Blog Archives

Seputar Vegetarian (1)

Dalam suatu kesempatan kami diundang sebagai pembicara dalam talkshow dengan tema Vegetarian, Gizi Seimbang kah? Dengan tema tersebut tentu menimbulkan asumsi bahwa sebenarnya vegetarian itu masih merupakan hal yang diperdebatkan dan memunculkan pro dan kontra tentang sehat tidaknya jika dijalani. Berikut ringkasan singkat terkait seputar vegetarian dan hubungannya dalam keilmuwan gizi.

  • Vegetarian dan spritualisme seseorang

Melihat sejarah perkembangan vegetarian, awal mulanya berkembang sekitar thn 1800an tepatnya 1847 di US. Alasan utama mereka adalah berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan tubuh. Karena konsumsi daging bisa mempengaruhi perilaku manusia. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pola pandang itu berubah menjadi fokus pada aspek spiritual/agama terutama di daerah timur. Hal ini tidak terlepas dari beberapa agama yang memang dalam ajarannya menganjurkan untuk mengonsumsi sayur buah dan menolak makan daging. Dalam beberapa agama, vegetarian adalah cara untuk “menjaga tubuh dan pikiran terjaga murni,” lalu kemudian diikuti adanya rasa kemanusiaan dan belas kasihan terhadap kehidupan binatang hidup. Misalnya Kong Hu Cu, Buddha, para pendeta Yunani dan Mesir, agama TAO, bahkan ada beberapa golongan dari agama Yahudi. Untuk Islam sendiri sama sekali tidak membatasi pola makan vegetarian ini, bahkan dalam kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.Misalnya, kita diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa. Belum pernah kita mendengar adanya perintah untuk tidak makan daging sapi ayam dll kecuali hewan tersebut cacat atau belum cukup umur sembelih selama itu halal dan baik.

Oleh karena itu sebenarnya untuk menjadikan vegetarian sebagai tolak ukur tingkat “keimanan” seseorang, perlu kita telaah lebih baik lagi. Karena indikator ini berbeda bagi masing-masing keyakinan. Bisa saja beberapa orang taat dan tekun melakukan itu krn mmg di agamanya diperintahkan demikian, dan sebaliknya. Mari kita mengubah pola pikir seperti ini.

  • Vegetarian dan badan lemas

Badan lemas mungkin saja, ada beberapa penyebab yang bisa membuat seorang yang vegetarian murni mengalami badan lemas. Pertama adalah disebabkan karena dihilangkannya dua sumber utama gizi makro yakni lemak dan protein yang sebagian besar diperoleh dari daging. Lemak terbukti sumber energi terbesar setiap 1 gr nya dan bahkan lemak lebih lama dicerna dalam tubuh sehingga memberikan pasokan energi yang stabil bagi yang mengonsumsinya. Protein juga berfungsi sebagai sumber energi, zat pembangun, dan zat pengatur. Kedua, seorang vegetarian memiliki risiko mengalami Anemia seperti penjelasan sebelumnya dibandingkan yang non-vegetarian. Salah satu ciri atau simptom dari anemia adalah selalu merasa lemas, disamping selalu ngantuk dan pucat.

Namun beda halnya ketika seorang vegetarian tapi tetap mengonsumsi produk hewani selain daging, bisa memberikan efek yang berbeda karena kita semua tahu bahwa susu telur ikan merupakan sumber protein tinggi, serta memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang cukup baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Protein pada ikan dan seafood lainnya (bukan yang dikalengkan) bisa membantu proses pembentukan otot, jaringan, hingga sistem imun tubuh.

  • Vegetarian dan penyakit degeneratif

Faktor kesehatan menjadi alasan utama kedua dari sebagian besar penganut vegetarian. Menurut Dwyer (1988) dan Kahn (1983) bahwa beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa vegetarian memeliki inisiden yang lebih rendah terhadap penyakit hipertensi, jantung, diabetes, dan batu empedu dibanding yang bukan vegetarian. Beberapa vegetarian juga memiliki risiko defisiensi beberapa mikronutrients seperti Fe, B12, kalsium, dan zink).

Penelitian Tonstad et al (2009), membuktikan bahwa seseorang dgn diet vegan dan lacto ovo vegan menurunkan risiko DM tipe II hingga setengah, sedangkan yang pesco dan lacto hanya menurunkan sekitar seperempat risiko DM tipe II.

Hipotesisnya adalah, karena pada vegan dalam penelitian ini terbukti memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan semi vegetarian dan non-vegetarian. Sedangkan kita ketahui bahwa obesitas merupakan pintu masuk penyakit kronik degeneratif seperti DM, HT, PJK, dll.

Namun ada juga penyakit degeneratif yang meningkat risikonya akibat vegetarian, misalnya osteoporosis dan osteopenia (berkaitan dengan kepadatan tulang). Masalah utamanya adalah kekurangan kalsium sebagai salah satu unsur penting penyusun kepadatan tulang. Vegetarian baru dapat memenuhi kebutuhan kalsiumnya jika mengonsumsi jumlah yang cukup banyak dari produk olahan susu rendah lemak atau bebas lemak, seperti susu, yogurt, dan keju. Selain itu konsumsi sumber-sumber vitamin D juga seperti keju, margarin, sereal, dan puding yang dicampur susu.

Penelitian juga menunjukkan bahwa nasunin (fitonutrient) dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan mencegah radikal bebas dari neuron merusak. Nasunin ditemukan dalam terong.

Flavonoid dari berry berpotensi menyelamatkan nyawa (kelas antioksidan) ditemukan dalam kadar tinggi dalam buah beraroma ini, dapat menghalangi enzim terkait dengan pembentukan bekuan darah, menurunkan risiko serangan jantung atau stroke, menurut sebuah studi 2012 dari Harvard Medical School .

berlanjut pada tulisan selanjutnya….

“Catatan ttg OCD”

Oleh: Rio Jati S.Gz

sumber: si0.twimg.com

sumber: si0.twimg.com

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya diet OCD ini bukanlah hal baru dalam dunia diet. Diet yang dikemukakan oleh Dedy Corbuzier, seorang magician yang tidak pernah belajar gizi seperti kita-kita yang ahli gizi, ternyata digandrungi oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa diet yang dikemukakan oleh Dedy corbuzier ini atau diet OCD dapat secara cepat menurunkan berat badan tapi tidak menyiksa seperti pembatasan kalori secara berlebihan. Hal ini tentu saja membuat berang para ahli gizi karena dinilai tidak sesuai dengan ilmu gizi yang diajarkan saat kuliah dahulu. Selain itu, beberapa kalangan ahli dan praktisi tak mau kalah menyayangkan masyarakat ternyata lebih mempercayakan dietnya kepada seorang magician yang tanpa latar belakang pendidikan gizi daripada kepada dokter atau ahli gizi. Dalam artikel ini saya akan mengulas dan berkomentar sedikit saja mengenai permasalahan tersebut ditinjau dari sudut seorang akademisi (bukan praktisi maupun ahli).

 

Diet OCD atau Obstructive Corbuzier Diet merupakan diet yang pertama kali dikemukakan oleh Dedy corbuzier dengan pola umum mengedepankan puasa. Diet ini tidak membatasi asupan kalori atau zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, hanya saja mengubah pola frekuensi makan dalam sehari. Menurut ilmu gizi, makan yang sehat itu makan 3 kali sehari dengan 2-3 kali selingan dengan jenis makanan yang beragam (4 sehat 5 sempurna tidak berlaku lagi sekarang). Hal ini disebabkan untuk mencegah agar lambung tidak kosong dan makan secara reguler ini mampu meningkatkan pengeluaran energi dari efek thermik dari makanan yang dikonsumsi. Efek thermik ini merupakan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk mencerna makanan sehingga asumsinya, semakin sering mengonsumsi makan, semakin banyak energi yang dikeluarkan untuk mencerna makanan. Teori ini sebetulnya tidak salah, namun kurang tepat dari sisi seorang akademisi seperti saya. Sebuah jurnal yang dikemukakan oleh Reed dan Hill (1996) (dapat didownload di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8561055) melaporkan bahwa efek thermik dari makanan ini sangat bergantung pada masa tubuh bebas lemak dan porsi makanan yang diasup. Artinya, semakin banyak masa tubuh bebas lemak seseorang (semakin banyak masa protein ototnya) semakin tinggi efek thermik makanan yang akan dikeluarkan dan begitu pula pada porsi makanan yang diasup. Bahkan sebuah jurnal lainnya mengatakan bahwa efek thermik ini sangat bergantung pada komposisi energi pada makanan yang diasup bukan komposisi zat gizi yang diasup (Kinabo dan Durnin, 1990, bisa di download di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2400767). Selain itu, pola dan gaya hidup juga berpengaruh terhadap efek thermik ini (bisa dibaca pada artikel Stob et al, 2008; http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17463294). Oleh karena itu, dari segi evidence based atau bukti ilmiah dimasyarakat yang sampai saat ini saya review dan baca, asumsi umum yang dikemukakan oleh ahli gizi tersebut kurang tepat (saya tidak mengatakan tidak tepat, tapi kurang tepat), karena ternyata efek ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Oleh karena itu, asumsi bahwa semakin sering makan maka semakin baik karena meningkatkan metabolisme sehingga mengeluarkan lebih banyak energi agaknya kurang pas.

 

Satu hal yang menarik dari diet OCD ini adalah dibolehkannya seorang individu untuk mengasup makanan kesukaan tapi tidak dalam jumlah berlebihan setelah masa berbuka atau tidak sedang dalam masa puasa. Secara pribadi, diet OCD ini bukanlah hal yang baru karena seorang individu hanya disarankan untuk mengubah frekuensi makannya dari 3 kali sehari tetap menjadi 3 hari sekali tapi dalam rentang waktu tertentu. Dalam diet tersebut disarankan mengambil waktu berbuka 8 jam, 6 jam dan 4 jam untuk dapat makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Artinya, kita tetap mengasup makanan sesuai dengan kebutuhan tapi memperlama waktu puasa atau tidak makan. Diet OCD ini sebetulnya bukanlah hal yang baru di dunia akademisi. Setelah saya mencari beberapa literatur dari jurnal dan artikel ilmiah, saya berkesimpulan bahwa diet OCD ini serupa dengan modifikasi “low energy” diet yang sekarang sedang dikembangkan oleh peneliti. Low energy diet atau diet rendah energi menurut beberapa literatur memiliki keuntungan yang lebih nyata dan membantu metabolisme energi (melalui aktivasi mitokondria) dibandingkan dengan diet yang mengurangi salah satu komponen zat gizi dalam makanan (lemak atau karbohidrat). Akan tetapi, diet ini memiliki kelemahan karena tidak semua individu dapat mengikuti diet ini dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan jenis diet lain seperti alternate day fasting dan intermittent fasting. Alhasil, diet ini memiliki compliance atau tingkat kepatuhan sekitar 86% dengan hasil yang menggembirakan. Bahkan, percobaan pada hewan coba menemukan bahwa diet dengan prosedur puasa ini lebih memiliki keuntungan dibandingkan dengan diet rendah energi (dapat didownload pada http://www.pnas.org/content/100/10/6216.full.pdf+html). Secara komprehensif, prosedur ini beserta efeknya pada metabolisme individu dapat dilihat dalam artikel berikut: http://ajcn.nutrition.org/content/86/1/7.full dan  http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0104423013000213.

 

Secara umum, alternate day fast adalah suatu prosedur diet baru yang hampir serupa dengan diet OCD. Prosedur ini mengedepankan puasa (fast condition) dalam jangka waktu tertentu dan berbuka (feast time) dalam waktu tertentu pula. Perbedaannya adalah, alternate daya fasting merupakan puasa dan feast time dilakukan dalam hari yang sama, sedangkan intermittent fasting merupakan puasa 24 jam 1x dalam 1 minggu. Prosedur ini (alternate day fast dan Intermittent fasting) telah dilaporkan mampu menurunkan berat badan dengan tingkat penurunan yang tidak begitu tinggi: sekitar 0,67 kg/minggu. Menurut ilmu gizi, berat badan yang disarankan untuk turun adalah 0,50 kg/minggu atau 2 kg/bulan. Penurunan berat badan dengan laju yang cepat serta dalam jangka waktu yang pendek dapat beresiko menurunkan laju metabolisme tubuh sehingga ditakutkan apabila seorang individu tersebut tidak tahan dengan pola diet dan kembali ke kebiasaan lama, maka berat badan individu tersebut akan meningkat lebih jauh dibandingkan saat awal sebelum berdiet. Namun, diet dengan pola ini telah dilaporkan tidak menurunkan laju metabolisme tubuh (dapat dilihat pada http://ajcn.nutrition.org/content/90/5/1138.full). Bahkan kombinasi dari diet rendah energi dan intermittent fasting telah dilaporkan sangat potensial untuk menurunkan berat badan pada wanita obesitas (Klempen et al., 2012; dapat didownload dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23171320).Jadi sebetulnya, diet OCD ini bukanlah sesuatu hal yang baru di kalangan akademisi karena penelitian dengan prosedur dan metode tersebut sekarang sedang diteliti lebih lanjut.

 

Satu hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus dari diet ini adalah penggunaan dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa penelitian yang saya sebutkan diatas masih dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sehingga penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Selain itu, beberapa penelitian diatas juga belum mengikutkan variabel pengganggu lain seperti tipe obesitas (apakah apel, pear) dan hormonal (adipokines dan kortikosterol) yang punya efek dalam pengaturan berat badan. Jadi saran saya, bukan saatnya seorang ahli gizi mendebat habis-habisan atau bersifat eksklusif sehingga menutup diri dengan diet ini yang sebetulnya bukanlah hal yang baru. Pendapat pribadi saya adalah sebaiknya ahli gizi mengadakan sebuah studi yang komprehensif tentang diet ini dengan metode penelitian yang benar-benar salih karena bukan dari siapa diet ini ditemukan, tapi apa pesan yang terkandung didalamnya. Jadi kalau saya boleh berkesimpulan, gonjang-ganjing seputar diet OCD ini menunjukkan bahwa ahli gizi kita belum siap menerima perubahan. Saya sangat menyayangkan mengapa seorang entertainer mampu mengemukakan terlebih dahulu metode ini yang sekarang baru dikembangkan di dunia akademisi. Sebaiknya, bukan saatnya kita bertengkar dan berdebat, tapi saatnya ahli gizi mengupdate ilmu sehingga tidak terpaku dalam teori-teori lama. Mudah-mudahan tidak banyak yang panas ya ama catatan kecil ane ini, kalaupun ada ya maaf, karena ane juga masih belajar.

 

sumber: https://www.facebook.com/notes/rio-jati-kusuma/catatan-ane-tentang-diet-ocd/607861125926891

kurang air bisa menyebabkan kegemukan

sumber: http://www.sangbuahhati.com/2013/04/kurang-asupan-air-ternyata-bisa-memacu.html

KURANG asupan air ternyata bisa memacu obesitas, penurunan daya ingat, kemampuan kognitif, kewaspadaan, menjadi cepat lelah, bahkan bisa memunculkan ketegangan,  dan rasa cemas.

Apa hubungannya asupan air dan obesitas? Kurang air di dalam tubuh ternyata erat kaitannya dengan obesitas. Pasalnya, air berperan besar memperlancar metabolism tubuh. Air berfungsi sebagai bahan bakar untuk proses pembakaran kalori dari makanan yang kita konsumsi. Penelitian menyebutkan, konsumsi air yang cukup berperan menurunkan risiko obesitas hingga 30%. Bukan hanya itu, air juga membantu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh. Semakin banyak racun yang tertumpuk, maka semakin sulit berat badan diturunkan. Pencernaan yang tidak lancar juga akan menghambat penyerapan nutrisi. Akibatnya, tubuh akan memberi tanda lapar.

Asupan air juga akan mempengaruhi fungsi hati atau lever yang mengatur pelepasan lemak tubuh. Jika tubuh kekurangan air, maka hati cenderung menimbun lemak. Obesitas hanyalah satu dampak dari kurangnya asupan air ke dalam tubuh. Riset yang sudah dipublikasikan di The Journal of Nutrition menyebutkan, selain mempengaruhi kerja fisik, kekurangan air juga mempengaruhi mood seseorang.

Penelitian terhadap 51 pria dan wanita sehat selama tiga bulan menunjukkan, dehidrasi pada pria menyebabkan penurunan daya ingat dan kewaspadaan. Sementara pada wanita, menyebabkan penurunan kemampuah kognitif,  kelelahan, ketegangan, dan rasa cemas.

Pada anak, dehidrasi ringan kurang lebih ditandai dengan gejala yang sama. Sulit konsentrasi, mood terganggu, cepat lelah, dan berbagai gejala fisik lainnya.  Pada orang dewasa, dehidrasi  juga terbukti meningkatkan tekanan darah dan mengganggu kerja seluruh organ tubuh. Jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan pingsan bahkan kematian.

Kebutuhan Air

Begitu besar peran air di dalam tubuh manusia, tidak mengherankan jika air dalam konsep tumpeng gizi seimbang yang  direkomendasikan pada ahli gizi, mendapat porsi terbesar. Masalahnya, berapa banyak air yang dibutuhkan tubuh? Ahli Gizi dari Jogjakarta Andi Imam Arundhana SGz menjelaskan, air merupakan komponen terbesar di dalam tubuh. Sekitar 80% tubuh manusia mengandung air, 60% pada orang dewasa, dan 50% pada lansia.

Banyaknya air yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda tergantung pada ukuran tubuh. Andi menjelaskan, angka kecukupan yang direkomendasikan adalah 2.200 ml/hari untuk laki-laki dewasa, 2.000 ml/hari untuk wanita dewasa, 1.600 ml untuk anak usia 4-8 tahun dan 1.900-2.000 ml/hari untuk anak usia 9-13 tahun.

Air yang diminum, jelas Andi, tidak mesti air putih. Minuman seperti teh, susu, kopi, dan air yang terkanding dalam buah-buahan juga dihitung sebagai asupan. Hanya saja, air putih yang dianggap terbaik, karena mudah diserap tubuh. “Karena itu, orang yang sering mengonsumsi pil, tablet, obat, dan multivitamin, sangat dianjurkan memperbanyak minum air putih, agar bahan kimia yang terkandung dalam obat/multivitamin dapat ikut larut dan keluar bersama air seni. Jika tidak, maka risiko terkena batu ginjal akan lebih tinggi,” papar Andi. Kekurangan asupan air memang berbahaya. Namun, Andi mengingatkan agar jangan lantas minum air putih berlebihan. Asupan air yang melebihi batas normal pun tidak baik, karena berisiko menyebabkan pembengkakan jantung dan otak.

Nah bunda, yuuk mulai perhatikan asupan air di dalam keluarga. Biasakan juga buah hati minum air putih. Ketika diare dan flu, jangan lupa untuk menambah porsi asupan.

sumber: http://www.sangbuahhati.com/2013/04/kurang-asupan-air-ternyata-bisa-memacu.html

Foto:  parentsforhealth.org

Peranan Air Bagi Kesehatan

selain menyegarkan dahaga, manfaat air dalam tubuh sangat banyak

selain menyegarkan dahaga, manfaat air dalam tubuh sangat banyak

Seiring dengan perkembangan ilmu gizi, kini air telah menjadi salah satu bagian dari zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Hal ini terlihat dengan ditempatkannya air dalam dietary guideline sebagai zat yang diperlukan tubuh manusia. Di Indonesia, air juga telah masuk dalam tumpeng gizi seimbang (TGS) dengan kuantitas yang cukup banyak, kedua setelah makanan sumber karbohidrat, Oleh karena jumlah harian yang dibutuhkan cukup banyak maka air digolongkan kedalam zat gizi makro (macronutrient). Air merupakan komponen terbesar penyusun tubuh, sekitar 80% tubuh manusia mengandung air, 60% pada orang dewasa, dan 50% pada lansia. Air juga merupakan zat gizi penting bagi kesehatan tubuh karena berperan sebagai pelarut, katalisator, pelumas, pengatur suhu tubuh serta penyedia mineral dan elektrolit. Banyaknya air yang dibutuhkan seseorang berbeda-beda tergantung pada ukuran tubuh orang tersebut dan apa yang dianggap sesuai untuk tubuhnya. Melihat peranannya yang sangat besar, tidaklah mengherankan jika setiap saat manusia membutuhkan air walau tanpa makan sekalipun.

Menurut Laurent le Bellego Ph.D dalam seminar yang disampaikan di Yogyakarta mengatakah bahwa air menjadi sangat penting karena berkaitan dengan kelancaran metabolisme tubuh. Lebih lanjut kata Laurent bahwa rata-rata asupan air orang Indonesia masih kurang dari yang direkomendasikan yaitu hanya 1,84 L/hari, sedangkan konsumsi sweetened-sugar beverage cukup tinggi mencapai 300 ml/hari. Angka kecukupan yang direkomendasikan adalah 2.200 ml/hari untuk laki-laki dewasa, 2.000 ml/hari untuk wanita deswasa, 1.600 ml untuk anak usia 4-8 tahun dan 1.900-2.000 ml/hari untuk anak usia 9-13 tahun.  Menurut Profesor Hiromi Shinya MD, pakar enzim yang juga guru besar kedokteran di Albert Einstein College of Medicine AS, usahakan tubuh untuk mendapatkan pasokan air 6-8 gelas per hari (1,5-2 liter) untuk orang dewasa.

Seseorang yang kurang minum air setiap harinya sangat rentan terkena masalah-masalah kesehatan, terlebih lagi yang berkaitan dengan kinerja otak. Sebab orang yang sangat kurang minum air dapat menyebabkan dehidrasi. Ketika terjadi dehidrasi, cairan di otak pun akan menurun dan menyebabkan aliran oksigen menuju otak juga seharusnya menurun. Kondisi yang demikian dapat berdampak pada menyusutnya sel-sel otak, otak tidak dapat berkembang dengan baik, implikasinya adalah orang sulit untuk berkonsentrasi, gampang lupa, dan selalu merasa lelah untuk berfikir setiap saat. Tidak hanya itu, orang yang kurang minum juga rentan terkena kanker prostat, infeksi kandung kemih, dan gangguan ginjal. Air penting untuk mencegah batu ginjal, dengan minum cukup air maka komponen pembentuk batu ginjal menjadi lebih mudah luruh bersama buang air kecil.

komposisi air tubuhMeskipun dampak yang diakibatkan karena kurang minum sangat berbahaya, tidaklah kemudian kita memaksakan diri untuk minum air putih sebanyak mungkin dengan paksaan. Karena kelebihan minum air pun ternyata tidak baik untuk kesehatan. Banyak minum air melebihi batas normal berisiko menyebabkan pembengkakan jantung dan otak. Dalam suatu kesempatan nonton salah satu stasiun TV swasata, saat itu siaran dengan segmen 7 lomba paling ekstrim. Salah satu dari lomba paling ekstrim itu adalah lomba minum air sebanyak-banyaknya dan ternyata pemenang lomba tersebut (seorang wanita) tewas karena terjadi pembengkakan di paru-paru dan otaknya. Untuk mengetahui apakah kita kurang minum atau tidak, dapat dicek saat tidur malam sampai bangun keesokan harinya; maksimal 3 kali buang air kecil. Jika lebih dari 4 kali buang air kecil, sudah termasuk tidak normal dan terindikasi kencing manis, ganguan ginjal atau jantung.

Air yang diminum tidak mesti air putih, teh, susu, kopi, sirup, dll sudah termasuk cairan akan tetapi sangat dianjurkan lebih banyak air putih. Air putih hangat sangat baik karena lebih cepat diserap dibandingkan dengan air es. Bagi orang yang sering mengonsumsi pil, tablet, obat, dan multivitamin, sangat dianjurkan memperbanyak minum air putih, agar supaya bahan-bahan kimia yang terkandung dalam obat/multivitamin tersebut dapat ikut larut dan keluar bersama air seni, karena jika mengendap beresiko terbentuk kristal yang bisa menyebabkan batu ginjal.

Tren obesitas menurut kelompok usia

obesitas menurut kelompok usiaDari data di atas dapat dilihat kejadian obesitas berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Paling tinggi pada kelompok usia 0-5 tahun yaitu 14% dan paling rendah pada kelompok remaja usia 16-18 tahun yaitu 1,4%. Kejadian obesitas kembali meningkat pada orang dewasa usia >18 tahun yaitu sebesar 11,7%. Terdapat tren yang signifikan bahwa semakin meningkatnya usia prevalensi obesitas juga menurun, akan tetapi pada usia dewasa prevalensi itu meningkat dengan sangat ekstrim.

Pada usia 0-5 tahun, kebutuhan energi balita sangat bervariasi karena setiap kenaikan usia perbulannya maka kebutuhannya pun meningkat dengan perbedaan yang cukup besar. Tingginya prevalensi obesitas pada anak usia 0-5 tahun mungkin saja terjadi karena faktor pola asuh orang tua yang kurang tepat, misalnya saja yang berkaitan dengan pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Kemudian pada usia 6-12 tahun, faktor yang mempengaruhi sudah demikian banyak, karena pada masa ini anak-anak sudah mulai bisa mandiri melakukan aktivitas nya dengan bebas. Namun faktor yang paling berpengaruh bisa jadi karena adanya transisi pola hidup. Kini anak-anak tidak lagi banyak yang memainkan permainan tradisional (engrang, dende, petak umpet, dll) tetapi mereka cenderung melakukan sedentary activity seperti main game, komputer, intrnet, hp, tidak lagi berangkat kesekolah dengan sepeda atau jalan kaki tetapi di antar jmput dengan mobil atau motor.

Pada usia remaja awal (13-15) terjadi penurunan yang signifikan dimana prevalensi obesitas cukup rendah hanya 2,5%. Fase remaja awal pertumbuhan fisik anak sangat pesat, kebutuhan zat gizi nya pun meningkat. Di saat kebutuhan zat gizi meningkat, pada fase remaja awal ini intensitas aktivitas sangat tinggi, mulai dari bermain, sekolah, berangkat les, olahraga, dan yang cukup berpengaruh adalah fase ini telah mengenal adanya stress dari lingkungan yang cukup menyita waktu dan tenaga. Dari faktor-faktor tersebut diyakini menjadi penyebab mengapa prevalensi menurun drastis dan berlanjut hingga fase remaja akhir. Kemudian pada fase remaja akhir (16-18) dimana prevalensi justru paling rendah menurut kelompok umur yaitu hanya 1,4%. Pada fase ini mungkin saja berkaitan dgn body image, tingginya mobilitas/aktivitas, terpapar tingkat stressor yang lebih tinggi lagi, dll.

Mengapa kelompok usia dewasa (>18 tahun) prevalensi kembali meningkat dengan sangat ekstrim yaitu 11,8%. Prevalensi pada usia dewasa ini meningkat 2,8% dari tahun 2007 hingga tahun 2010. Berdasarkan survei Riskesdas 2007 dan 2010, obesitas paling banyak terjadi pada kelompok sosial ekonomi menengah keatas. Secara keseluruhan, semua kelompok sosial ekonomi mengalami kenaikan prevalensi obesitas. Namun  yang mengalami kenaikan paling banyak terdapat pada kelompok sosial ekonomi rendah yaitu 2,5% sedangkan pada kelompok sosial ekonomi tinggi hanya 0,9%. Hal ini berarti obesitas kini tidak lagi dialami oleh golongan yang memiliki pendapatan yang cukup besar. Faktor-faktor yang berpengaruh selain pola makan juga berkaitan dengan pola perilaku sedentari. Kebanyakan yang bekerja di kantoran sepanjang hari hanya duduk dan kurang mengeluarkan energi tetapi asupan makanan yang tetap ada belum lagi diselingi makanan/minuman ringan padat energi. Adapun pada orang dewasa yang tidak bekerja kantoran, mungkin saja dipengaruhi oleh transisi lifestyle, transisi itu akibat perkembangan teknologi, aksestabilitas makanan fast food yang cukup tinggi baik di daerah suburban maupun rural.

tren obese

Prevalensi obesitas tahun 2007 dan 2010

Ternyata tren yang meningkat tidak hanya terjadi menurut kelompok usia, tren tersebut juga terjadi dari tahun ke tahun yang dibuktikan dari hasil survei Riskesdas 2007 dan 2010. Pada kelompok umur 0-5 tahun kenaikannya 1,8%, pada usia anak dan remaja sekitar 3,7%, dan pada kelompok usia dewasa kenaikannya mencapai 2,8%. Diprediksi akan terjadi kenaikan sekitar 1-2% pertahunnya, jika hal tersebut tidak ditangani dengan serius oleh pemerintah maka masalah obesitas ini akan memberi dampak negatif yang luar biasa. Beban negara akan meningkat untuk membiayai masalah penyakit kronik tidak menular yang disebabkan obesitas, kematian akan semakin tinggi, semakin banyaknya orang yang akan memiliki beban psikologis dan retardasi mental akibat body image, dan beban diskriminasi sosial bagi orang obes (WHO, 2000). Sebenarnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani agar masalah obesitas ini tidak menjadi “bom waktu masalah” bagi negara, dengan fokus terhadap optimalisasi 4 aspek yaitu: 1. Intervensi/modifikasi perilaku (perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik), 2. Program pemberdayaan keluarga (semua keluarga harus peduli), 3. Disediakannya promosi pola hidup sehat di tempat-tempat pelayanan umum, dan 4. Dapat dilakukan treatment dengan obat-obatan maupun bedah (Jones, 2008).

Sumber :

  1. Laporan Nasional Riskesdas 2007 dan 2010.
  2. WHO. (2000). Obesity: Preventing and Marketing The Global Epidemic.
  3. Jones KB. (2011). Obesity Surgery: Principles and Practice.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 923 other followers