Monthly Archives: March 2012

Program Penanggulangan Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Berdasarkan hasil pemetaan pemerintah terkait masalah gangguan kekurangan yodium (GAKY) dari tahun 1980 terus mengalami penurunan di tahun 2003. Tahun 1980 dimana hasil pemetaan GAKY nasional mencapai 37,7% turun menjadi 11,7% ditahun 2003. Karena tingginya masalah GAKY dari tahun 1980 maka pemerintah merancang suatu program intervensi secara nasional dengan supplementasi yodium dan program fortifikasi garam beryodium. Hasilnya pada tahun 1998 berhasil menurunkan hingga 9,8%. Namun naik lagi menjadi 11,7% akibat program pemberian kapsul yodium yang sudah diberhentikan oleh pemerintah.

Sebenarnya menurut Untung Widodo (pendiri BP GAKY) bahwa pemetaan secara nasional ini tidaklah representative untuk menggambarkan besarnya masalah GAKY di Indonesia. Karena sebesar 42 juta penduduk tinggal di daerah endemik dan 10 juta diantaranya menderita gondok, sehingga daerah yang endemik tentu akan memiliki angka prevalensi yang tinggi dibandingkan dengan daerah lain, karena itu tidak dapat di generalkan. Oleh karena itu diperlukan suatu survey atau pemetaan hingga tingkat kecamatan untuk menggambarkan permasalahan GAKY ini baik didaerah endemik maupun tidak dengan begitu intervensi akan lebihefektif dan efisien.

Dampak yang ditimbulkan oleh GAKY ini sangatlah banyak, diantaranya kretinisme. Diperkirakan sebesar 75 anak kretin setiap 1.000 anak didaerah endemik lahir dengan kretin dan tiap tahunnya 9.000 lahir anak kretin baru. Sehingga pemerintah mengambil langkah untuk mengatasi hal tersebut dengan menggalakkan Rancangan Aksi Nasional GAKY (RAN GAKY) tahun 2005. Namun program RAN GAKY ini cenderung hanya “no action talk only”, sehingga kasus GAKY sampai sekarang masih banyak ditemui di masyarakat. Memang komponen RAN GAKY ini sangat bagus oleh karena menyangkut pemberdayaan dan peningkatan sosial ekonomi pegaram dengan begitu supply untuk garam terjaga. Namun kenyataan yang terjadi adalah, meskipun status suatu daerah kaya akan supply garamnya namun belum menjamin bahwa masalah GAKY di daerah tersebut tidak ada. Sehingga percepatan pemasokan garam beryodium dan pemantauan kualitas garam beryodium untuk dikonsumsi juga menjadi komponen dalam RAN GAKY tersebut.

Sekarang ini program penanggulangan GAKY oleh pemerintah sejak era otonomi telah diserahkan ke masing-masing daerah. Asalkan program tersebut tidak hanya menyangkut kuratif, dan rehabilitatif tetapi juga harus mengandung unsur pomotif dan preventif. Beberapa program yang dijadikan acuan adalah program Iodisasi garam (semua garam harus memenuhi 30 ppm kalium yodat), KIE (melalui advokasi, penyuluhan, kampanye, dan memberikan pendidikan), Surveilans GAKY, dan pencapaian 8 dari 10 indikator penanggulangan GAKY berkelanjutan. Ada beberapa indikator dalam menilai masalah GAKY di masyarakat yakni dengan melihat cakupan garam, kadar yodium dalam urin (UIE), dan TGR (total goiter rate).

Goal yang harus dicapai untuk cakupan garam yodium yang dikonsumsi hingga tingkat rumah tangga adalah >90%. Sedangkan kadar yodium dalam urin merupakan indikator outcome paling dini untuk melihat terjadinya defisiensi yodium karena menandai status asupan yodium saat itu (current status). Dan terakhir adalah TGR, merupakan indikator untuk melihat masalah GAKY kronik yakni masa lalu hingga kini. Ketiga indikator ini terkadang menjadi dasar untuk perencanaan program di dinas kesehatan kota. Bentuk intervensi yang dapat diberikan juga bervariasi tergantung status defisiensi yodiumnya. Sekarang ini intervensi kapsul beryodium hanya ditargetkan pada daerah endemik sedang dan berat saja dan sasaran hanya terbatas pada  wanita usia subur dan anak usia sekolah. Dengan demikian intervensi melalui konsumsi garam beryodium (selain kapsul) seyogyanya harus ditargetkan juga pada penduduk di seluruh klasifikasi GAKY (non endemik, endemik ringan, sedang, dan berat).

Menurut Atmarita (pengamat garam beryodium) masih belum tercapainya “universal” konsumsi garam beryodium memerlukan dukungan yang cukup kuat dari semua orang yang terlibat. Walaupun masyarakat sudah mengetahui pentingnya garam beryodium, bukan berarti konsumsi garam beryodium secara universal dapat dicapai. Karena hal ini menyangkut pada tersedia atau tidaknya garam di tingkat masyarakat, mampu atau tidaknya masyarakat membeli garam beryodium. Selain itu, walaupun garam beryodium tersedia di tingkat masyarakat, masih perlu diketahui apakah garam tersebut memenuhi persyaratan untuk dikonsumsi atau tidak.

Tulisan GAKY part 1

Advertisements

Gizi Seimbang untuk anak

GIZI sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Asupan nutrisi yang tidak seimbang akan mengakibatkan anak kependekan, kekurusan, maupun kegemukan.

Anggapan bahwa “anak gemuk adalah anak yang sehat” merupakan stereotipe yang telah dibangun sejak lama oleh orangtua zaman dulu. Namun anggapan tersebut masih diyakini banyak keluarga modern saat ini. Hal tersebut menyebabkan orangtua sekarang lebih mengutamakan kuantitas makanan yang dikonsumsi anaknya dibandingkan kualitas gizi yang terkandung di dalamnya.

Menjamurnya tempat-tempat makanan yang menyajikan makanan dan minuman instan padat kalori yang mengandung penyedap rasa, pewarna, dan gula yang berlebihan menyebabkan anak-anak lebih menyukai jenis makanan ini dibandingkan makanan bergizi. Akibatnya anak menjadi kelebihan berat badan atau obesitas.

Penyakit anemia dan terhambatnya pertumbuhan fisik atau pendek (stunting) juga tengah mengancam anak-anak Indonesia. Hal ini ditengarai karena mereka kurang mendapatkan asupan makanan yang mengandung zat besi dan zinc. Jajanan yang kurang sehat dan bergizi di kantin sekolah anak ditengarai menjadi biang keladi dari semua itu.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, prevalensi kependekan, kekurusan, dan kegemukan tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-12 tahun (usia sekolah dasar), yaitu sebesar 25,6 persen, 11,2 persen, dan 9,2 persen. Masalah ini sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan orangtua dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga, serta keadaan ekonomi rumah tangga. Semakin baik tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga serta keadaan ekonomi rumah tangga, semakin rendah prevalensi kependekan. Sementara semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan semakin baik keadaan ekonomi rumah tangga, prevalensi kegemukan cenderung meningkat.

Menurut Ahmad Syafiq PhD, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pengetahuan dan kesadaran orang tua baik dengan latar tingkat pendidikan rendah maupun tinggi mengenai asupan gizi yang sesuai untuk anak masihlah minim. Terbukti dengan tingginya kasus kegemukan dan kurang gizi pada anak-anak di Indonesia.

“Edukasi dan peningkatan kesadaran mengenai gizi kepada orangtua merupakan sebuah pekerjaan rumah yang harus diatasi sesegera mungkin untuk mengantisipasi terjadinya lost generation. Edukasi gizi kepada anak mulai tingkat sekolah dasar juga sangat penting untuk menanamkan kebiasaan pola makan yang sehat sejak dini,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dra Septi Novida MPd, Kepala Bidang TK-SD-PLB Dinas Pendidikan DKI Jakarta, mengatakan, perlu kerja sama pihak swasta, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan status gizi anak sekolah.

“Pemerintah saat ini telah menjalankan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah, namun masih terbatas hanya di beberapa sekolah dasar di daerah minus,” paparnya.

Menyadari akan pentingnya permasalahan ini, Frisian Flag Indonesia dan Yayasan FIELD Indonesia didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan Bandung, meluncurkan program Frisian Flag Edukasi Gizi Anak Sekolah.

Program Frisian Flag Edukasi Gizi Anak Sekolah (FFEGAS) ini adalah sebuah program edukasi mengenai gizi kepada guru, orangtua, dan anak-anak sekolah dasar di Jakarta dan Bandung, sekaligus memfasilitasi anak-anak untuk memantau dan mengevaluasi secara kritis asupan makanan harian mereka sendiri.

Upaya ini sejalan dengan inisiatif Friesland Campina, induk perusahaan FFI, yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dalam melakukan survei gizi komprehensif South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) di Indonesia yang mengutamakan keterlibatan aktif dari anak sebagai subjek penelitian atau kegiatan. Program FFEGAS meliputi 1.500 anak kelas 4 dari 50 sekolah dasar yang tersebar di Jakarta dan Bandung dari berbagai golongan sosial ekonomi.

Kegiatan ini bertujuan mengetahui pemahaman dan pengetahuan guru, orangtua, dan anak tentang pemenuhan gizi anak dari konsumsi pangan hariannya di lingkungan anak, yaitu rumah dan sekolah. Selain itu, melakukan proses edukasi terkait upaya menanamkan kesadaran dan kebiasaan makan yang baik pada anak dalam pemenuhan kebutuhan gizi.

Anton Susanto, Corporate Communication Manager Frisian Flag Indonesia, menuturkan, pihaknya berupaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan gizi anak dengan mengajak sekolah, anak, dan orangtua bersama-sama berpartisipasi aktif mengatasi masalah gizi melalui edukasi.

Sumber : http://health.okezone.com/read/2012/02/09/483/572546/gizi-seimbang-untuk-anak