Gizi Seimbang untuk anak


GIZI sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Asupan nutrisi yang tidak seimbang akan mengakibatkan anak kependekan, kekurusan, maupun kegemukan.

Anggapan bahwa “anak gemuk adalah anak yang sehat” merupakan stereotipe yang telah dibangun sejak lama oleh orangtua zaman dulu. Namun anggapan tersebut masih diyakini banyak keluarga modern saat ini. Hal tersebut menyebabkan orangtua sekarang lebih mengutamakan kuantitas makanan yang dikonsumsi anaknya dibandingkan kualitas gizi yang terkandung di dalamnya.

Menjamurnya tempat-tempat makanan yang menyajikan makanan dan minuman instan padat kalori yang mengandung penyedap rasa, pewarna, dan gula yang berlebihan menyebabkan anak-anak lebih menyukai jenis makanan ini dibandingkan makanan bergizi. Akibatnya anak menjadi kelebihan berat badan atau obesitas.

Penyakit anemia dan terhambatnya pertumbuhan fisik atau pendek (stunting) juga tengah mengancam anak-anak Indonesia. Hal ini ditengarai karena mereka kurang mendapatkan asupan makanan yang mengandung zat besi dan zinc. Jajanan yang kurang sehat dan bergizi di kantin sekolah anak ditengarai menjadi biang keladi dari semua itu.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, prevalensi kependekan, kekurusan, dan kegemukan tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-12 tahun (usia sekolah dasar), yaitu sebesar 25,6 persen, 11,2 persen, dan 9,2 persen. Masalah ini sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan orangtua dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga, serta keadaan ekonomi rumah tangga. Semakin baik tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan kepala rumah tangga serta keadaan ekonomi rumah tangga, semakin rendah prevalensi kependekan. Sementara semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan semakin baik keadaan ekonomi rumah tangga, prevalensi kegemukan cenderung meningkat.

Menurut Ahmad Syafiq PhD, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pengetahuan dan kesadaran orang tua baik dengan latar tingkat pendidikan rendah maupun tinggi mengenai asupan gizi yang sesuai untuk anak masihlah minim. Terbukti dengan tingginya kasus kegemukan dan kurang gizi pada anak-anak di Indonesia.

“Edukasi dan peningkatan kesadaran mengenai gizi kepada orangtua merupakan sebuah pekerjaan rumah yang harus diatasi sesegera mungkin untuk mengantisipasi terjadinya lost generation. Edukasi gizi kepada anak mulai tingkat sekolah dasar juga sangat penting untuk menanamkan kebiasaan pola makan yang sehat sejak dini,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dra Septi Novida MPd, Kepala Bidang TK-SD-PLB Dinas Pendidikan DKI Jakarta, mengatakan, perlu kerja sama pihak swasta, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan status gizi anak sekolah.

“Pemerintah saat ini telah menjalankan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah, namun masih terbatas hanya di beberapa sekolah dasar di daerah minus,” paparnya.

Menyadari akan pentingnya permasalahan ini, Frisian Flag Indonesia dan Yayasan FIELD Indonesia didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan Bandung, meluncurkan program Frisian Flag Edukasi Gizi Anak Sekolah.

Program Frisian Flag Edukasi Gizi Anak Sekolah (FFEGAS) ini adalah sebuah program edukasi mengenai gizi kepada guru, orangtua, dan anak-anak sekolah dasar di Jakarta dan Bandung, sekaligus memfasilitasi anak-anak untuk memantau dan mengevaluasi secara kritis asupan makanan harian mereka sendiri.

Upaya ini sejalan dengan inisiatif Friesland Campina, induk perusahaan FFI, yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dalam melakukan survei gizi komprehensif South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) di Indonesia yang mengutamakan keterlibatan aktif dari anak sebagai subjek penelitian atau kegiatan. Program FFEGAS meliputi 1.500 anak kelas 4 dari 50 sekolah dasar yang tersebar di Jakarta dan Bandung dari berbagai golongan sosial ekonomi.

Kegiatan ini bertujuan mengetahui pemahaman dan pengetahuan guru, orangtua, dan anak tentang pemenuhan gizi anak dari konsumsi pangan hariannya di lingkungan anak, yaitu rumah dan sekolah. Selain itu, melakukan proses edukasi terkait upaya menanamkan kesadaran dan kebiasaan makan yang baik pada anak dalam pemenuhan kebutuhan gizi.

Anton Susanto, Corporate Communication Manager Frisian Flag Indonesia, menuturkan, pihaknya berupaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan akan gizi anak dengan mengajak sekolah, anak, dan orangtua bersama-sama berpartisipasi aktif mengatasi masalah gizi melalui edukasi.

Sumber : http://health.okezone.com/read/2012/02/09/483/572546/gizi-seimbang-untuk-anak

About these ads

Posted on 6 March 2012, in Health and Nutrition and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 915 other followers

%d bloggers like this: