Randomized Trial of Probiotics and Calcium on Diarrhea and Respiratory Tract Infections in Indonesian Children (Agustina et al., 2012)


Di Negara-negara berkembang, diare akut dan ISPA menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan pada anak balita. Begitu pula di Indonesia, angka diare dan ISPA sangatlah tinggi terutama pada kelompok menengah kebawah serta menjadi contributor penyebab kematian pada balita hingga 25% untuk diare dan 16% untuk ISPA. Berbagai sebab penyakit infeksi terjadi khususnya pada anak-anak dan salah satunya adalah status gizi yang sifatnya reversible dengan penyakit infeksi tersebut. Selain kekurangan zat gizi atau defisiensi zat gizi tertentu seperti vitamin, asam lemak, asam amino, zat besi, dan beberapa elemen penting lainnya, status gizi buruk  akibat kekurang energi dan protein akan bertambah buruk seiring dengan penyakit infeksi yang ada pada seseorang, khususnya pada anak-anak. Semakin buruk status gizi maka penyakit infeksi juga semakin buruk, sebaliknya jika penyakit infeksi semakin buruk maka akan sulit meningkatkan status gizi sehingga kaitan antara status gizi dengan penyakit infeksi seperti lingkaran setan yang agak sulit penanganannya (Schaible and Kaufmann, 2007).

Beberapa intervensi yang telah dilakukan namun cenderung kurang efektif dalam mengurangi beban dari penyakit infeksi diare dan ISPA pada anak balita. Namun menurut Bovee-Oudenhoven (2003) bahwa strategi alternatif yang cukup menjanjikan dalam upaya menanggulangi masalah tersebut adalah dengan modulasi dari asupan makanan untuk pertahanan inang pada usus. Sebuah studi yang dilakukan dengan ketat pada manusia menunjukkan bahwa suplementasi dengan susu yang mengandung tinggi kalsium secara alami mampu mereduksi dampak foodborne akibat E. coli. Sedangkan berdasarkan penelitian didapatkan laporan bahwa sebagian besar balita di Indonesia sayangnya belum memenuhi standar asupan kalsium yang direkomendasikan, dan  kaitan antara ISPA dengan dietary belum diketahui. Beberapa meta analisis dan review bahwa probiotik dapat mencegah atau menurunkan durasi dari diare pada anak. Selain itu beberapa studi telah mengeksplorasi keuntungan dari probiotik dalam mencegah ISPA pada anak. Sejauh ini rekomendasi kalsium dan dan probiotik pada masyarakat belum ada standar anjuran untuk negara-negara berkembang.

Oleh karena itu berdasarkan penjelasan diatas, suatu penelitian dilakukan untuk melihat kaitan kalsium, probiotik dengan penyakit infeksi dalam hal ini adalah diare akut dan ISPA. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Agustina et al. (2012) ini adalah untuk menginvestigasi efek dari kalsium dan probiotik pada kejadian dan durasi dari diare akut dan ISPA pada masyarakat sosial ekonomi rendah di Jakarta. Metode yang digunakan adalah randomized, double-blind, placebo controlled trial dilakukan sejak Agustus 2007 hingga September 2008. Subjek penelitiannya adalah anak-anak umur 1-6 tahun yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah dengan kriteria inklusi tampak sehat, tidak mendapatkan ASI, dan jika meminum susu asupan kalsiumnya tidak lebih dari 75% dari anjuran yang direkomendasikan (AKG). Kriteria eksklusinya adalah terdapat symptom dari penyakit, TBC, ada riwayat alergi, mengkonsumsi antibiotik dalam 2 minggu terakhir, sangat kurus, asupan kalsium lebih dari 375 mg/hari berdasarkan semi FFQ. Intervensi yang diberikan adalah anak-anak secara random ditandai untuk menerima susu rendah laktosa dengan low-calcium content (LC;∼50mg/day), regular-calcium content (RC; ∼440 mg/day), RC plus Lactobacillus casei CRL431 (5×108 colony-forming units [CFU]/day [casei]), or RC plus Lactobacillus reuteri DSM17938 (5×108 CFU/day [reuteri]) untuk informasi mengenai metode dan intervensi yang diberikan, lebih lanjut dapat di download di pediatrics.aappublications.org.

Hasilnya ada 3150 anak yang di skrining pada fase pertama dan 1343 pada fase kedua serta ada beberapa yang lost to follow. Berdasarkan karakteristik ada sekitar 21% anak anemia, 23% underweight, 31% stunted, dan 3% wasted. Insiden dari diare (menurut definisi WHO)tidak berbeda secara signifikan diantara kelompok begitu juga dengan durasi tidak berbeda diantara kelompok. Jika melihat outcome nya, kelompok yang menerima RC dan L reuteri secara signifikan mampu menurunkan kejadian diare hingga 32% jika dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan RC (RR 0,68). Sedangkan kejadian, jumlah episode, dan durasi dari ISPA tidak berbeda secara signifikan diantara kelompok yang diberikan treatment.

Sebagai kesimpulan, baik kalsium maupun L casei mempengaruhi outcome diare. Sebaliknya suplementasi L reuteri secara signifikan menurunkan kejadian diare yang dilaporkan (persepsi ibu) namun tidak signifikan menurunkan diare berdasarkan definisi WHO. Namun sebagai catatan, L reuteri mampu memberikan pengaruh protektif terhadap kejadian diare (diare yang dilaporkan maupun yang didefinisikan WHO) jika status gizi anak  kurang. Tidak satupun intervensi yang dilakukan dapat mempengaruhi kejadian dan durasi dari ISPA.

Bukti sebelumnya bahwa efek preventif untuk mencegah diare dan ISPA dari probiotik sangatlah terbatas dan hanya sedikit yang melakukan penelitian tersebut. Salah satunya hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Agustina et al. (2012) ini mengindikasikan efek dari probiotik yakni L reuteri DSM 17938 pada diare dimodifikasi oleh status gizi dan dibatasi pada anak-anak dengan status gizi rendah. Rasionalitas mengapa menggunakan kalsium untuk anak-anak adalah berdasarkan bukti dari penelitian dengan orang dewasa yang diberikan makanan dan dibuat lemah dengan bakteri E.Coli. Asupan kalsium dari makanan menurunkan secara drastis induksi-infeksi yang menyebabkan diare. Jadi dapat disimpulkan bahwa suplementasi dari L reuteri pada akhirnya melalui diet yang termasuk kalsium dari susu adalah salah satu intervensi yang paling potensial untuk menurunkan beban dari infeksi diare akut pada anak-anak. Hasil ini menurut Agustina perlu untuk dikonfirmasi kembali melalui penelitian-penelitian lainnya di masyarakat yang sebanding.

Reference

UNICEF/WHO. Diarrhoea: why children are still dying and what can be done. New York, NY: UNICEF, 2009.

World Health Organization. Acute respiratory infections. Updated September 2009. Available at: http://www.who.int/vaccine_research/diseases/ari/en/. Accessed September 28,2010

World Health Organization. Coordinated approach to prevention and control of acute diarrhoea and respiratory infections. WHO SEARO. Available at: http://www.searo.who. int/LinkFiles/RC_63_a-11-SEA-RC63-10.pdf. Accessed September 28, 2010

Ministry of Health Republic of Indonesia. Report on Result of National Basic Health Research (RISKESDAS 2007).

Wasito E, Pritasari, Susilowati D, Iswarawanti DN, Schultink W, Gross R. Temporary stability of urban food and nutrition security: the East Jakarta study. Asia Pac J Clin Nutr. 2001;10(suppl):S29–S33

Posted on 10 April 2012, in Health and Nutrition and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Hi there it’s me, I am also visiting this website on a regular
    basis, this site is truly nice and the people are
    truly sharing fastidious thoughts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: