dan gejala yang mungkin nampak (seperti kurang energi, otot keram, dst) yang dikaitkan dengan kekurangan zat gizi apa yang kemungkinan menjadi penyebabnya.

–          Analisis lifestyle

Mengidentifikasi faktor-faktor dalam kehidupan sehari-hari yang bisa merubah kebutuhan gizi dengan cepat seperti tingkat aktivitas fisik, stress, polusi, dst.

–          Analisis pola makan

Tidak lagi dilakukan perbandingan dengan RDA melainkan dengan tingkat optimal zat-zat gizi dan mempertimbangkan konsumsi zat “antinutrients” yang bisa menghilangkan zat-zat gizi dalam tubuh.

Email : andiimam.arundhana@gmail.com