Blog Archives

Susu tinggi kalsium mencegah obesitas pada anak

Susu merupakan makanan yang penting bagi anak, terutama pada masa pertumbuhan dan perkembangannya. Pada awal kehidupannya ASI menjadi sangat penting namun seiring dengan bertambahnya usia, anak membutuhkan tambahan makanan seperti susu. Memasuki masa pertumbuhan, anak sebaiknya meminum susu yang mengandung kalsium. Kalsium tidak hanya berperan dalam pembentukan tulang dan gigi namun juga mampu mencegah anak dari obesitas.  Menurut Institute of Medicine National Academy of Science (2002), kebutuhan kalsium perhari berbeda sesuai kelompok usia. Untuk anak usia 6- 12 bulan membutuhkan asupan kalsium 600 mg/hari dan anak 1-10 tahun 800 mg/hari, dari kebutuhan harian tersebut, 30% dapat dipenuhi dari segelas susu tinggi kalsium.

Dari berbagai studi epidemiologi maupun cross sectional telah menunjukkan hubungan inverse antara konsumsi susu dan olahannya yang mengandung kalsium dengan obesitas. Ternyata asupan tinggi kalsium (Ca) telah terbukti sebagai anti-obesity dan anti-inflammatory. Menurut penelitian Zemel (2004), bahwa makanan dari olahan susu memberikan efek positif dalam menurunkan berat badan pada berbagai program intervensi penurunan berat badan. Beberapa penelitian randomized intervention trials untuk terapi penurunan berat badan menunjukkan bahwa semakin meningkatnya asupan dari produk-produk olahan susu dapat menurunkan berat badan dan menurunkan massa lemak dan lingkar lengan (Zemel, 2004).

Asupan kalsium tinggi akan berakibat menurunnya kalsium intraselluler, penurunan ini akan menghambat asam lemak sintase dan mendorong lipolisis triasil gliserol (TG) menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak ini akan berubah menjadi asam lemak bebas dan dioksidasi sebagai bahan bakar, akibatnya TG di jaringan adiposa menurun sehingga berat badanpun menurun. Jika asupan kalsium kurang serta kalsium dalam tubuh rendah maka enzim asam lemak sintase akan meningkat tinggi menyebabkan asam lemak tidak dioksidasi dan energi diubah menjadi lemak di dalam tubuh, akibatnya akan ada penumpukan lemak dalam tubuh yang bisa menyebabkan obesitas (Zemel, 2004).

Kandungan kalsium yang cukup tinggi (±200 mg) dari segelas susu diyakini memiliki pengaruh terhadap penurunan berat badan. Karena itu pemberian diet susu tinggi kalsium ini bisa menjadi cara yang efektif, karena tidak hanya memberikan tambahan asupan gizi kepada anak tetapi dapat juga mencegah anak menjadi obes. Pencegahan obesitas pada anak sangatlah menjadi penting karena dapat menghindarkan anak-anak terkena penyakit non communicable disease di masa mendatang.

Obesity and adipose tissue

Jaringan Adiposit merupakan jaringan lemak yang berfungsi menyimpan cadangan lemak yang siap digunakan (trigliserida) di dalam tubuh. Jaringan adipose mensekresi hormon-hormon  yaitu leptin, resistin, dan TNF-α. Selain itu adiposit mengeluarkan zat yang dinamakan adipositokin, yang memiliki efek terhadap obesitas. Leptin dan resistin memiliki mekanisme yang saling bertolak belakang. Fungsi dari adiposity selain menyimpan cadangan lemak tubuh, juga berfungsi melindungi tubuh dari suhu panas dan dingin, serta melapisi dan melindungi organ tubuh. Terdapat 2 jenis sel adipose yaitu sel brown adipose tissue dan white adipose tissue, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda.

Leptin merupakan suatu peptide yang disekresi oleh jaringan adipose yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan energi (homeostatis), dan menekan nafsu makan ketika tubuh sudah merasa cukup energi, mekanisme kerja leptin terjadi di hipotalamus. Orang obese cenderung memiliki kadar leptin yang sedikit dalam hipotalamus, hal ini karena pada orang obese terjadi gangguan transport leptin ke otak akibatnya terjadi resistensi leptin. Apabila tubuh rendah asupan makananannya, leptin akan mengirimkan sinyal ke otak dan mengatur pencadangan lemak tubuh. Ketika tubuh kurang berenergi karena kurangnya asupan makanan, maka cadangan lemak akan digunakan untuk kemudian diubah menjadi energi begitu pula sebaliknya. Mekanisme ini diatur oleh leptin, oleh sebab itu peningkatan kadar leptin akan menyebabkan penurunan asupan makanan, selain itu juga akan menurunkan kadar neuropeptida Y yang menekan appetite atau nafsu makan.

Orang obese umumnya memiliki gangguan resistensi leptin sehingga akan menimbulkan pula gangguan pada mekanisme leptin dalam mengatur nafsu makan. Oleh karena itu sering kita jumpai orang obesitas akan mengalami kesulitan ketika melakukan diet ketat. Selain regulasinya dalam pengaturan signal, leptin juga dikenal sebagai hormone yang dapat meningkatkan sensitivitas dari insulin. Orang obese sebagian besar mengalami resistensi insulin karena kadar leptin dalam tubuh cenderung sedikit.

Resistin merupakan salah satu adipositokin yang dihasilkan di jaringan adipose yang memiliki mekanisme bertolak belakang dengan leptin. Kalau pada leptin akan meningkatkan sensitivitas insulin dan menekan nafsu makan, resistin cenderung dapat menyebabkan obesitas dan meningkatkan resistensi insulin. Resistin mengurangi kerja insulin dalam menjalankan mekanisme kerja glukosa dalam tubuh, akibatnya justru mengurangi sensitivitas insulin yang lama kelamaan akan memunculkan efek resistensi. Namun penelitian-penelitian yang membuktikan teori tersebut masih berlaku pada tikus. Dari suatu penelitian, mencit yang mengekspresikan resistin secara berlebihan akan memberikan efek gangguan pada insulin dalam mengatur transportasi glukosa. Selain dampaknya pada resistensi insulin, resistin juga berhubungan dengan inflamasi.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa jaringan adipose dapat di analogikan seperti sebuah gudang yang berisi simpanan-simpanan energi. Dalam mengatur tertibnya penggunaan dan penyimpanan di dalam gudang tersebut, adipose menggunakan bantuan dengan mensekresi leptin, resistin dan adiponektin, dan pro inflamasi lainnya. leptin merupakan hormon yang terlibat dengan metabolisme energi dan sensitivitas insulin (anti-inflammatory), sedangkan resistin terlibat dengan inflamasi (pro-inflammatory) dan resistensi insulin. Namun keduanya sama-sama berkaitan dengan obesitas baik obesitas perifer maupun obesitas visceral.

Sumber :

Permana, Hikmat. Sel Adiposit sebagai organ endokrin. Bandung.

Marfianti, Erlina. Perbedaan kadar resistin pada obese dengan resistensi insulin dan obese tanpa resistensi insulin. JKKI; 2006.

Megawati, Tjhi. Perbedaan kadar resistin antara penderita dengan dan tanpa penyakit jantung koroner, Semarang, 2008.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 937 other followers