Monthly Archives: April 2012

Double Burden of Malnutrition (DBM)

Masalah gizi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sudah semakin kompleks dengan adanya istilah beban ganda masalah gizi. Sebagai negara yang sedang berkembang, masalah gizi ini kian terasa berat karena disatu sisi permasalahan gizi kurang tidak kunjung berkesudahan dan kini Indonesia menghadapi masalah gizi lebih yang mendatangkan masalah baru. Sebenarnya masalah gizi kurang terutama kasus gizi buruk sudah tidak menjadi masalah terlebih lagi prevalensinya di seluruh daerah di Indonesia sudah turun kecuali NTT. Hal ini karena pemerintah fokus dalam menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan kesehatan ibu menyebabkan perhatian kepada anak yang gizi kurang dan gizi buruk cukup besar. Berdasarkan laporan mengenai progress MDG di Indonesia, pemerintah optimis dapat mencapai target MDG poin 4 dan 5 mengenai kematian bayi dan kesehatan ibu pada tahun 2015 nanti.

Masalah gizi lebih kerap kali dikaitkan dengan penyakit non-infeksi (non communicable disease) seperti penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, dan stroke. Gizi lebih ini banyak ditemui di daerah yang cukup maju atau seperti kota-kota besar di Indonesia. Menurut Roger Shrimpton (2012) bahwa di Indoesia orang yang mengalami kelebihan berat badan (overweight) mencapai 21,7% dan terus meningkat setiap tahunnya. Padahal waktu tahun 2007 penduduk di Indonesia yang mengalami berat badan lebih (>15 tahun) hanya 19,1%. Prevalensi obesitas justru lebih banyak dibandingkan dengan overweight, tahun 2007 obesitas mencapai 10,3% sedangkan overweight hanya 8,8%.

Data Indonesian Family Life Surveys menunjukkan bahwa sejak tahun 1993 hingga tahun 2007 prevalensi underweight terus menurun sedangkan overweight terus meningkat. Walaupun underweight terus menurun namun tidak signifikan dan prevalensinya tetap tinggi, sedangkan kejadian overweight terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal inilah yang menjadi beban ganda masalah gizi di Indonesia, angka kejadian underweight dan overweight di Indonesia sama-sama tinggi.

Isu mengenai over dan under nutrition masih dirasa dipisahkan. Pada kenyataannya bahwa kedua masalah tersebut sangat sering dijumpai di masyarakat miskin dan bahkan dalam satu keluarga. Sementara under-nutrition membunuh diawal kehidupan anak, over-nutrition justru membawa resiko yang sangat tinggi bagi seseorang untuk terkena penyakit kronik (NCD) yang sewaktu-waktu bisa membunuh orang yang over-nutrition (obesitas). Inilah Double Burden of Malnutrition.

DBM ini sangat banyak penyebabnya, mulai dari inadekuat asupan gizi pada janin, balita, dan anak diikuti dengan konsumsi dan keterpaparan terhadap makanan yang tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik. Window of opportunity harus dijadikan fokus dalam mengatasi DBM ini, yaitu perhatian terhadap anak mulai dari dalam kandungan hingga berumur sekitar 24 bulan. Asupan yang adekuat, dan gizi seimbang menjadi hal yang paling dibutuhkan dalam mengatasi masalah DBM ini dan juga untuk pencapaian MDG (SCN, 2006).

Dari beberapa jurnal, ada perbedaan yang sangat besar diantara 2 masalah gizi under-nutrition dan over-nutrition. Anak yang mengalami malnutrition akan sulit mengalami perbaikan gizi dalam hal mencapai potensi pertumbuhan serta perkembangan otaknya jika tidak dilakukan recovery sebelum usia 2 tahun. Usia sebelum 24 bulan merupakan waktu yang paling kritis yang dimiliki anak untuk mendapatkan asupan gizi yang adekuat, setelah lewat dari 24 bulan anak akan sulit recovery lagi disebabkan sifatnya yang irreversible. Sedangkan pada kasus obesitas, karena sifatnya reversible maka obesitas mudah untuk dilakukan perbaikan gizi. Namun hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan tindakan yang komprehensif dari akar masalahnya. Jika tidak dilakukan recovery maka anak yang obesitas juga akan mengalami obesitas ketika dewasa, dan berdampak pada resiko terkena non communicable disease yang bisa menyebabkan kematian.

 Sumber: Indonesia Family Life Surveys, 2007

Ada beberapa program intervensi dalam mengurangi beban dari DBM ini, dimulai dari masa konsepsi hingga masa dewasa. Program yang dirumuskan dapat dibedakan secara langsung maupun tidak langsung. Pada masa konsepsi, asupan mikronutrien utama salah satu program intervensi yang efektif, dilanjutkan pemberian ASI eksklusif hingga umur 2 tahun dan dilanjutkan hingga berumur 5 tahun. Pada  anak usia sekolah, pemberian makanan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, serta pemberian suplemen akan membantu pertumbuhan dan kesehatannya. Kemudian pada usia dewasa perlu memerhatikan pola makan seimbang, serta aktifitas fisik yang mencukupi. Selain itu program fortifikasi makanan seperti fortifikasi garam, tepung dan minyak juga merupakan intervensi yang cukup efektif untuk dilakukan. Sedangkan program intervensi tidak langsung dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mencegah anak remaja menikah dan hamil muda, mempromosikan susu eksklusif dan memberikan edukasi mengenai susu formula yang tidak cocok diberikan kepada anak berumur dibawah 6 bulan. Selain itu perlunya ada kebijakan dan kesepakatan dari pihak industry untuk tidak menyediakan mesin minuman dan junk food disekolah, serta tidak menampilkan iklan minuman dan makanan tinggi kalori di saat jadwal nonton anak.

Dalam menjalankan program intervensi tersebut, pemerintah harus memiliki kekuatan dalam merumuskan kebijakan terkait penangggulangan DBM. Kekuatan tersebut harus didasari dari 4 pilar serta dukungan dari segala sector baik kesehatan, pertanian, ekonomi, pendidikan, industry dan perdagangan. Keempat pilar tersebut adalah ketahanan pangan yang berkelanjutan, keamanan pangan, pola hidup sehat, dan terakhir adalah gizi. Dengan kompleksitas intervensi dan komitmen dari pemerintah, beban ganda masalah gizi bukan hal yang mustahil untuk ditanggulangi.

Email : andiimam.arundhana@gmail.com

Advertisements

“Optimum Nutrition”

Sumber dari buku “The New Optimum Nutrition Bible”

 

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang membahas mengenai Optimum nutrition atau gizi optimal. Sederhananya, gizi optimum adalah memberikan asupan zat gizi yang tepat yang terbaik untuk membuat tubuh menjadi sesehat yang seharusnya dan dapat bekerja sebaik mungkin. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa untuk mencapai gizi optimum, kita tidak lagi harus selalu berkaitan dengan aturan-aturan seperti halnya seseorang tidak harus menjadi seorang vegetarian atau mengkonsumsi suplemen atau menghindari beberapa makanan tertentu, melainkan untuk seseorang seperti menyarankan yang seharusnya. Kebutuhan kita sangatlah unik dan secara keseluruhan tergantung pada faktor masing-masing individu, dari kekuatan dan kelemahan yang telah dimiliki sejak lahir dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Tidak ada satupun jenis makanan yang sempurna selain ASI tentunya, walaupun ada pedoman umum yang telah diberikan yakni Recommended Dietary Allowance (RDA) atau di Indonesia lebih dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang yang digambarkan dalam bentuk tumpeng gizi seimbang. Dalam buku tersebut menyebutkan bahwa gizi optimal adalah zat-zat gizi yang :

–          Meningkatkan penampilan mental optimal dan memiliki keseimbangan emosional

–          Meningkatkan penampilan fisik optimal

–          Berhubungan dengan kejadian sakit yang jarang

–          Berhubungan dengan kesehatan yang panjang selama masa hidup

Sekarang ini, lima puluh jenis zat-zat gizi telah diidentifikasi sebagai hal yang dibutuhkan untuk kesehatan kita. Kesehatan manusia dapat ditingkatkan dan diatur hingga pada tingkat tertinggi jika mampu mencapai asupan yang optimal dari setiap zat gizi setiap harinya. Secara bertahap, seluruh tubuh termasuk tulang diremajakan. Melalui gizi optimum, seseorang dapat:

–          Meningkatkan kecerdasan mental, mood, dan konsentrasi

–          Meningkatkan IQ

–          Meningkatkan kemampuan fisik

–          Meningkatkan kualitas tidur

–          Meningkatkan daya tahan terhadap infeksi

–          Melindungi tubuh dari penyakit

–          Menjaga kelangsungan hidup

Ini mungkin terdengar seperti pernyataan yang berani, namun kenyataannya memang sebelumnya telah dibuktikan oleh beberapa peneliti. Akhir-akhir ini dapat dilihat tanda-tanda bahwa gizi akan menjadi bagian yang utama dari pengobatan yang telah dapat diduga dimasa mendatang. Beberapa orang mendapatkan hasil yang lebih baik setelah mengatur makanan dan mengkonsumsi suplemen dibandingkan dengan menggunakan obat. Beberapa dokter di Irlandia juga mengatakan bahwa terapi gizi telah terbukti secara kuat, sehingga sebagian dari mereka berpendapat bahwa jika seorang dokter tidak mempelajari gizi maka dimasa mendatang dokter akan digantikan oleh nutrisionis atau lebih dikenal dengan ahli gizi.

Sebuah konsep lama di dunia pergizian adalah penilaian kebutuhan gizi dilakukan dengan menganalisis apa yang telah dimakan lalu kemudian dibandingkan dengan RDA dari masing-masing zat gizi. Metode ini merupakan dasar, RDA tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan untuk bisa lebih sehat secara optimal, dan tidak dapat menghitung variasi kebutuhan secara individu dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti tingkat stress, dan aktivitas. Optimum Daily Allowance (ODA) memiliki 3 metode pendekatan yang mendasar untuk mencapai gizi yang optimal yakni:

–          Analisis gejala

Pendekatan ini dilakukan dengan melihat tanda dan gejala yang mungkin nampak (seperti kurang energi, otot keram, dst) yang dikaitkan dengan kekurangan zat gizi apa yang kemungkinan menjadi penyebabnya.

–          Analisis lifestyle

Mengidentifikasi faktor-faktor dalam kehidupan sehari-hari yang bisa merubah kebutuhan gizi dengan cepat seperti tingkat aktivitas fisik, stress, polusi, dst.

–          Analisis pola makan

Tidak lagi dilakukan perbandingan dengan RDA melainkan dengan tingkat optimal zat-zat gizi dan mempertimbangkan konsumsi zat “antinutrients” yang bisa menghilangkan zat-zat gizi dalam tubuh.

Email : andiimam.arundhana@gmail.com

Randomized Trial of Probiotics and Calcium on Diarrhea and Respiratory Tract Infections in Indonesian Children (Agustina et al., 2012)

Di Negara-negara berkembang, diare akut dan ISPA menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan pada anak balita. Begitu pula di Indonesia, angka diare dan ISPA sangatlah tinggi terutama pada kelompok menengah kebawah serta menjadi contributor penyebab kematian pada balita hingga 25% untuk diare dan 16% untuk ISPA. Berbagai sebab penyakit infeksi terjadi khususnya pada anak-anak dan salah satunya adalah status gizi yang sifatnya reversible dengan penyakit infeksi tersebut. Selain kekurangan zat gizi atau defisiensi zat gizi tertentu seperti vitamin, asam lemak, asam amino, zat besi, dan beberapa elemen penting lainnya, status gizi buruk  akibat kekurang energi dan protein akan bertambah buruk seiring dengan penyakit infeksi yang ada pada seseorang, khususnya pada anak-anak. Semakin buruk status gizi maka penyakit infeksi juga semakin buruk, sebaliknya jika penyakit infeksi semakin buruk maka akan sulit meningkatkan status gizi sehingga kaitan antara status gizi dengan penyakit infeksi seperti lingkaran setan yang agak sulit penanganannya (Schaible and Kaufmann, 2007).

Beberapa intervensi yang telah dilakukan namun cenderung kurang efektif dalam mengurangi beban dari penyakit infeksi diare dan ISPA pada anak balita. Namun menurut Bovee-Oudenhoven (2003) bahwa strategi alternatif yang cukup menjanjikan dalam upaya menanggulangi masalah tersebut adalah dengan modulasi dari asupan makanan untuk pertahanan inang pada usus. Sebuah studi yang dilakukan dengan ketat pada manusia menunjukkan bahwa suplementasi dengan susu yang mengandung tinggi kalsium secara alami mampu mereduksi dampak foodborne akibat E. coli. Sedangkan berdasarkan penelitian didapatkan laporan bahwa sebagian besar balita di Indonesia sayangnya belum memenuhi standar asupan kalsium yang direkomendasikan, dan  kaitan antara ISPA dengan dietary belum diketahui. Beberapa meta analisis dan review bahwa probiotik dapat mencegah atau menurunkan durasi dari diare pada anak. Selain itu beberapa studi telah mengeksplorasi keuntungan dari probiotik dalam mencegah ISPA pada anak. Sejauh ini rekomendasi kalsium dan dan probiotik pada masyarakat belum ada standar anjuran untuk negara-negara berkembang.

Oleh karena itu berdasarkan penjelasan diatas, suatu penelitian dilakukan untuk melihat kaitan kalsium, probiotik dengan penyakit infeksi dalam hal ini adalah diare akut dan ISPA. Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Agustina et al. (2012) ini adalah untuk menginvestigasi efek dari kalsium dan probiotik pada kejadian dan durasi dari diare akut dan ISPA pada masyarakat sosial ekonomi rendah di Jakarta. Metode yang digunakan adalah randomized, double-blind, placebo controlled trial dilakukan sejak Agustus 2007 hingga September 2008. Subjek penelitiannya adalah anak-anak umur 1-6 tahun yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah dengan kriteria inklusi tampak sehat, tidak mendapatkan ASI, dan jika meminum susu asupan kalsiumnya tidak lebih dari 75% dari anjuran yang direkomendasikan (AKG). Kriteria eksklusinya adalah terdapat symptom dari penyakit, TBC, ada riwayat alergi, mengkonsumsi antibiotik dalam 2 minggu terakhir, sangat kurus, asupan kalsium lebih dari 375 mg/hari berdasarkan semi FFQ. Intervensi yang diberikan adalah anak-anak secara random ditandai untuk menerima susu rendah laktosa dengan low-calcium content (LC;∼50mg/day), regular-calcium content (RC; ∼440 mg/day), RC plus Lactobacillus casei CRL431 (5×108 colony-forming units [CFU]/day [casei]), or RC plus Lactobacillus reuteri DSM17938 (5×108 CFU/day [reuteri]) untuk informasi mengenai metode dan intervensi yang diberikan, lebih lanjut dapat di download di pediatrics.aappublications.org.

Hasilnya ada 3150 anak yang di skrining pada fase pertama dan 1343 pada fase kedua serta ada beberapa yang lost to follow. Berdasarkan karakteristik ada sekitar 21% anak anemia, 23% underweight, 31% stunted, dan 3% wasted. Insiden dari diare (menurut definisi WHO)tidak berbeda secara signifikan diantara kelompok begitu juga dengan durasi tidak berbeda diantara kelompok. Jika melihat outcome nya, kelompok yang menerima RC dan L reuteri secara signifikan mampu menurunkan kejadian diare hingga 32% jika dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan RC (RR 0,68). Sedangkan kejadian, jumlah episode, dan durasi dari ISPA tidak berbeda secara signifikan diantara kelompok yang diberikan treatment.

Sebagai kesimpulan, baik kalsium maupun L casei mempengaruhi outcome diare. Sebaliknya suplementasi L reuteri secara signifikan menurunkan kejadian diare yang dilaporkan (persepsi ibu) namun tidak signifikan menurunkan diare berdasarkan definisi WHO. Namun sebagai catatan, L reuteri mampu memberikan pengaruh protektif terhadap kejadian diare (diare yang dilaporkan maupun yang didefinisikan WHO) jika status gizi anak  kurang. Tidak satupun intervensi yang dilakukan dapat mempengaruhi kejadian dan durasi dari ISPA.

Bukti sebelumnya bahwa efek preventif untuk mencegah diare dan ISPA dari probiotik sangatlah terbatas dan hanya sedikit yang melakukan penelitian tersebut. Salah satunya hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Agustina et al. (2012) ini mengindikasikan efek dari probiotik yakni L reuteri DSM 17938 pada diare dimodifikasi oleh status gizi dan dibatasi pada anak-anak dengan status gizi rendah. Rasionalitas mengapa menggunakan kalsium untuk anak-anak adalah berdasarkan bukti dari penelitian dengan orang dewasa yang diberikan makanan dan dibuat lemah dengan bakteri E.Coli. Asupan kalsium dari makanan menurunkan secara drastis induksi-infeksi yang menyebabkan diare. Jadi dapat disimpulkan bahwa suplementasi dari L reuteri pada akhirnya melalui diet yang termasuk kalsium dari susu adalah salah satu intervensi yang paling potensial untuk menurunkan beban dari infeksi diare akut pada anak-anak. Hasil ini menurut Agustina perlu untuk dikonfirmasi kembali melalui penelitian-penelitian lainnya di masyarakat yang sebanding.

Reference

UNICEF/WHO. Diarrhoea: why children are still dying and what can be done. New York, NY: UNICEF, 2009.

World Health Organization. Acute respiratory infections. Updated September 2009. Available at: http://www.who.int/vaccine_research/diseases/ari/en/. Accessed September 28,2010

World Health Organization. Coordinated approach to prevention and control of acute diarrhoea and respiratory infections. WHO SEARO. Available at: http://www.searo.who. int/LinkFiles/RC_63_a-11-SEA-RC63-10.pdf. Accessed September 28, 2010

Ministry of Health Republic of Indonesia. Report on Result of National Basic Health Research (RISKESDAS 2007).

Wasito E, Pritasari, Susilowati D, Iswarawanti DN, Schultink W, Gross R. Temporary stability of urban food and nutrition security: the East Jakarta study. Asia Pac J Clin Nutr. 2001;10(suppl):S29–S33

Masalah stunting di Sulawesi Selatan

Kesehatan merupakan aspek yang harus diperhatikan dengan serius baik pada individu maupun kelompok sehingga perlu adanya upaya kesehatan yaitu suatu upaya dalam rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat. Jika dikaitkan dengan beberapa aspek akan nampak permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks, seperti halnya masalah gizi yang tanpa henti terjadi di Indonesia dan tentu saja berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Ada beberapa indikator penting untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat pada suatu daerah yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup (UHH) dan Status Gizi. Indikator tersebut ditentukan dengan 4 faktor utama yaitu Perilaku Masyarakat, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Faktor Genetika (Riskesdas 2007).

Masalah gizi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sudah menjadi semakin lengkap dengan adanya istilah beban ganda masalah gizi. Sebagai negara yang sedang berkembang beban ganda masalah gizi ini kian terasa karena disatu sisi permasalahan gizi kurang tidak kunjung berkesudahan dan kini Indonesia menghadapi masalah gizi lebih yang mendatangkan masalah baru. Masalah gizi kurang kerap kali dikaitkan dengan penyakit infeksi seperti Infeksi  Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, dan campak sedangkan gizi lebih banyak ditemui di daerah yang cukup maju atau kota-kota besar di Indonesia. Keberhasilan suatu bangsa bergantung pada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya yakni melalui upaya peningkatan mutu sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Walaupun suatu daerah sangat kaya akan sumber daya manusia namun jika tidak dikelola dengan sumber daya yang berkualitas maka akan sulit melakukan pembangunan optimal dan hal tersebut yang sekarang ini menimpa Indonesia (Hadi, 2005).

Jika ditelaah lebih jauh banyak faktor yang menyebabkan tercapainya sumber daya manusia yang rendah salah satunya adalah faktor gizi. Tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk akan berimplikasi secara berkesinambungan pada siklus kehidupan. Sehingga jika tidak segera ditangani maka dapat terjadi penurunan kualitas dari generasi ke generasi. Menurut Hammond (2000), status gizi dipengaruhi secara langsung oleh asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh akan zat gizi, asupan zat gizi tergantung pada konsumsi makanan yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keadaan ekonomi, pola asuh, pola makan, dan kondisi emosional, perilaku ibu mengenai gizi seimbang, kepedulian orang tua, budaya dan penyakit infeksi. Sedangkan menurut Hadi (2005), peranan gizi sudah mulai sejak awal kehidupan dan akan terus berlanjut yang nantinya akan menjadi sebuah siklus. Status gizi ibu akan berpengaruh terhadap asupan gizi anak dalam janin, apabila asupannya kurang maka akan beresiko menjadi berat badan lahir rendah (BBLR). Anak yang BBLR jika tidak ditangani dengan serius akan tumbuh besar menjadi anak yang pendek (stunting). Anak yang stunting cenderung akan sulit mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal baik secara fisik maupun psikomotorik yang erat kaitannya dengan kemunduran kecerdasan dan produktivitas.

Menurut Allen and Gillespie (2001), bahwa stunted pada masa kanak-kanak merupakan faktor risiko bagi meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi-fungsi yang tidak seimbang. Stunted mencerminkan suatu kegagalan proses pertumbuhan linier sebagai hasil ketidakoptimalan kesehatan dan/atau kondisi yang berhubungan dengan gizi. Tingginya angka stunted pada populasi diasosiasikan dengan kemiskinan sosial ekonomi (de Onis, 2001).

Stunting merupakan masalah gizi kornis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan kurang gizi yang terakumulasi dalam waktu yang cukup lama. Status gizi ini dikategorikan menjadi pendek dan tidak pendek yang digabung menjadi satu kategori dan disebut sebagai masalah stunted. Penyebab stunting sangat banyak, diantaranya adalah anemia pada ibu hamil, bayi lahir premature ataupun BBLR, pemberian ASI ekslusif, pola asuh ibu, penyakit infeksi yang diderita anak dalam waktu yang lama, serta menurut penelitian Astari (2006) bahwa praktik pemberian makanan secara dominan berpengaruh bermakna terhadap kejadian stunting. Hal tersebut berkaitan dengan peran keluarga yang memang sangat dominan dalam memberikan asuhan kepada anaknya. Menurut Nadimin (2009), keluarga yang sadar gizi tentu akan menitikberatkan aspek gizi dalam mengasuh anaknya karena perilaku sadar gizi ini erat kaitannya dengan pedoman umum gizi seimbang yaitu konsumsi beraneka ragam makanan, memantau berat badan ideal, melakukan upaya fortifikasi, menggunakan garam yodium, dan lain sebagainya. Selain itu, adanya faktor budaya ikut berpengaruh dalam membentuk karakter food habit dan food pattern keluarga.

 Berdasarkan laporan nasional Riskesdas 2010 bahwa lebih dari sepertiga anak balita Indonesia tergolong stunting yakni sebesar 35,6%. Di Sulawesi selatan (Sulsel) prevalensi stunting justru lebih tinggi daripada angka nasional yakni 38,9%, padahal tahun 2007 lalu hanya 29,1%. Berarti telah mengalami kenaikan yang cukup tinggi sebesar 9,8%. Ada kecenderungan bahwa sebesar 38,9% anak-anak di Sulsel akan berpotensi mengalami kemunduran kecerdasan dan produktivitas dan tentu saja hal ini harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah daerah Sulsel karena berkaitan dengan keberhasilan pembangunan di Sulsel. Selain itu juga pemerintah perlu mengidentifikasi mengapa sampai terjadi kenaikan prevalensi yang sangat tinggi di Sulsel yang hampir mencapai 10% tersebut. Menurut laporan kesehatan kabupaten Pangkep (2007), bahwa Pangkep adalah kabupaten tidak bermasalah miskin namun prevalensi gizi buruk cukup tinggi jika dibandingkan secara nasional dan tingkat propinsi Sulsel, prevelensi anak yang stunting di Kabupaten Pangkep mencapai 27,8%. Namun untuk tahun 2010 ini belum ada data yang jelas mengenai prevalensi stunting di kabupaten Pangkep, diperkirakan kejadian stunting meningkat seperti halnya data prevalensi di Sulsel yang terjadi kenaikan.

 Kabupaten Pangkep terletak di pantai Barat Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah daratan, pegunungan dan pulau-pulau tanpa lingkup perairannya adalah 1.112 km2, sementara luas lautnya adalah 17.100 km2. Kabupaten Pangkep berbatasan dengan Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Madura, Pulau Nusa Tenggara dan Bali di sebelah barat, sebelah utara dengan Kabupaten Barru, sebelah timur dengan Kabupaten Bone, dan sebelah selatan dengan Kabupaten Maros. Alokasi dana APBD untuk bidang kesehatan hanya 4,73% tahun 2010, secara geografis merupakan daerah yang terdiri dari 7 kecamatan di daratan, 2 kecamatan di pegunungan, dan 3 kecamatan di kepulauan memiliki masyarakat yang sangat beragam dari segi sosial budaya. Aksesbilitas ke pusat kota juga tentunya berbeda bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan dengan yang tinggal di daratan.

 Selain itu, berdasarkan laporan ketersediaan pangan di Sulawesi Selatan tahun 2010 bahwa kabupaten Pangkep merupakan daerah yang surplus pangan yang tinggi, namun masih tergolong daerah yang agak rawan berdasarkan laporan akses pangan tahunan daerah. Hal ini mungkin saja dipengaruhi oleh kondisi geografi yang terdiri dari kepulauan, daratan, dan pegunungan. Perbedaan geografi dan topografi dapat mempengaruhi pola makan masyarakat, berdasarkan hasil penelitian Damanik (2010) bahwa ada perbedaan yang signifikan tingkat konsumsi energi dan protein pada anak yang tinggal di daerah perbukitan dengan yang tinggal di tepi danau. Namun tetap tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan TB/U karena di dua daerah tersebut anak-anaknya tergolong stunting. Hal ini mungkin saja terjadi karena di kedua wilayah tersebut sama-sama memiliki akses pangan yang sulit, sehingga pangan kurang beraneka ragam. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini, ingin menekankan lagi bahwa perbedaan geografi mempengaruhi akses pangan masyarakat.

LIST OF REFERENCE

Semba RD, de Pee S, Sun Kai, Sari M, Akhter N, Bloem MW. Effect of parental formal education on risk of child stunting in Indonesia and Bangladesh: a cross-sectional study. Lancet 2008; 371: 322–28

Nadimin, 2009. Gambaran Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Bulukumba. Studi Analisis Data Survei Kadarzi dan PSG Sulsel 2009. Media Gizi Pangan 2010; IX.01:69-75. 

Norliani, Sudargo T, Budiningsari DR. Tingkat Sosial Ekonomi, Tinggi Badan Orang Tua dan Panjang Badan Lahir dengan Tinggi Badan Anak Baru Masuk Sekolah. BKM. 2005; XXI: 04: 133-139.

Wamani H, Astrom AN, Peterson S, Tumwine KJ, Tylleskar T. Boys Are More Stunted than Girls in Sub-Saharan Africa: meta analysis of 16 demographic and Health Surveys. BMC Pediatrics. 2007. p: 7-17.

Ramli, Agho KE, JI Kerry, JB Steven, Jennifer, Dibley MJ. Prevalence and Risk Factors for Stunting and Severe Stunting Among Under-fives in North Maluku Province of Indonesia. Biomed Central (BMC) Pediatrics. 2009; 9: 64. 

Mendez MA & Adair LS. Severity and Timing in The First Two Year of Life Affect Performance on Cognitive Tests In Late Chilhood. The Journal of Nutrition. 1999; 129:1555-1562.

Madiono, B., Mz, S.M., Sastroasmoro , S., Budiman, I., & Purwanto S. H. (2002) Perkiraan Besar Sampel. Di dalam : Dasar-dasar Metode Penelitian Klinis. Binarupa Aksara. Jakarta. 

Crookston BT, Mary E. Penny, Stephen C. Alder, Ty T. Dickerson, Ray M. Merrill,6 Joseph B. Stanford, Christina A. Porucznik, and Kirk A. Dearden. Children who recover from early stunting and children who are not stunted demonstrate similar levels of cognition. American Society for Nutrition, The Journal of Nutrition 2009; 1996-2001.

Rahayu LS. HUBUNGAN PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN PERUBAHAN STATUS STUNTING DARI USIA 6-12 BULAN KE USIA 3-4 TAHUN. Proseding Penelitian Bidang Ilmu Eksakta Indonesia 2011; 103-115.

Rahmadi, 2009. Hubungan Perilaku Sadar Gizi dan Ketahanan Pangan Keluarga dengan Status Gizi Balita di Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan. FK UGM, Yogyakarta.

Depkes, 2004. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Mewujudkan Keluarga Cerdas dan Mandiri. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta.

Jayanti LD. 2011. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Serta Perilaku Gizi Seimbang Ibu Kaitannya dengan Status Gizi dan Kesehatan Balita di Kabupaten Bojonegoro. IPB, Bogor.

Rusmimpong, 2007. Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian Makanan Gizi Seimbang pada Balita di Wilayah Puskesmas Kenali Besar Kota Jambi. FK UGM, Yogyakarta.

Nabuasa CD, 2011. Hubungan Riwayat Pola Asuh Pola Makan, dan Asupan Zat Gizi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur. FK UGM, Yogyakarta.